
Adibrata berjalan dengan langkah lebar dan tegap setelah keluar dari mobilnya di depan lobby perusahaan yang dipimpin oleh Bagas. Karena kesulitan menghubungi Bagas, Adibrata pun memilih menemui putranya itu di kantor, karena dia mengira jika Bagas sudah berada di kantor.
Semua karyawan yang melihat kedatangan Adibrata langsung menyapa dan menundukkan pandangan. Dibandingkan dengan Bagas, Adibrata adalah sosok yang menakutkan bagi karyawan. Sehingga saat peralihan kepemimpinan perusahaan kepada Bagas, hampir semua karyawan merasa lega, karena sikap Bagas lebih fleksibel dan tidak menyeramkan terhadap karyawannya.
Kehadiran Adibrata kembali membuat suasana kantor menjadi tegang. Apalagi saat ini Adibara sedang dalam kondisi kesal mencari keberadaan Bagas yang tidak dia ketahui keberadaannya.
" Apa Bagas ada di ruangannya, Ester?" tanya Adibrata bernada dingin kepada sekretaris Bagas.
" P-pagi, Pak. Pak Bagas belum sampai ke kantor, Pak." Ester bangkit dari duduknya dan menjawab pertanyaan Adibrata.
" Belum sampai di kantor?" Adibrata melirik ke arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. " Ke mana dia sebenarnya?" tanya Adibrata geram, karena Bagas seketika berubah bersikap aneh, menghilang tanpa kabar sampai meninggalkan pekerjaannya. Apalagi kalimat-kalimat yang dia dengar terakhir kali dari putranya itu berindikasi adanya sikap membangkang kepadanya.
" Maaf, Pak. S-saya tidak tahu di mana Pak Bagas saat ini." Dengan menundukkan wajahnya, Ester menjawab pertanyaan Adibrata.
" Sebenarnya apa kerjamu, Ester? Dari kemarin tidak tahu ke mana bosnya pergi!" Ester terkena marah Adibrata karena tidak memberikan jawaban yang diharapkan oleh Adibrata.
" Maaf, Pak." sahut Ester ketakutan melihat Adibrata yang menegurnya dengan nada tinggi.
" Selamat pagi, Pak." sapa Pak Zaenal. Saat mendengar suara Adibrata yang terdengar kencang, Zaenal yang berada di ruangan wakil direktur utama segera keluar dari ruangannya.
" Zaenal, apa kau juga tiga tahu di mana Bagas sekarang berada?" Adibrata menoleh ke arah Zaenal dan langsung melempar pertanyaan.
" Saya sudah mencoba menghubungi beliau, tapi telepon Pak Bagas tidak dapat dihubungi, Pak." Sama halnya dengan Ester, Zaenal pun tidak mengetahui di mana keberadaan Bagas saat ini.
" Percuma perusahaan membayar mahal kalian jika apa yang dilakukan oleh bos kalian dalam jam kerja saja tidak dapat kalian ketahui!" Adibrata semakin meradang, karena jawaban Zaenal pun tidak beda jauh dengan sekretais Bagas.
Adibrata kemudian melangkah ke arah ruangan kerja Bagas yang diikuti oleh Pak Zaenal. Sedangkan Ester kembali duduk di tempatnya dengan jantung berdebar kencang karena masih merasa takut akibat terkena marah Adibrata.
" Apa kemarin Bagas kembali ke kantor, Zaenal?" tanya Adibrata kepada Zaenal.
" Benar, Pak. Kemarin Pak Bagas kembali kemari," jawab Zaenal cepat.
" Apa kau tanya ke mana dia sampai meninggalkan rapat dan kantor?" Adibrata bertanya seperti seorang detektif yang sedang menyelidiki suatu kasus.
" Pak Bagas mengatakan jika ada keperluan penting, tapi beliau tidak menjelaskan keperluan penting apa, Pak." balas Zaenal.
" Semalam Bagas tidak pulang ke rumah dan sampai jam segini belum tiba di kantor. Apa ada sesuatu yang mencurigakan yang dialami Bagas belakang ini di kantor, Zaenal?" tanya Adibrata kembali.
" Seingat saya tidak ada, Pak Bagas. Semua normal-normal saja." Bukan bermaksud menutupi, tapi Zaenal tidak merasakan ada hal yang aneh dengan bosnya.
" Ya sudah, kau bisa tinggalkan ruangan ini, Zaenal!" Adibrata menyuruh Zaenal keluar dari ruang kerja Bagas.
" Baik, Pak. Permisi." Zaenal pun akhirnya keluar meninggalkan Adibrata sendiri.
Adibrata mengambil ponsel dari balik saku blazernya dan mencoba menghubungi seseorang setelah kepergian Zaenal.
" Selamat pagi, Tuan. Apa ada yang harus saya kerjakan?" Suara dari balik ponsel Adibrata terdengar saat panggilan Adibrata tersambung.
" Dahlan, cepat kau dan Taufan selidiki di mana Bagas saat ini berada. Dia tidak pulang ke rumah dan sejak semalam, ponselnya tidak dapat dihubungi. Saya takut ada seseorang yang mencelakai putraku." Ada rasa khawatir di hati Adibrata jika menghilangnya Bagas karena perbuatan orang jahat
" Baik Tuan. Saya dan Taufan akan segera mencari keberadaan Mas Bagas." Dahlan dengan cepat menyanggupi menjalankan apa yang diperintah oleh bos besarnya.
Setelah mendengar jawaban dari Dahlan, salah satu bodyguard yang dulu pernah menjaga Bagas, Adibrata pun menutup panggilan ponselnya kemudian meninggalkan kantor Bagas untuk menuju kantor miliknya.
__ADS_1
***
" Kita mau ke mana lagi, Bagas?" tanya Indhira bingung. Karena setelah dari makam tadi, Bagas tidak juga membawa Indhira ke rumah Raffasya ataupun ke butik milik Azkia. Saat ini Bagas mengendarai mobilnya ke arah yang tidak Indhira tahu tujuannya akan ke mana.
" Kita akan ke kantorku." Bagas tersenyum seraya menolehkan pandangan ke arah Indhira.
" Kantormu? U-untuk apa?" Indhira terkesiap saat Bagas mengatakan akan mengajak dirinya ke kantor pria itu. Indhira yakin pasti banyak karyawan di kantor Bagas yang akan bertanya-tanya tentang dirinya jika Bagas membawanya ke sana.
" Kamu harus tahu tempat kerja calon suami, Ra!"
Rona merah membias di wajah putih Indhira saat Bagas menyebut kata calon suami.
Ddrrtt ddrrtt
Untung saja suara dering telepon terdengar, sehingga dapat menyamarkan wajahnya yang sedang bersemu. Indhira segera mengambil ponselnya saat mendengar alat komunikasinya itu berdering. Indhira menggigit bibirnya saat melihat nama Azkia yang menghubungi saat ini. Dia yakin Azkia pasti sedang menunggunya di butik karena dia sudah terlalu lama tidak kembali ke butik. Saat ini waktu sudah menunjukkan pu kul 10.45 menit. Sudah hampir dua jam tapi belum ada tanda-tanda dia akan ke butik Azkia karena Bagas tidak juga mengembalikannya ke tempat Azkia.
" Siapa, Ra?" tanya Bagas karena Indhira terlihat kebingungan ketika melihat layar ponsel milik wanita itu.
" Assalamualaikum, Bu." Tak menjawab pertanyaan Bagas, Indhira justru mengangkat panggilan telepon dari Azkia.
" Waalaikumsalam. Kamu sekarang di mana, Indhira? Ini sudah hampir jam sebelas. Memangnya kamu belum selesai juga bicara dengan orang itu?!" Nada bicara Azkia terdengar ketus. Tentu saja Azkia tidak marah kepada Indhira, tapi dia kesal pada Bagas yang telah membawa pergi Indhira tak kenal waktu.
" Maaf, Bu. Saya ..." Indhira menjeda kalimatnya seraya menoleh ke arah Bagas.
" Siapa, Ra? Bu Azkia?" Bagas sepertinya dapat menebak siapa yang menghubungi Indhira saat ini.
" Pasti orang itu menahan kamu pulang, kan!? Aku sudah dapat menebak, makanya aku tadi melarang kalian pergi." tuding Azkia sambil menyebut alasannya melarang Indhira pergi ke luar dengan Bagas.
" Maaf, Bu." Kembali hanya kata maaf yang sanggup terucap dari mulut Indhira karena dia sendiri bingung ingin menjawab apa.
" Hmmm ... ini, Bu ..." Indhira kembali menoleh ke arah Bagas, mencari alasan yang tepat untuk dia sampaikan pada Azkia.
" Biar aku yang bicara, Ra!" Bagas meminta ponsel dari tangan Indhira. Dia ingin menjelaskan sendiri secara langsung pada Azkia.
" Kemarikan teleponnya!" Melihat Indhira ragu, Bagas kembali meminta ponsel Indhira agar diserahkan kepadanya.
Walau ragu namun akhirnya Indhira menyerahkan ponsel itu pada Bagas.
" Selamat siang, Bu Azkia. Maaf jika saya belum mengantar Indhira ke tempat Ibu kembali." Bagas mulai berbicara pada Azkia dan menyampaikan permohonan maafnya
" Kamu? Kamu bawa ke mana Indhira?" Tentu saja Azkia membalas ucapan Bagas dengan galak.
" Saya tadi membawa Indhira berziarah ke makam orang tuanya, dan sekarang ini saya berencana membawa Indhira ke kantor saya, Bu." Bagas menjelaskan ke mana saja dirinya membawa Indhira.
" Ke kantor kamu? Untuk apa kamu bawa dia ke kantor kamu?" selidik Azkia, kali ini dengan nada khawatir.
" Kami sudah memutuskan untuk kembali bersama, Bu. Karena itu saya ingin membawa Indhira ke kantor saya terlebih dahulu sebelum ke tempat Ibu." Bagas menjelaskan kepada Azkia tentang rencananya.
" Apa maksud kamu?" Azkia terkejut saat mendengar Bagas mengatakan jika pria itu dan Indhira memutuskan kembali bersama.
" Kami berdua masih saling menyayangi, Bu. Karena itu kami memutuskan untuk merajut kembali apa yang dulu pernah kandas dan melanjutkan ke jenjang yang yang lebih serius yaitu pernikahan." Bagas menerangkan kepada Azkia maksud dari ucapannya.
" Apa??" Azkia kembali kaget dengan keputusan cepat yang diambil oleh Indhira. Dia yakin jika Bagas yang sudah mempengaruhi Indhira. Dia tidak yakin Indhira mau menerima permintaan Bagas begitu saja dengan mudah jika bukan karena pengaruh atau paksaan dari Bagas.
__ADS_1
" Saya harap Bu Azkia dapat mengerti dengan keputusan kami. Saya berjanji jika keputusan ini tidak akan membuat Indhira menderita kembali. Saya sudah banyak bersalah, dan ini waktu yang tepat bagi saya menebus kesalahan saya itu. Terima kasih atas pengertian Ibu." Tak menunggu jawaban dari Azkia, Bagas langsung menutup panggilan telepon sepihak.
" Ya ampun, Bagas! Kenapa kamu tutup panggilan telepon begitu saja? Bu Kia pasti akan marah." Indhira menegur Bagas yang menutup panggilan telepon Azkia secara sepihak. " Itu tidak sopan!" keluh Indhira menyayangkan sikap Bagas yang dia anggap kurang sopan.
" Tidak apa-apa, Ra. Aku rasa Bu Azkia juga akan memahami kondisi kita." Bagas justru bersikap santai, membuat Indhira mendengus, karena sikap Bagas masih seperti dulu, selalu menganggap remeh hal-hal penting.
Dua puluh menit kemudian, mobil Bagas sampai di basement kartor Bagas. Bagas menggenggam tangan Indhira saat turun dari mobil. Tentu saja kehadiran Bagas yang bersikap mesra terhadap Indhira membuat security yang berjaga di dekat lift terheran.
Pertunangan Bagas dan Evelyn yang digelar secara besar-besaran membuat pegawai Bagas mengenali sosok Evelyn. Dan wanita yang dibawa oleh Bagas kali ini bukanlah Evelyn.
" Selamat siang, Pak Bagas." Security menyapa Bagas.
" Siang ..." sahut Bagas kemudian masuk ke dalam lift, sementara Indhira hanya tertunduk malu karena diperhatikan penuh tanda tanya oleh security.
Tidak sampai satu menit, Bagas sudah sampai di lantai lima, di mana ruangannya berada.
" Selamat siang, Pak." Ester segera menyapa Bagas saat melihat Bagas keluar dari lift bersama dengan Indhira. Seperti security di basement tadi, Ester pun merasa heran dengan kehadiran Indhira apalagi Bagas terlihat menggengam tangan Indhira.
" Siang." Bagas melewati Ester menuju ruangannya.
" Maaf, Pak. Tadi Pak Adibrata datang kemari mencari Bapak." Ester melaporkan kedatangan Adibrata di kantor itu.
" Papaku tanya apa?" Tak menoleh ke arah Ester, namun Bagas bertanya kepada sekretarisnya.
" Pak Adibrata menanyakan Pak Bagas. Sepertinya Pak Adibrata terlihat marah karena handphone Pak Bagas sukar untuk dihubungi dan keberadaan Pak Bagas tidak diketahui." Ester menceritakan bagaimana sikap Adibrata tadi saat Papa dari bosnya itu tidak mendapati keberadaan Bagas.
" Oke, terima kasih." Setelah mendengar laporan Ester, Bagas masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintu ruangannya.
" Bagas, Papamu marah karena kamu datang terlambat. Itu semua karena aku, kan?" Indhira merasa bersalah karena membuat Papa Bagas marah.
" Tidak, Ra. Itu tidak ada hubungannya dengan kamu." Bagas membantah jika semua itu ada hubungannya dengan Indhira. Padahal, kenyataannya, Bagas telat ke kantor dan tidak pulang ke rumah karena mencari Indhira.
" Kau duduklah di situ!" Bagas menyuruh Indhira duduk di sofa. Sementara dia sendiri membuka blazer, kemeja dan meloloskan kaos dalam dari tubuhnya.
Apa yang dilakukan oleh Bagas sontak membuat Indhira terbelalak. Ingatannya seakan terlempar ke masa delapan tahun silam, saat dia juga melihat Bagas meloloskan pakaian di depan matanya ketika peristiwa itu terjadi.
Tubuh Bagas nampak lebih berisi dengan menampakkan kotak-kotak di perutnya. Melihat tubuh Bagas seketika membuat Indhira merinding.
" Bagas kamu mau apa?" Indhira nampak ketakutan.
Mendapati wajah Indhira ketakutan melihatnya bertelan jang dada, senyum tipis seketika terkulum di bibir pria tampan itu.
" Menurutmu, apa ingin apa?" tanya Bagas berjalan perlahan mendekati Indhira.
*
*
*
Bersambung ...
Ini Bagas mau ngapain lagi coba? Jangan berani macam² klo ga mau diserbu mak² readers lagi, lho!😁
__ADS_1
Happy reading ❤️