
Satu Minggu berlalu, proses pelimpahan harta milik Adibrata benar-benar sudah selesai. saat ini Adibrata hanya mempuyai satu persen dari harta yang dia punyai saat ini. Tapi, dia tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena saat ini Angel sudah kembali ke rumahnya. Bukan hanya Angel, tapi juga Bagas dan Indhira. Karena Angel tidak ingin pulang ke rumah, jika Bagas dan Indhira tidak ikut pulang bersamanya.
" Aku senang, Mama akhirnya pulang ke rumah." Kartika memeluk Angel saat menyambut kedatangan Angel.
" Kamu ini, kayak tidak bertemu Mama saja kemarin-kemarin." Angel mengacak rambut putrinya itu, karena dirinya dan Kartika sering bertemu bersama Bagas dan Indhira.
" Beda, dong, Ma! Ketemu Mama lagi tiap hari di rumah itu lebih menyenangkan." Kartika masih memeluk tubuh Angel, biasanya dia tak pernah bermanja-manja seperti itu pada Mamanya. Namun, sejak Mamanya pergi, dia baru merasakan kehilangan sosok Mamanya itu, apalagi Mamanya bisa tiap hari berkumpul bersama Indhira dan Bagas.
" Cuma senang Mama datang saja? Tidak senang Kakak kembali pulang ke rumah juga?" Melihat adiknya masih tidak lepas memeluk sang Mama, Bagas menyindir adiknya itu.
" Kak Indi ...! Aku senang Kak Indi akhirnya hadir di rumah ini." Bukannya memeluk Bagas, Kartika justru berganti memeluk Indhira.
" Eh, sengaja meledek Kakak, nih!?" Bagas menjewer telinga Kartika, hingga Kartika terkekeh mengusap telinganya.
" Iya, Kak. Iya ... aku senang Kak Bagas kembali ke rumah." Kini giliran Bagas yang mendapat pelukan Kartika. Berada dalam pelukan Kakaknya memang membuatnya merasa nyaman.
Sedangkan Adibrata hanya memperhatikan interaksi istri, anak dan menantunya yang penuh keakraban. Adibrata benar-benar tak menduga jika selama ini mereka menjalin interaksi tanpa sepengetahuannya.
" Welcome home, Ma. Papa senang akhirnya Mama bisa pulang." Adibrata menyambut Angel.
Angel tidak merespon ucapan suaminya meskipun semua yang dia minta sudah dipenuhi oleh Adibrata.
" Bagas, tolong bawa koper Mama ke kamar tamu bawah!" Angel lalu menyuruh Bagas membawa koper yang dibawa Pak Zul ke dalam rumah.
" Kartika, kamu suruh Bibi membereskan kamar tamu, karena akan Mama pakai." Angel pun memberi perintah kepada putrinya.
Permintaan Angel kepada kedua anaknya membuat semua yang ada di ruangan tamu terheran.
__ADS_1
" Kenapa Mama memakai kamar tamu?" tanya Adibrata dengan kening berkerut.
" Pa, Ma, sebaiknya kita bicara di ruangan kerja Papa saja." Bagas menganggap apa yang ingin dibicarakan Papa dan Mamanya adalah hal privasi, jika mereka membahas masalah itu di ruang tamu, banyak yang akan mendengar termasuk para ART di rumah itu.
Setelah mendengar saran dari Bagas, akhirnya Adibrata, Angel dan Bagas berdiskusi di ruangan kerja Adibrata di lantai atas, hanya mereka bertiga yang ikut berbincang.
" Ma, kenapa Mama ingin memakai kamar tamu?" Adibrata kembali menanyakan ucapkan Angel tadi.
" Memangnya kenapa? Rumah ini punya Mama sekarang. Mama mau menempati kamar yang mana pun itu hak Mama! Papa tidak berhak melarang." tegas Angel. Meskipun dia sudah mendapatkan harta dari suaminya, namun dia tetap tidak ingin begitu saja memaafkan Papanya.
" Tapi, bukankah kita sudah sepakat, Ma? Mama bilang asalkan Papa mau melimpahkan harta Papa, Mama mau memaafkan Papa?" Adibrata memprotes keputusan Angel, karena dia merasa sudah berkorban cukup besar untuk mendapatkan maaf dari istrinya itu.
" Dalam kesepakatan itu, memang ada pembahasan Mama harus tidur di mana? Tidak, kan!? Jadi, tidak masalah Mama mau tidur di kamar tamu atau di kamar mana pun juga!" Angel merasa tidak ada yang salah dengan kesepakatan antara dirinya dengan suaminya itu.
" Ma, jangan seperti itulah! Tidak enak kalau kita berpisah kamar di rumah yang sama. Apa kata pekerja yang lain, jika kita pisah kamar?" Walaupun kepergian Angel kemarin sudah menimbulkan rasa heran para pekerja di rumah itu, namun dia tidak ingin dirinya menjadi bahan gosip para ART, jika tahu kini dia berpisah kamar dengan Angel.
Adibrata mendengus dan mengusap kasar wajahnya, mendengar keputusan Angel.
Sedangkan Bagas yang ada di ruangan itu hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan Papa dan Mamanya.
" Ma, sebaiknya Mama pikirkan lagi keputusan Mama untuk memakai kamar yang berbeda. Benar kata Papa, nanti akan ada pergunjingan penghuni rumah ini yang lain." Bagas mencoba menjadi penengah perdebatan antara Papa dan Mamanya.
Angel melotot ke arah Bagas, karena menganggap anaknya itu terlalu membela Adibrata.
" Mama jangan menganggap aku terlalu membela Papa." Dari tatapan Mamanya, Bagas dapat menduga sang Mama menuduhnya berat sebelah.
" Papa sudah berkorban menyerahkan apa yang Mama minta. Kalau Mama tidak ingin tidur satu ranjang dengan Papa, Mama dan Papa bisa tidur di tempat berbeda dalam satu kamar. Mama di tempat tidur, Papa di sofa." Dengan menyeringai, Bagas menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
" Setidaknya hal itu tidak mengundang pergunjingan para ART. Jangan sampai aib keluarga kita terendus orang lain di sini, meskipun mereka adalah pekerja di rumah ini," lanjut Bagas menyampaikan alasannya memberi saran seperti itu.
Sementara Bagas, Adibrata dan Angel masih berbincang di ruang kerja Adibrata, Kartika membawa Indhira ke kamar Bagas.
Indhira nampak ragu memasuki kamar Bagas. Ini adalah kedua kalinya dia menginjakkan kaki di kamar itu. Pertama kalinya dia masuk ke kamar Bagas adalah saat dia SMA dulu, dan saat terjadi sebuah dosa yang membawa dampak besar kepada kehidupan dia setelahnya. Dari dia kehilangan kesucian, dikeluarkan dari sekolah, hingga hampir dijual oleh sang paman.
" Ayo, masuk, Kak!" Kartika menarik tangan Indhira yang tampak ragu untuk memasuki kamar itu.
" Kak Indi kenapa? Kok' kelihatan ragu?" tanya Kartika.
" Tidak apa-apa, Kartika." Indhira mengedar pandangan ke seluruh ruangan kamar suaminya itu. Banyak perubahan di kamar itu dibanding saat pertama kali dia masuk ke kamar Bagas.
" Kamar ini baru direnovasi ulang. Dulu kamar ini cowok banget, Kak. Tapi, kemarin-kemarin Kak Bagas datang kemari minta tukang untuk mengganti cat dan mengganti perabotan yang cocok untuk kamar pasangan suami istri bilangnya." Kartika menjelaskan.
" Aku senang berada di tempat yang sama dengan Kak Indi, artinya setiap hari kita bisa berhenti, Kak." Kartika merangkul pundak Indhira, dia yang merindukan sosok kakak perempuan merasa sangat beruntung dengan kehadiran Indhira di rumah itu.
Indhira pun melingkarkan tangannya di pinggang Kartika. Mereka berjalan ke arah sofa lalu mendudukinya.
" Terima kasih karena kamu sudah mau menerima kakak di sini, Kartika." Indhira sangat bahagia, bersama Kartika dan Angel, dia seperti merasakan kehangatan sebuah keluarga kembali.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️