SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Seperti Anak Sendiri


__ADS_3

Sepulang bertemu dengan Gavin, Bagas mengunjungi bank cabang dia membuat rekening tabungannya dulu. Dia ingin mengganti kartu debit yang sudah expired dan menanyakan apakah status rekening tabungannya itu masih aktif apa sudah pasif, karena sekitar sembilan tahun tidak pernah dipakai meskipun masih ada saldo di tabungannya itu.


Setelah urusan dengan pihak bank selesai, Bagas menyempatkan diri mencari kontrakan yang akan dia dan Indhira tempati setelah menikah, sementara dirinya akan mengajukan KPR untuk tempat tinggalnya kelak.


Dua malam kemarin Bagas menumpang di ruang Lusiana dan Fariz. Tidak enak rasanya jika harus terus-terusan menyusahkan mereka sehingga Bagas harus mencari kontrakan.


Bagas mencari kontrakan yang letaknya tidak jauh dari hotel tempat dia bekerja nanti. Karena hotel itu tak jauh dari kampus tempat orang tua Azkia bekerja, membuatnya mudah mendapatkan kontrakan di sana.


Bagas mendapatkan kontrakan seharga dua juta rupiah perbulan. Dia membayar untuk satu bulan kontrakan saja. Setelahnya dia pergi ke toko furniture untuk membeli spring bed, juga pergi ke toko elektronik untuk membeli kulkas dan televisi. Sementara untuk perlengkapan di dapur, dia akan menyerahkannya kepada Indhira. Dia tidak banyak membeli perabotan selama tinggal di kontrakan. Dia baru akan menyicil membeli perabotan rumah tangga jika sudah mempunyai rumah sendiri.


***


Adibrata benar-benar mendatangi hotel Gavin untuk mencari informasi soal lamaran pekerjaan yang dibuat oleh Bagas dan ditujukan kepada Gavin. Dia sebenarnya tidak habis pikir, bagaimana anaknya itu sampai nekat melamar pekerjaan di hotel yang pernah dia jadikan tempat acara pesta pertunangan Bagas dan Evelyn? Dia berpikir, apa Bagas tidak memikirkan dampak dari melamar pekerjaan di tempat Gavin akan menimbulkan rasa penasaran seperti yang disampaikan Gavin tadi kepadanya? Belum lagi gengsi yang harus ditutupi jika orang lain tahu, anaknya mengemis-ngemis mencari pekerjaan di luar.


" Maaf jika saya mengganggu waktu Anda, Tuan Gavin." Setelah sampai di ruangan Gavin dan dipersilahkan untuk duduk di sofa, Adibrata mulai percakapan dengan Gavin.


" Tidak apa-apa, Tuan Adibrata. Kebetulan hari ini saya tidak berlalu sibuk." Kendatipun sudah mendapat cerita lengkap dari Azkia soal bagaimana perilaku Adibrata dan sikap Arogan Adibrata, namun dia tetap harus menghargai tamunya itu.


" Apa yang ingin Tuan Adibrata sampaikan kepada saya?" tanyanya kemudian.


" Begini, Tuan Gavin. Sebenarnya saya dengan putra saya itu sedang terlibat konflik, ya ... biasalah namanya seorang Papa dengan anak laki-lakinya. Dia ingin meninggalkan tunangannya demi wanita yang tidak jelas, yang hanya memanfaatkan kekayaan Bagas. Maaf jika saya bilang, wanita murahan karena mau tidur dan menyerahkan kesuciannya kepada laki-laki tanpa ada ikatan pernikahan." Adibrata mulai menceritakan masalah pribadi yang terpaksa harus dia umbar di hadapan orang lain, karena dia tahu jika Gavin Richard bukanlah pebisnis yang licik yang ingin menjatuhkan lawan dengan menye rang kehidupan pribadinya.


" Tentu saja saya menentang keputusan putra saya itu. Anda sendiri menjadi saksi. bagaimana acara pertunangan itu digelar sangat mewah, dan putra saya itu mengakhiri pertunangan itu begitu saja. Sudah pasti saya sangat marah." Adibrata begitu berapi-api menceritakan perbuatan Bagas yang dianggapnya adalah suatu kesalahan.


" Karena itulah saya memberikan pilihan kepada putra saya itu. Jika dia memilih wanita murahan itu ...."


Gigi Gavin seketika mengerat saat Adibrata menyebut Indhira sebagai wanita murahan. Dia tahu tentang Indhira. Dia menjadi saksi ketika Indhira menangis, meminta bantuannya saat ingin dijual oleh Om nya sendiri. Bagaimana mungkin Adibrata menyamakan Indhira sebagai wanita murahan? Wanita yang hanya mengejar harta dari Bagas. Tanpa mendapat penjelasan dari Azkia pun dia tahu jika Indhira adalah sosok wanita yang baik, meskipun dirinya tidak mengenal begitu dekat sosok Indhira.


Gavin juga merasa jika dirinya bukankah manusia suci. Mungkin dia tidak jauh, beda atau mungkin lebih parah daripada Bagas, karena ketika muda dia terjebak dengan gaya hidup barat yang membuatnya menganut kehidupan bebas, berhubungan dan tinggal satu apartemen dengan kekasihnya kala itu, hingga kekasihnya itu hamil. Namun, dia merasa bersyukur karena bisa kembali ke jalan yang benar setelah dekat kembali dengan Daddy nya dan juga menikah dengan wanita sederhana dan sholehah seperti Azzahra.


Gavin juga bersyukur, meskipun dia telah menghamili kekasihnya dulu, Dad David justru menjamin cucu biologis itu hingga mendapatkan kehidupan yang layak. Dad David juga sangat menghormati mantan kekasihnya dulu, meskipun wanita itu bukankah wanita kaya raya seperti dirinya. Tidak bisa dia bayangkan jika dia mempunyai orang tua seperti Adibrata.


" Saya minta dia meletakkan jabatannya. Namun ternyata ancaman saya itu benar-benar dia tanggapi serius, Tuan Gavin. Dia rela meninggalkan keluarganya demi wanita ini." Adibrata berkisah sesedih mungkin, berupaya mendapat empati dari Gavin atas masalah yang terjadi dalam keluarganya.


" Menurut Tuan Gavin, bagaimana rasanya jika Anda berposisi seperti saya? Mempunyai anak yang menentang keputusan kita? Meninggalkan wanita baik-baik demi wanita yang tidak jelas keturunannya dan status ekonominya." Adibrata seolah mencari dukungan Gavin jika sikap yang dia lakukan pada Bagas adalah benar.


Gavin menarik nafas dalam-dalam. Seandainya dia tidak mengetahui cerita Azkia sebelumnya, mendengar Adibrata menghina Indhira membuatnya sangat marah. Namun, dia harus menjaga etika dan menghormati Adibrata sebagai salah satu rekan bisnisnya. Dia tidak mungkin seperti Azkia yang menca ci maki Adibrata semaunya.


" Setiap orang tua memang menginginkan hal terbaik untuk anaknya, Tuan Adibrata. Tapi, bagaimanapun juga mereka lah yang akan menjalaninya, bukan kita. Apa yang menurut kita baik untuk anak kita, belum tentu mereka punya pemikiran yang sama. Selaku orang tua, kita mesti bijak menyingkapi setiap permasalah terjadi pada anak-anak kita." Gavin berusaha bersikap netral sesuai dengan jalan pikirannya.


Jawaban dari Gavin, tentu saja bukan jawaban yang diinginkan oleh Adibrata. Dia berharap Gavin akan sejalan dengan pemikirannya. Dia berpikir jika Gavin pun tidak akan sudi mempunyai menantu wanita yang tidak sederajat dengan keluarga mereka yang tergolong dari status sosial atas.


" Bagas datang menemui saya, ingin mencari pekerjaan, sudah pasti saya hargai itu, Tuan Adibrata. Kebetulan saya sedang membutuhkan seseorang untuk mengisi posisi sebagai manager di salah satu hotel saya. Dan saya merasa putra Anda sangat berkompeten dengan pekerjaan itu. Maaf, Tuan Adibrata, bukan saya bermaksud meremehkan pendidikan dan kemampuan putra Anda, jika saya memberikan pekerjaan itu. Sementara ini hanya posisi itu yang sedang kosong saat ini." Gavin menjelaskan jika dia menerima Bagas yang akan dia tempatkan sebagai manager di salah satu hotelnya.

__ADS_1


" Jadi Anda berniat menerima putra saya bekerja di tempat Anda, Tuan Gavin?" Adibrata merasa kecewa. Tujuannya untuk menghalangi Gavin menerima Bagas, justru Gavin malah memberikan posisi yang justru cukup membuat Bagas bernafas lega. Untuk manager di salah satu perusahan milik Gavin Richard, dia perkirakan pendapatan yang akan diterima oleh Bagas di atas sepuluh juta rupiah. Jika itu benar terjadi, Bagas tidak akan kesusahan hidup meskipun tanpa bantuan darinya. Padahal harapannya Bagas merasa frustasi tidak mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya, menyerah dan kembali ke rumahnya lalu meninggalkan Indhira.


" Saya sangat senang orang seperti putra Anda bisa bergabung dengan hotel kami, Tuan." Gavin mengembangkan senyumnya. Dia menduga jika keputusannya itu sangat bertentangan dengan keinginan Adibrata yang menginginkan Bagas hidup susah setelah keluar dari rumah Adibrata.


" Dan juga ,.. maaf sekali jika saya harus mengatakan hal ini, Tuan Adibrata. Saya mengenal wanita yang bersama dengan Bagas saat ini. Dia adalah Indhira, dia karyawan keponakan saya. Dia sudah menyelamatkan cucu keponakan saya. Dan saya juga sudah menganggap Indhira seperti anak saya sendiri. Jadi saya rasa apa yang Tuan duga terhadap Indhira, semua itu tidak benar adanya. Indhira wanita baik-baik. Tidak mungkin Indhira akan merusak hidup putra Anda, Tuan Adibrata." Gavin menegaskan jika apa yang ada di dalam pikiran Adibrata tidaklah benar adanya.


Adibrata seketika terkejut saat mendengar Gavin menjelaskan jika wanita yang sudah membuat anaknya menentang dirinya ternyata dikenal oleh Gavin, bahkan Gavin pun mengatakan jika menganggap Indhira sebagai anaknya sendiri.


Hal tersebut bagaikan pu kulan telak bagi Adibrata, tujuannya untuk membuat Bagas dan Indhita hidup susah, justru banyak orang-orang kuat yang menolong mereka berdua.


***


Selepas Ashar, sore ini di rumah kediaman orang tua Rissa digelar pengajian jelang pernikahan Indhira dan Bagas yang akan diadakan esok hari. Tidak banyak tamu yang diundang dalam pengajian itu. Hanya tetangga dekat rumah Pak Edwin dan Ibu Lidya yang mengenal Indhira, juga keluarga Azkia termasuk Lusiana.


Ada rasa sedih dan baru di hati Indhira saat acara tersebut digelar. Bahkan air matanya tak henti mengalir di pipinya. Dia bahagia karena selangkah lagi dia akan menikah dengan Bagas, pria yang dia cintai. Pria yang telah membuat ia rela melepas kesuciannya. Namun, dia merasa sedih, karena saat dia akan melewati momen bahagia itu, dia tidak didampingi oleh kedua orang tuanya yang telah tiada. Meskipun dia banyak dikelilingi orang yang baik dan sayang padanya serta menganggap dirinya keluarga. Akan tetapi tetap terasa beda jika tidak ada orang tua kandung yang mendampingi.


" Ra, selamat, ya! Semoga pernikahan kalian lancar." Selepas mengadakan pengajian, Rissa yang saat itu ikut menghadiri acara tersebut memberikan ucapan selamat kepada sahabatnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.


" Terima kasih, Ris. Kamu sendiri kapan akan mengadakan tasyakuran empat bulanan?" tanya Indhira mengelus perut Rissa yang mulai membuncit.


" Bulan depan, rencananya, Ra. Nanti kalau sudah sah cepetan punya anak ya, Ra! Biar kita punya baby nya samaan." Rissa berharap Indhira pun akan segera diberikan omongan setelah resmi menjadi pasangan suami istri.


" Aamiin, Ris." Dengan wajah bersemu, Indhira meng-Aamiin-kan doa agar dirinya pun ketularan cepat diberikan momongan.


" Iya, Ris. Aku juga tidak menyangka jika aku dengan Bagas akhirnya bisa berjodoh seperti ini." Indhira juga merasakan jika dirinya seperti mimpi akan melaksanakan pernikahan dengan Bagas esok hari.


" Aku tidak menyangka jika Bagas ternyata benar-benar cinta sama kamu, Ra. Aku pikir dia itu hanya ingin bersenang-senang mempermainkan kamu saja, sama seperti pada teman wanita lainnya." Rissa sejak dulu memang tidak percaya jika Bagas benar tulus mencintai Indhira. Dan kini harus mengakui jika pria itu memang benar-benar menginginkan Indhira. Bahkan sampai rela terusir dari rumah dan pekerjaannya.


Indhira terkekeh mendengar ucapan Rissa. Dia ingat kala itu, Rissa selalu bersikap ketus kepada Bagas. Dia tahu tujuan sahabatnya itu baik, karena ingin melindunginya dari pria breng sek yang hanya akan memanfaatkan keluguan Indhira saja. Apalagi saat itu Bagas dikenal sebagai playboy yang senang gonta-ganti teman kencan.


" Kenapa ketawa, Ra?" tanya Rissa mengerutkan keningnya melihat sahabatnya itu tertawa renyah.


" Aku ingat dulu kamu suka marah-marah ke Bagas, karena Bagas selalu dekati aku." Indhira mengingat kenangan masa sekolah mereka dulu.


" Aku khawatir, Ra. Takut kenapa-napa. Nyatanya memang kejadian, kan!?" Rissa merasa tidak salah bersikap protektif kepada Indhira, karena dia khawatir pada sahabatnya yang memang terlalu lugu itu.


" Iya, sih, Ris." Indhira menghempas nafas panjang. Dia memang merasa menyesali apa yang pernah dia dan Bagas lakukan. Karena mereka sama-sama tidak kuat iman. " Aku juga menyesal itu sampai terjadi," sambungnya.


" Ya sudahlah, Ra. Yang penting kalian sama-sama bertobat dan bisa memperbaiki diri." Rissa merangkulkan tangannya ke pundak Indhira.


" Iya, Ris. Bersyukur juga Allah masih memberi kesempatan untuk kami bisa lebih baik lagi." Indhira masih bersyukur diberi kesempatan untuk berubah lebih baik dan bertobat.


" Ra, kita pulang sekarang, yuk!?" Azkia tiba-tiba muncul di hadapan Indhira dan Rissa. yang sedang berbincang.

__ADS_1


" Kok, buru-buru, Bu?" tanya Rissa menanggapi ucapan Azkia yang mengajak Indhira pulang ke rumah Lusiana.


" Anak-anak sudah rewel, Ris. Ini Mbak Uni baru saja telepon memberitahu." Azkia menyebutkan alasannya ingin segera pulang.


" Oh, ya sudah, Bu." Dan Rissa pun dapat memaklumi kenapa Azkia ingin buru-buru pulang


" Maaf, Bu. Nanti saya menyusul saja pulangnya. Saya mau bantu Tante Lidya beres-beres bekas acara pengajian tadi. Tidak enak kalau saya tinggal." Indhira orang yang pandai membawa diri saat dia menumpang tinggal di rumah orang, karena itu dia tidak ingin begitu saja meninggalkan rumah orang tua Rissa tanpa merapihkan kembali perabotan yang sempat dikeluarkan di teras karena tadi di dalam dipakai untuk pengajian dengan menggelar karpet.


" Tidak usah dipikirkan, Ra! Biar nanti si bibi saja yang beresin." Rissa menimpali perkataan Indhira dan menyuruh temannya itu untuk tidak repot memikirkan pekerjaan di rumah orang tuanya.


" Tidak enak, Ris." Indhira tetap bersikukuh ingin membantu merapihkan kembali rumah Pak Edwin.


" Nanti kamu pulang sama siapa, Ra? Nanti kalau pulang sendiri ada yang menculik lagi!" seloroh Azkia terkekeh.


" Nanti diantar saya sama Mas Adam saja, deh, Bu." Rissa mengatakan akan mengantar Indhira pulang ke rumah Lusiana bersama dengan Adam.


" Oh, ya sudah. Kalau begitu aku pulang duluan, ya, Ra!?" Azkia pun berpamitan pada Indhira dan Rissa.


" Iya, Bu. Terima kasih banyak sudah datang di acara pengajian tadi, Bu." Indhira mengucapkan terima kasih karena Azkia dan Lusiana telah sudi hadir di acara pengajian sebelum akad nikah esok hari.


" Sama-sama, Ra." Indhira mengusap pundak Indhira. " Kami pulang dulu, assalamualaikum ..." Azkia berpamitan.


" Waalaikumsalam ..." Sambil menjawab salam yang diucapkan oleh Azkia, Indhira dan Rissa ikut mengantar Azkia dan Lusiana sampai di gerbang rumah Pak Edwin.


Sebelum pulang dari rumah Pak Edwin, Indhira berpamitan terlebih dahulu pada Tante Sandra. Karena jika dia menikah dan berumah tangga, dia tidak mungkin bisa mengurus Tante Sandra lagi seperti sebelumnya.


" Tante, besok aku akan menikah. Doakan acara besok berjalan lancar. Dan doakan juga supaya pernihanan kami SaMaWa dan diridhoi Allah SWT." Indhira meminta doa dari Tante Sandra untuk pernikahannya dengan Bagas yang akan digelar besok.


" Maafkan Indi, Tante. Indi tidak bisa ikut mengurus Tante lagi. Indi harap Tante cepat sembuh dan kondisi Tante semakin membaik." Indhira menggenggam tangan Tante Indhira. Dia merasa sedih harus berpisah dengan Tante Sandra yang dia anggap orang tua sendiri seperti Ibu Lidya dan Pak Edwin.


" Terima kasih juga selama ini Tante sudah menerima aku dengan baik sejak masih di Semarang dulu. Aku tidak akan lupa dengan kebaikan Tante selama ini. Indi tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Tante terhadap Indi."


Tanpa terasa air mata menitik di pipi Tante Sandra. Dia pun merasakan keharuan. Antara rasa sedih dan bahagia dengan pernikahan Indhira. Sebagai seorang wanita yang sudah menganggap Indhira sebagai anak, dia senang melihat Indhira akan mengapai kebahagiaannya menikah dengan pria yang dicintai oleh Indhira. Tapi tak dapat dipungkiri, jika dia juga merasakan sedih karena pasti akan berpisah dengan Indhira.


" Tante senang kamu akhirnya bahagia, Indhira. Jangan pikirkan Tante, Tante di sini sudah ada yang mengurus. Kebahagiaan kamu lebih penting, Ra. Kamu sudah cukup menderita selama ini. Ini saatnya kamu menjelang kebahagiaan kamu. Tante merestuimu, semoga pernihanan kamu akan langgeng dan abadi hingga ajal memisahkan." Hanya bisa berucap dalam hati, Tante Sandra mendoakan kebaikan untuk rumah tangga Indhira kelak.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2