SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Punya Mertua Orang Kaya


__ADS_3

" Di sini, Bu?" Pak Zul berhenti di depan sebuah gank sesuai alamat rumah kontrakan yang pernah diberitahu oleh Bagas pada Angel.


" Coba kamu turun dulu, Zul. Cari yang mana rumahnya. Kalau sudah benar kasih tahu saya!" perintah Zul.


" Baik, Bu." sahut Zul lalu keluar dari mobil


Tanpa sepengetahuan Bagas, Indhira dan Kartika, Angel sengaja mencari keberadaan rumah kontrakan Bagas. Sebelumnya dia pergi ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli kebutuhan untuk ibu hamil, seperti su su hamil, buah-buahan, sayur-sayuran, daging, juga makanan ringan untuk ibu hamil. Karena sebelumnya Angel mendengar dari Kartika yang mendapat cerita dari Bagas soal Indhira yang tengah malam kelaparan dan ngidam makan lumpia.


" Rumah kontrakannya yang cat warna hijau itu, Bu." Setelah kembali ke mobil, Pak Zul menunjuk posisi rumah kontrakan Bagas.


" Ya sudah, tolong bawa belanjaan saya tadi, Zul!" Angel menyuruh Pak Zul mengeluarkan belanjaan yang disimpan di bagasi belakang.


" Baik, Bu."


Angel lalu turun dari mobil, dia menaikkan kaca mata hitamnya di atas kepala lalu melangkah dengan agak hati-hati di gang sempit itu, hingga dia sampai di depan rumah kontrakan Bagas.


Angel membelalakkan matanya melihat hunian yang ditempati oleh Bagas dan Indhira. Dia sangat miris melihatnya. Ditengah harta keluarganya yang melimpah, putranya justru tinggal di tempat yang jauh dari kata kayak bagi keturunan keluarga Adibrata Mahesa.


" Zul, kamu bukakan pagarnya. Sudah berkarat seperti itu, bisa bikin penyakit." Angel mengedikkan bahunya.


" Baik, Bu." Walau merepotkan membawa barang belanjaan, tapi Zul tetap membukakan pintu pagar rumah kontrakan Bagas.


" Kalau sudah cuci tangan, pakai hand sanitezer, Zul!" Angel memperingatkan agar Pak Zul menjadi kebersihan.


" Baik, Bu."


Setelah pintu gerbang terbuka, Angel lalu berjalan masuk ke pekarangan sempit rumah itu.


" Ketuk pintunya, Zul!" Angel seperti alergi menyentuh pintu rumah kontrakan Bagas.


" Baik, Bu."


Tok tok tok


" Assalamualaikum ..." Pak Zul mengucapkan salam layaknya seorang tamu bertandang ke rumah orang lain.


Tok tok tok


" Assakamualaikum ..." Untuk kedua kalinya, Pak Zul mengetuk dan mengucap salam.


" Waalaikumsalam ..." Terdengar suara dari dalam rumah hingga pintu pun terbuka.


Terlihat Indhira yang muncul di depan pintu memakai mukena, sepertinya dia baru saja melaksanakan sholat Ashar dan belum sempat melepas perlengkapan sholatnya itu karena mendengar ada tamu yang mengetuk pintu rumah kontrakannya


" Ibu?" Wajah Indhira terlihat terkejut saat melihat kedatangan Mama mertuanya itu.


Angel memperhatikan Indhira yang mengenakan mukena. Entah mengapa hatinya merasa sejuk melihat pemandangan itu. Dia merasa Bagas memang tepat memilih seorang wanita untuk menjadi pendamping hidupnya.


Indhira segera mencium tangan sang mertua sebagai bentuk rasa hormatnya pada orang tua suaminya itu. Matanya kini menoleh ke arah Pak Zul yang terlihat kerepotan dengan beberapa bag berisi belanjaan di tangannya.


" Mas Bagas belum pulang, masih di kantornya, Bu." Saking terkejut tak menyangka dengan kehadiran Mama mertua di rumah kontrakannya, Indhira sampai lupa menyuruh Mama mertuanya itu masuk ke dalam. Dia justru menduga jika sang Mama mertua sebenarnya mencari Bagas, bukan dirinya.


" Iya, saya tahu," sahut Angel cepat.


" Hmmm, mari masuk dulu, Bu." Akhirnya Indhira mempersilahkan Angel masuk ke dalam rumahnya. Dia pun langsung melepas mukena dan menyampirkan di lengannya.


" Maaf, rumahnya seperti ini ..." Indhira sadar pasti Angel akan mengkritik rumah tinggalnya itu.


Angel ragu untuk masuk ke dalam rumah tinggal Bagas dan istrinya itu. Pandangannya menerobos masuk ke dalam ruangan tamu, tak terlihat ada kursi sofa selayaknya sebuah ruangan tamu. Hanya ada karpet permadani tebal dan sebuah stand fan.

__ADS_1


" Maaf ya, Bu. Kalau ruang tamunya kurang layak." Melihat sang Mama mertua tidak melangkahkan kaki, Indhira kembali minta maaf, karena menduga Mama mertuanya itu enggan untuk masuk ke dalam rumah. Namun, di luar dugaannya, Angel justru melangkah masuk.


" Ini rumah tamu atau apa? Kok, tidak ada sofa? Lalu kalau ada tamu datang harus duduk di mana?" Untuk Angel yang sudah terbiasa tinggal di rumah mewah, sudah pasti isi dari ruangan tamu rumah kontrakan Bagas sangat memprihatinkan.


" Apa Bagas tidak mampu membeli sofa untuk duduk?" tanya Angel kemudian.


" Bukan seperti itu, Bu. Kami memang sengaja tidak membeli perabotan rumah tangga dulu, karena rencananya kami akan membeli setelah kami pindah ke rumah baru, agar tidak repot angkut-angkutnya." Indhira menjelaskan alasan mereka tidak memenuhi rumah kontrakannya dengan perabot rumah tangga komplit.


" Ck, pemikiran kalian itu aneh-aneh saja! Memangnya kalau pindah kalian ingin angkut barang sendiri? Tidak pakai jasa orang lain untuk mengangkutnya?!" Angel tidak menerima alasan yang dilontarkan Indhira.


" Maaf, Bu." Indhira tak berani lagi membantah ucapan Mama mertuanya.


" Belanjaan ini mau ditaruh di mana, Bu?" tanya Pak Zul masih dengan kedua tangan penuh dengan tas berisi barang belanjaan.


" Taruh di situ aja!" Angel menunjuk ke arah karpet di ruang tamu. " Turunkan semua belanjaan yang tadi saya beli, Zul!"


Zul kemudian berlari ke luar rumah Bagas untung mengambil belanjaan yang masih ada di bagasi mobil.


" I-ini untuk siapa, Bu?" tanya Indhira bingung saat Zul kembali datang dan membawa bag belanjaan lagi di tangannya


" Saya belanja ini buat keperluan kalian. Semuanya komplit, ada makanan ringan yang bagus untuk Ibu hamil juga. Jadi, kalau kamu kelaparan tengah malam, tidak usah cari-cari makanan di luar seperti semalam," ujar Angel.


Indhira membulatkan matanya mendegar perkataan Mama mertuanya yang terkesan menyindir akan apa yang terjadi semalam saat dia terbangun dan minta dibelikan lumpia sampai dua kali jalan. Rasanya malu sekali karena ternyata Mama mertuanya mengetahui kelakuannya itu.


" Tadi mana yang isinya barang-barang fresh, Zul? Suruh Indhira taruh di kulkas!" Angel memberi perintah pada Zul untuk memilih barang-barang fresh, agar segera dapat diselamatkan di tempatnya.


" Yang ini, Bu." Zul menunjuk dua bag yang berisi daging, ikan, sayuran dan juga buah-buahan.


" Ini banyak sekali, Bu" Indhira merasa apa yang dibeli oleh Ibu mertuanya terlalu berlebihan untuk mereka berdua.


" Lebih baik banyak, daripada tidak ada yang bisa dimakan! Makan buah dan sayur setiap hari. Kalau ikan, ayam dan daging, saya juga tidak beli terlalu banyak, takut tidak segar lagi," jelas Angel. " Sebaiknya masak sendiri saja daripada jajan di luar yang belum tentu sehat dan bergizi untuk janin di perut kamu!" ujar Angel lagi.


" Iya, Bu. Terima kasih, Bu." sahut Indhira.


" Alhamdulillah tidak, Bu. Jarang sekali merasakan mual, makanya saya tidak menduga jika sedang hamil," aku Indhira.


" Kok' sama kayak waktu saya hamil Bagas, ya?" Kening Angel berkerut, karena apa yang terjadi pada Indhira dengan kehamilannya sama dengan saat kehamilan dirinya saat mengandung Bagas.


" Benarkah, Bu?" tanya Indhira tak menyangka jika yang dialaminya sama dengan yang terjadi pada Angel.


" Iya, persis sekali." Angel takjub dengan kemiripan kehamilan dirinya dan kehamilan istri Bagas itu.


" Ya sudah, saya mau pulang. Segera masukkan daging-dagingan dan sayur-sayuran ke dalam kulkas, sisanya tunggu Bagas pulang saja, jangan kamu yang angkat-angkat!" Angel sangat perhatian pada kesehatan calon cucunya.


" Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak." Bahagia sudah pasti dirasakan Indhira dengan keperdulian Mama mertuanya itu. Walau masih dengan nada ketus, namun dia merasakan sebenarnya Angel sayang pada calon bayi di perut Indhira.


" Zul, yang isinya danging dan sayur bawa ke dapur dekat kulkas, tanya di mana tempatnya, jangan Indhira yang suruh angkat!" perintah Angel kembali pada supir pribadinya itu sebelum mereka pergi.


" Taruh di ruangan sebelah saja, Pak Zul." Indhira menunjukkan ruangan di sebelah ruangan tamu.


" Siap, Mbak." Pak Zul segera mengangkat kantong belanja dan menaruh di tempat yang ditunjuk Indhira.


" Saya pulang dulu." Angel kemudian berjalan ke luar diikuti Indhira dan Pak Zul yang selesai menaruh kantong belanjaan di dapur.


" Iya, Bu. Hati-hati." Indhira mencium tangan Angel.


" Ayo, Zul!" Angel meminta sang supir untuk cepat kembali ke mobil.


" Saya permisi dulu, Mbak. Assalamuakum ..." pamit Pak Zul.

__ADS_1


" Waalaikumsalam ... hati-hati bawa mobilnya, ya, Pak Zul!" Indhira berpesan agar Pak Zul memperhatikan keselamatan dalam berkendaraan.


" Siap, Mbak."


Indhira mengantar Mama mertuanya hingga sampai depan gang.


" Sudah kamu cepat kembali ke rumah!" Melihat Indhira masih berdiri saat mobil yang dikendarai Pak Zul hendak berjalan, Angel membuka kaca jendela mobilnya dan menyuruh Indhira pulang.


" Iya, Bu." Indhira langsung memutar tubuhnya dan berjalan ke arah rumah kontrakannya daripada terkena omelan sang mertua.


" Neng Indi, tamu yang tadi baru pulang itu siapa?" Ibu Zaenab, tetangga depan rumah Indhira bertanya, karena dia melihat tamu Indhira itu membawa banyak belanjaan masuk ke dalam rumah Bagas.


" Oh, itu Mamanya suami saya, Bu." Indhira menjelasan sosok Angel..


" Mama mertuanya Neng Indhira? Orang kaya, ya? Tadi saya lihat mobilnya, itu mobil mahal banget, lho! Harganya pasti milyaran ..." Bu Aswi, tetangga samping kiri rumah kontrakan Bagas pun ikut menimpali.


" Pantesan, kalau lihat Mas Bagas itu auranya beda, aura orang kaya kali, ya!?" Bu Zaenab menimpali dengan terkekeh.


Indira hanya tersenyum tak mengatakan apa-apa untuk menjawab perkataan Bu Aswi. Rupanya kehadiran Angel di rumahnya mengundang perhatian tetangga sekitarnya.


" Orang tuanya Mas Bagas itu orang kaya, tapi kenapa Mas Bagas sama Neng Indhira malah kontrak di rumah kecil kayak gini? Apa tidak direstui?" Bu Odi, tetangga sebelah Bu Zaenal melempar pertanyaan yang membuat hati Indhira sedikit tercubit.


" Kalau tidak direstui, mana mungkin dibawakan belanjaan banyak kayak tadi. Bu Odi ini ada-ada saja!" tegur Bu Aswi membela.


" Iya, nih, Bu Odi. Lihat sendiri tadi belanjaannya banyak banget. Isinya apa saja itu, Neng?" tanya Bu Zaenab penasaran.


" Saya belum sempat lihat, Bu. Tapi kemungkinan kebutuhan sehari-hari," tebak Indhira.


" Belanjaan untuk kebutuhan sehari-harinya orang kaya itu sa dis banget, ya!?" Bu Aswi terkekeh karena dia melihat dengan mata kepala sendiri supir dari mertua Indhira sampai bolak-balik menurunkan belanjaannya.


" Mungkin karena saya sedang hamil, Bu. Takut kehabisan makanan pas tengah malam terbangun seperti semalam." Akhirnya Indhira bercerita soal ngidamnya semalam kepada para tetangganya itu.


" Oalah, beruntung banget Neng Indhira punya Mama mertua seperti itu. Dengar Neng Indhira semalam kelaparan, langsung dibelikan banyak makanan. Kalau makanannya banyak, kasih ke saya juga tidak apa-apa, Mbak. Makanan orang kaya pastinya rasanya beda," seloroh Bu Zaenal terkekeh.


" Saya juga mau, Neng." Bu Aswi tak ketinggalan.


" Iya, Bu. Nanti saya lihat dulu, ya, Bu." sahut Indhira, tak enak juga menolak.


" Bu Odi mau tidak?" tanya Bu Zaenab karena Ibu Odi hanya diam saja.


" Untuk apa minta-minta? Kayak orang susah saja!" ketus Bu Odi lalu meninggalkan mereka bertiga masuk ke dalam rumahnya.


" Kenapa dia?" tanya Bu Aswi yang tiba-tiba terlihat sewot.


" Biasalah, kayak tidak paham sama tetangga depan rumah Bu Aswi itu!" sahut Bu Zaenab sambil tertawa.


" Tetangga depan rumah saya itu 'kan tetangga sebelah rumah Bu Zaenab." Bu Aswi ikut tertawa menanggapi sikap julid Bu Odi tadi.


" Maaf, Ibu-ibu ... saya pamit ke dalam dulu, ya." Indhira memilih berpamitan tidak ingin terus membicarakan oranh lain.


" Oh, iya, Nenk. Jangan lupa, kami siap menampung, Nenk." Bu Zaenab mengingatkan.


" Iya, Bu." Indhira lalu masuk ke dalam rumahnya dan menunggu sang suami pulang kerja.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy reading ❤️


__ADS_2