
Indhira merasa sulit memejamkan matanya, padahal tubuhnya terasa penat seharian ini mengikuti acara prosesi akad nikah sampai acara resepsi pernikahan Rissa dan Adam.
Ingatannya akan Bagas seketika kembali saat dia melihat dan mendengar bosnya tadi menyanyikan lagu di wedding party Rissa dan Adam. Gaya bicara dan suara merdu Raffasya benar-benar membuat dirinya teringat kembali pada sosok mantan kekasihnya dulu.
" Ya Allah, kenapa sulit sekali untuk melepaskan perasaan ini?" keluh Indhira merasa sulit melupakan perasaannya terhadap Bagas, padahal bertahun-tahun dia mencoba melupakan pria itu.
Mungkin karena rasa cintanya dulu yang terlalu besar hingga dia sulit menghilangkan bayangan Bagas yang seakan terus menghantuinya seperti saat ini.
Indhira bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar Rissa. Malam ini Rissa tidak menginap di rumah, karena Rissa sedang menikmati malam pertamanya bersama Adam di hotel selama dua hari. Mungkin setelah pulang dari hotel dan sebelum pindah ke rumah baru mereka, Rissa dan Adam akan menginap di rumah orang tuanya dan memakai kamar Rissa. Sementara Indhira akan tidur di kamar Tante Sandra.
Semua anggota keluarga sudah terlelap karena sama-sama merasakan lelah seperti dirinya. Namun, hanya dirinya saja yang masih terjaga, hingga membuat Indhira berniat mengambil air wudhu untuk melakukan sholat malam, agar pikirannya bisa kembali tenang dan dapat terlelap karena besok dia harus kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara di belahan bumi lainnya, Evelyn terus berusaha mengakrabkan diri dengan Bagas. Dia sering menghubungi Bagas via telepon, berbincang soal materi mata kuliah yang tidak dia kuasai dengan baik dan Bagas memang akan membantu menjelaskan kepada Evelyn. Evelyn juga kadang menyempatkan diri menemui Bagas di New Jersey, bahkan dia membujuk orang tuanya untuk membelikan sebuah apartemen yang sama dengan apartemen yang ditempati Bagas, agar dia bisa menghabiskan waktu libur di kota itu untuk bisa bertemu dengan Bagas.
Ddrrtt ddrrtt
Bagas mengambil ponselnya. Dia melihat nomer Evelyn yang menghubungi saat ini. Walaupun dia tidak menyimpan nomer telepon Evelyn di kontak ponselnya, namun dia hapal yang menghubungi saat ini adalah Evelyn, karena wanita itu sering menghubunginya.
" Halo, ada apa Eve?" tanya Bagas saat menjawab panggilan masuk dari Evelyn.
" Hai, Bagas. Kamu ada di apartemen sekarang?" tanya Evelyn dari seberang.
" Iya, kenapa?" tanya Bagas kemudian.
" Kalau begitu keluarlah!" Kalimat bernada perintah terdengar dari dalam ponsel Bagas.
.
Bagas seketika menoleh ke arah pintu kamarnya, kemudian dia berjalan keluar kamarnya dan melangkah ke ruang tamu apartemen dan membuka pintu apartemennya itu.
" Surprise ...!!" Kemunculan Evelyn saat Bagas membuka pintu apartemennya membuat pria itu terkejut.
Bagas melihat Evelyn tersenyum dengan menenteng bag berisi makanan dan minuman di kedua tangannya.
" Apa kamu tidak ingin menyuruh aku untuk masuk ke dalam?" tanya Evelyn saat Bagas hanya terlihat bengong.
" Oh, silahkan ..." Bagas membuka lebar pintu apartemennya dan mempersilahkan Evelyn masuk. Bagas tentu tidak mungkin mengusir atau menolak Evelyn yang berkunjung ke apartemennya, jika tidak ingin Papanya marah atau menegurnya. Apalagi dia tidak punya alasan untuk menolak kedatangan Evelyn saat ini.
" Kamu kapan datang kemari?" tanya Bagas saat Evelyn sudah masuk ke dalam apartemen.
" Aku datang semalam," sahut Evelyn mengeluarkan beberapa makanan cepat saji yang bawanya. " Kamu pasti belum makan siang, kan? Ini aku bawakan burger dan spaghetti. Kita makan dulu, yuk!" Evelyn mengajak Bagas menyantap makanan yang dibawanya.
" Kamu mau apa, Bagas? Spaghetti atau cheese burger?" Evelyn memberikan pilihan kepada Bagas.
" Burger saja." Bagas memilih burger.
" Oke." Evelyn menyordorksn burger kepada Bagas.
" Kamu menginap di mana?" tanya Bagas menerima burger yang diserahkan Evelyn kepadanya.
" Di apartemenku," Evelyn mengaduk spaghetti untuk dia makan.
" Apartemen kamu??" Bagas mengerutkan keningnya, masih belum menggigit burger di tangannya.
" Iya, aku 'kan sekarang punya apartemen di sini, Bagas. Ada di lantai tujuh." Dengan menyeringai Evelyn menceritakan jika dia pun memiliki apartemen yang sama dengan Bagas, walau beda lantai.
" Kamu punya apartemen di sini?" Bagas terkesiap saat Evelyn mengatakan jika wanita itu pun memiliki apartemen di tempat yang sama seperti dirinya.
" Iya, kamu kaget, ya?" Evelyn mengakhiri kalimatnya dengan tertawa kecil melihat ekspresi Bagas yang kaget.
" Sejak kapan kamu punya apartemem di sini?" Evelyn tidak pernah menyinggung soal apartemen sebelumnya, sehingga dia menduga jika Evelyn baru memiliki apartemen di sana.
" Sejak satu Minggu lalu. Papa belikan aku apartemen di sini, biar aku tidak pulang pergi di hari yang sama kalau aku main ke sini," ucapnya kemudian mulai menyantap spaghetti yang sudah dia campur dengan toppingnya.
" Oh ya, kamu kok tidak keluar apartemen. weekend gini?" tanya Evelyn kembali.
__ADS_1
" Aku memang tidak pernah keluar jika bukan untuk ke kampus atau cari makan. Kamu tahu itu, kan? Setiap kamu datang ke sini, aku selalu ada di tempat," jawab Bagas mulai menyantap burger di tangannya.
" Kamu tidak senang berkumpul dengan teman-teman kamu, Bagas? Kenapa?" tanya Evelyn. Memang benar, setiap dia menyempatkan waktu datang berkunjung ke tempat Bagas, pria itu selalu ada di apartemennya, tidak pergi ke mana-mana.
" Malas," jawab Bagas singkat.
" Kalau kamu malas, kamu harus cari pacar, Bagas! Biar kamu semangat dan ada yang menyemangati kamu! Memangnya di kampus kamu tidak ada wanita cantik yang bikin kamu jatuh hati, gitu?" Evelyn mulai menyinggung soal hal privasi. " Papa kamu bilang selama di sini kamu tidak pernah berpacaran. Yang benar saja, Bagas!? Kamu itu ganteng, lho! Harus aku akui itu. Masa tidak ada teman wanita di kampusmu yang tertarik padamu? Memang tidak ada wanita cantik yang bikin kamu terpesona di kampusmu itu?" Evelyn merasa penasaran apa yang membuat Bagas seperti tidak berminat terhadap wanita.
" Aku hanya fokus kuliah, tidak ingin memikirkan hal itu dulu!" tegas Bagas memberi jawaban atas pertanyaan Evelyn.
" Tapi, apa sama sekali kamu tidak berniat mencari pacar? Kamu cukup lama di sini, lho! Jauh dari keluarga, kamu kok betah menyendiri tanpa banyak teman dan tanpa kekasih?" Jawaban yang diberikan oleh Bagas tidak membuat Evelyn merasa puas, sehingga dia kembali bertanya.
" Aku malas memikirkan soal itu!" jawab Bagas yang mulai tidak nyaman dengan pertanyaan Evelyn.
" Kamu normal 'kan, Bagas?" Pertanyaan Evelyn kali ini membuat mata Bagas terbelalak. Tak lama itu menatap Evelyn cukup lama.
" Kalau kamu mau tahu aku ini normal atau tidak!? Aku pernah merenggut kesucian kekasihku saat SMA dulu. Hingga terekam video dan video itu tersebar dan membuat kekasihku itu dikeluarkan dari sekolah, diusir dari rumahnya dan dijual oleh Om nya kepada lelaki hidung belang. Sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana nasib kekasihku itu, apa dia masih hidup atau tidak!? Apa dia hamil anakku atau tidak!? Aku ini laki-laki be jat yang sudah menghancurkan hidup dia, menghancurkan masa depannya! Kamu pikir, dengan rasa bersalah yang terus menghantuiku, apa aku bisa bersenang-senang menikmati hidupku dengan berganti teman wanita lain!?" Bagas akhirnya mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya selama ini kepada Evelyn dengan nafas turun naik, dia mencoba meredam emosi karena merasa tidak berguna dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu Indhira.
Bagas tidak perduli aibnya masa lalunya terungkap. Dia juga tidak perduli jika Papanya tahu, Papanya itu akan memarahinya karena dia membuka masalah yang telah mencoreng nama baik keluarganya. Dia justru berharap setelah Evelyn tahu masa lalunya, wanita itu akan menjauhinya dan rencana perjodohannya dengan Evelyn dibatalkan.
Evelyn sendiri nampak terperanjat mendengar cerita tentang Bagas yang sebenarnya. Dia tidak menyangka jika Bagas yang terlihat dingin dan kaku dulunya adalah pemain cinta yang handal dan mampu menghipnotis setiap wanita dengan rayuannya.
***
Beberapa bulan berlalu. Bagas sudah menuntaskan kuliah S2 nya di salah satu kampus di New Jersey. Hari ini acara wisuda digelar dan Bagas telah mengapai gelar Master of Business Adminstration setelah dua tahun mengambil program Magister di kampus itu. Bagas kini siap kembali ke Jakarta untuk menerapkan ilmu yang dia dapat untuk mulai mengelola perusahaan milik Adibrata di Indonesia.
" Congratulation, Bagas." Evelyn memberikan sebuah buket bunga kepada Bagas dan memberikan ucapan kepada Bagas atas prestasi yang telah dicapai Bagas dapat menuntaskan kuliahnya dan berhasil lulus dengan IPK Cumlaude
Evelyn ikut hadir dalam acara wisuda Bagas mendampingi Angel, Mama Bagas. Adibrata sendiri berhalangan hadir karena dia ada pertemuan penting dengan relasi bisnisnya di Tokyo, Jepang.
Evelyn sendiri tetap menjalin hubungan baik dengan Bagas. Sejak dia tahu rahasia masa lalu Bagas yang buruk, wanita itu sama sekali tidak menjauhi Bagas walaupun sempat kaget mendengar pengakuan Bagas itu.
Evelyn juga tidak membuka aib Bagas pada Papanya. Evelyn justru terus mendekati Bagas. Evelyn merasa jika Bagas membutuhkan seseorang yang bisa diajak bicara dan bertukar pikiran. Karena dari sikap Bagas yang awalnya seorang yang humble menjadi sosok yang dingin dan pendiam, Evelyn merasakan jika Bagas menyimpan suatu beban berat yang sulit untuk dilepaskan.
Evelyn bahkan rela menjadi tempat berkeluh kesah Bagas tentang kekangan yang dia rasakan dari orang tuanya setelah kejadian peristiwa skandal video yang beredar.
" Thank's, Eve! Semoga tahun depan kamu bisa mengikuti." Bagas melepas topi wisudanya lalu memakaikannya di kepala Evelyn membuat wanita cantik itu tertawa senang.
" Semoga dengan memakai topi wisudamu ini kepintaranmu ikut menempel di otakku." Evelyn berkelakar dan tertawa lebar.
" Kalian berdua kelihatan senang sekali." melihat keakraban interaksi antara putranya dengan Evelyn, tentu membuat Angel merasa senang. Karena selama kuliah di Amerika, Angel memang tidak pernah mendengar putranya itu dekat dengan wanita manapun.
" Aku sedang minta ditularkan kepintarannya Bagas, Tante. Siapa tahu dengan pakai topi ini jadi tertular." Evelyn masih tetap bercanda.
" Sayang sekali Bagas akan kembali ke Jakarta, sudah tidak ada lagi yang bisa aku mintai bantuan untuk menyelesaikan tugas-tugasku nanti, dong!" Evelyn memasang wajah memberengut dengan bibir mencebik.
" Hei, biasanya juga kamu itu minta bantuan aku via telepon, kan? Apa bedanya jika aku ada di Indonesia? Kalau ada materi yang sulit kamu pahami, kamu bisa tanyakan ke aku." Bagas berjanji akan tetap membantu Evelyn dalam hal menyelesaikan tugas-tugas Evelyn yang selama ini sering dia lakukan.
" Kamu pikir kamu masih ada waktu dengan jabatan sebagai CEO yang akan kamu pegang nanti? Kalau waktu masih kuliah, kamu punya banyak waktu senggang. Kalau sudah di kantor, kamu pasti sibuk dengan pekerjaan, mana ada waktu membantu menyelesaikan tugas-tugasku?!" Evelyn memutar bola matanya.
" Kalau begitu kamu harus belajar lebih tekun! Jangan hanya mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan tugasmu jika tidak ingin gelar sarjanamu itu dibilang abal-abal!"cibir Bagas.
Evelyn mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang diucapkan Bagas.
" Abal-abal itu apa?" tanyanya heran. Karena hampir seumur hidupnya di habiskan di negara Amerika, sehingga Evelyn kurang memahami bahasa gaul yang terasa asing di telinganya.
" Palsu!" Bagas berseru menyebut arti kata yang diucapkannya tadi.
" Iiiihhh ...!!" Evelyn spontan memukul lengan Bagas, saat dia mengetahui arti kata yang diucapkan Bagas tadi.
" Enak saja bilang gelarku palsu!! Kalau gelar sarjanaku palsu, untuk apa aku capek-capek ikut kuliah bertahun-tahun!?" Evelyn bertolak pinggang dengan mata melotot ke arah Bagas, membuat pria itu terkekeh.
" Sudah, sudah, jangan bertengkar! Bagaimana kalau sekarang kita cari makan saja?" Angel melerai perdebatan antara Bagas dan Evelyn.
" Ayo, Ma! Bagas juga lapar sekali." Bagas pun menerima tawaran Mamanya. Dan mereka bertiga pun mencari restoran untuk mengisi perut mereka.
__ADS_1
***
Bagas menatap rumah berlantai dua di depannya. Dia masih ingat, dulu tempat itu adalah rumah Indhira. Dari bangunan yang berdiri sekarang, tidak menyisakan bangunan lama dari rumah itu sebelumnya. Bagas juga yakin, jika pemilik rumah itu sekarang tidak ada hubungan apa-apa dengan Indhira.
Bagas tidak berniat bertanya kepada tetangga sekitar rumah Indhira, karena saat itu Indhira kabur dari rumahnya, sudah pasti mereka tidak akan tahu di mana Indhira saat ini berada.
" Kita jalan, Pak! Nanti saya kasih tahu akan ke mana lagi." Bagas menyuruh supir yang menjemputnya dari bandara meninggalkan tempat itu.
Ini adalah hari kedatangan Bagas setelah enam tahun menuntut ilmu hingga mencapai gelar S2 nya di Amerika. Saat tiba di Bandara, Bagas meminta supirnya itu membawa dia menuju rumah Indhira. Tentu Bagas masih hapal di mana letak rumah Indhira. Walaupun dia tahu tidak akan menemukan Indhira di sana. Namun, dia merasa ingin mengunjungi tempat itu.
" Sekarang kita ke mana, Den?" tanya pak Zul kepada Bagas.
Bagas mengambil ponselnya. Dia mencari alamat rumah Rissa yang pernah Benny kirimkan kepadanya dulu. Karena dia ingin berkunjung ke rumah Rissa. Siapa tahu Rissa bisa memberikan informasi kepadanya soal Indhira. Walaupun selama ini wanita itu selalu bersikap ketus, namun setelah enam tahun lebih berjalan, dia berharap sikap Rissa padanya akan melunak.
" Ke alamat ini, Pak!" Bagas menunjukkan alamat yang ingin ditujunya sebelum dia kembali ke rumah orang tuanya.
" Baik, Den." Setelah membaca alamat yang ingin dituju oleh Bagas, Pak Zul pun mulai mengendarai mobilnya menuju alamat yang tertera di ponsel Bagas tadi.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Pak Zul sudah tiba di depan rumah bercat hijau, cat yang berbeda dari warna cat sebelumnya yang berwarna beige.
" Benar ini rumahnya, Den?" tanya Pak Zul.
" Sepertinya iya, Pak." Bagas membuka pintu dan keluar dari mobil.
Bagas berjalan ke arah pintu gerbang dan menekan bel di dekat pintu gerbang.
Sekitar lima menit menunggu, seorang wanita keluar dari dalam rumah dan berlari ke arah gerbang membukakan pintu untuk Bagas.
" Cari siapa ya, Mas?" tanya ART di rumah Pak Edwin.
" Hmmm, benar ini rumahnya Rissa?" tanya Bagas kemudian.
" Mbak Rissa sudah sudah tidak tinggal di sini, Mas. Sekarang sudah ikut suaminya." ART rumah Pak Edwin mengabari jika Rissa sudah tidak tinggal di rumah itu lagi.
" Rissa sudah menikah?" Bagas memang tidak mendapat kabar soal pernikahan Rissa.
" Benar, Mas."
" Lalu, yang tinggal di sini siapa saja?" Bagas mencoba peruntungan, siapa tahu ada nama Indhira di dalam nama yang akan disebut oleh ART orang tua Rissa itu.
" Di sini hanya Bapak, Ibu, Bu Sandra, Dhika dan ...."
" Siapa, Bi?" suara Ibu Lidya terdengar dari dalam rumah menanyakan siapa tamu yang tadi membunyikan bel rumahnya.
" Ini, Bu. Temannya Mbak Rissa." sahut ART tadi.
" Suruh masuk saja kalau begitu!" Ibu Lidya menyuruh ART membukakan pintu untuk tamu yang tidak dia kenali.
" Baik, Bu." Setelah menyahuti perkataan Ibu Lidya, ART itu mempersilahkan Bagas masuk ke dalam.
" Maaf, Adik ini siapa, ya?" tanya Ibu Lidya menatap Bagas penuh tanda tanya, karena dia memang tidak pernah bertemu Bagas secara langsung.
" Saya Bagas, Tante. Teman Rissa SMA dulu."
Bola mata Ibu Lidya membulat sempurna mendengar Bagas menyebut namanya.
" Bagas? Teman SMA Rissa? Apa Bagas ini orang yang sudah membuat Indhira menderita?" Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benak Ibu Lidya. Seketika dia merasa menyesal, seandainya dia tahu orang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang menghancurkan hidup Indhira, mungkin dia tidak akan membiarkan Bagas masuk ke dalam rumahnya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️