
Indhira meluruskan kakinya duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya di tepi tempat tidur. Indhira memilih beristirahat sejenak sambil menunggu waktu Ashar tiba,
Indhira baru saja selesai menyetrika pakaian-pakaian Tante Marta, suami dan juga anak Tantenya itu. Terasa sangat letih tubuhnya saat ini, karena dia memang sedang dalam kondisi tidak fit akibat masalah yang menderanya.
Suara de sahan terdengar dari mulut wanita cantik itu. Saat ini Indhira sedang bingung memikirkan apa yang harus dia lakukan ke depannya setelah putus dari sekolah. Apa dia harus mencari pekerjaan? Tapi pekerjaan apa? Sementara dia sendiri tidak memiliki ijasah SMA. Dia juga tidak mempunyai keahlian apa-apa yang bisa dia andalkan untuk mencari pekerjaan yang menggunakan tenaga. Indhira hanya bisa melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya.
" Ya Allah, bantu hamba mencari jalan keluar atas masalah yang sedang hamba hadapi saat ini. Hamba tidak ingin menyerah menghadapi cobaan yang mendera hamba ini, Ya Allah ..." Indhira memang tidak ingin terus larut dalam kesedihannya. Dia harus bisa bertahan hidup, walaupun Indhira yakin jika itu tidaklah semudah seperti diucapkan dan diniatkan.
" Heh, kenapa kamu malah santai-santai di sini?! Cepat bersihkan rumah sama masak untuk makan Tante dan Dahlia! Karena nanti malam kamu akan ikut Om kamu pergi!" Tante Marta benar-benar seperti bayangan bagi Indhira, Di mana pun Indhira berada, Tante Marta seolah selalu mengikuti dan tidak bisa membuat Indhira tenang.
" Om Ferry mau bawa aku pergi ke mana, Tan?" Indhira terkejut saat Tante Marta mengatakan jika suami dari Tantenya itu akan membawanya pergi. Dia tidak ingin berburuk sangka. Namun, dia merasa takut jika dirinya akan dibuang oleh Om Ferry.
" Astaghfirullahal adzim!" Indhira segera menepis pikiran buruk yang melintas di benaknya.
" Om kamu akan mencarikan pekerjaan untuk kamu! Om kamu itu sudah meminta bantuan bosnya, agar bisa memberikan pekerjaan untuk kamu agar kamu tidak terus membebani kami!" Seakan tidak punya malu, Tante Marta justru menganggap jika keberadaan Indhira hanya akan membebani keluarganya. Padahal selama ini, justru Tante Marta dan keluarganya yang menumpang hidup di rumah Indhira dan menikmati uang pensiunan Papanya Indhira.
" Memang aku akan disuruh kerja apa, Tan?" Indhira tidak memperdulikan perkataan Tantenya yang sangat menyakitkan itu. Dia lebih fokus pada kalimat mencari pekerjaan untuknya. Sementara dia sendiri tidak punya keahlian apa-apa.
" Nanti kamu juga akan tahu! Cepat bersihkan rumah dulu! Jangan malas-malasan saja!" Tante Marta tentu tidak akan menceritakan apa yang telah direncanakan oleh dia dan suaminya.
" Tapi, apa harus pergi malam ini, Tante? Kenapa tidak besok pagi saja?" Indhira masih merasa heran kenapa Om Ferry.membawanya mencari pekerjaan pada waktu malam hari. Memangnya dia harus mengerjakan apa malam hari?" pikir Indhira bertanya-tanya sendiri.
" Heh, kamu itu sudah dibantu, bukannya bilang terima kasih malah banyak tanya! Sudah bagus kami memikirkan nasib kamu! Memangnya kamu mau kerja apa dengan modal ijasah SMP? Paling juga jadi pembantu! Dan memang pekerjaan itu yang cocok buat kamu!" Tante Marta beranjak pergi meninggalkan kamar Indhira setelah mengucapkan kalimat menyakitkan. Dia benar-benar telah tertutup mata hatinya hingga membenci Indhira begitu dalam sampai mengatakan Indhira seperti pembantu.
Indhira memejamkan mata menahan perasaan sakit atas perkataan Tante Marta tadi kepadanya. Jika dalam keadaan tertekan seperti ini, dia begitu merindukan sosok Papanya. Ingin dia mengadu, mengeluh dan menangis dalam pelukan Papanya itu.
Indhira hanya sanggup menangis dan meratapi nasibnya yang semakin hari semakin tak jelas akan ke arah mana tujuannya.
***
" Baik, Pak Bos. Setelah isya saya dan keponakan saya segera meluncur ke sana."
" Bagaimana, Pa?" Saat Om Ferry mengakhiri panggilan teleponnya dengan Pak Harta, Tante Marta merasa penasaran dan langsung bertanya, ke mana suaminya itu akan membawa Indhira.
" Aku disuruh bawa keponakanmu itu ke hotel, Ma." sahut Om Ferry.
" Lalu sisa uangnya kapan akan dikasih ke kita, Pa?" Tante Marta menanyakan soal uang yang dijanjiikan oleh Pak Harta sebagai uang bonus karena mereka telah mengorbankan Indhira pada bos di tempat Om Ferry bekerja.
" Bosku bilang nanti kalau Indhira selesai melayani dia," jawab Om Ferry.
" Tapi, dia tidak bohong 'kan, Pa?" Tante Marta takut jika mereka akan ditipu oleh Pak Harta.
" Tidak mungkin dong, Ma! Bosku itu bukan orangnya yang senang ingkar janji. Apalagi jika menyangkut soal perempuan dan kepuasan." Om Ferry menyeringai meyakinkan sang istri agar tidak perlu takut akan ditipu oleh Pak Harta.
" Lalu, apa Indhira akan kembali pulang ke sini, Pa?" Tante Marta berambisi sekali ingin menguasai rumah milik kakaknya hingga dia berharap Indhira tidak kembali ke rumah itu.
" Untuk sementara mungkin akan pulang, Ma. Tapi, kalau bosku ternyata memang menyukai Indhira dan mau menjadikan dia sebagai simpanannya. Nanti aku akan bilang supaya bosku itu mengontrakan rumah untuk Indhira, Ma. Jadi Indhira tidak perlu kembali lagi ke rumah ini." Om Ferry menjelaskan rencananya kepada Tante Marta.
Sementara dari balik pintu kamar, Indhira yang sejak tadi mendengar percakapan antara Tante Marta dan Om Ferry seketika tersentak kaget. Dia yang awalnya hendak ke arah dapur menarik langkahnya saat dia mendengar suara Om Ferry ketika dia melintas di depan kamar Tante Marta.
" Aku disuruh bawa keponakanmu itu ke hotel, Ma."
__ADS_1
Indhira seketika mengerutkan keningnya saat mendengar Om Ferry mengatakan akan membawa dirinya ke hotel. Untuk apa Om Ferry mengajaknya ke hotel? Indira bertanya-tanya.
" Astaghfirullahal adzim!" Seketika Indhira dilanda ketakutan membayangkan jika Om dan Tantenya itu merencanakan sesuatu yang jahat untuknya. Walaupun selama ini mereka tidak pernah bersikap baik terhadapnya. Namun, membayangkan jika dia sampai disuruh menjual dirinya, tentu saja itu adalah hal paling menyeramkan dalam hidupnya.
Indhita mempertajam pendengarannya dengan harapan apa yang dia dengar tadi adalah kesalahan. Tapi, semakin lama percakapan yang dia dengar antara Tante Marta dan Om Ferry semakin menegaskan jika apa yang direncanakan oleh kedua orang itu sama seperti dugaannya. Tante Marta dan Om Ferry memang berniat menyingkirkan dirinya dari rumah orang tuanya sendiri, dengan cara menjualnya ke bos di tempat Om Ferry bekerja.
" Sedang apa kamu berdiri di sini!?" Suara Dahlia yang terdengar kencang membuat Indhira terperanjat.
" Kamu menguping obrolan Papa Mamaku, ya!?" tuding Dahlia menatap tajam ke arah Indhira yang memegangi dadanya karena kaget.
" Ada apa?" Tante Marta yang mendengar suara putrinya berteriak langsung keluar kamar bersama dengan Om Ferry.
" Ada apa, Dahlia? Kenapa teriak-teriak?" Kali ini Om Ferry yang bertanya kepada Dahlia.
" Dia ini dari tadi menguping percakapan Papa sama Mama!" Dahlia mengadukan kelakuan Indhira kepada orang tuanya.
Tante Marta dan Om Ferry seketika terkejut saat menyadari Indhira mendengar apa yang mereka perbincangkan tadi.
" Tante sama Om mau menjual aku ke Bos Om Ferry?" Seakan tidak percaya, Indhira menayakan kebenaran soal hal tersebut dan masih berharap pendengarannya itu salah.
" Memangnya kamu bisa kerja apa, hahh!?" Tante Marta menjawab pertanyaan Indhira dengan menyentaknya.
" Aku tidak mau, Tante! Itu dosa! Aku tidak mau lagi terjebak dalam dosa!" Indhira menolak dengan menangis. Dia merasa sudah berdosa dan dia tidak mau lagi terjerambab di dosa besar yang sama.
" Heh, kamu itu sudah kotor! Jadi sekalian saja kamu jual diri! Enak, bisa dapat duit! Bisa beli rumah, bisa beli mobil! Daripada kamu melakukan itu dengan Bagas, yang ada kamu dikelurkan dari sekolah!" bentak Tante Marta emosi menganggap Indhira sok jual mahal.
" Tidak, Tante! Aku tidak mau!!" Indhira memutar tubuhnya ingin berlari ke kamarnya. Namun, tangan Om Ferry sudah mencekal lengannya dengan cukup kencang.
" Diam, kamu!! Kalau kamu tidak diam, akan Om beritahu warga di sini jika kamu itu terlibat kasus video a susila yang sedang viral, supaya mereka mengusir kamu dari tempat ini secepatnya!" Tanpa belas kasihan, Om Ferry mengancam Indhira akan menyebarkan fakta jika Indhira adalah pelaku dari video viral itu.
Indhita seketiba tercengang dengan ancaman yang diberikan oleh Om Ferry terhadapnya sementara tangisnya semakin kencang terdengar.
***
Indhira menangis dalam pejalanan menuju hotel di dalam mobil ojek online yang dipesan oleh Om Ferry. Dia tidak ingin melakukan apa yang diminta oleh Tante Marta dan Om Ferry. Tapi, dia pun tidak tahu bagaimana harus melepaskan diri dari ancaman Om nya itu.
Saat ini Indhira seperti sedang berdiri di tepi jurang dan siap didorong jatuh ke bawah oleh Om dan Tante nya itu.
" Berhentilah menangis! Om tidak ingin bos Om marah karena kamu menolak kemauannya!" Di hadapan driver yang membawanya bersama Indhira menuju hotel pun, Om Ferry tetap memarahi Indhira dengan nada menyentak. Hingga membuat driver itu memperhatikan Om Ferry dan Indhira dari kaca spion.
" Aku tidak mau melakukan ini, Om! Hiks ..." Indhira masih berusaha menolak.
" Kamu tidak punya pilihan! Ikuti saja kemauan Om! Ini lebih baik daripada kamu menjadi pengangguran di rumah karena putus sekolah. Kamu bisa dapat uang banya dan hidup enak!" Om Ferry mengimingkan materi yang akan diterima oleh Indhira jika Indhira menuruti kemauannya.
Setengah jam kemudian, mobil yang membawa Indhira dan Om Ferry sampai di sebuah hotel mewah yang dipilih oleh Pak Harta untuk menikmati kesenangannya bersama Indhira.
" Jangan menimbulkan kecurigaan orang! Berhentilah menangis!" Om Ferry kembali membentak Indhira yang masih saja terisak.
Om Ferry juga memaksa Indhira untuk segera turun dari mobil dan masuk ke dalam hotel. Sementara Indhira hanya menundukkan kepala dan menutupi sebagian wajahnya dengan rambut panjangnya.
Saat masuk ke dalam hotel, Om Ferry membawa Indhira menunggu di lobby hotel, sementara dia sendiri mengambil ponselnya dari saku celananya.
__ADS_1
" Halo, Pak Bos. Saya sudah ada di hotel. Pak Bos sudah ada di mana?"
Saat Om Ferry terlihat serius dengan teleponnya, Indhira merasa ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya melarikan diri.
Indhira menengok ke arah pintu lobby hotel yang berjarak sekitar sepuluh puluh meter dari tempatnya duduk kemudian melirik ke arah Om nya yang masih menelepon dengan posisi berdiri. Membuat Indhira memutuskan untuk segera pergi dari hotel itu secepatnya.
Indhira bangkit dan bergegas berlari kabur dari Om Ferry. Namun karena rasa takut dan gugup, dia sampai tidak melihat apa yang ada di depannya.
Buuuggghh
" Hei, lihat-lihat kalau jalan!" bentak wanita yang ditabrak Indhira hingga ponsel wanita itu terjatuh.
" M-maaf, Tante." Indhira menoleh ke arah Om Ferry yang kini menoleh ke arahnya dan menyadari jika dirinya berusaha kabur.
Indhira kembali berlari ke luar hotel saat Om Ferry mendekat ke arahnya. Dia harus segera menjauh jika tidak ingin tertangkap oleh Om Ferry dan dijual ke bos dari Om nya itu. Indhira sendiri sampai tidak sempat membantu orang yang dia tabrak tadi.
" Indhira!! Kemari, kau!!" teriak Om Ferry memanggil nama Indhira.
Indhira terus berlari karena dia merasa ketakutan, apalagi saat mendengar suara Om Ferry berteriak memanggil namanya. hingga akhirnya Indhira bersembunyi di dekat pot bunga yang cukup besar untuk menyembunyikan diri.
" Indhira!! Berani sekali kamu kabur!!" Indhira menahan nafasnya saat jarak Om Ferry berada sekitar empat meter dari pot bunga tempat dia bersembunyi. Tak henti-hentinya Indhira berdoa agar ada keajaiban yang datang dan akan mengeluarkannya dari bencana yang dapat menimpanya jika dia sampai tertangkap oleh Om Ferry.
Indhira melihat sepasang suami istri yang berjalan melintas di hadapannya. Kedua orang itu berhenti di samping sebuah mobil mewah di sebelahnya. Sang pria membuka pintu dan mempersilahkan wanita berhijab masuk lebih dahulu ke dalam mobil itu. Tanpa pikir panjang, Indhira berlari mendekat dan ikut masuk ke dalam mobil mewah hingga membuat dua orang itu terkesiap.
" Astaghfirullahal adzim!!" Wanita paruh baya berhijab itu tersentak kaget saat melihat orang asing tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya.
" Hei, siapa kamu?!" Bahkan pria paruh baya yang masih berdiri di luar karena tertahan olehnya yang lebih dahulu masuk ke dalam mobil dengan tidak sopan, kini terlihat marah kepadanya.
" Om, Tante, tolong saya ...! Saya mau dijual oleh Om saya, Om, Tante." Dengan menangis dan menangkup tangan di depan dadanya, Indhira memohon bantuan kepada dua orang yang dia duga adalah pandangan suami istri.
" Indhira! Di mana kamu!?" Kembali suara Om Ferry terdengar samar dari dalam mobil.
" Tante, tolong selamatkan saya, Tan." Indhira bahkan menggenggam tangan wanita berhijab itu. Dia tak kuasa menahan tangisnya hingga kini tersedu di hadapan wanita paruh baya itu.
" By, cepat tutup pintunya! Dan Hubby duduk di depan saja!" Wanita paruh baya itu menyuruh sang suami untuk menutup pintu dan masuk ke dalam mobil.
" Tapi, Honey ..." Pria itu terlihat ragu menerima permintaan dari sang istri.
" Cepat, By! Kasihan dia!!" Melihat suaminya tidak bertindak cepat, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu merasa kesal sendiri.
" Iya, iya, Honey. Kamu jangan marah-marah seperti itu." Pria tadi lalu mengikuti permintaan sang istri.
*
*
*
Bersambung ....
🤔🤔 siapa kira² mereka?
__ADS_1
Happy Reading❤️