SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Perdebatan


__ADS_3

Adibrata sedang dibalut amarah karena tindakan Bagas yang tanpa sepengetahuan dan ijinnya membatalkan bertunangan dengan Evelyn. Baginya, itu adalah satu kesalahan yang cukup fatal yang sudah dibuat oleh putranya itu.


Menurut Adibrata, memutuskan ikatan pertunangan dengan Evelyn adalah kerugian besar bagi keluarganya. Bukan hanya kerugian saja, tapi juga dia merasa malu berhadapan dengan, Nathael, sahabatnya. Padahal, selama ini dialah yang berusaha membujuk Nathael agar mau berbesan dengannya dan meminta Evelyn untuk menjadi istri putranya. Dan setelah sebuah hampir berjalan sempurna, tiba-tiba saja Bagas menghancurkan segalanya. Sekarang, bagaimana dia harus berhadapan dengan Nathael? Harus menanggung malu atas sikap yang diambil oleh Bagas tanpa sepengetahuannya.


Adibrata sangat yakin, Bagas mengambil keputusan besar ini, pasti karena ada seseorang yang mempengaruhinya. Namun, Adibrata tidak tahu siapa sosok orang yang telah memuat anaknya berbelok arah? Sementara Dahlan dan Taufan yang dia suruh mengawasi Bagas, bahkan tidak melaporkan apa-apa kepadanya.


" Kamu tidak bisa seenaknya mengambil keputusan tanpa seijin Papa Bagas! Apalagi keputusan bo doh yang kamu ambil itu berdampak fatal terhadap hubungan Papa dengan keluarga Evelyn!"


" Kenapa kamu sampai bertindak seperti itu? Kenapa kamu tidak memikirkan dampaknya terhadap nama baik keluarga kita, Bagas!?" Rasa kecewa dan marah kini bercampur menjadi satu di hati Adibrata. Apa yang dilakukan oleh putra yang sangat dia banggakan seakan meni kam tepat di jantungnya.


" Maaf jika keputusanku sangat mengecewakan Papa dan Mama. Tapi, aku sudah memikirkan ini baik-baik, Pa. Om Nathael, Tante Merry dan Evelyn juga sudah dapat menerima keputusan aku ini. Mereka semua bisa mengerti, Pa. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu Papa khawatirkan dengan nama baik keluarga kita." Bagas merasa, alasan Papanya yang mengatakan jika dirinya membuat malu nama baik kelurarga, dengan membatalkan pertunangannya dengan Evelyn terlalu berlebihan. Nyatanya dia bisa berhadapan langsung dengan Nathael. Dengan gentle dia mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada Nathael. Setidaknya dia tidak meninggalkan Evelyn begitu saja.


" Tidak perlu dikhawatirkan? Maksudmu sikapmu yang seenaknya ini tidak perlu kami khawatirkan? Kamu menyuruh Papa menahan malu karena pertunangan kalian gagal?" geram Adibrata.


" Pa, kita tidak bisa mengatur jodoh seseorang! Jika pertunangan aku dan Evelyn gagal, itu artinya Evelyn memang tidak ditakdirkan berjodoh denganku. Sekuat apa pun Papa memaksakan, itu tidak akan berhasil. Tuhan pasti akan menemukan jalan-Nya untuk memisahkan kami."


" Tapi jika Tuhan sudah mentakdirkan kita berjodoh dengan seseorang, walaupun berpisah jarak dan waktu yang cukup lama, dan sesulit apa pun rintangannya, kami pasti akan bisa disatukan." Bagas menjelaskan kepada Adibrata agar tidak menentang kehendak Sang Penciptanya dalam urusan menentukan jodoh untuk dirinya.


" Apa maksud dari ucapanmu itu, Bagas!? Apa kamu meninggalkan Evelyn demi wanita lain?" Adibrata menangkap jika Bagas telah menemukan wanita lain yang membuat Bagas meninggalkan Evelyn, seperti dugaan sebelumnya.


" Aku tidak meninggalkan Evelyn demi wanita itu, Pa. Karena hati aku sejak dulu ada pada wanita itu. Kepada wanita yang sejak dulu aku cintai!" tegas Bagas, mulai membuka soal hubungannya dengan wanita lain yang diduga oleh Papanya. Jika karena tidak ingin meminta ijin Papa dan Mamanya, ingin rasanya Bagas menutupi soal keberadaan Indhira, agar Adibrata tidak mengusik kehidupan Indhira kembali. Namun, karena dia berencana menikahi Indhira, mau atau tidak mau, dia harus mengatakan hal tersebut kepada Adibrata dan Angel.


" Wanita itu? Jangan kamu bilang kalau wanita itu adalah wanita yang sudah menjebakmu dulu sampai beredarnya video viral itu, Bagas!" Adibrata khawatir, jika apa yang dia takutkan benar menjadi kenyataan.


" Dia tidak pernah menjebakku, Pa! Kapan Papa bisa mengerti kalau semua itu adalah kesalahanku, kesalahan anak Papa sendiri! Aku yang sudah menodai dia dan dia yang harus menanggung akibatnya sendiri, sementara aku bisa hidup enak. Ini tidak adil untuk Indhira, Pa!" tegas Bagas menentang tudingan Papanya yang menyebut Indhira sebagai orang yang menjebaknya.


" Jadi benar wanita itu yang sudah membuat kamu memutuskan pertunanganmu!? Dasar wanita tidak punya harga diri! Berani sekali merusak hubungan orang!!" Adibrata semakin meradang setelah mengetahui wanita yang mempengaruhi keputusan Bagas adalah Indhira, wanita yang dulu dia singkirkan dari sekolah SMA Satu Nusa Satu Bangsa, karena dia anggap sebagai toxic bagi anaknya.


" Papa jangan menghina dan merendahkan Indhira seperti itu!!" Kini Bagas yang meninggikan suaranya. Rasanya tidak rela dia melihat Papanya menghina wanita yang dia cintai.


" Kenyataannya memang seperti itu! Dulu, dia mau-maunya diajak masuk ke kamar laki-laki. Seorang wanita yang punya harga diri, tidak mungkin mau melakukan hal itu. Jika dia seorang wanita terhormat, tidak mungkin dia tega merusak hubungan orang lain!" Adibrata tetap pada pendiriannya dengan mengatakan Indhira bukan wanita baik-baik.


" Semua itu atas keinginanku, Pa! Bukan permintaan apalagi paksaan darinya!" Perdebatan ayah dan anak itu semakin sengit, karena tidak ada satu pun yang mau mengalah. Sementara Angel nampak kebingungan dan juga dihinggapi rasa cemas, karena suami dan anaknya sedang beradu argumentasi dengan sangat sengit.


" Omong kosong dengan semua itu, Bagas!" sergah Adibrata. " Mulai detik ini, kamu tinggalkan dia! Jangan pernah temui dia lagi! Dan kamu kembali kepada Evelyn!" Adibrata mengatur Bagas untuk menuruti perintahnya.


" Aku tidak akan melakukan itu, Pa! Papa tidak bisa terus memaksa aku untuk mengikuti kemauan Papa! Aku sudah dewasa, saatnya aku memutuskan apa yang aku inginkan, termasuk menikahi Indhira Minggu depan!" tegas Bagas seolah menentang seorang Adibrata.


Serasa terkena tam paran di wajah Adibrata dan Angel saat mendengar rencana Bagas yang akan menikahi Indhira dalam waktu dekat.


" Apa katamu?? Kau ingin menikah dengan wanita itu!?" Aura gelap semakin menyelimuti wajah Adibrata. Dia benar-benar merasa marah, karena seakan dipermalukan oleh putranya sendiri.


" Iya, Pa. Aku akan menikah dengan Indhira Minggu depan!" tegas Bagas kembali.


" Kau tidak bisa melakukan hal itu, Bagas!" hardik Adibrata. " Papa tidak akan merestui kalian! Kalian tidak akan bisa menikah tanpa restu Papa!" tegas Adibrata menolak rencana pernikahan putranya dengan Indhira.

__ADS_1


" Itu sudah keputusanku, Pa! Dengan atau tanpa restu Papa, aku akan tetap menikahi Indhira! Aku anak laki-laki, pernikahan itu tetap bisa terjadi walaupun Papa tidak merestui kami!" Tak kalah tegas, Bagas bahkan mengucapkan kalimatnya dengan sangat lantang, seolah tidak terpengaruh oleh intimidasi yang diberikan sang Papa.


" Begini caramu membalas orang tuamu, Bagas!? Papa sudah mengurusmu, menyekolahkanmu sampai mendapat gelar sarjana. Menempatkan kamu sebagai CEO di perusahaan terbesar Papa. Tapi seperti ini balasanmu terhadap Papa!?" Adibrata sangat terpu kul dengan keputusan Bagas yang bersikeras menikah dengan wanita yang tidak dia sukai.


" Apa yang aku putuskan tidak mengurangi baktiku terhadap Papa dan Mama. Aku tidak akan mungkin lupa dengan jasa Papa dan Mama untuk keberhasilan pendidikanku juga karirku. Aku hanya minta Papa mengerti, jika untuk urusan hati, biarkan aku mengambil keputusanku sendiri. Karena semua itu aku lah yang akan menjalaninya," Bagas ingin sang Papa lebih mengerti keinginannya.


" Per setan dengan semua itu! Jika kamu tetap dengan keputusanmu itu, Papa pastikan kamu akan menyesal Bagas!" geram Adibrata dengan gigi mengerat.


" Aku tidak akan menyesali apa yang sudah aku putuskan, Pa. Justru aku menyesal karena aku baru bertanggung jawab atas perbuatan yang aku buat dulu!" Bagas menyangkal jika dia akan menyesal karena telah memilih Indhira dan meninggalkan Evelyn.


" Kau meninggalkan berlian hanya untuk mendapatkan barang rongsokan! Kau benar-benar memalukan, Bagas!" Hinaan terus saja dilancarkan Adibrata kepada Indhira.


" Cukup, Pa! Sudah cukup Papa menghina Indhira!. Aku rasa seharusnya Papa bisa menghargai anak Papa ini, setidaknya, aku bukan seorang pengecut yang lari dari masalah, dan aku mau bertanggung jawab atas kesalahanku dulu!" Bagas mulai terpancing emosi karena Papanya itu terus saja merendahkan Adibrata.


" Kalau kamu tetap nekat dengan keputusanmu ini, bersiaplah kamu akan kehilangan apa yang sudah kamu dapatkan termasuk jabatanmu di perusahaan, Bagas!" Adibrata mulai menebar ancaman. Dari kata-katanya, pria itu sudah mulai menyinggung soal jabatan Bagas di perusahaan yang sudah dua tahun dipegang oleh Bagas.


" Jika Papa meminta aku meletakkan jabatanku di sana, aku siap, Pa!" Kembali Bagas menegaskan jika dia tidak takut dengan ancaman apa pun yang dilakukan oleh Papanya.


" Bahkan jika Papa menyuruh aku meninggalkan rumah ini pun, aku siap melakukannya!" Bagas kemudian berdiri. Rasanya sudah cukup berdebat argumentasi dengan Papanya itu. Dia yakin, Papanya tidak akan mau mengalah dan tetap bertahan dengan kearogansiannya.


" Aku rasa apa yang ingin aku sampaikan kepada Papa dan Mama sudah cukup. Jika Papa dan Mama masih tidak menerima keputusanku ini, itu terserah Papa dan Mama. Yang pasti keputusanku untuk menikahi Indhira sudah bulat. Goodnight, Pa, Ma." Bagas lalu meninggalkan Papa dan Mamanya di ruang keluarga.


" Papa belum selesai bicara, Bagas!" geram Adibrata yang tidak dihiraukan oleh Bagas, membuat Adibrata semakin meradang dan murka.


" Anak tidak tahu diuntung!!" Bahkan mulut Adibrata sendiri mengucapkan kalimat yang tidak sepenasnya diucapkan oleh orang tua kepada anaknya


Bagas menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya yang empuk. Perdebatan alot yang terjadi antara dirinya dan Papanya tadi benar-benar menguras emosinya. Entah sampai kapan Papanya akan mempertahankan sikap egois dan kearoganannya itu.


Dia tidak mengerti, kenapa Papanya tidak bisa berjiwa besar seperti Nathael. Daddy dari Evelyn itu juga punya sikap yang keras, tapi dia bisa mengalah demi anaknya. Sementara Papanya? Papanya tidak pernah mau perduli apa yang dirasakan oleh anaknya, selama gengsi seorang Adibrata Mahesa tetap dapat dipertahankan.


Ddrrtt ddrrtt


Bagas menoleh ke arah ponsel yang dia taruh di atas nakas. Dia lalu bangkit dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya itu. Bagas mengerutkan keningnya karena nama yang dia lihat di layar ponselnya adalah nama Kartika.


Bagas menoleh ke arah pintu sebelum dia memutuskan panggilan masuk dari adiknya itu.


" Ada apa, Kartika?" tanya Bagas.


" Kak, Kak Bagas ingin pergi dari rumah ini? Kalau Kakak pergi dari sini, aku ikut Kak Bagas saja." Suara Kartika terdengar merajuk.


Bagas terkesiap mendengar ucapan adiknya. Dari mana Kartika tahu jika dia berucap akan meninggalkan rumah orang tuanya ini? Padahal Kartika tidak ikut bergabung dengan mereka di ruangan keluarga tadi. Apakah adiknya itu mencuri dengar perdebatannya tadi? Itu dugaannya


" Kenapa kamu bicara seperti itu, Kartika?" tanya Bagas kemudian. Dia tidak ingin adiknya itu menjadi cemas karena pertengkarannya tadi dengan sang Papa.


" Tadi Kak Bagas bilang akan meninggalkan rumah ini. Kalau Kak Bagas pergi, lalu aku sama siapa, Kak? Siapa yang akan memperdulikan aku lagi, Kak?" keluh Kartika. Karena hanya kepada Bagas dia merasa dekat.

__ADS_1


" Kakak tidak akan pergi ke mana-mana, Kartika." Bagas mencoba menenangkan adiknya yang sedang dilanda kegalauan karena mendengar ancamannya tadi kepada orang tuanya.


" Tapi, kalau Papa benar-benar mengusir Kak Bagas bagaimana, Kak?" Kartika sangat tahu karakter orang tuanya terutama Adibrata.


" Papa tidak akan setega itu terhadap anaknya, Kartika." Masih berusaha menenangkan, Bagas mencoba mengucapkan kalimat, yang dia sendiri tidak menjamin, apakah Papanya tega atau tidak melakukan hal tersebut.


" Papa itu super tega, Kak. Pasti Papa bisa saja mengusir Kak Bagas kalau Kak Bagas tetap memilih menikah dengan kekasih Kakak itu." Dengan suara hampir menangis, Kartika mengatakan jika Papanya bukan tidak mungkin sanggup melakukan hal tersebut.


" Kakak tidak ingin kamu terlalu memikirkan hal itu, Kartika. Sebaiknya kamu fokus dengan sekolahmu dan menggapai apa yang kamu cita-citakan." Bagas meminta agar adiknya itu lebih memusatkan perhatian kepada sekolahnya.


" Sekarang kamu istirahat saja, besok harus sekolah, kan? Apa kamu ingin Kakak antar ke sekolah?" Bagas memang sangat menyanyangi adik semata wayangnya itu. Bahkan sejak pulang dari Amerika dan sebelum berangkat ke kantornya, Bagas sering menawarkan diri mengantar adiknya itu berangkat ke sekolah.


" Kak Bagas capek Idak kalau bangun pagi besok?" Biasanya, Kartika langsung menjawab setuju jika Bagas menawarkan mengantarnya sekolah, tapi, karena dia tahu jika dini hari tadi kakaknya itu baru sampai dari Amerika, dia menanyakan apakah kakaknya itu tidak keletihan harus bangun pagi untuk mengantarnya sekolah.


" Untuk adik tersayang, tidak masalah harus bangun pagi," sahut Bagas bersedia mengantar Kartika ke sekolah demi membuat hati adiknya itu senang.


" Makasih, Kak. Kak Bagas memang Kakak terbaik sedunia." Kartika merasa bahagia, meskipun punya kesibukan sendiri sebagai seorang pemimpin perusahaan, kakaknya itu masih mempunyai waktu untuk memperhatikannya. Sangat berbeda jauh dengan kedua orang tuanya, yang lebih mementingkan kesibukan masing-masing.


Sementara itu di kamarnya, Adibrata sedang menghubungi Dahlan, orang yang bertanggung jawab mengawasi Bagas. Karena dia menilai anak buahnya itu telah lalai dan kecolongan atas apa yang dilakukan oleh Bagas.


" Selamat malam, Tuan." Suara Dahlan terdengar saat panggilan teleponnya tehubung dengan salah seorang dari dua orang yang dia tugasi mengawasi Bagas.


" Apa saja tugasmu, Dahlan!? Sampai apa yang dilakukan oleh Bagas tidak terpantau oleh kalian!?" geram Adibrata.


" M-maksud, Tuan?" Dahlan menjawab gugup, karena tentu saja dia tahu apa yang dilakukan oleh Bagas, namun dia menyembunyikan dari Adibrata. Dahlan sepertinya sudah pasrah jika sampai Adibrata tahu hingga murka dan memecatnya karena sudah membelot pada Bagas dengan tidak menceritakan soal Indhira kepada bosnya sendiri.


" Bagas pergi ke Amerika untuk mengakhiri petunangannya dengan Evelyn. Dan ternyata dia mempunyai rencana menikah dengan wanita rendahan yang pernah berkasus dengan Bagas saat SMA ituc. Bagaimana hal itu bisa luput dari pengamatanmu, Dahlan!?" Adibrata emosi dan menyalahkan,h jika anak buahnya itu tidak becus dalam bekerja.


" Maaf, Tuan. Saya memang tidak tahu soal itu," jawab Dahlan kembali berbohong.


" Percuma saya membayarkan kamu kalau kamu tidak bisa melakukan tugas dengan baik!" hardik Adibrata.


" Maafkan kami, Tuan."


" Sekarang juga, kamu cari tahu di mana wanita itu berada!? Saya akan memberi pelajaran kepada wanita itu agar tidak lagi mengusik kehidupan Bagas!" Adibrata menyuruh Dahlan melakukan penyelidikan terhadap tempat persembunyian Indhira.


" Saya tidak sudi bermenantukan wanita miskin seperti wanita itu. Saya yakin, dia hanya akan menguras harta milik keluarga saya saja, jika sampai menikah dengan Bagas. Saya tidak akan biarkan itu terjadi. Jadi saya ingin kamu dan Taufan mencari tahu, di mana wanita itu bersembunyi!? Biar saya sendiri yang akan berhadapannya!" Adibrata tentu sudah menyiapkan rencana untuk menggagalkan pernikahan yang sudah direncanakan oleh Bagas Minggu depan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy reading ,❤️


__ADS_2