SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Rasa Rindu


__ADS_3

Indhira keluar dari kamar saat dia mendengar pintu apartemen dibuka. Dia tahu jika ini adalah waktu jam pulang suaminya, sehingga dia keluar ingin menyambut kedatangan suaminya itu.


" Assalamualaikum ..." Saat melihat kemunculannya, Bagas mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam ..." Indhira mencium tangan Bagas yang dibalas suaminya itu dengan kecupan di kening Indhira.


" Mama belum datang?" tanya Bagas kemudian.


" Belum, Mas." sahut Indhira.


Bagas lalu membawa istrinya itu ke sofa, " Sini duduk, Yank!" perintahnya.


Indhira mengikuti sang suami hingga kini duduk di samping Bagas. " Ada apa, Mas?" tanyanya.


" Yank, apa kamu cerita soal Dahlia ke Mama?" tanya Bagas menyelidik, karena dia yakin jika Indhira lah yang bercerita soal Dahlia pada mamanya itu.


" Iya, Mas. Memangnya kenapa?" tanya Indhira memasang wajah polos menatap sang suami.


" Kamu cerita apa saja pada Mama soal Dahlia?" Tak menjawab pertanyaan Indhira, Bagas kembali mengulang pertanyaannya.


" Mama tanya di mana keluarga Tanteku tinggal? Lalu aku bilang kalau sepupuku bekerja di hotel itu juga," aku indhira jujur. " Mas cerita ke Mama, soal apa yang dilakukan Tanteku dulu?" tanya Indhira kemudian.


" Yaaaa ... iya, sih." aku Bagas.


" Kenapa harus diceritakan, sih, Mas? Kesannya keluarga aku itu buruk banget di mata Mama, Mas." keluh Indhira menyanyangkan suaminya yang menceritakan perbuatan Tante Marta dan Om Ferry terhadapnya dulu.


" Yang buruk itu Tante, Om dan sepupu kamu, bukan kamu, Yank." Bagas menganggap Indhira tidak usah merasa malu perbuatan keluarga Tante Marta diketahui oleh Angel.


" Tidak bisa begitu, Mas. Bagaimanapun juga Tante Marta adalah adik Papaku, Tante Marta itu tetaplah keluargaku." Indhira tetap tidak sependapat dengan Bagas.


" Oh ya, kenapa Mas tadi tanya soal Dahlia dan Mama?" Indhira menanyakan sangkut pautnya antara Mama mertuanya dengan Dahlia.


" Kamu tahu Mama itu pergi ke mana?" Bagas meminta istrinya itu menebak ke mana Angel pergi.

__ADS_1


Indhira menggelengkan kepala, menandakan jika dia tidak tahu ke mana tujuan Mama mertuanya itu pergi.


" Mama ke hotel menemui Dahlia dan mengajak Dahlia pergi." Bagas menjelaskan apa yang disembunyikan oleh Mamanya dari mereka.


" Hahh??" Indhira tercengang saat mengetahui Mama mertuanya menemui Dahlia.


" Ya ampun, Mama mau apain Dahlia, Mas?" Seketika Indhira cemas, dia ingat saat menanyakan soal keluarga Tante Marta, Mama mertuanya itu terlihat geram, dan Indhira takut jika Angel akan menemui keluarganya.


" Kamu 'kok lebih mencemaskan keluarga kamu yang jahat itu ketimbang Mama, Yank?" Bagas memperhatikan istrinya itu terlihat lebih mencemaskan Dahlia daripada Angel, padahal jelas-jelas keluarga Dahlia sudah jahat kepada Indhira.


" Astaghfirullahal adzim, kenapa Mas punya pikiran seperti itu? Tentu saja aku mencemaskan Mama dan juga Dahlia. Mama adalah Mama mertuaku, Dahlia juga adalah sepupuku. Waktu membicarakan soal keluarga Tante Marta, Mama terlihat marah, aku takut saat bertemu dengan Dahlia, Mama melakukan sesuatu yang membahayakan Mama, Mas. Sama sekali aku tidak mementingkan salah satu dari mereka!" tepis Indhira, menyanggah tuduhan suaminya yang mengatakan jika dirinya lebih perduli pada Dahlia daripada Angel.


" Maaf, Yank." Bagas langsung memeluk istrinya karena telah menuduh yang tidak benar pada Indhira. Apalagi bola mata Indhira sudah berkaca-kaca saat mendengar tuduhannya tadi.


" Lalu Mama dan Dahlia pergi ke mana, Mas?" tanya Indhira kemudian.


" Aku belum tahu, nanti kita tanyakan kepada Mama. Sekarang ini Mama sedang pulang kemari," jawab Bagas seraya mengusap air mata di sudut mata Indhira. " Maafkan aku, ya?" Bagas lalu memberi kecupan di bibir Indhira.


" Astaga, kalian ini ..." Suara Angel yang tiba-tiba terdengar dari pintu apartemen membuat Bagas dan Indhira terkesiap. Indhira bahkan menjauhkan tubuhnya dari sang suami.


" Kayak tamu saja pakai pencet bel segala!" Angel memutar bola matanya menanggapi ucapan Bagas tadi.


" Duduk sini, Ma." Bagas meminta Angel duduk di sebelah kirinya yang kosong, sementara indhira duduk di sebelah kanan Bagas.


" Mama tadi dari hotel, kenapa tidak kasih tahu aku?" tanya Bagas setelah Angel duduk di sampingnya.


Seketika Angel terperanjat saat Bagas mengetahui kedatangannya ke hotel untuk menjemput Dahlia.


" Kamu tahu dari mana Mama ke hotel, Bagas?" Angel menduga anaknya itu seperti sang suami yang punya mata-mata untuk mengawasinya.


" Tadi waktu aku mau pulang, security yang jaga di depan kasih tahu aku. Pak Slamet bilang tadi Mama datang ke sana lalu pergi dengan Dahlia." Bagas menerangkan bagaimana dia bisa tahu Mamanya datang ke hotel.


Angel langsung melirik ke arah Indhira yang sedang memperhatikannya.

__ADS_1


" Mama hanya ingin bertemu Om dan Tantenya Indhira saja. Karena Mama penasaran sama orang yang sudah bersikap buruk pada Indhira itu orangnya seperti apa?" ungkap Angel menyampaikan alasannya.


" Lalu Mama bertemu dengan mereka?" tanya Bagas.


" Iya, Mama bertemu mereka," sahut Angel.


" Mama betemu dengan Tante saya?" Indhira sendiri sudah lama ingin bertemu dengan Tantenya, namun masih belum dapat ijin dari suaminya untuk bertemu dengan Tante Marta. " Bagaimana kabar Tante saya, Ma?" tanya Indhira penasaran.


" Hidup orang yang serakah itu tidak akan enak, Ra. Sama seperti Tante kamu itu. Suaminya pengangguran, dia sendiri menitipkan makanan di warung-warung. Rumahnya saja mengontrak, padahal Bagas bilang dia menjual rumah milik orang tua kamu, kan?" Saat Dahlia memanggil orang tuanya, Angel menyuruh Pak Zul untuk mencari tahu kehidupan keluarga Tante Marta dan Om Ferry sehingga dia tahu bagaimana terpuruknya kehidupan Tante dari menantunya itu.


" Ya, Allah ... kasihan sekali Tante Marta." Indhira langsung memasang wajah sedih saat dia tahu kehidupan memprihatinkan Tantenya itu, sementara dirinya saat ini serba berkecukupan.


Angel dan Bagas saling berpandangan saat melihat kesedihan di wajah Indhira. Mereka berdua benar-benar tidak mengerti, terbuat dari apa hati Indhira sampai tidak membiarkan rasa dendam tumbuh di hati wanita itu.


***


Angel merebahkan tubuhnya atas tempat tidur. Dua minggu sudah dia tak bersama suaminya. Sejujurnya, sebagai seorang wanita yang sudah cukup lama berumah tangga, ada rasa rindu pada suaminya itu. Namun, rasa kecewanya seolah menutupi rasa rindu pada suaminya itu.


Angel lalu bangkit dari tempat tidur mengambil ponsel di atas nakas. Jarinya bergerak mencari nomer suaminya, hingga dia menyambungkan telepon ke nomer Adibrata. Namun, dia langsung mematikan kembali panggilan teleponnya itu. Rasa gengsi kembali mempengaruhinya, sehingga membuatnya membatalkan niatnya menghubungi suaminya.


Ddrrtt ddrrtt


Hanya hitungan detik tiba-tiba saja ponsel Angel berbunyi. Dan panggilan masuk itu berasal dari nomer Adibrata. Cepat sekali Adibrata merespon panggilan yang sengaja Angel batalkan tadi.


Angel tak berniat mengangkat panggilan masuk dari suaminya itu, hingga bunyi panggilan itu berhenti. Namun, beberapa detik kemudian, panggilan telepon dari Adibrata kembali masuk ke ponselnya.


Angel masih belum tergerak mengangkat panggilan masuk dari Adibrata, padahal dia sendiri yang awalnya rindu dan mencoba menghubungi nomer telepon suaminya itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2