
Indhira seolah membeku saat dia merasakan tangan kokoh Bagas merengkuh dan memeluknya erat. Dia ingin menolak, namun dia seolah merasakan ada kekuatan yang menghalangi dirinya untuk berontak, seolah dia tidak memiliki tenaga untuk menepis tangan Bagas yang memeluknya erat. Bahkan sampai tas kerja Azkia yang ada di genggamannya pun terlepas dan jatuh ke lantai.
Indhira seakan terlempar ke masa lalu, saat dia masih berseragam putih abu-abu. Saat dia masih berstatus kekasih Bagas. Pria itu selalu mencuri-curi kesempatan memeluknya seperti saat ini. Dan pelukan Bagas masih terasa hangat seperti dulu.
Bola mata Indhira seketika mengembun. Walau mati-matian dia berusaha melupakan sosok Bagas, namun dari hati yang paling dalam, dia masih memendam rasa rindu pada mantan kekasihnya itu. Bukan hanya rindu, rasa cinta pun sepertinya masih tetap bersemayam di relung hatinya.
" Selama ini aku mencarimu. Ke mana saja kamu selama ini, Ra?" Bagas membelai rambut panjang Indhira, seakan menunjukkan jika dia sangat menyanyangi Indhira. Bagas seakan tidak perduli jika saat ini bukan hanya dia dan Indhira saja yang berada di ruangan itu.
" Ehemm ...! Apa kamu lupa jika saat ini berada di rumah orang?" Suara Azkia yang diawali dengan berdehem seakan menyadarkan dua insan yang sedang melepaskan kerinduan menumpuk di antara mereka berdua.
Indhira dan Bagas sama-sama tersadar. Indhira bahkan langsung mendorong tubuh Bagas agar melepaskan pelukan dari tubuhnya.
" M-maaf, Bu, Pak." Indhira langsung tertunduk dengan wajah memerah karena merasa malu saat menyadari dirinya saat ini sedang berada di tempat bosnya. Apalagi dengan perkataan Azkia yang tadi menyindir Bagas.
" Maafkan saya, Pak, Bu. Maaf jika saya bertindak lancang." Bagas juga menyampaikan permohonan maafnya kepada Raffasya dan Azkia karena dia terlalu emosional, tidak dapat menahan perasaannya.
" Saya rasa sebaiknya kalian berdua harus bicara. Kalian harus menyelesaikan sesuatu yang mungkin belum sempat kalian bicarakan dulu. Jika kalian merasa tidak nyaman untuk bicara di rumah kami, kalian bisa memilih tempat lain untuk berbincang. Selesaikan masalah kalian secara tuntas agar tidak ada lagi suatu yang mengganjal." Raffasya memberi kesempatan kepada Bagas dan Indhira untuk berdiskusi. Raffasya pun menyadari, akan sulit untuk Bagas terlebih Indhira jika harus berbicara secara pribadi di rumahnya, hingga dia membiarkan mereka jika ingin mencari tempat lain untuk berbicara.
" Indhira 'kan harus bekerja, Pa!" Azkia langsung memprotes suaminya.
" Saya harus bekerja, Pak!" Di saat yang bersamaan, Indhira pun menolak disuruh berbicara dengan Bagas di waktu kerjanya.
" Kali ini, biarkan dia menyelesaikan urusannya, Ma." Raffasya mengusap punggung Azkia, membuat Azkia memberengut karena menganggap suaminya terlalu membela Bagas.
" Kalian boleh pergi, dan bawa Indhira pulang kemari jika kalian sudah menyelesaikan urusan kalian." Entah mengapa, Raffasya terlihat begitu mudah mempercayai Bagas. Seakan menyadari jika Bagas tidak akan bertindak jahat kepada Indhira.
" Baik, Pak Raffasya. Saya janji akan membawa Indhira kembali ke sini setelah saya berbicara dengan Indhira." Bagas berjanji tidak akan melanggar syarat yang diajukan Raffasya.
" Pa, kenapa membiarkan dia membawa Indhira pergi, sih!?" Azkia masih terlihat sewot dengan keputusan suaminya.
" Mama tenang saja." Raffasya merangkulkan tangannya di pundak Azkia.
Sementara Indhira merasa bingung. Sebenarnya dia tidak ingin pergi bersama Bagas. Namun ucapan Raffasya ibarat perintah baginya yang harus dia turuti.
" Ra, kita bicara di luar." Bagas mengajak Indhira untuk berbicara di tempat lain.
Indhira menatap wajah Azkia yang terlihat memberengut. Ada rasa tak enak hati kepada bosnya itu. Ini adalah hari kedua dia bekerja, tapi dia sudah membuat masalah. Dia tidak tahu apakah dia masih bisa bekerja kembali dengan Azkia esok hari.
Indhira lalu berganti menatap Raffasya. Bosnya di La Grande Caffe itu justru menganggukkan kepala seolah mengijinkan dia pergi bersama Bagas.
" Ayo, Ra!" ucap Bagas dengan tangan menggenggam Indhira, namun kali ini Indhira dengan cepat menepis tangan Bagas yang menyentuh tangannya. Dia tidak ingin kedua bosnya itu berpikiran buruk terhadapnya.
" Maafkan saya, Bu." Indhira lebih dahulu meyampaikan permohonan maafnya kepada Azkia yang langsung memalingkan wajahnya.
" Saya permisi dulu, Pak, Bu. Assalamualaikum ..." Setelah itu dia berpamitan, entah dia juga tidak tahu akan dibawa ke mana oleh Bagas.
" Waalaikumsalam ..." Sahut Raffasya yang diikuti Azkia dengan nada ketus.
" Pak Raffasya, Bu Azkia, terima kasih untuk kepercayaannya kepada saya. Saya berjanji tidak akan menyakiti Indhira." Bagas bersumpah jika dia tidak akan melakukan hal yang akan menyakiti hati Indhira selama kepergiannya bersama Indhira nanti.
" Coba saja kalau kamu berani menyakiti Indhira lagi! Kau itu sudah lebih dari cukup menyakiti Indhira selama ini!" Mendengar ucapan Bagas, Azkia langsung menghardik pria itu.
Bagas terdiam, dia menyadari jika dirinya telah membuat hidup Indhira menderita. Mungkin hukuman terberat pun masih kurang untuk menghukum kesalahannya pada Indhira.
" Sebaiknya kalian segera pergi!" Raffasya menyuruh Bagas untuk segera meninggalkan rumahnya agar tidak terus mendengar omelan dari Azkia.
" Baik, Pak! Permisi ..." Bagas berpamitan kepada Raffasya. " Ayo, Ra!" Bagas kembali meminta Indhira untuk mengikutinya.
" Iiihh, kenapa Papa kasih ijin Bagas pergi, sih!?" Azkia menghentakkan satu kakinya karena merasa suaminya terlalu lemah menghadapi Bagas yang dia pikir adalah biang dari penderitaan Indhira selama ini.
__ADS_1
" Mereka itu harus secepatnya menyelesaikan masalah mereka, Ma. Agar tidak berlarut-larut. Kalau kita melarang Bagas bertemu Indhira, dia akan terus menunggu di luar sampai kita mengijinkan dia masuk untuk mencari Indhira." Raffasya kembali menerangkan kepada Azkia agar Azkia mau mengerti posisi kedua orang itu.
" Tapi mereka 'kan bisa bicara di sini, Pa! Kenapa harus bicara di luar, sih!? Kalau Bagas membawa kabur Indhira gimana?" Azkia merasa khawatir akan Indhira.
" Papa yakin tidak akan terjadi apa-apa, Ma. Lagipula mereka butuh tempat yang nyaman untuk berbincang." Raffasya memberi pengertian istrinya.
" Memangnya di tempat ini tidak nyaman?"
" Di sini tempat paling nyaman untuk kita dan anak-anak kita. Tapi belum tentu nyaman untuk orang lain. Jika Papa jadi Bagas juga, Papa akan mencari tempat lain untuk berbincang dari pada di tempat orang lain." Raffasya mengusap lengan Azkia yang masih dalam rengkuhannya.
" Mama mau berangkat sekarang? Papa saja yang antar Mama. Nanti kalau pulang dari butik Papa akan jemput Mama." Raffasya berniat menemani istrinya itu ke butik.
***
" Apa Bagas belum bangun, Mbok Nah?" tanya Adibrata saat dia, istrinya dan anak perempuannya menikmati sarapan pagi bersama.
" Maaf, Tuan. Den Bagas semalam tidak pulang," sahut Mbok Nah.
" Bagas tidak pulang? Memangnya pergi ke mana dia?" Adibrata terkejut mendengar Bagas tidak pulang semalam. Selama kembali ke Jakarta, Bagas memilih tinggal di rumah orang tuanya. Tidak menetap di apartemen atau membeli rumah sendiri seperti eksekutif muda lainnya. Bagas memilih tinggal di rumah Papanya karena dia ingin menemani sang adik, Kartika.
Bagas menyadari jika kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing, sehingga dia takut adik bungsunya yang baru menginjak usia lima belas tahun itu akan terjebak pergaulan yang salah seperti dirinya di masa lalu. Dia tidak ingin Kartika bertemu dengan pria sepertinya ketika muda dulu.
" Saya tidak tahu, Tuan." Mbok Nah langsung tertunduk. Tentu dia takut jika Adibrata akan marah saat mengetahui Bagas tidak pulang semalam.
" Dihubungi saja HP nya, Pa. Tidak biasanya Bagas tidak pulang ke rumah, kan?" Angel, istri Adibrata menyarankan suaminya untuk menghubungi anaknya.
" Kak Bagas memang selalu pulang ke rumah, tidak seperti Papa sama Mama," celetuk Kartika.
Ucapan Kartika membuat kedua orang tuanya saling berpandangan.
" Kartika, bicara yang sopan pada orang tua!" Adibrata menegur putrinya yang dianggap bersikap lancang terhadap dirinya juga istrinya.
Adibrata lalu mendengus kasar. Dia tidak tahu di mana keberadaan anak sulungnya saat ini.
" Di mana anak itu? Sejak semalam Papa hubungi nomernya juga tidak aktif!" Adibrata bangkit dari kursinya lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mencoba menghubungi Bagas kembali.
" Kartika, Mama itu kalau tidak pulang karena Mama ada acara." Angel melakukan pembelaan diri atas sindiran yang dialamatkan Kartika kepadanya dan juga suaminya tadi.
Kartika melengos seakan bisa menerima alasan yang diberikan Mamanya. Karena dia tahu jika acara yang dimaksud Mamanya bukanlah hal penting yang bersifat darurat untuk keluarganya. Tapi, hal pribadi yang menyangkut gengsi Mamanya sebagai salah seorang sosialita yang berstatus sebagai istri seorang pengusaha terkenal dan kaya raya.
***
" Kamu apa kabar, Ra?" tanya Bagas ketika mereka berdua berada dalam perjalanan di mobil mencari tempat yang enak untuk berbicara.
" Alhamdulillah baik ..." sahut Indhira pelan. Sejujurnya hatinya saat ini berdebar-debar. Mungkin karena ini adalah pertama kali dia berjumpa kembali dengan mantan kekasihnya dulu.
" Kamu ke mana saja selama ini, Ra?" tanya Bagas kembali karena Indhira merespon dengan baik pertanyaan.
Namun, untuk pertanyaan kali ini, Indhira memilih diam tak menjawab pertanyaan Bagas.
" Aku selama ini mencari keberadaan kamu, Ra." Bagas seakan ingin Indhira mengetahui jika selama ini dirinya tidak melupakan Indhira begitu saja.
Indhira masih diam. Dia bingung harus merespon apa. Pertemuannya dengan Bagas hari ini benar-benar di luar perkiraannya dan membuatnya terkejut.
" Aku minta maaf, karena perbuatanku dulu membuat kamu harus berhenti sekolah, Ra."
Untuk perkataan Bagas kali ini Indhira menghembus nafas panjang, hingga terdengar di telinga Bagas. Mungkin Bagas tidak merasakan di posisi Indhira saat itu yang serba tertekan.
Bagas akhirnya menghentikan mobilnya di tepi jalan di bawah pohon yang tinggi menjulang dan terlihat rindang.
__ADS_1
" Aku juga tidak pernah datang ke sekolah setelah kejadian itu, Ra. Aku melanjutkan belajar dengan cara home schooling dan saat lulus SMA langsung dikirim ke Amerika untuk kuliah di sana." Bagas mulai menceritakan bagaimana kehidupannya setelah kasus video viral itu terungkap.
" Selama aku di Amerika, aku masih menyuruh Benny untuk mencari kamu, Ra. Tapi, Benny tidak pernah berhasil menemukanmu. Aku juga pernah berkunjung ke rumah Rissa setelah selesai kuliah dua tahun lalu. Tapi orang tua Rissa mengatakan jika mereka tidak tahu kabar tentang kamu."
Indhira tahu saat Bagas datang ke rumah Rissa, hingga membuat dirinya harus kost agar tidak ditemukan oleh Bagas.
" Aku benar-benar bingung, tidak tahu harus mencari kamu ke mana lagi, Ra." Bagas menjelaskan jika dia sungguh merasa frustasi tidak menemukan Indhira.
Indhira hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas tanpa berniat menjawabnya. Bibirnya seolah terkunci. Tak sanggup untuk berkata sepatah kata pun.
" Sampai akhirnya beberapa waktu lalu, aku lewat di tempat pemakaman Papa Mamamu. Aku ingat dulu kamu selalu pergi ke sana untuk berdoa dan berkeluh kesah. Dari sana aku mendapat informasi jika ternyata kamu masih berada di Jakarta dari penjaga makam. Dari dia juga aku mendapatkan nomer ponsel kamu, Ra."
Indhira terbelalak saat Bagas mengatakan mendapatkan nomer ponselnya dari penjaga makam. Indhira memang meninggalkan nomer teleponnya kepada penjaga makam saat dia mengurus perbaikan makam kedua orang tuannya.
" Aku pernah menghubungi kamu. Aku hanya mendengar suara kamu, tapi aku berbicara karena aku takut kamu akan menghilang kembali. Mungkin kamu ingat beberapa waktu lalu ada yang meneleponmu tapi tidak berkata apa-apa, kan?" Bagas terkekeh mengingat apa yang dia lakukan beberapa hari lalu.
Ucapan Bagas kali ini sukses membuat Indhira menolehkan pandangan ke arah pria itu dengan tatapan mata tidak percaya.
" Jadi kamu yang meneleponku waktu itu?" tanyanya kemudian.
Bagas senang akhirnya Indhira merespon kembali ucapannya. Setidaknya Indhira tidak membisu seperti tadi.
" Iya." Masih dengan tawa kecil Bagas menganggukkan kepalanya.
Indhira mendengus seraya memalingkan wajahnya menyadari keusilan Bagas yang tidak berkata apa-apa saat meneleponnya.
Bagas tersenyum melihat wajah memberengut Indhira. Sungguh dia sangat merindukan semua yang ada pada diri Indhira. Tawanya, tangisnya, marahnya, kesalnya juga kadang manjanya. Dan kali ini dia mendapatkan salah satu dari sikap Indhira yang dia rindukan itu.
" Dua hari lalu saat aku makan siang di rumah makan khas Sunda, aku melihat kamu bersama seorang wanita berjalan ke luar restoran hingga masuk ke dalam mobil. Aku mengejar ke luar, tapi mobil yang membawa kamu seperti menghilang secepat kilat.
Indhira kembali terbelalak ketika Bagas mengatakan melihat dirinya di rumah makan Sunda. Seketika Indhira teringat jika saat itu dia pun merasakan jika ada seseorang yang memangil namanya. Dia pikir itu tidak nyata. Ternyata pendengarannya tidaklah salah, karena saat itu Bagas memang berteriak memanggil namanya.
" Untung saja aku langsung menghubungi pihak restoran untuk mendapatkan rekaman cctv. Dari sana aku mendapatkan nomer plat mobil wanita yang bersama kamu dan aku menyuruh orang untuk mencari tahu siapa pemilik mobil itu, hingga akhirnya aku sampai di rumah Pak Raffasya." Bagas menuntaskan cerita singkatnya pada Indhira selama delapan tahun terpisah dari Indhira.
" Ra, aku minta maaf atas kesalahanku dulu. Aku sungguh menyesal telah membuat hidupmu penuh penderitaan. Aku tidak tahu bagaimana menebus kesalahanku itu padamu, Ra. Aku merasa tidak berguna, tidak dapat membantumu melewati setiap masalah yang kamu hadapi," ucap Bagas penuh penyesalan.
Bola mata Indhira seketika mengembun. Memang sangat menyakitkan jika harus mengingat penderitaannya ketika harus berjuang memghadapi badai dalam hidupnya selama ini. Tak berapa lama air mata pun langsung menetes di pipinya.
" Aku sudah berjanji untuk menebus kesalahanku dulu kepadamu, Ra. Aku bersumpah untuk membuatmu hidup bahagia kelak. Aku membayangkan bisa hidup berdua denganmu, mengapai kebahagiaan seperti ketika masih bersama dulu. Tapi, sepertinya aku terlambat ..." Bagas mengucapkan kalimat terakhir dengan kesedihan. Membayangkan Indhira akan menikah membuat hatinya terasa hancur.
Indhira menoleh ke arah Bagas saat kalimat terlambat terucap dari mulut Bagas. Indhira berpikir jika saat ini Bagas sudah memiliki pendamping hidup, sehingga pria itu menyesal tidak bisa merajut kembali keinginan untuk bersamanya.
" Aku harus senang melihat kamu bahagia, Ra. Walaupun itu membuat hatiku terasa sakit. Tapi, setidaknya kamu sudah mengapai kebahagiaan kamu. Semoga pria pilihanmu itu dapat memberi kebahagiaan yang tidak dapat aku berikan kepadamu," lirih Bagas.
Indhira mengerutkan keningnya mendengar Bagas berbicara. Dia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan Bagas kepadanya. Apalagi saat Bagas mengulurkan tangan ke arahnya seolah ingin berjabat tangan.
" Selamat atas rencana pernikahan kamu, Ra. Kamu layak hidup bahagia. Aku sungguh cemburu pada pria yang berhasil mendapatkan cintamu itu, Ra."
Bola mata Indhira kembali membulat sempurna, dia benar-benar bingung dengan kata-kata Bagas yang menyebutkan jika dirinya yang akan menikah.
" Aku akan menikah? Dengan siapa aku menikah? Bagaimana Bagas bisa berpikiran jika aku akan menikah? Siapa yang mengatakan jika aku akan menikah?" Berbagai pertanyaan penuh kebingungan tiba-tiba menyeruak di pikiran Indhira.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️