
" Ya ampun, Bagas!"
Indhira spontan menoleh saat mendengar seseorang berteriak memanggil nama Bagas dari arah lapangan basket.
Indhira tidak tahu apa yang terjadi. Dia hanya melihat Bagas memegang kepalanya dengan Benny dan Edwin di sebelahnya. Tatapan matanya lalu mendapati sosok Crystal yang terlihat bertengkar dengan Edwin sampai Crystal mendorong tubuh Edwin.
Crystal adalah mantan kekasih Bagas. Cukup lama mereka berpacaran sejak masuk SMA. Namun, akhirnya Bagas memutuskan Crystal karena Bagas dekat dengan wanita lain di luar SMA mereka.
Dahi Indhira mengerut saat Crystal menyentuh lengan Bagas. Bukan hanya lengan, namun juga kepala Bagas seperti layaknya seorang kekasih yang begitu perhatian kepada pasangannya. Tentu saja hatinya seakan meletup-letup melihat pemandangan seperti saat ini.
Indhira juga melihat Bagas menolehkan pandangan ke arahnya hingga kami saling menatap. Namun, itu tak berlangsung lama karena Indhira segera memalingkan wajah tak ingin terus berlama-lama bertatapan dengan Bagas. Dan tidak ingin mengetahui apa yang selanjutnya terjadi dengan Bagas dan Crystal di lapangan basket.
" Ra, itu Crystal dekat-dekat lagi sama Bagas mau apa, ya?" Rissa yang duduk di depan Indhira menatap curiga.
" Mana aku tahu, Ris. Ini bukan urusanku lagi!" sahut Indhira mencoba untuk menenangkan hatinya yang sejujurnya merasa cemburu dengan sikap Crystal terhadap Bagas. Tidak mudah mehilangkan rasa sayangnya pada Bagas begitu saja. Terlalu munafik jika dia bilang tidak cemburu.
" Aku curiga, jangan-jangan Bagas putusin kamu karena dia mau balikan lagi sama Crystal itu." Rissa langsung merasa curiga tentang kedekatan Bagas dengan Crystal setelah mengetahui hubungan Bagas dan Indhira kandas. Tentu saja sebagai sahabat Indhira, Rissa merasa marah jika Bagas memutuskan Indhira karena pria itu akan kembali kepada mantan kekasih Bagas itu. Rissa yang sejak awal menentang hubungan Bagas dan Indhira sudah berpesan agar Bagas tidak mempermainkan Indhira.
" Jangan berburuk sangka seperti itu, Ris." Indhira mencoba menepis tudingan Rissa pada Bagas yang memang tidak benar. Karena bukan itu alasan yang menyebabkan hubungan mereka berakhir.
" Tapi, kok kebetulan sekali. Di saat kalian putus, si Crystal mendekati Bagas lagi. Aku rasa ini memang sudah direncanakan oleh Bagas, deh!" Rissa tetap berpendapat jika putusnya Indhira dan Bagas berhubungan dengan Crystal yang saat ini mendekati Bagas kembali.
" Biarkan saja, Ris. Sekarang aku sudah tidak sama Bagas lagi, dia mau dekat dengan siapapun juga, itu tidak masalah untukku." Indhira berusaha menegarkan hatinya sendiri. Walau rasanya hancur, akan tetapi dia tidak boleh memperlihatkannya di hadapan Rissa dan teman-teman lainnya.
__ADS_1
" Ra, lihat tuh, Crystal lagi pedekate sama Bagas. Kamu tidak takut mereka akan CLBK lagi?" celetuk Teddy, teman satu kelas Indhira mengomentari keberadaan Crystal saat ini di dekat Bagas. Sepertinya Bagas dan Crytal saat ini sudah mulai menarik perhatian pelajar lain yang ada di sekitar lapangan basket.
" Kalau Bagas CLBK sama Crystal, baguslah ... Mending Bagas sama Crystal, cocok, sama-sama ganteng dan cantik, sama-sama anak orang kaya. Daripada sama mainan Bagas yang sekarang. Cewek tidak jelas!" Seorang murid wanita yang baru masuk kantin dan mendengar ucapan Teddy langsung berkomentar.
Sungguh kalimat yang diucapkan oleh wanita itu terasa menyakitkan di hati Indhira. Walau dia sering mendengar semua orang mengoloknya. Namun, sindiran kali ini terasa tepat menikam di jantungnya. Ucapan wanita yang mengatakan jika dirinya hanya dijadikan mainan bagi Bagas mungkin benar adanya.
" Heh, kalau bicara itu pakai otak, jangan asal jeplak!" Rissa justru yang merespon sindiran murid bernama Amel.
" Lho, kenyataannya memang temanmu itu tidak ada apa-apanya kalau dibanding sama Crystal. Ibarat kata, Crystal cewek sosialita, temanmu itu rakyat jelata. Ya beda jauhlah ..." Kalimat menyakitkan kembali terdengar di telinga Indhira Membuat Indhira hanya bisa menarik nafas yang terasa sesak.
" Sudahlah, Ris. Tidak usah diladeni. Kita ke kelas saja, yuk!" Tak ingin terus mendengar sindiran dari Amel, Indhira mengajak Rissa untuk segera meninggalkan kantin. Aku merasa situasi di kantin tidak kondusif dan aku harus segera pergi dari sana.
***
" Bagas, mana yang sakit? Sini aku oleskan dulu yang terkena lemparan bola tadi."
Bagas menoleh ke arah Crystal yang sudah memegang obat yang akan dia gunakan untuk mengobatinya.
" Kamu duduk dulu di situ biar aku bisa obati yang sakit tadi." Crystal lalu menarik lengan Bagas untuk mengikutinya duduk di tepi lapangan.
" Aku tidak apa-apa, Crysal! Hanya terkena bola saja tidak masalah untukku." Bagas menepis tangan Crystal, Bagas tidak ingin orang akan melihat dia dan Christal lalu bergosip dengan kedekatan mereka sekarang ini.
" Kamu kenapa, sih? Aku 'kan mau membantu kamu, Bagas." Terlihat wajah Crystal seketika memberengut karena penolakan Bagas tadi.
__ADS_1
" Karena aku memang tidak butuh bantuan." Bagas lalu berjalan meninggalkan Crystal dan teman-temannya yang masih berada di lapangan.
" Bagas, kamu mau ke mana? Sini aku obati dulu" teriak Crystal yang sudah pasti akan kesal karena Bagas pergi meninggalkannya.
" Gas, kau tidak ingin main lagi?" Bahkan Bagas juga tidak menghiraukan teman-temannya yang mengajaknya bermain basket lagi.
Bagas menjauh dari Crystal karena dia tidak ingin orang akan bergosip tentang dia dan Crystal. Apalagi saat ini hubungan dirinya dan Indhira mulai renggang. Akan menjadi gosip hangat jika dirinya meladeni Crystal dan membiarkan Crystal mengobati tadi. Lagipula Bagas merasa baik-baik saja. Bukan kepalanya yang terasa sakit, tapi hatinyalah yang saat ini sedang sakit.
Tak seperti biasanya, Bagas justru takut akan adanya gosip tentang kedekatannya dengan wanita lain. Karena dia takut itu akan menyakiti hati Indhira. Benar-benar aneh rasa hatinya saat ini. Padahal sekarang ini mereka sudah putus. Namun, dia tidak ingin melukai Indhira dengan adanya gosip dia bersama wanita lain. Padahal sebelumnya, dia bisa mudah mendekati wanita lain walaupun saat itu dia masih mempunyai pacar.
Bagas pun kembali ke kelas, karena dia tahu Indhira akan kembali ke sana. Dan benar saja, Indhira saat ini sudah berada di kursinya dengan menyandarkan kepalanya di atas meja mengarah pandangan menghadap Rissa yang duduk di sebelahnya. Bagas kini menoleh ke arah Rissa yang sedang menatap dengan sorot mata tidak bersahabat. Tidak aneh sebenarnya, karena Rissa bukan orang yang mendukung hubungannya dengan Indhira.
Bagas tahu Rissa berusaha melindungi Indhira. Rissa pun sebenarnya tidak percaya jika dirinya memang menyanyangi Indhira. Rissa selalu menganggap jika dirinya hanya ingin mempermainkan Indhira. Tak bisa dia bayangkan jika Rissa tahu apa yang sudah terjadi dengan Indhira saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1