SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Jodoh Tidak Akan Kemana


__ADS_3

Indhira tercengang saat Bagas mengulurkan tangannya dan mengucapkan selamat atas rencana pernikahan dirinya. Memangnya siapa yang akan menikah? Dengan siapa dia akan menikah? Jika itu memang benar, mungkin dia akan merasa bahagia karena ada pria yang sudi menerimanya dengan semua masa lalunya yang kelam.


Indhira juga terheran, dari mana Bagas punya anggapan jika dia akan menikah? Padahal dekat dengan pria setelah dia putus dengan Bagas pun tidak.


" Sejujurnya aku berharap, saat menemukanmu kamu masih sendiri, Ra. Saat penjaga makam itu memberitahu jika kamu selalu datang mengunjungi makam orang tuamu sendirian, aku semakin yakin jika kamu masih sendiri karena tidak ada pria yang menemani. Tapi, ternyata aku salah ..." Bagas menghembuskan nafas cukup panjang, menampakkan dengan jelas rasa sesal dan kecewa pria itu. Pandangannya lurus ke depan seakan tak sanggup menatap Indhira yang saat ini sedang memusatkan pandangan ke arahnya.


Indhira merasakan nada kesedihan dari kalimat yang diucapkan oleh Bagas. Air muka Bagas pun menampakkan kekecewaan. Indhira tidak menduga jika Bagas merasa terpu kul akan berita rencana pernikahannya. Setelah sekian lama, apakah Bagas juga masih mencintainya? Seketika cairan bening menetes di pipi Indhira.


" Siapa pria beruntung itu, Ra? Siapa yang berhasil mendapat cintamu itu?" Bagas menoleh ke arah Indhira. Namun, dia terkejut saat melihat Indhira meneteskan air mata.


" Kenapa, Ra? Kenapa kamu menangis? Apa kamu tidak bahagia dengan rencana pernikahanmu? Apa kamu terpaksa menikah?" Bagas heran melihat air mata Indhira. Bahkan secara spontan jarinya mengusap air mata Indhira seperti yang pernah dia lakukan dulu ketika Indhira menangis.


Indhira terkesiap saat merasakan tangan Bagas menyentuhnya. Dengan cepat dia menjauhkan wajahnya dari tangan Bagas dan menyeka air matanya sendiri.


" Ra, apa kamu tidak bahagia dengan rencana pernikahanmu? Jika memang begitu, sebaiknya kamu batalkan saja, Ra! Jangan mengambil resiko! Pernikahan adalah hal yang sakral. Pastikan pria yang akan kamu nikahi itu benar-benar mencintai kamu dan kamu juga mencintainya. Kalau belum menikah saja kamu sudah bersedih seperti ini, aku takut kamu tidak akan bahagia nantinya, Ra." Bagas seolah mempengaruhi Indhira agar memikir ulang rencana pernikahan Indhira yang sebenarnya hanya hoaks semata.


" Dari mana kamu dengar berita itu?" Akhirnya Indhira bertanya kepada Bagas, dari mana pria itu mendapatkan informasi soal rencana pernikahan yang tidak benar.


" Ibu Azkia. Ibu Azkia yang mengatakan jika kamu akan segera menikah," jawab Bagas jujur.


Indhira mende sah mendengar jawaban Bagas. Ternyata Azkia lah yang menyebarkan berita burung itu. Pantas saja bos nya itu terlihat keberatan saat Bagas ingin membawanya pergi. Bahkan sikap Azkia tadi terlihat ketus. Namun, Indhira memaklumi sikap Azkia karena dia yakin Azkia berusaha melindunginya sama seperti Rissa dulu terhadap Bagas.


" Ra, jujur padaku! Apa kamu memang menginginkan pernikahan itu?" tanya Bagas menuntut jawaban dari Indhira, karena dia yakin Indhira tidak bahagia dengan rencana pernikahan itu.


" Aku bahagia jika rencana pernikahan itu benar terjadi ..." lirih Indhira.


Jawaban Indhira seketika membuat hati Bagas mencelos. Ternyata dugaannya salah karena Indhira ternyata menginginkan pernikahan itu.


" Sayangnya pernikahan itu tidak ada."


Lanjutan kalimat Indhira seolah menumbuhkan kembali harapan Bagas yang tadi sempat layu. Bagas kembali menoleh ke arah Indhira. Dan kembali dia melihat air mata Indhira menetes di pipi Indhira.


" Kamu pikir, siapa pria yang mau menikah denganku? Wanita yang sudah tidak memiliki kesucian dan mempunyai kasus skandal video a susila yang dulu pernah tersebar." Indhira seketika menangis seakan melepaskan beban yang selama ini dia pikul kepada orang yang tepat. Orang yang sudah membuatnya mendapat berbagai macam masalah selama ini.


" Apa kamu pikir masih ada pria yang mau denganku dengan kisah masa laluku!?" Emosi di dada Indhita terasa meletup-letup. Dia pun seketika menangis, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Bagas terperanjat melihat Indhira menangis. Tangis yang terdengar pilu di telinga, bahkan menembus ke dalam hatinya. Bagas menyadari jika Indhira benar-benar tersiksa dan menderita karena dirinya, karena perbuatannya.


Bagas segera melepas seat belt nya. Dia lalu mendekat dan merengkuh tubuh Indhira ke dalam pelukannya. Hingga tangis Indhira semakin kencang saat berada dalam pelukannya. Bagas juga melepas seat belt yang dipakai Indhira agar lebih leluasa memeluk Indhira.


Bagas membiarkan Indhira menangis, melepaskan segenap beban yang menggelayut di hati wanita itu. Bagas mengusap kepala dan menciumi pucuk kepala Indhira. Dia tidak berkata-kata. Apa yang dia lakukan dia rasa cukup mewakili perasaannya kepada Indhira.


Bagas membiarkan situasi ini hingga beberapa menit berjalan, hingga tangis Indhira mereda dan Indhira meminta Bagas mengurai pelukannya.

__ADS_1


Bagas membantu Indhira menghapus air mata di pipi mantan kekasihnya dulu. Kulit wajah wanita itu masih terasa lembut tersentuh olehnya.


" Ra, menikahlah denganku! Kita perbaiki masa lalu kita. Aku yang sudah membuatmu menderita, aku yang berkewajiban membuatmu bahagia. Aku berjanji, aku akan memberikan kebahagiaan kepadamu, Ra." Bagas memohon agar Indhira mau menerimanya kembali dan merajut kembali kisah asmara mereka yang dulu sempat kandas ke jenjang yang lebih serius pernikahan.


Indhira tercengang mendengar permintaan Bagas yang ingin menikahinya. Apakah benar ini nyata? Bagas menginginkan mereka untuk bersama, merajut kisah mereka yang dulu terpaksa berakhir. Jujur dia akui, cintanya kepada Bagas masih tersimpan rapih di hatinya. Dan sepertinya Bagas pun merasakan hal yang sama.


Indhira menelan salivanya. Sungguh inilah yang dia inginkan, bisa bersama dengan orang yang sangat dicintainya. Tapi, apakah semudah itu dia dan Bagas akan bersama. Indhira tidak memikirkan rintangan dari keluarga Bagas, karena dia tidak tahu jika orang tua Bagas begitu menentang hubungannya dengan Bagas. Indhira justru mengkhawatirkan orang-orang di sekitarnya. Rissa dan keluarganya. Belum lagi kini ada Azkia dan Raffasya. Pasti tidak akan mudah untuk mereka bisa bersama.




" Indhira, beri aku kesempatan untuk membuktikan jika aku benar-benar menyesal dan akan bertanggung jawab." Bagas memohon agar Indhira memberikan kesempatan padanya. Dia menggenggam tangan Indhira yang terasa sangat dingin.


" A-aku ... aku tidak tahu, Bagas." jawab Indhira dengan penuh kebimbangan.


" Kenapa, Ra? Apa kamu tidak yakin padaku?" Bagas mempertanyakan keraguan Indhira.


" Kamu masih mencintaiku, kan? Aku yakin kamu masih mencintaiku, seperti aku pun masih sangat mencintaimu. Kita bisa memulai kisah baru kita, Ra." Bagas kembali meyakinkan Indhira untuk mau menerimanya.


Tiba-tiba saja Indhira teringat akan Crystal saat Bagas mengatakan masih mencintainya. Dia teringat saat Crystal mengatakan jika Bagas juga pernah melakukannya dengan Crystal.


" Apa kamu tidak berpikir bertanggung jawab pada mantan kekasihmu yang lain?! Bukankah kamu juga melakukan hal itu pada mantanmu yang lain, bukan hanya padaku saja!" Dada Indhira terasa bergolak, kecemburuan terlihat jelas dalam kalimat yang dia ucapkan saat ini.


" Apa maksudmu, Ra?" Bagas bingung dengan perkataan Indhira.


" Kenapa kamu bicara seperti itu, Indhira? Semua itu tidak benar!" Bagas menyangkal tuduhan Indhira.


" Kamu bohong, Bagas!"


" Ra, aku berani bersumpah! Aku tidak pernah melakukan hal itu pada siapa pun selain kamu!" tegas Bagas menolak tuduhan Indhira.


" Tapi Crystal bilang kalian juga pernah melakukannya!"


" Crystal? Kamu dengar itu dari Crystal dan kamu percaya dia!? Di mana dia sekarang? Aku berani dipertemukan dengannya untuk menyangkal semua tuduhannya itu!" Bagas bahkan berani bersumpah jika dia tidak melakukan apa yang dituduhkan Indhira juga Crystal.


" Ra, percayalah! Aku tidak pernah melakukan hal itu selain denganmu!"


Indhira terdiam, dia bingung harus percaya atau tidak dengan ucapan Bagas.


" Ra, yakinlah! Hanya kamu wanita yang benar-benar aku cintai. Aku tidak pernah mencintai wanita lain sedalam ini selain padamu!" tegas Bagas kembali.


" Aku tidak tahu, Bagas. Aku bingung. Aku takut ..." lirih Indhira.

__ADS_1


" Apa yang kamu takutkan, Ra? Ra, aku berjanji aku rela berkorban untukmu. Apapun akan aku lakukan untuk membuktikan jika aku sungguh-sungguh menginginkan kita bersama." Bagas terus berusaha mempengaruhi pikiran Indhira agar percaya kepada kata-katanya.


" Aku akan bawa kamu ke suatu tempat." Bagas kembali memperbaiki posisi duduknya dan memasang seat belt di tubuhnya. " Pasang sabuk pengamanmu, Ra!" Bagas pun menyuruh Indhira memakai seat belt yang tadi dia lepas.


" Kita mau ke mana, Bagas?" tanya Indhira sambil memasang seat belt nya.


" Nanti kamu akan tahu, Indhira!" Bagas lalu menjalankan mobilnya ke suatu tempat.


Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh Bagas terparkir ke area pemakaman. Indhira terkejut karena pria itu membawanya ke area tempat pemakaman kedua orang tuanya.


" Ayo, turun, Ra!" Bagas membukakan pintu untuk Indhira karena wanita itu tidak juga keluar dari mobil.


Indhira lalu keluar dari mobil Bagas dan berjalan beriringan dengan Bagas menuju makam Papa dan Mamanya.


" Sudah lama kita tidak ke sini bersama, ya?" ujar Bagas terkekeh mengingat dulu sering mengantar Indhira menziarah ke makam kedua orang tua Indhira.


Kini mereka berdua tiba di depan makam Papa dan Mama Indhira. Indhira duduk berlutut di pusara kedua orang tuanya. Tak terasa air matanya menetes di pipinya dan mulai berdoa untuk kedua orang tuanya itu.


Bagas pun melakukan hal yang sama dengan Indhira. Dia duduk berlutut di samping Indhira.


" Om, Tante, saya pernah berjanji akan menebus kesalahan saya. Saya akan menepati janji saya itu. Ijinkan saya menikahi Indhira, Om, Tante. Saya akan menjaga Indhira segenap jiwa dan raga saya." Di hadapan makam orang tua Indhira, kembali Bagas bersumpah, seolah kedua orang tua Indhira itu masih hidup.


Indhira menoleh ke arah Bagas. Kalimat yang diucapkan Bagas memang penuh keseriusan, hingga membuat bola matanya berkaca-kaca.


" Apa kamu masih belum yakin jika aku benar-benar menginginkanmu, Indhira?" tanya Bagas kemudian.


Seketika kebimbangan menghinggapi hati Indhira. Sungguh dia menginginkan bersama dengan Bagas, tapi dia ragu karena akan banyak rintangan yang akan dihadapi oleh mereka berdua. Dan dia tidak sanggup harus patah hati untuk kedua kalinya jika mereka gagal melewati rintangan itu.


" Bagaimana jika banyak yang akan menentang hal itu, Bagas?" tanya Indhira gamang.


" Kita akan hadapi bersama, Ra. Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan seperti dulu lagi." Bagas meminta Indhira untuk berjuang bersama dengannya untuk mencapai kebahagiaan mereka dan tidak menyerah dengan rintangan yang ada di hadapan mereka.


" Kita terpisah cukup lama. Nyatanya kamu dan aku masih saling mencintai. Mungkin Tuhan memang sudah mentakdirkan kita untuk bersama meski jalannya harus berliku. Percayalah, Ra! Apapun yang terjadi, kali ini aku tidak akan meninggalkanmu." tekad Bagas.


" Eh, Mbak Indhira. Tumben datang kemari bukan Kliwonan, Mbak." Tiba-tiba seseorang menyapa Indhira, orang itu adalah penjaga makam yang pernah memberikan nomer telepon Indhira pada Bagas. Penjaga makam lalu menoleh ke arah pria di samping Indhira.


" Lho, Mas ini yang waktu itu datang kemari, kan? Wah, akhirnya ketemu juga dengan Mbak Indhira nya, ya? Alhamdulillah, kalau memang sudah jodoh memang tidak akan ke mana walaupun sudah dipisahkan bertahun-tahun lamanya." Penjaga makam itu seakan menegaskan ucapan Bagas tadi yang menyebutkan jika Tuhan memang sudah menentukan garis jodoh Bagas untuk Indhira.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2