SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Menyembunyikan Indhira


__ADS_3

Ibu Lidya sangat menyesal telah mempersilahkan Bagas masuk ke dalam rumahnya. Seandainya dia tahu dari awal jika tamunya itu adalah biang keladi dari penderitaan Indhira selama ini, mungkin dia tidak akan menyuruh ART nya mempersilahkan tamunya itu masuk. Untung juga saat ini Indhira sedang bekerja, jadi tidak mungkin Bagas akan dapat bertemu dengan Indhira.


" Saya teman SMA nya Rissa, Tante. Saya ingin bertemu dengan Rissa. Apa Rissa nya ada, Tante?" Bagas menyampaikan alasannya datang ke rumah Rissa kepada Ibu Lidya. Walaupun dia tadi mendengar dari ART jika Rissa sudah tidak tinggal di rumah orang tuanya itu lagi.


" Rissa sudah menikah, jadi dia tidak tinggal di sini lagi," jawab Ibu Lidya yang sejujurnya agar Bagas segera berpamitan pulang.


" Oh, Rissa sudah menikah ya, Tan?"


" Iya, baru beberapa bulan, sekarang ini dia ikut bersama suaminya," lanjut Ibu Lidya.


" Maaf, Tante. Apa Tante mengenal teman Rissa yang bernama Indhira? Apa Rissa pernah cerita tentang Indhira pada Tante?" Bagas mencoba mencari informasi tentang Indhira kepada Ibu Lidya, siapa tahu orang tua Rissa dapat memberikan petunjuk soal keberadaan Indhira saat ini.


" Indhira?" Kedua alis Tante Lidya terangkat ke atas saat Bagas menyebut nama Indhira. " Iya, Tante kenal Indhira, anak yang malang. Entah bagaimana nasib anak itu sekarang. Begitu banyak cobaan bertubi-tubi menerpanya di saat usianya masih sangat belia. Tante hanya bisa berharap, anak itu selalu dalam lindungan Allah SWT di mana pun dia berada." Ibu Lidya memasang wajah sedih, agar Bagas percaya jika dia tidak pernah tahu keadaan Indhira sampai saat ini.


" Jadi Rissa atau Tante tidak pernah tahu keberaan Indhira di mana?" Nada kecewa terdengar dari ucapan Bagas. Jika Rissa yang berkata seperti itu, mungkin dia masih meragukan karena Rissa selalu membencinya. Namun, jika Ibu Lidya sendiri yang menyampaikan hal tersebut, Bagas merasa jika Ibu Lidya tidak mungkin berbohong kepadanya.


" Terakhir Tante dengar kabar waktu dia kabur. Katanya dia mau dijual sama Om nya sendiri demi uang. Naudzubillahi min dzalik! Ada, ya!? Om dan Tante jahat sama keponakannya sendiri! Tidak takut dosa sama sekali!!" Jika mengingat perlakuan keluarga Tante Marta kepada Indhira yang dia dengar dari Rissa, Ibu Lidya terlihat geram sendiri.


Bagas terdiam, dia menarik nafas yang seketika terasa berat. Pertama kali dia mendengar kabar dari Benny soal Indhira yang dijual Om Ferry, Bagas sampai lemas. Rasa bersalah pun semakin kuat membelenggunya.


" Tante, jika suatu saat Tante atau Rissa mendengar kabar soal Indhira, apa Tante bisa memberitahu saya!?" Bagas memohon bantuan Ibu Lidya agar dapat memberikan informasi kepadanya jika mendengar kabar soal Indhira.


" Maaf, sebenarnya adik ini siapa? Dan kenapa mencari Indhira?" Ibu Lidya berakting seolah dia tidak mengenal siapa pria yang dia hadapi saat ini.


" Saya ... saya orang yang paling bertanggung jawab atas penderitaan Indhira selama ini, Tante." Bagas menundukkan kepalanya karena dia merasa sangat bersalah. Dia pun malu untuk menegakkan kepala menatap Ibu Lidya.


" Saya lah yang menyebabkan Indhira kehilangan kesuciannya. Saya yang membuat Indhira dikeluarkan dari sekolah. Yang membuat Indhira kabur dari rumah dan Indhira menghilang entah ke mana." Suara Bagas seakan tercekat di tenggorokannya.


Dari gestur tubuh dan kalimat yang terucap dari mulut Bagas, Ibu Lidya dapat merasakan jika Bagas terlihat tersiksa dan dihantui rasa bersalah. Dia merasa kasihan kepada pemuda di hadapannya itu. Namun, dia tidak berani untuk mengatakan jika Indhira saat ini tinggal di rumahnya.


" Eheem ..." Ibu Lidya mengatur nafasnya. Sejujurnya dia merasa terharu melihat Bagas yang masih mencari keberadaan Indhira sampai saat ini. Apa yang ditunjukkan Bagas menandakan jika pria itu masih memperdulikan Indhira. " Jadi kamu orang yang sudah menjebak Indhira sampai melakukan dosa itu?" Ibu Lidya harus mengontrol emosinya. Walau dia kasihan, namun dia tidak bisa memaafkan saja perilaku Bagas yang sudah merusak kehormatan Indhira sebagai seorang wanita.


Bagas tidak berani menyangkal tudingan Ibu Lidya. Walaupun hal itu dilakukan karena dia menginginkannya, bukan karena berniat menjebak Indhira.


" Seharusnya kamu memikirkan baik-baik sebelum kamu bertindak! Apa yang kamu lakukan untuk kesenangan semata itu efek buruknya sangat besar untuk Indhira. Seandainya Indhira saat ini masih hidup dan tidak depresi saja sudah bagus!" Mungkin jika tidak ada kekuarganya, entah akan seperti apa nasib Indhira saat ini.


" Iya, Tante. Saya benar-benar menyesali perbuatan saya dulu," sesal Bagas.


" Tante tidak bisa membantu kamu, karena Tante sendiri tidak tahu di mana Indhira saat ini berada," ujar Ibu Lidya kembali berbohong.


" Tidak apa-apa, Tante. Kalau begitu saya permisi, Tante." Bagas akhirnya berpamitan pulang kepada Ibu Lidya.


Sepeninggal Bagas, Ibu Lidya bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Rissa. Dia memilih menghubungi Rissa terlebih dahulu karena jika Indhira yang dia hubungi, dia yakin Indhira akan senewen dan ketakutan.


" Assalamualaikum, ada apa, Ma?" tanya Rissa saat panggilan teleponnya terhubung dengan putrinya.


" Waalaikumsalam. Ris, tadi Bagas ke sini!" Tanpa berbasa-basi Ibu Lidya menyampaikan berita mengejutkan kepada putrinya itu.


" Apa??" Suara Rissa yang terperanjat terdengar di telinga Ibu Lidya. " Bagas ke rumah, Ma? Dia mau apa, Ma? Apa dia tahu Indhira ada di rumah kita? Gawat kalau begini, Ma! Mama bilang apa sama Bagas? Jangan sampai dia tahu Indhira ada bersama kita, Ma!" Berharap berbicara dengan Rissa lebih, tenang, justru Rissa menunjukkan sikap senewen.


" Dia mencari tahu keberadaan Indhira. Tapi, Mama tidak kasih tahu dia kalau Indhira ada sama kita kok, Ris." Ibu Lidya menjelaskan jika dia juga tidak mungkin mengambil tindakan gegabah dengan memberitahu keberadaan Indhira saat ini.


" Kalau dia sudah ke rumah kita, ini sudah tidak aman untuk Indhira, Ma! Dia pasti akan menyuruh orang untuk memata-matai rumah kita. Mama ingat 'kan dulu sampai ada teman Bagas yang mengikuti Rissa?!" Rissa membuka ingatan Mamanya saat Benny mengawasi gerak-geriknya.


" Jadi sekarang bagaimana, Ris?" Tante Lidya pun ikut cemas.


" Indhira tidak boleh ada di sana, setidaknya sampai kondisi aman Aku yakin Bagas pasti akan mengawasi rumah kita, Ma!" Rissa curiga jika nantinya Bagas akan memantau siapa saja yang keluar masuk ke dalam rumah orang tua dirinya.

__ADS_1


" Lalu Indhira akan tinggal di mana, Ris?" Jika tidak di rumahnya, di mana Indhira akan menetap? Itu yang dipikirkan Ibu Lidya.


" Sementara ini biar di rumah aku saja, Ma!" Rissa memutuskan untuk membawa Indhira tinggal di rumahnya sementara waktu.


" Ris, kamu tidak bisa mengambil keputusan tanpa berdiskusi dulu dengan suamimu! Sebaiknya kamu bicarakan dulu baik-baik dengan Adam." Ibu Lidya tidak bermaksud berpikiran buruk. Namun, membawa wanita lain ke dalam rumah, apalagi pengantin baru, dia takut akan menjadi pergunjingan orang.


" Ya sudah, nanti aku bilang sama Mas Adam enaknya gimana!?" Rissa menuruti nasehat yang diucapkan Mamanya.


" Nanti Mama juga akan diskusi sama Papa kamu, bagaimana mengatasi masalah ini!? Ya sudah, Mama tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ...."


***


Indhira sedang menikmati makan siang saat ponselnya berbunyi. Dia merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih itu. Indhira melihat sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya tersebut.


" Assalamualaikum, Ra. Bagas ada di Jakarta. Tadi Mamaku kasih tahu, Bagas tadi datang ke rumah mencari informasi tentang kamu."


Pesan masuk dari Rissa membuat bola mata Indhira membulat sempurna. Dia bahkan menghentikan kunyahannya dan langsung menelan makanan yang ada di mulutnya itu.


" Waalaikumsalam, Bagas tadi ke rumah, Ris? Lalu bagaimana?" Dengan tangan bergetar, Indhira membalas pesan masuk dari Rissa tadi.


" Mama bilang tidak tahu kamu ada di mana. Ra, sementara ini kamu jangan pulang ke rumah orang tuaku dulu, ya! Aku takut Bagas menyuruh orang untuk mengawasi rumah orang tuaku dan nantinya akan menemukan kamu."


" Nanti pulang kerja, aku jemput kamu di La Grande. Sementara ini kamu ikut di rumahku dulu sambil menunggu keputusan Papa sama Mama, kamu akan tinggal di mana!?" Rissa memyampaian rencananya yang akan membawa Indhira tinggal bersamanya sementara waktu.


" Aku tinggal di rumah kamu, Ris? Aku tidak enak kalau harus ikut tinggal sama kamu dan Mas Adam, Ris." Indhira pun tahu diri. Dia tidak ingin 'merecoki' rumah tangga Rissa dan Adam. Dia yakin Adam adalah pria yang naik, namun dia tetap tidak nyaman harus satu rumah dengan Rissa dan Adam.


" Hanya sementara, Ra! Sambil menunggu keputusan dari Papa, kamu akan akan tinggal di mana!?" Rissa menjelaskan tujuannya membawa Indhira tinggal bersamanya.


" Ya sudah, Ris. Kalau itu yang terbaik." Indhira hanya pasrah menerima keputusan Rissa.


" Waalaikumsalam ..." Indhira menutup panggilan telepon dari Rissa. Seketika itu hatinya pun dilanda kegelisahan.


" Ya Allah, kenapa dia muncul lagi dalam kehidupan hamba?" keluh Indhira dalam hati. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dan berurusan dengan mantan kekasihnya itu lagi. Apalagi saat teringat ucapan Chrsytal yang mengatakan pernah melakukan hubungan in tim itu dengan Bagas. Seketika itu juga naf su makannya hilang padahal makanan di piringnya masih tersisa banyak.


Indhira bangkit mencari kertas untuk membungkus nasi dan ayam goreng sisa makannya untuk dia berikan kepada kucing yang dia temui di jalan saat pulang nanti.


" Na, kamu tahu tempat kost yang dekat sini tidak?" tanya Indhira saat menunggu pelanggan cafe yang datang untuk dilayani atau sudah selesai makan.


" Buat siapa?" tanya Nena.


" Buat aku," sahut Indhira.


" Memangnya kamu mau ngekost?" tanya Nena kembali.


" Sementara waktu saja. Aku mau cari kost yang dekat sini biar tidak perlu pakai transportasi," lanjut Indhira.


" Sepertinya ada, Ra. Tapi, aku tidak tahu berapa? Kayaknya agak mahal, deh! Soalnya agak elit. Ada AC dan bedroom sendiri. Kebanyakan yang kost di sana juga yang kerja di kantoran." Nena menyebutkan tentang kost yang dia tahu ada di belakang cafe La Grande.


" Selain yang itu tidak ada, ya?" tanya Indhira lagi.


" Yang murah jauh, terus harus pakai transportasi juga kalau kemari, Ra." sahut Nena.


" Yang dekat itu kira-kira kisaran berapa ya, Ris?" tanya Indhira penasaran.


" Yang pasti jutaan per bulan, Ra."

__ADS_1


" Oh gitu, ya!?" Indhira menggigit bibirnya. Tentu akan terasa berat dengan gaji yang dia terima selama beberapa bulan bekerja di sana jika harus tinggal di tempat kost dengan harga jutaan perbulan.


" Memangnya kenapa sih kamu ngekost, Ra? Apa kamu ada masalah sama keluarga teman kamu itu?" Nena penasaran dengan alasan Indhira ingin mencari tempat kost.


" Tidak ada kok, Na." Indhira melihat ada tamu yang sudah selesai makan di cafenya. " Aku mau membersihkan meja dulu, Na." Indhira lalu melangkah ke meja yang tadi ditinggalkan oleh pengunjung cafe tadi.


***


Rissa menjemput Indhira setelah pulang kerja. Dia sudah minta ijin terlebih dahulu kepada Adam untuk membawa Indhira menginap di rumahnya dan suaminya itu mengijinkan Indhira tinggal di rumah mereka sementara waktu.


" Ris, aku mau ngekost saja!" Indhira menyampaikan niatnya kepada Rissa sesampainya mereka di rumah Rissa.


" Kamu mau ngekost di mana, Ra?" Rissa terkejut mendengar niat Indhira yang ingin mencari tempat kost untuk tinggal sementara waktu.


" Aku belum tahu, Ris. Aku maunya sih dekat dengan cafe. Tapi, harganya lumayan mahal. Nanti aku mau cari-cari lagi di mana tempat kost yang murah dan terjangkau dengan keuanganku," balas Indhira.


" Jangan buru-buru cari kost dulu, Ra! Tunggu Papa aku saja! Siapa tahu ada solusi lain dan kamu tidak perlu kost." Rissa melarang Indhira yang ingin mencari tempat kost.


" Tapi aku takut Bagas menemukanku, Ris." Indhira beralasan jika dia takut keberadaannya diketahui oleh Bagas.


" Iya aku paham, Ra! Tapi kamu harus sabar. Sementara biarlah kamu di sini. Mas Adam juga tidak masalah kamu tinggal di sini sementara waktu, kok!" Rissa tetap menyuruh Indhira tetap tinggal di rumahnya dulu.


Malam harinya sebelum tidur, Indhira melangkah ke arah kamar mandi. Dia ingin melaksanakan sholat malam agar pikirannya yang gelisah menjadi tenang karena kemunculan Bagas yang tiba-tiba.


" Aakkhh, Mas ...!! Sakit ...!! Pelan-pelan, dong!"


Indhira mendadak menghetikan langkahnya mendengar rintihan dari kamar Rissa dan Adam yang dilintasinya.


" Habis sudah tidak tahan, Ris! Ouugghh ...."


Mata Indhira terbelalak mendengar suara-suara percintaan yang terdengar sayup dari kamar di sebelahnya. Dengan cepat dia berlari ke arah kamar mandi daripada dia ketahuan jika dirinya mendengar percintaan Rissa dan Adam.


Sampai selesai sholat pun, suara-suara percintaan yang dilakukan oleh Rissa dan Adam seakan masih terus terngiang di telinganya. Tentu saja dia tahu apa yang sedang dilakukan Rissa dan Adam, karena dia pun pernah merasakan hal yang sama meskipun dalam situasi yang berbeda.


" Ya Allah, apa yang aku pikirkan?" Indhira menepuk keningnya sendiri, mencoba membersihkan pikiran-pikiran kotor yang ada di pikirannya saat itu.


Namun, kemunculan Bagas yang tiba-tiba ke rumah orang tua Rissa benar-benar mengganggu pikirannya. Hampir tujuh tahun berlalu, apakah kini Bagas sudah menikah? Bagas bukanlah pria yang sulit untuk mencari wanita. Bahkan wanita cantik akan mudah mengelilinginya Lalu, untuk apa lagi Bagas mencarinya?


***


Setelah dibicarakan dengan Pak Edwin dan Ibu Lidya, akhirnya mereka memutuskan untuk 'menyembunyikan' Indhira untuk sementara waktu di tempat kost di belakang La Grande Caffe. Pak Edwin yang membiayai biaya kost Indhira untuk satu bulan pertama sambil melihat situasi dan kondisi sebelumnya. Pak Edwin memilih tempat kost itu karena di sana lebih dekat dari tempat kerja Indhira juga fasilitasnya lengkap dan keamanannya terjamin.


Satu bulan berlalu, ternyata tidak ada yang mencurigakan di sekitar rumah Pak Edwin. Ketakutan yang mereka rasakan jika Bagas akan mengirim mata-mata tidak tidak sampai terjadi, hingga akhirnya Indhira bisa kembali ke rumah Pak Edwin.


Bagas sendiri juga tidak lagi mencari keberadaan Indhira karena dia merasa buntu tidak tahu harus mencari ke mana? Satu-satunya orang yang dia anggap dapat memberikan informasi tentang keberadaan Indhira pun tidak dapat memberikan jawaban yang dia butuhkan.


Bagas akhirnya fokus menjalani aktivitasnya menjadi pemimpin di salah satu perusahaan yang dimiliki Adibrata. Dia perlahan mulai belajar bagaimana cara mengelola dan memimpin perusahaan besar milik Papanya itu.


Sementara hubungan antara Bagas dan Evelyn pun semakin akrab meskipun mereka terpisah jarak. Sifat Evelyn yang periang seakan mewarnai hari-hari Bagas yang serius dengan pekerjaan di kantornya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2