
Selesai sarapan pagi, Indhira menyempatkan diri mengunjungi makam kedua orang tuanya. Walau hanya mengunjungi makam, rasa rindu kepada kedua orang tuanya terasa terobati. Baru setelah menuntaskan mengirimkan doa-doa di hadapan kedua pusara Papa dan Mamanya, mereka bertiga pulang menuju ke rumah Rissa.
" Assalamualaikum, Om, Tante." Indhira memberi salam kepada orang tua Rissa lalu menyalami dan mencium tangan mereka berdua. Karena hari ini adalah hari libur kerja, saat sampai di rumah Rissa, Indhira disambut lengkap oleh kedua orang tua Rissa.
" Waalaikumsalam, Indhira. Alhamdulillah kamu bisa kembali lagi ke sini," sahut Tante Lidya memeluk tubuh Indhira seperti memeluk putrinya sendiri.
" Maaf ya, Tante. Saya merepotkan Tante dan Om terus." Walau Rissa dan keluarga selalu bersikap baik kepadanya, terkadang Indhira merasa tidak enak hati selalu saja merepotkan mereka.
" Kamu tahu sendiri 'kan anak Tante? Kalau keinginannya ditolak, ngambeknya seperti apa!?" Ibu Lidya berseloroh meledek Rissa yang datang di belakang Indhira diikuti Adam yang membawakan kedua koper Indhira.
" Amal, Ma. Amal! Banyak berbuat kebaikan, apalagi menolong anak yatim piatu seperti Indhira yang didzolimi oleh Om dan Tante yang durjana itu berkah, Ma!" Rissa menanggapi sindiran Mamanya dengan santai.
" Tante Sandra di mana, Tan?" Indhira menanyakan keberadaan Tante Sandra.
" Ada di kamarnya. Baru saja Tante bawa masuk ke kamarnya," sahut Ibu Lidya.
" Saya mau bertemu dengan Tante Sandra, boleh 'kan, Tan?" Indhire meminta ijin Ibu Lidya untuk menemui Tante Sandra.
" Masuk saja, Indhira. Kamarnya ada di depan ruangan keluarga," jawab Ibu Lidya.
Setelah mendapatkan ijin dari Ibu Lidya, Indhira bergegas menemui Tante Sandra di kamar yang ditunjuk oleh Ibu Lidya. Sementara Ibu Lidya dan Pak Edwin berbincang santai dengan Rissa dan Adam.
Indhira menatap tubuh tak berdaya yang duduk di kursi roda. Sangat berbeda dengan satu tahun lalu, wanita berusia empat puluh tahun itu kini hanya bisa mengandalkan orang lain untuk meladeninya melakukan aktivitas sehari-harinya.
" Tante ..." Indhira mencium tangan Tante Sandra lalu memeluknya. Tante Sandra adalah salah satu orang yang berjasa dalam hidup Indhira selain Pak Edwin, Ibu Lidya dan juga Rissa. Padahal mereka semua bukanlah orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengannya.
" Tante apa kabar? Aku senang bisa bertemu dengan Tante kembali." Walau Tante Sandra tidak dapat menjawab pertanyaannya. Namun, Indhira yakin jika Tante Sandra dapat mendengar ucapannya.
" Kkk ... eee ...."
" Alhamdulillah aku baik-baik saja, Tan." Indhira seperti memahami apa yang ingin ditanyakan oleh Tante Sandra.
" Mulai hari ini, aku akan ikut menjaga Tante di sini bersama Tante Lidya. Kita jadi berkumpul di sini, Tan. Soalnya, Rissa 'kan sebentar lagi mau menikah, biar Tante tidak kesepian di sini kalau Rissa ikut suaminya nanti." Indhira terus bercerita dengan ceria. Meskipun hatinya merasa teriris melihat kondisi mantan bosnya itu.
" Oh ya, Tan. Dhika mana?" Sudah lama tidak bertemu. Kalau aku di sini, aku bisa bantu Dhika mengerjakan peer ya, Tan!?" Selama ini, Indhira membantu Dhika dalam pelajaran. Dia sudah seperti guru privat bagi Dhika, sehingga anak tunggal Tante Sandra itu selalu juara kelas dan mendapat nilai yang tinggi.
" Kamu harus punya semangat untuk sembuh, Sandra. Anak sulungmu datang ke sini untuk menemani kamu." Ibu Lidya masuk ke dalam kamar Tante Sandra. Ikut bergabung dengan Indhira yang sedang mengajak Tante Sandra berkomunikasi. Bahkan Ibu Lidya menyebut Indhira sebagai anak sulung Tante Sandra.
Indhira melihat genangan cairan bening di bola mata Tante Sandra. Dan tak lama air mata itu menitik di pipi Tante Sandra. Indhira tidak kuasa untuk tidak ikut menitikkan air mata melihat Tante Sandra menangis. Bahkan, Indhira sampai merangkulkan tangannya di pundak Tante Sandra seraya mengusap punggung Tante Sandra seakan ingin menunjukkan jika dia sangat perduli dengan orang yang selama lebih dari lima tahun memberinya tumpangan hidup dan pekerjaan.
" Indhira ini anak yang berbakti, tidak salah kamu mengangkat dia 'kan, San!?" Ibu Lidya mengatakan kalimatnya dengan candaan.
" Indhira, Tante berterima kasih sama kamu, karena kamu mau membantu Tante mengurus Sandra," ujar Ibu Lidya.
" Tante, Tante Sandra selama ini baik terhadap saya, sudah sepantasnya saya membalas kebaikan Tante Sandra." Indhira mengatakan hal sejujurnya yang dia rasa.
" Kamu itu anak baik, Indhira. Tante berharap kamu akan mendapatkan jodohmu dan secepatnya bisa menyusul Rissa." Ibu Lidya mendoakan agar Indhira segera dipertemukan dengan jodohnya.
Untuk kali ini, Indhira tidak berani merespon apa-apa selain mengucapkan kata ',Aamiin' dalam hatinya. Walaupun dia tidak ingin bermimpi terlalu jauh tentang jodohnya. Dia masih terasa takut untuk menjalin hubungan kembali dengan pria karena dia masih merasa trauma.
***
Satu minggu Indhira di Jakarta, dia hanya fokus dengan merawat Tante Sandra. Dan belum mulai mencari pekerjaan baru. Selama satu Minggu ini Indhira sangat telaten dan sabar dalam mengurus Tante Sandra, layaknya seorang anak kepada Ibunya dan seorang perawat yang dibayar mahal untuk merawat pasien penting.
Memasuki Minggu kedua, Indhira mulai bergerak mencari pekerjaan. Dia mencoba memasukan beberapa surat lamaran kerja ke kantor-kantor yang direkomendasikan oleh Adam dan juga Rissa.
Lebih dari lima tempat yang dia masukan lamaran. Mencoba peruntungannya, siapa tahu ada salah satu perusahaan yang membutuhkan karyawan dan dia dapat diterima di perusahaan tersebut.
Indhira menyeka keringat di keningnya. Cuaca kota jakarta siang ini terasa terik. Sementara masih ada satu surat lamaran lagi di tangannya. Dia berniat memasukan surat lamaran itu ke kantor terakhir yang dia tuju atas rekomendasi Rissa.
Sambil berjalan di trotoar menuju kantor terakhir yang dia tuju, dia melihat seorang wanita cantik turun dari mobil mewah dengan menggendong anak laki-laki sekitar usia dua tahun menyebrang jalan.
Indhira membayangkan jika dirinya sudah menikah dan punya anak mungkin akan seperti itu.
" Naufal ...! Mau ke mana?!"
Bersamaan dengan suara yang terdengar dari seseorang yang berteriak dari dalam mobil. Indhira juga melihat seorang bocah laki-laki keluar dari mobil dan berlari hendak mengikuti wanita yang menyebrang tadi. Wanita yang Indhira duga adalah Mama dari bocah itu.
" Naufal jangan lari!!" Teriak seorang wanita berseragam baby sitter yang keluar dari dalam mobil.
Melihat bocah laki-laki berseragam merah putih itu hendak menyebrang jalan yang banyak dilewati kendaraan, dengan cepat Indhira bertindak. Dia mengejar bocah itu dan menangkap tubuh sang bocah yang sudah berhasil mendekati badan jalan.
Buuuggghhh
" Aaakkkhh ...!!" Indhira meringis saat dia merasakan han taman keras di bagian lengan dan punggung bagian kanannya, hingga membuat dia terjatuh. Untung saja Indhira masih bisa melindungi bocah kecil itu dengan mendekap erat tubuhnya, walaupun dia yang akhirnya terserempet sebuah motor yang melaju kencang.
" Astaghfirullahal adzim, Naufal!!" Teriak pengasuh tadi berlari mengambil Naufal yang masih dalam dekapan Indhira.
" Hei, jaga anak yang benar, dong! Kalau sampai anak itu tertabrak 'kan saya yang kena masalah!!" Pengendara motor yang menyerempet Indhira tadi menghardik si pengasuh tanpa meminta maaf kepada Indhira.
" M-maaf, Pak." Pengasuh itu meminta maaf kepada pengendara motor.
" Mbak, Mbak tidak apa-apa? Terima kasih Mbak sudah menyelamatkan Naufal." Setelah si pengendara motor pergi, pengasuh anak itu menyampaikan ucapan terima kasih pada Indhira yang masih terduduk lemas di bahu jalan.
" Naufal kenapa, Sus?" Wanita cantik yang tadi menggendong bocah berusia dua tahun itu terlihat berlari mendekat ke arah Naufal yang masih terlihat kaget.
" Tadi Naufal ingin menyusul Ibu. Naufal tadi hampir tertabrak tapi ditolong sama Mbak ini." Pengasuh menceritakan kejadian sebenarnya.
" Ya ampun, Naufal! Mama bilang 'kan tunggu sebentar sama Sus Ina! Jangan ikut Mama!! Kalau Naufal tadi tertabrak bagaimana??" Wanita cantik itu menyerahkan anak yang dia gendong pada susternya lalu memeluk Naufal.
" Alma di mana Sus?" tanya wanita tadi kepada Sus Ina.
__ADS_1
" Alma masih tidur di mobil, Bu." jawab Sus Ina.
Indhira sendiri kini berusaha bangkit walaupun lututnya masih terasa lemas. Dia pun mengambil surat lamarannya yang terjatuh karena tadi dia lepas saat menolong anak kecil bernama Naufal.
" Kamu tidak apa-apa? Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya." Mama dari Naufal mengucapkan terima kasih kepada Indhira.
" Iya, Bu. Sama-sama," sahut Indhira seraya memegangi lengannya dan berjalan menahan sakit di kakinya yang sepertinya terkilir.
" Kamu terluka, ya? Saya bawa ke rumah sakit, ya!?" Wanita itu berniat membawa Indhira ke rumah sakit karena melihat Indhira kesulitan berjalan seraya menenteng sepatunya.
" Tidak usah, Bu. Saya tidak apa-apa, kok!" Indhira menolak tawaran Mama dari Naufal sambil mengibas baju dan roknya, membersihkan bagian yang kotor.
" Kami ini mau melamar kerja, ya!?" tanya wanita itu melihat pakaian hitam putih yang dikenakan Indhira dan amplop coklat yang dipegang Indhira.
" Oh, i-iya, Bu." Indhira tersipu malu ketahuan sedang mencari pekerjaan sehingga dia menyembunyikan surat lamaran itu di belakang tubuhnya.
" Kamu sepertinya terluka, deh! Sebaiknya kamu ke rumah sakit saja, ayo saya antar!" Wanita itu berjalan ke arah mobilnya dengan menuntun Naufal. " Sus, tolong bantu Mbak nya ke mobil." perintah wanita itu kepada Sus Ina.
Indhira ingin terus menolak, tetapi dia tidak enak Mama bocah kecil yang dia tolong terus memaksanya untuk mengecek kondisinya ke rumah sakit.
" Nama kamu siapa?" tanya wanita itu saat mulai mengendarai mobilnya menuju rumah sakit untuk mengobati Indhira.
" Saya Indhira, Bu." sahut Indhira yang duduk di samping wanita itu.
" Saya Azkia, panggil saja Kia." Wanita itu memperkenalkan namanya kepada Indhira.
" Kamu mau melamar pekerjaan, ya?" tanya Azkia kembali.
" Iya, Bu."
" Melamar pekerjaan di mana?"
" Rencananya di PT Sejahtera Sentosa di dekat kejadian tadi, Bu." Indhira menyebutkan di mana rencananya dia ingin melamar pekerjaan.
" Pernah bekerja sebelumnya?" tanya Azkia kembali.
" Pernah, Bu. Dulu saya pegang pembukuan salon di Semarang." Indhira menceritakan pengalaman kerjanya.
" Kamu lulusan apa?" Azkia sudah seperti wartawan yang sedang mewawancarai nara sumber dengan detail.
" Saya hanya lulusan diploma dua akutansi, Bu."
" Umur kamu berapa?"
" Dua puluh empat tahun, Bu."
" Hmmm, kalau bekerja bukan di kantoran mau tidak?" Azkia sepertinya punya rencana sehingga menanyakan hal tersebut kepada Indhira.
" Bekerja bukan di perkantoran. Kayak kamu kerja di salon gitu, itu 'kan bukan kerja kantoran. Kalau kamu mau, nanti saya bilang ke suami saya, siapa tahu bisa bekerja di cafe milik suami saya." Azkia menjelaskan maksud ucapannya.
" Saya siap bekerja apa saja selama masih halal, Bu. Mau di kantor atau bukan," jawab Indhira jujur.
" Ya sudah, nanti setelah dari rumah sakit, kita mampir ke cafe suami saya dulu, ya!?"
" Ibu ingin memberi saya pekerjaan?" Bola mata Indhira seketika berkaca-kaca mengetahui dirinya ditawarkan pekerjaan dengan mudah oleh Azkia.
" Kamu sudah menolong anak saya, jadi saya nanti akan mencoba bantu kamu carikan pekerjaan buat kamu." Merasa berhutang budi karena Indhira menyelamatkan putra pertamanya, Azkia pun berniat membalas perbuatan baik Indhira kepadanya.
" Terima kasih banyak, Bu. Semoga Allah SWT selalu melindungi Ibu dan keluarga Ibu." Indhira mendoakan agar kebaikan Azkia akan dibalas dengan kebaikan dari Sang Maha Pencipta.
" Aamiin ..." sahut Azkia.
***
Sesudah dari rumah sakit memeriksa kondisi Indhira, kini mobil yang dikemudikan Azkia berjalan menuju Studio radio dan cafe yang menjadi tempat suaminya bermarkas sehari-harinya.
" Kamu tunggu di sini saja, ya!? Duduk saja dulu, nanti saya bilang ke suami saya. Soalnya kaki kamu pasti masih sakit kalau harus naik tangga." Setelah sampai di cafe, Azkia menyuruh Indhira menunggu di sebuah meja cafe. Karena dia merasa Indhira akan kesulitan dengan kakinya yang terkilir jika menaiki anak tangga.
" Baik, Bu." Indhira menuruti apa yang diperintahkan oleh Azkia.
" Kalau mau pesan makanan dan minuman, pesan saja tidak apa-apa, gratis untuk kamu," ucap Azkia kembali sebelum meninggalkan Indhira.
" Baik, Bu. Terima kasih," jawab Indhira.
Sambil menunggu Azkia kembali, Indhira memperhatikan bangunan cafe yang cukup luas dengan interior yang pas untuk orang-orang yang berjiwa muda. Apalagi ada studio FM di lantai atas, terasa lebih santai menikmati makan dan minum di cafe itu.
Indhira mengedar pandangan melihat para pengunjung cafe. Hampir sembilan puluh persen kursi terisi, karena waktu saat ini sudah memasuki jam makan siang
Ddrrtt ddrrtt
Ponsel Indhira tiba-tiba saja berbunyi, dengan cepat Indhira mengambil ponselnya yang dia simpan di tasnya.
" Ra, bagaimana? Sudah beres semua masukin surat lamarannya?"
Indhira membaca sebuah pesan masuk dari Rissa di ponselnya.
" Belum, Ris. Tapi aku dapat tawaran pekerjaan. Kebetulan pemiliknya langsung yang menawarkan aku pekerjaan itu." Indhira membalas cepat pesan masuk Rissa tadi.
" Oh ya? Syukurlah kalau begitu. Kamu dapat tawaran bekerja di mana, Ra?"
__ADS_1
" Indhira, kamu kok ada di sini?"
Saat Indhira hendak menjawab pesan dari Rissa kembali, tiba-tiba suara laki-laki terdengar menyapanya membuat Indhira terkesiap. Spontan Indhira menolehkan pandangan ke arah suara berasal.
" Mas Adam?" Indhira kembali terkejut karena mendapati sosok Adam yang kini berjalan menghampirinya.
" Kamu kok ada di sini, Ra?" tanya Adam heran.
" Mas Adam kerja di sini?" Tak langsung menjawab pertanyaan Adam, Indhira justru bertanya kepada Adam saat dia melihat name tag yang terpasang di kemeja yang dikenakan oleh Adam.
" Iya, Mas kerja di sini. Kamu kenapa bisa ada di sini, Ra?" tanya Adam kembali, dia penasaran kenapa Indhira bisa ada di cafe milik Raffasya itu.
" Saya tadi dibawa ke sini sama pemilik cafe ini, Mas." aku Indhira jujur.
" Hahh?? Pemilik cafe ini??" Adam tercengang mendengar pengakuan Indhira. Seingatnya bosnya itu ada di ruang kerja bos. Bagaimana mungkin Indhira mengaku dibawa pemilik cafe? Itu yang membuat Adam heran.
" Iya, Mas. Tadi aku dibawa sama Ibu ... hmmm, Ibu Azkia." Indhira memperjelas ucapannya.
" Kamu dibawa ke sini sama Ibu Azkia? Mbak Kia yang bawa kamu kemari?" Adam masih tidak mempercayai pendengarannya.
" Pak Adam, sedang apa di sini?" Dari arah belakang Adam berdiri, suara Azkia tiba-tiba terdengar.
" Heran, ya!? Sudah mau menikah, melihat wanita cantik langsung didekati!" Azkia menegur Adam, mengira Adam sedang berusaha menggoda Indhira.
" Ma, jangan bicara seperti itu!" Kali ini justru pria di samping Azkia yang menegur Azkia.
" Maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud menggoda. Saya hanya kaget melihat Indhira ada di sini." Adam mencoba memberi klarifikasi agar Azkia tidak salah paham dan berprasangka buruk terhadapnya.
" Pak Adam kenal Indhira memangnya?" tanya Azkia heran mendengar Adam mengenal nama Indhira.
" Indhira ini sahabat tunangan saya, Mbak. Dulu dia bekerja di salon milik Tante tunangan saya di Semarang. Dan baru sekitar satu Minggu ini dia kembali ke Jakarta. Kebetulan Indhira juga menetap di rumah tunangan saya itu kok, Mbak. Makanya saya kaget melihat dia ada di sini." Adam menjelaskan secara lengkap bagaimana dia bisa mengenal Indhira.
" Benar begitu, Indhira?" Azkia bertanya soal kebenaran cerita Adam tadi.
" Benar, Bu." sahut Indhira mengiyakan.
" Jadi ini orang yang Mama maksud tadi?" Raffasya, suami Azkia sudah mendengar dari sang istri soal kejadian yang menimpa Naufal, dan niat Azkia yang ingin menawarkan pekerjaan di cafe miliknya sebagai balas budi pada orang yang sudah menyelamatkan Naufal.
" Iya, Pa. Kalau Pak Adam kenal Indhira dengan baik ya syukur, deh! Bisa menjadi rekomendasi 'kan, Pa?" ujar Azkia yang berharap suaminya itu bisa menempatkan Indhira di salah satu cafe milik Raffasya.
Raffasya menatap Indhira sesaat, lalu berganti menatap wajah istrinya cukup lama. Dia merasa heran, tidak biasanya istrinya itu memperbolehkan dirinya menerima karyawan wanita yang mempunyai wajah cantik jelita. Tapi, jika alasan Azkia tadi karena ingin membalas budi karena tadi Indhira baru saja menyelamatkan anak meteka, Raffasya pun akhirnya menyetujui keinginan Azkia. Apalagi setelah mengetahui Adam mengenal baik Indhira, jadi tidak ada keraguan untuk menerima Indhira bekerja, walaupun belum tahu akan ditempatkan di mana.
" Kalau sudah Ibu bos yang memberi mandat, Papa hanya bisa menuruti saja." Pria berusia tiga puluh empat tahun dan sudah dikaruniai dua orang anak laki-laki dan satu anak perempuan itu menyetujui permintaan sang istri.
" Oh ya, Indhira. Saya berterima kasih karena pertolongan kamu terhadap Naufal tadi." Tak lupa Raffasya pun menyampaikan ucapan terima kasihnya karena Indhira telah membantu menyelamatkan putranya dari kecelakaan lalu lintas.
" Sama-sama, Pak. Kebetulan saja saya tadi ada di sana," balas Indhira. " Saya juga berterima kasih kepada Bapak dan Ibu yang sudah menerima saya bekerja di sini." Indhira senang mendapatkan pekerjaan di tempat baru, apalagi bos tempat dia bekerja sangat baik. Dia ingat kata-kata Adam soal istri bosnya. Namun, setelah bertemu langsung dengan Azkia, dia sama sekali tidak melihat hal menakutkan yang disampaikan Adam sebelumnya. Mungkin karena dia bertemu dengan Azkia di waktu yang tepat sehingga dia bisa berkenalan dengan baik dengan istri bos di tempat Adam bekerja.
" Indhira, sebaiknya kamu istirahat dulu sampai kaki kamu membaik, jika sudah sembuh, kamu bisa mulai bekerja di sini." Melihat Indhira butuh waktu untuk memulihkan cidera akibat diserempet motor yang hampir menabrak Naufal, Azkia menyuruh Indhira memulihkan kondisinya terlebih dahulu sebelum memulai tugas barunya di cafe itu.
" Baik, Bu. Terima kasih." Entah sudah berapa banyak ucapan terima kasih yang diucapkan Indhira pada Azkia.
" Oh ya, kamu kok belum pesan makanan?" Azkia tidak melihat ada makanan dan minuman di meja Indhira. Tentu karena Indhira malu memesan makanan walaupun Azkia mengatakan jika semua yang ingin dipesannya gratis.
" Kamu pasti belum makan, kan?" tanya Azkia pada Indhira. " Papa sudah makan siang belum? Kita sekalian makan di sini saja, deh!" Azkia menarik kursi di meja yang ditempati Indhira diikuti oleh Raffasya.
" Pak Adam, tolong panggilkan orang untuk mencatat menu makanan yang ingin kami makan sama untuk anak-anak dan Sus Ina di atas." Azkia kemudian memberi perintah kepada Adam.
" Baik, Mbak." Adam pun kemudian meninggalkan meja di mana Indhira, Azkia dan Raffasya berkumpul.
***
" Serius kamu bekerja di tempatnya Mas Adam, Ra?"
Sore harinya saat Rissa pulang kerja, Indhira menceritakan pertemuannya dengan Azkia yang berujung dia ditawari pekerjaan di cafe milik suami Azkia yang tak lain cafe tempat tunangan Rissa bekerja.
Rissa bahkan sampai kaget dan tak percaya Indhira bisa dengan mudah diterima di cafe tempat tunangannya bekerja.
" Mas Adam bilang istri bosnya galak!? Tapi, kok bisa menerima kamu dengan mudah?" tanya Rissa heran.
" Apa jangan-jangan Mas Adam berbohong supaya belangnya tidak kelihatan, ya!?" Rissa bahkan sampai berburuk sangka kepada kekasihnya sendiri.
" Hush, jangan berprasangka buruk, Ris! Mungkin saja apa yang dikatakan oleh Mas Adam itu benar. Tadi saja Mas Adam sempat diomelin sama Ibu bos." Indhira terkekeh mengingat Adam dituduh sedang menggodanya oleh Azkia.
" Hahh?? Mas Adam kena omel? Memang kenapa?" Rissa penasaran mendengar tunangannya itu kena marah istri Bos di tempat Adam bekerja.
" Waktu Mas Adam melihat aku ada di sana, Mas Adam kaget terus menghampiri aku dan tanya kenapa aku bisa ada di sana? Eh, istri bos malah menegur Mas Adam gini ' Heran, ya!? Sudah mau menikah, melihat wanita cantik langsung didekati!" Indhira mempraktekan gaya bicara ketus Azkia seraya berkacak pinggang. Dan apa yang diceritakan oleh Indhira membuat Rissa sontak tertawa lebar.
*
*
*
Bersambung ...
Yang belum kenal siapa Raffasya & Azkia bisa mampir di Novel mereka yang udah tamat di sini 👇 Makasih 🙏
Happy Reading❤️
__ADS_1