
Setelah mereka berdua menyantap menu makan malam dan selesai melaksanakan sholat Isya, Bagas segera menagih apa yang telah dijanjikan oleh Indhira. Di malam pernikahannya itu, mereka melakukan malam kedua di kamar hotel milik Gavin. Tentu saja ini adalah salah satu kado yang mereka terima dari Gavin dan Azzahra, selain tiket berbulan madu ke luar negeri dari pengusaha hotel itu.
Walaupun bukan pertama kalinya Indhira melakukan hal tersebut dengan Bagas, tapi kali ini dia pun melakukannya dengan malu-malu. Dia bahkan tak berani menatap wajah Bagas, meskipun pria itu kini sudah menjadi suaminya.
Bagi Bagas, meskipun ini adalah malam keduanya dengan Indhira, namun dia seperti sedang menikmati malam pertama dengan seorang perawan. Tentu saja karena sikap malu-malu Indhira ketika dia sentuh. Wajah putih Indhira tidak pernah lepas dari rona merah, ketika dia menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh wanita itu.
Bagas justru menikmati sikap Indhira yang malu-malu kepadanya. Sangat menggemaskan saat mendengar de sahan keluar dari bibir wanita cantik itu saat diberikan sentuhan di bagian dadanya dan bagian intinya.
" Kenapa tidak mau memandang suamimu ini, Ra? Apa suamimu itu jelek sehingga kamu enggan menatapku?" Bagas terkekeh menggoda Indhira yang beberapa kali memalingkan wajah atau memejamkan mata. Bahkan Indhira beberapa kali sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut saat mereka berdua sedang melakukan penyatuan.
Indhira hanya menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan suaminya dan tetap melakukan hal yang sama hingga akhirnya aktivitas mereka berakhir setelah mereka mendapatkan pelepasan untuk yang kedua kalinya.
Bagas menjatuhkan tubuhnya di samping Indhira yang sedang mengatur nafasnya yang tersengal.
" Bagaimana rasanya, Ra? Lebih nikmat yang sekarang, ya?" bisik Bagas di telinga Indhira sementara tangannya mengusap peluh di kening Indhira. Dinginnya suhu alat pendingin ruangan kamar hotel itu sepertinya tidak cukup kuat melawan panasnya has rat membara di antara sepasang insan yang sedang dimabuk cinta.
Indhira memberanikan diri menoleh ke arah Bagas mendegar ucapan Bagas tadi. Bagaimana mungkin dia dapat membandingkan, pertama kali mereka melakukannya? Kala itu mereka masih remaja dan belum sepantasnya melakukan hal tersebut apalagi dengan status mereka sebagai pelajar. Sedangkan saat ini, mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri, apa yang dilakukan sudah berlabel halal, tentu saja dia lebih menikmatinya.
Bagas mengembangkan senyuman saat bersitatap dengan mata indah sang istri. Tangannya kini menyampirkan rambut Indhira ke belakang telinga Indhira.
" Kamu cantik sekali kalau sedang seperti ini." puji Bagas mengagumi kesempurnaan fisik sang istri.
Kalimat rayuan Bagas membuat Indhira mencu bit lengan sang suami. Arti kata sedang seperti ini dia artikan jika Bagas menyukai dirinya dalam keadaan polos tanpa selesai benang yang membalut tubuhnya selain selimut yang kini menutup tubuhnya.
" Kenapa dicu bit, sih?" protes Bagas menanggapi respon Indhira atas ucapannya tadi.
" Kamu bicaranya begitu!" komplain Indhira.
" Memang aku bicara apa? Tidak ada yang salah dengan ucapanku tadi, kan?" Merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya, Bagas kembali protes atas sikap Indhira yang tiba-tiba mencubitnya.
" Sudah, ah! Jangan bahas itu lagi!" Enggan berdebat dengan sang suami, Indhira lalu bangkit dari tempat tidur dengan melilitkan selimut di tubuhnya hendak ke kamar mandi. Dia lupa jika suaminya pun saat ini tidak mengenakan apa-apa ditubuhnya, sehingga saat dia menarik selimut, Bagas pun menyeringai dan memanggil nama Indhira.
" Ra, lihat ini!"
Spontan dan tanpa curiga Indhira menoleh ke arah suaminya. Saat itu juga bola matanya terbelalak saat Bagas dengan seringai nakal menunjuk ke arah senjatanya yang masih berdiri kokoh dan tak lemas.
" Astaghfirullahal adzim, Bagas!" Indhira langsung memalingkan wajahnya karena melihat milik suaminya itu.
" Hei, panggil apa tadi?" Bagas langsung bangkit dan menghampiri sang istri. " Tidak sopan panggil nama saja!" Bagas sengaja mendekat ke arah Indhira dan memeluk Indhira lalu mengangkat tubuh sang istri untuk dia baringkan kembali ke atas tempat tidur. Dia pun sudah berposisi mengungkung tubuh Indhira.
" Mau apalagi, Mas?" tanya Indhira menyadari aksi suaminya saat ini. Jika tidak dia hentikan, bukan tidak mungkin akan terjadi ronde ketiga
" Mau memberikan kamu kenikmatan lagi," sahut Bagas dengan menghujani wajah Indhira dengan kecupan.
" Sudah, Mas. Aku capek ..." keluh Indhira menolak apa yang diminta oleh Bagas.
" Aku belum capek. Kamu lihat punyaku masih kuat berdiri, kan?" Bagas mengarahkan tangan Indhira ke miliknya.
" Mas ...!!" pekik Indhira saat tangannya menyentuh tongkat ajaib milik sang suami.
" Hahahaha ..." Bagas justru tertawa merasa puas sudah mengerjai sang istri.
" Mas, aku mau ke kamar mandi." Indhira merengek agar Bagas melepaskannya.
" Kuat tidak jalannya? Mau aku gendong ke kamar mandi?" Bagas memainkan alisnya turun naik.
" Tidak usah, aku bisa sendiri!" tolak Indhira. Karena dia yakin ada maksud terselubung dari tawaran suaminya itu.
" Cepat, Mas. Aku mau pipis ..." Setelah merengek, akhirnya Bagas pun melepaskan Indhira, dan membiarkan sang istri menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
***
Indhira mengeratkan pelukan pada tubuh Bagas, karena suhu dingin di dalam kamar hotel seakan menembus ke tulangnya.
" Mas, AC nya dingin sekali," keluh Indhira.
" Kalau dingin peluk aku saja sini." Kini lengan kokoh Bagas yang menenggelamkan tubuh munggil Indhira dalam dekapannya.
" Jam berapa sekarang, Mas?" Karena Bagas memasang lampu tidur, Indhira tidak dapat melihat jam di dinding kamar hotel itu.
Bagas mengurai pelukannya lalu mengambil ponsel di atas nakas.
" Baru jam empat." Bagas menujukkan layar ponselnya ke arah Indhira agar istrinya itu dapat melihat jam saat ini.
Indhira bangkit saat mengetahui saat ini sudah menunjukkan pukul empat pagi, karena dia hendak bersiap-siap melaksanakan sholat Shubuh.
" Mau apa, Ra?" tanya Bagas saat melihat Indhira turun dari tempat tidur.
" Aku mau mandi, Mas. Sebentar lagi masuk Shubuh," jawab Indhira.
" Masih ada waktu, bisalah kita make love dulu, Ra." Bagas tertawa kecil dan menyalakan lampu kamar.
" Ya ampun, semalam sudah dua kali, Mas. Aku masih lelah ..." keluh Indhira.
__ADS_1
" Wajarlah, Ra. Namanya juga pengantin baru. Kepingin lagi dan lagi ..." Bagas terkekeh tak memperdulikan mata melotot sang istri.
Setelah memberikan tatapan mata tajam ke arah Bagas, Indhira kemudian melanjutkan langkahnya ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mensucikan diri karena semalam telah melakukan hubungan in tim bersama sang suami agar dia bisa melaksanakan sholat Shubuh.
Siang harinya, setelah Bagas pulang melaksanakan sholat Jumat. karena Indhira tak betah berada di hotel seharian, Bagas berniat mengajak Indhira ke rumah kontrakan yang akan mereka pakai untuk tempat tinggal selama belum mendapatkan rumah KPR.
Bagas juga sekalian ingin mengenalkan Indhira kepada Pak RT, agar tidak ada kesalahpahaman seperti kemarin lagi, saat dia diduga memasukkan pria ke dalam kontrakannya yang diduga teman kencannya.
Mereka berdua menggunakan motor milik Indhira melewati kota Jakarta yang macet. Indhira teringat saat SMA, Bagas selalu memboncengnya dengan motor sport milik pria itu.
" Motor sport yang dulu masih ada, Mas?" tanya Indhira dengan menopangkan dagu di pundak Bagas yang sedang mengendarai motor.
" Masih," sahut Bagas.
" Tidak pernah dipakai?" tanya Indhira kemudian.
" Terakhir aku pakai sewaktu aku pulang dari New York, mengantar adikku sekolah," sahut Bagas. Seketika itu juga dia teringat akan Kartika. Ada rasa rindu pada adik perempuannya itu karena dia sudah tidak serumah lagi dengan Kartika.
" Ra, kita ke sekolah kita dulu, ya!?" Bagas ingin mengajak Indhira ke sekolah mereka dulu karena dia ingin bertemu dengan Kartika.
" Mau apa ke sana, Mas?" Tentu saja Indhira merasa malu harus bertemu kembali guru-guru di sekolahnya dulu.
" Kita akan bertemu dengan adikku, kok!" Bagas menjelaskan tujuannya ke sekolah mereka dulu adalah untuk bertemu dengan sang adik, bukan untuk masuk dan bertemu guru-guru mereka.
" Aku ingin mengenalkan kamu kepada adikku, Ra." Bagas ingin Indhira dapat akrab dengan adiknya begitu juga sebaliknya. Karena dia yakin adiknya itu sangat mendukung hubungannya dengan Indhira.
" A-aku ... aku takut, Mas." jawab Indhira gugup. Dia yakin jika adik dari Bagas akan bersikap sama seperti orang tua Bagas kemarin.
" Kenapa mesti takut?" tanya Bagas. " Kartika tidak seperti Papa, Ra. Dia anak yang baik. Aku rasa dia akan bisa menjadi temanmu." Bagas menjelaskan jika adiknya bukan wanita yang jahat pada Indhira.
Setelah dibujuk dan dijelaskan oleh Bagas akhirnya Indhira mau berkunjung ke sekolah lama mereka untuk menemui adiknya.
Sekitar lima belas menit kemudian, motor yang dikendarai oleh Bagas tiba di depan gerbang sekolah.
" Kita masuk saja, ya!?" Kita mengobrol di kantin." Bagas membujuk Indhira agar mereka masuk ke dalam sekolahan untuk berbincang dengan Kartika.
" Tidak apa-apa, Ra. Ada aku, kamu jangan khawatir." Bagas meyakinkan Indhira yang nampak ragu untuk tidak khawatir.
" Ya sudah ..." Akhirnya Indhira pasrah mengikuti apa yang diminta oleh sang suami, hingga motor yang dikendarai Bagas masuk ke dalam halaman sekolah Satu Nusa Satu Bangsa.
Bagas menggenggam tangan Indhira dan berjalan ke arah kantor kepala sekolah.
" Kita ke kantor Pak Marcel dulu, Ra."
" Mas ...!"
" Serahkan pada suamimu ini. Semua akan baik-baik saja," ucap Bagas, yang entah sudah berapa kali berusaha meyakinkan Indhira, agar lebih percaya diri dan tidak takut menghadapi apa pun juga.
Dengan langkah berat, Indhira mengikuti langkah Bagas. Dia hanya menunduk melewati koridor sekolah. Dia takut ada yang mengenalinya, padahal sekarang ini murid-murid di sana tidak mengambil siapa dirinya. Indhira seakan masih trauma ketika terakhir kali datang di sekolah itu.
Tok tok tok
" Selamat siang, Pak." Bagas mengetuk pintu terlebih dahulu saat masuk ke dalam ruangan Pak Marcel.
Pak Marcel terkejut dengan kemunculan dua orang yang berdiri di hadapnnya. Seorang pria tinggi besar dan seorang wanita cantik yang lebih mudah dikenalinya. Pak Marcel mengenali wanita itu adalah Indhira, mantan muridnya yang dulu pernah terlibat kasus video viral dengan Bagas.
" Apa kabar, Pak Marcel?" Bagas mendekat ke arah Pak Marcel lalu menyalami Pak Marcel.
" Bagas? Kamu Bagas?" Pak Marcel terkesiap saat menyadari jika orang yang datang padanya adalah Bagas.
" Benar, Pak. Saya Bagas," sahut Bagas.
" Ya ampun, Bapak hampir tidak bisa mengenali kamu, Bagas." Pak Marcel menerima uluran tangan Bagas dan membiarkan Bagas mencium punggung tangannya.
Setelah Bagas bersalaman dengan Pak Marcel, kini giliran Indhira yang menyalami Pak Marcel.
" Kalian ... kalian kok bisa datang ke sini bersamaan?" tanya Pak Marcel bingung dengan kemunculan Bagas dan Indhira secara bersamaan di ruangannya.
" Iya, Pak ..." Bagas ingin menjelaskan, namun Pak Marcel mempersilakan mereka duduk terlebih dahulu.
" Ayo, duduk dulu ..." Pak Marcel mempersilahkan Bagas dan Indhira untuk duduk di sofa ruang kerjanya.
" Bagaimana, Bagas?" Pak Marcel mulai mendengarkan serius apa yang ingin dikatakan oleh Baga tadi.
" Kami kemari karena kebetulan ingin bertemu dengan Kartika, Pak. Jadi sekalian ke sini." Bagas menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Pak Marcel tadi.
" Oh, Kartika? Apa sudah ketemu dengan adik kamu itu?" tanya Pak Marcel kemudian.
" Belum, Pak. Kebetulan kami menemui Pak Marcel dulu," sahut Bagas.
" Oh ya, kalian ..." Pak Marcel masih bingung ingin menanyakan soal kedekatan antara Bagas dan Indhira kembali, karena dia tahu dari Ibu Tika jika Bagas dan Indhira sudah berpisah.
" Kami baru saja menikah kemarin, Pak." Bagas menjawab rasa penasaran Pak Marcel.
__ADS_1
" Kalian sudah menikah?" Kembali Pak Marcel terkesiap mendengar pengakuan Bagas yang mengatakan jika Bagas dan Indhira sudah menikah.
" Benar, Pak." jawab Bagas kembali.
" Lalu bagaimana dengan Papamu, Bagas?" Pak Marcel melirik ke arah Indhira yang langsung menurunkan pandangannya.
Bagas kini menoleh kepada Indhira lalu menjawab pertanyaan Pak Marcel, " Papa masih seperti dulu, Pak." sahutnya kemudian. Dia yakin Pak Marcel akan paham dengan maksud kata-katanya tadi.
" Oh, begitu ..." Pak Marcel mengerti apa yang dikatakan oleh Bagas, sehingga dia memilih tak melanjutkan pertanyaan seputar hubungan Bagas dengan Indhira. Karena sepertinya itu adalah masalah privacy yang tidak sepantasnya dia ikut campur.
" Oh ya, Indhira. Ke mana saja kamu selama ini?" Pak Marcel berbasa-basi pada Indhira yang sejak tadi hanya terdiam.
" Hmmm, saya ikut dengan Tantenya Rissa di Semarang, Pak." jawab Indhira.
" Rissa? Dia dulunya murid sekolah di sini juga? Pak Marcel sepertinya tidak terlalu ingat sosok Rissa.
" Benar, Pak. Rissa itu sahabat dekat Indhira." Bagas yang menjawab pertanyaan Pak Marcel.
" Oh, begitu ..." Pak Marcel menganggukkan kepalanya.
" Oh ya, Bapak dengar kamu sekarang memimpin perusahaan Papa kamu, Bagas?" Pak Marcel mengganti topik pembicaraan.
" Hmmm, saya sudah tidak berkerja dengan Papa lagi, Pak."
" Begitu, ya!?" Pak Marcel nampak bingung harus menanyakan apa lagi pada Bagas dan Indhira.
" Hmmm, kalian ingin bertemu dengan Kartika, apa mau Bapak suruh panggilkan ke sini?" Pak Marcel menawarkan.
" Tidak usah, Pak. Biar kami sendiri saja nanti yang cari Kartika." Bagas berniat berpamitan kepada Pak Marcel. " Kalau begitu, kami pamit dulu, Pak. Permisi." Setelah berpamitan dengan Pak Marcel, Bagas dan Indhira pun langsung keluar ruangan kepala sekolah.
" Ke mana lagi, Mas?" tanya Indhira karena Bagas tidak membawanya ke kantin, yang dijanjikan oleh Bagas saat mengajaknya masuk ke dalam sekolah lama mereka.
" Kita bertemu dengan Bu Tika dulu. Bu Tika banyak membantu kita dulu," jawab Bagas.
" Bu Tika?" Indhira mengerutkan keningnya.
" Iya, ayo ...!" Bagas membawa Indhira ke ruangan Bu Tika.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Bu Tika." sapa Bagas dan Indhira saat melihat Bu Tika sedang berada di meja kerja Bu Tika.
" Waalaikumsalam, Bagas? Indhira?" Dibandingkan dengan Pak Marcel, Bu Tika lebih mudah mengenali Bagas apalagi Indhira yang pernah dia temui dua tahun lalu saat pernikahan Rissa.
" Kok, kalian bisa datang kemari bersamaan?" Bu Tika langsung bangkit dan menghampiri Bagas dan Indhira.
" Karena kami ingin bertemu dengan Ibu Tika, makanya kami datang bersamaan," seloroh Bagas dibarengi dengan tawa kecil.
" Ibu apa kabar?" sapa Indhira mencium punggung tangan Bu Tika dan memeluk Bu Tika.
" Alhamdulillah, ibu baik, Ra. Kamu sendiri bagaimana? Ibu masih kaget kalian bisa datang bersamaan." Ibu Tika benar-benar butuh penjelasan dari Bagas dan Indhira. Karena dia jadi saksi bagaimana kisah cinta Bagas dan Indhira yang terjal dan berliku.
" Kami sudah menikah, Bu." ujar Bagas.
" Kalian sudah menikah??" Bu Tika terbelalak tak percaya. Bu Tika kini menatap serius kepada Indhira seakan menuntut penjelasan dari Indhira. Dia yakin Indhira tidak akan berbohong kepadanya.
" Iya, Bu." jawab Indhira malu-malu mengakui.
" Ya Allah, selamat ya, Indhira, Bagas." Bu Tika kini memeluk Indhira kembali dan memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.
" Kapan kalian menikah? Kenapa tidak mengundang Ibu di pernikahan kalian?" Bu Tika seolah memprotes karena Bagas dan Indhira tidak mengundangnya.
" Kami baru menikah kemarin, Bu. Kami hanya menikah di KUA dan tidak mengadakan resepsi, Bu." Bagas menerangkan kenapa dia tidak mengundang gurunya yang tau kisahnya dengan Indhira di acara pernikahan mereka.
" Tidak mengadakan atau belum mengadakan?" Melihat siapa sosok Bagas rasanya tidak mungkin jika sampai tidak mengadakan resepsi pernikahan.
" Masih terhalang restu Papa, Bu. Ibu tahu sendiri bagaimana Papa saya, kan?" Seperti pada Pak Marcel, Bagas juga yakin, Bu Tika tahu bagaimana sosok Adibrata.
" Papa kamu masih menentang hubungan kalian?" Bu Tika menatap Bagas dan Indhira secara bersamaan.
" Ya seperti itulah, Bu. Tapi itu tidak menghalangi kami untuk bersama." Bagas menegaskan, apa pun rintangannya, mereka tidak akan menyerah kepada keadaan.
" Ibu hanya bisa mendoakan semoga pernikahan kalian Sakinah, Mawaddah, Warohmah tiil Jannah, Bahas, Indhira." Sebagai orang yang tahu bagaimana kuatnya cinta Bagas dan Indhira, Bu Tija hanya bisa mendoakan agar pernikahan Bagas dan Indhira tetap kokoh dan tak goyah meskipun diterpa badai yang mungkin akan menghadang.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1