
Dahlia memarkirkan motor di dalam rumah kontrakan orang tuanya. Setelah menjual rumah milik orang tua Indhira. Om Ferry dan Tante Marta memilih mengontrak rumah untuk tinggal sehari-hari selama bertahun-tahun. Sementara uang hasil penjualan rumah milik orang tua Indhira digunakan untuk bersenang-senang, hingga akhirnya uang itu habis tak tersisa.
" Kamu sudah pulang, Dahlia? Bawa makanan tidak?" tanya Om Ferry saat melihat kehadiran anaknya.
" Tidak, Pa. Dahlia baru terima gaji besok. Tadi cuma punya uang lima puluh ribu, buat isi bensin dua puluh ribu sisanya buat bekal besok, Pa." sahut Dahlia menyahuti pertanyaan Om Ferry.
" Kamu ini, tidak mengerti orang tua sedang lapar!" Om Ferry kembali masuk ke dalam dengan menggerutu saat mengetahui Dahlia pulang tanpa membawa buah tangan.
Ucapan Om Ferry membuat Dahlia mengerutkan bibirnya. Sejak dipecat dari pekerjaannya dulu, Papanya itu bekerja serabutan. Bahkan dua tahun ini, Papanya ini menganggur tak mencari pekerjaan, dan hanya mengandalkan penghasilan dari dirinya bekerja, termasuk untuk biaya kontrak rumah sebulan-bulannya, selain uang dari hasil berjualan makanan ringan yang Tante Marta titipkan ke warung-warung di sekitar kontrakannya.
" Kamu sudah pulang?" tanya Tante Marta yang sedang menakar tepung untuk dia olah besok pagi untuk menbuat kue, saat melihat Dahlia masuk ke dapur.
" Iya, Ma." Dahlia duduk di kursi meja makan memperhatikan aktivitas Mamanya.
" Kenapa muka kamu cemberut seperti itu, Dahlia?" tanya Tante Marta melihat wajah memberengut putrinya.
" Papa itu, Ma. Aku capek-capek pulang kerja, Papa malah menggerutu karena aku tidak bawa
makanan. Aku punya sisa uang cuma lima puluh ribu, belum untuk beli bensin, malah minta beli makanan!" gerutu Dahlia.
" Ck, Papa kamu itu memang keterlaluan! Bukannya mikir cari kerja, malah meras anak istri!" Tante Marta pun nampak kesal dengan suaminya yang menganggur tak berniat mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
" Makanya, kamu cepat menikah, cari suami yang kaya biar kita tidak hidup susah seperti ini terus, Dahlia!" Sifat tamak dan gi la harta Tante Marta tidak juga hilang walaupun sudah beberapa tahun berlalu.
" Ma, Mama tahu tidak!? Bos baru aku ternyata Kak Bagas, lho!" Dahlia baru sempat memberitahu Mamanya soal pertemuannya dengan Bagas.
" Bagas? Bagas mantannya Indhira?" Tante Marta terbelalak mendengar putrinya bertemu dengan Bagas, dan ternyata Bagas adalah bos dari anaknya.
" Iya, Ma. Mama masih ingat Kak Bagas, ya? Dia sekarang jadi General Manager di hotel aku kerja, Ma." Walau sempat diacuhkan oleh Bagas, namun Dahlia masih memperlihatkan kebahagiaannya bisa bertemu kembali dengan Bagas.
" Apa dia masih kenal kamu, Dahlia? Ini bagus, lho! Siapa tahu sekarang kamu bisa mendekati Bagas lagi. Dia itu anak orang kaya, kalau kamu bisa dapatkan Bagas, hidup kita tidak susah seperti sekarang ini. Kita pasti tidak susah payah tinggal dikontrakan seperti ini lagi." Tante Marta sudah berangan-angan tinggi dengan pertemuan sang putri dengan mantan kekasih keponakannya itu.
" Tapi, Kak Bagas tidak ingat aku, lho, Ma. Kak Bagas juga kayak tidak perduli waktu aku sebut nama Indhira." Dahlia mengerucutkan bibirnya.
" Bagus kalau dia sudah tidak perduli pada Indhira. Sekarang kamu harus berusaha dekati Bagas lagi, Dahlia." Tante Marta begitu bersemangat ingin agar anaknya bisa dekat dengan Bagas.
" Tidak tahu, deh, Ma!" Dahlia lalu bangkit dan beranjak ke arah kamarnya.
" Iiihh, diajak bicara malah pergi!" gerutu Tante Marta melihat anaknya berlalu pergi.
***
Indhira menyiapkan baju koko dan sarung untuk suaminya sholat isya berjamaah di masjid. Sementara Bagas sendiri masih membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Jika masuk waktu Isya sudah berada di rumahnya, mereka selalu menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat Isya di masjid bersama warga di daerah tempat tinggalnya saat ini.
" Mas, tadi waktu aku mengantar Bu Kia ke mall, aku bertemu dengan Kartika." Saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar setelah mandi, Indhira menceritakan pertemuannya dengan Kartika kepada Bagas.
" Kamu ketemu Kartika di mall? Sedang apa anak itu di sana? Memangnya dia tidak sekolah? Jam berapa tadi kamu bertemu dia?" Bagas mengarahkan pandangan kepada Indhira, karena menyebutkan melihat adiknya pergi ke mall. Padahal Kartika selalu pulang setelah Ashar.
" Tadi sekitar jam duaan. Katanya dia mau pergi nonton sama teman-temannya soalnya pulang cepat karena ada rapat guru. Tapi pas ketemu aku, malah dia ikut aku dan Bu Kia makan." Indhira mengatakan apa yang dilakukan adik iparnya itu.
" Nonton? Memangnya Papa kasih ijin dia keluyuran di mall?" Bagas semakin terkejut saat mengetahui adiknya itu bisa keluar nonton bersama temannya di mall.
" Kata Kartika, Mama sudah kasih ijin ke dia untuk pergi nonton bersama teman-temannya.
" Mama? Mama itu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mana perduli Mama dengan apa yang dilakukan oleh Kartika." Bagas masih menyanyangkan sikap Mamanya yang tidak ketat mengawasi adik perempuannya itu.
" Apa ada teman pria yang ikut?" selidik Bagas kemudian. Dia khawatir, selain khawatir adiknya dikekang oleh Papanya, dia juga khawatir pergaulan Kartika tidak terawasi. Tentu dia tidak ingin adiknya akan bertemu pria breng sek seperti dirinya dulu.
" Tidak ada. Hanya teman-teman wanita yang tadi bersama Kartika," sahut Indhira membukakan kancing baju koko yang akan dipakai oleh suaminya lalu menyerahkannya kepada Bagas.
" Kalau Papa sampai tahu Kartika pergi nonton, kasihan Kartika. Papa pasti tidak akan membiarkan anaknya bebas berkeliaran seperti itu." Bagas mengkhawatirkan jika sampai Kartika mengalami nasib sepertinya. Tidak diberi kebebasan dalam pergaulan yang positif.
" Tapi Kartika diantar sama supirnya, Mas. Tadi juga waktu pulang kami mengantar sampai Kartika masuk ke dalam mobil, kok." Indhira meyakinkan suaminya jika Kartika baik-baik saja selama di mall tadi.
" Apa kamu bertemu supir yang mengantar Kartika?" Bagas khawatir jika sampai supir keluarganya itu tahu jika Kartika bertemu dengan Indhira.
" Aku tidak tahu, Mas. Soalnya Kartika sudah langsung dijemput di depan lobby waktu kita keluar mall. Memangnya kenapa, Mas?" tanya Indhira.
" Aku tidak ingin ada yang tahu jika Kartika bertemu dengan kamu, Yank. Nanti akan sulit untuk kita bisa bertemu dengan Kartika ke depannya." Bagas khawatir jika sampai supir Kartika menceritakan pertemuan Kartika dengan Indhira.
" Oh iya, Mas. Kartika ingin bisa ikut makan siang bersama kita. Tadi Bu Kia menyarankan agar kita rutin satu Minggu sekali bertemu untuk makan di mall, biar Kartika senang dapat berkumpul bersama kita. Menurut Mas bagaimana? Apa itu terlalu berbahaya?" Indhira duduk di tepi tempat tidur memperhatikan Bagas yang sedang memakai baju kokonya.
" Kenapa tiba-tiba Kartika minta pergi makan siang dengan kita?" tanya Bagas heran.
__ADS_1
" Karena tadi aku bilang ke dia kalau kita sering makan siang bersama, jadi dia ingin kita ajak juga, Mas." aku Indhira jujur.
" Ya sudah, nanti aku atur jadwal. Semoga Kartika tidak melakukan tindakan yang membuat Papa curiga. Sebab jika sekali Papa mencium gelagat tidak baik dari Kartika, gerak Kartika akan semakin terbatas. Dan akan susah bagi kita untuk bisa bertemu dengan Kartika." Bagas harus hati-hati dalam mengambil sikap atas keinginan adiknya itu, karena dia sendiri pun ingin dapat bisa berkumpul dengan adiknya. Namun, dia takut jika sampai mata-mata Papanya itu masih mengawasi gerak-geriknya.
" Allahu Akbar ... Allahu Akbar ..."
Sayup-sayup terdengar suara Adzan berkumandang, menandakan telah masuk waktu shalat, dan memanggil kaum muslim untuk mengerjakan sholat wajib.
" Sudah Adzan, kita siap-siap ke masjid sekarang." Bagas mengakhiri obrolan soal adiknya itu.
" Iya, Mas. Aku mau ambil air wudhu dulu." Indhira berjalan keluar dari kamar karena dia ingin mengambil wudhu sebelum bersiap berangkat ke masjid.
***
Ketika keluar dari lift menuju ruang kerjanya, Bagas memperhatikan Elma yang sedang membereskan arsip-arsip di meja kerjanya, karena hari ini adalah hari terakhir Elma dinas di hotel itu.
" Saya harap di tempat baru kamu, kamu bisa bekerja sebaik mungkin, seperti yang kamu lakukan saat kamu bertugas di sini, Elma." Bagas memberi nasehat kepada Elma agar Elma dapat bertugas seperti sebelumnya.
" Kenapa aku diperlakukan seperti ini, Bagas!? Apa kamu sengaja memindahkan aku dari tempat ini?" Elma bahkan sudah tidak memanggil Bagas dengan sebutan 'Pak' lagi.
" Kenapa kau bicara seperti itu, Elma? Itu semua adalah keputusan Pak Gavin, tidak ada campur tanganku!" Bagas mengelak jika kepindahan Elma di tempat baru adalah karena ulahnya.
" Lagipula mutasi kerja bukankah suatu cela. Mutasi dalam suatu pekerjaan adalah suatu hal yang wajar. Dan posisi yang kamu tempati saat ini masih sama dengan posisi kamu di sini. Jadi jangan beranggapan jika kepindahan kamu karena aku yang meminta! Aku di sini juga orang baru, mana mungkin aku bisa mempengaruhi Pak Gavin! Tidak ada untungnya juga untukku memindahkan kamu dari sini!" tepis Bagas seraya berjalan masuk ke dalam ruangannya yang diikuti oleh Elma di belakangnya.
" Kenapa kamu tidak jujur padaku, Bagas!?"
Bagas memutar tubuhnya saat mengetahui Elma ikut masuk ke dalam ruang kerjanya. Keningnya seketika berkerut mendegar pertanyaan Elma terhadapnya.
" Apa maksud kamu?" tanyanya kemudian.
" Kamu sudah tidak bertunangan dengan tunanganmu itu. Dan kamu sekarang telah menikah dengan wanita yang kamu tiduri waktu itu, kan!?" Dengan nada geram, Elma seakan mencurahkan rasa kecewanya terhadap Bagas.
Bagas memicingkan matanya sehingga alisnya saling bertautan mengetahui Elma sudah tahu dirinya dan Indhira telah menikah. Namun, dari mana Elma tahu soal itu? Apa diam-diam Elma menyelidikinya? Bagas mulai curiga dengan gelagat buruk yang dia rasakan terhadap Elma.
" Apa urusannya aku harus bicara denganmu!? Itu adalah hal privacy. Kau tidak berhak ikut campur masalah pribadiku! Dengan siapa pun aku menikah, itu tidak ada urusannya denganmu, Elma!" tegas Bagas.
" Apa hebatnya dia sampai kamu memilih menikahi wanita itu, Bagas!?" Masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh Bagas, Elma masih saja menanyakan kenapa Bagas lebih memilih Indhira daripada dirinya ataupun tunangan Bagas dan cantik juga kaya raya.
" Kembalilah ke mejamu! Ini waktunya bekerja, jangan mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan!" Bagas mengusir Elma dari ruangannya, karena dia malas terus berdebat hal tidak penting dengan Elma.
Dengan bersungut-sungut setelah mendapat sindiran dari Bagas, Elma pun berjalan ke luar dari ruangan bosnya itu.
" Si al! Sombong sekali dia itu! Lihat saja kamu Bagas! Suatu saat kamu pasti akan bertekuk lutut di hadapanku!" Elma menebar ancaman dengan menatap tajam ke arah pintu ruangan Bagas. Dia pun lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Bimo.
" Sebaiknya kau cari informasi soal Bagas. Dia pulang dari hotel sekitar jam empat, ikuti dia segera!" Itu pesan yang dikirimkan oleh Elma kepada Bimo.
" Oke, siap!" Tak berapa lama balasan dari Bimo masuk ke dalam ponsel milik Elma.
Sore harinya ...
Bagas merasakan jika ada sebuah mobil yang mengikutinya sejak keluar dari hotel. Dia menduga jika orang itu adalah orang suruhan Papanya yang masih saja ingin mengusik kehidupannya bersama dengan Indhira.
Bagas sengaja membelokkan motornya ke sebuah gang sehingga mobil itu tidak dapat mengikutinya terus.
" Kita lihat, siapa yang lebih pintar!?" Dari kaca spion Bagas melihat jika mobil itu berhenti di depan gang.
Sedangkan di dalam mobil, Bimo langsung memukul kemudi mobil yang dikendarainya setelah dia gagal terus mengikuti Bagas, karena Bagas membelokkan motornya ke dalam gang sempit.
" Si al! Harusnya aku tidak pakai mobil untuk memata-matai pria itu!" Bimo mengumpat karena dia kehilangan jejak Bagas. Dia memperhatikan gang yang dilewati Bagas, pria itu tidak berhenti di salah satu rumah yang ada di gang itu, tapi seperti memotong jalan untuk menuju jalan besar berikutnya.
" Aku harus bilang apa pada Elma? Padahal aku janji akan memberi informasi tentang pria itu malam ini juga." Bimo mengusap kasar wajahnya karena kecerobohannya itu membuat dia harus kehilangan jejak Bagas.
Sementata Bagas harus mengambil jalan memutar menuju butik karena harus mengambil arah yang berbeda demi meloloskan diri dari kejaran orang yang dia duga anak buah Papanya.
***
Kepindahan Elma dari hotel yang kini dikelola oleh Bagas mulai menjadi perbincangan para pegawai hotel lainnya. Sifat Elma yang ketus dan merasa sok kuasa karena menjadi orang kepercayaan bos sebelumnya membuat sosok wanita kurang disukai pegawai hotel lainnya. Tak pelak mutasi Elma keluar dari hotel itu langsung disambut gembira oleh rekan-rekan lainnya. Tak terkecuali pegawai yang bertugas di resepsionis yang sering mendapat teguran dari Elma.
" Kayaknya kita harus bikin syukuran, nih! Untuk merayakan mutasi Bu Elma dari sini." Fiska tertawa senang setelah mengetahui Elma sudah tidak bertugas lagi di hotel itu.
" Berarti keberadaan Pak Bagas di sini benar-benar membawa perubahan besar di hotel ini, Fis." Farah menimpali.
" Benar, Far. Aaahhh, semoga aku yang kepilih menggantikan posisi Bu Elma jadi asisten Pak Bagas." Fiska sudah menghayal akan diberi posisi yang ditinggalkan oleh Elma.
__ADS_1
" Mimpi kamu, Fis! Kak Bagas itu tidak suka wanita kecentilan kayak kamu!" sindir Dahlia.
" Sirik saja kamu, Li! Kalau memang rejeki aku dapat posisi itu, kamu mau apa!?" balas Fiska.
" Astaga, kalian berdua ini meributkan apa, sih!? Tiap membahas Pak Bagas ujung-ujunhnya berdebat. Apa untungnya juga untuk kalian!?" Farah menggelengkan kepalanya melihat teman-temannya saling bersaing merebutkan bos mereka, seolah bos mereka itu tertarik pada mereka.
" Tuh, Dahlia! Dia sirik banget kalau aku bicarakan Pak Bagas! Mentang-mentang dia pernah kenal, sok kenal sok dekat, padahal Pak Bagasnya juga cuek-cuek saja!" Fiska kembali mencibir.
" Ya sudah, dong Fis! Tidak usah dilanjut! Kalau ada tamu dengar kita ribut begini malu!" Farah memperingatkan kedua temannya untuk berhenti berdebat.
" Dahlia ...."
Ketika ketiga orang itu masih berbincang tiba-tiba Tante Marta menghampiri putrinya yang sedang bekerja. Tentu saja hal itu membuat Dahlia terkejut dengan kehadiran Mamanya di tempat kerjanya saat ini.
" Mama? Ada apa Mama ke sini?" tanya Dahlia menghampiri Mamanya.
" Mama mau bertemu Bagas. Di mana Mama bisa ketemu dia?" tanya Tante Marta kemudian.
" Mama mau apa ketemu sama Kak Bagas?" Dahlia tidak tahu rencana Mamanya akan datang ke hotel itu hanya ingin bertemu dengan Bagas. Dahlia justru takut Mamanya akan mengundang masalah di hotel itu. Dia yakin jika Bagas pun akan bersikap acuh pada Mamanya seperti apa yang dilakukan oleh Bagas kepadanya, dan hal itu hanya akan membuat malu dirinya saja.
" Mama buatkan puding ini untuk Bagas, Dahlia. Ini enak sekali, pasti Bagas suka. Mama ingat, waktu itu Indhira sering buatkan puoding seperti ini untuk Bagas." Tante Marta menunjukkan puding yang dia bawa di tangannya.
" Ma, untuk apa Mama bawa kayak gini? Kak Bagas tidak akan mau menerima pemberian Mama ini. Sebaiknya Mama pulang saja, deh!" Dahlia menyuruh Tante Marta pergi dari tempat kerjanya.
" Kamu ini kenapa, sih, Dahlia!? Mama itu mau bertemu dengan Bagas. Kalau dia lupa sama kamu, siapa tahu Bagas ingat sama Mama." Tante Marta bersikukuh ingin tetap bertemu dengan Bagas. " Cepat kamu kasih tahu, Mama bisa temui Bagas di mana? Di mana ruang kerjanya?" tanyanya kemudian.
" Ma, Kak Bagas itu bos di sini. Tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan dia kalau tidak ada janji dan bukan urusan penting," Dahlia menjelaskan jika Bagas tidak dapat menerima orang masuk ke dalam ruangannya jika bukan hal penting.
" Kalau kamu bilang Mama yang mau ketemu, pasti diijinkan. Kamu 'kan kerja di sini, masa iya tidak dikasih ijin Mama ketemu sama Bagas!?" Tante Marta mengira dengan adanya Dahlia bekerja dia hotel itu akan mempermudah dirinya bertemu dengan Bagas.
" Tetap tidak bisa, Ma! Semuanya harus sesuai prosedur kalau mau ketemu dengan atasan di sini." Dahlia kembali menerangkan pada Mamanya jika semua berjalan sesuai aturan yang berlaku di hotel tersebut.
" Ya sudah, kalau Mama tidak bisa ketemu Bagas di ruangannya, Mama tunggu di sini saja sampai Bagas keluar dari ruangannya." Tante Marta lalu berjalan ke arah salah satu kursi yang tersedia di lobby hotel itu, membuat Dahlia mendengus kesal dengan ulah Mamanya itu.
" Pantas saja anaknya seperti ini, ternyata Mamanya seperti itu ..." Fiska langsung mencibir Dahlia saat mengetahui kelakuan Tante Marta yang bersikeras ingin bertemu dengan Bagas.
" Fis, sudah, deh!" Farah menegur Fiska yang memulai memercik perdebatan kembali dengan Dahlia.
Satu jam kemudian, Bagas memang turun dari ruangannya, karena dia ingin menjemput Indhira. Kemunculan Bagas dari lift tentu saja membuat Tante Marta yang sejak sejam lalu menanti kedatangan Bagas memperhatikan sosok Bagas itu. Hingga Bagas hampir melewatinya, Tante Marta merasa yakin jika pria yang melintas di hadapannya itu memang benar Bagas.
" Bagas ...!" Tante Marta memanggil Bagas hingga menghentikan langkah Bagas karena seseorang memanggil namanya.
Semua pegawai hotel itu yang ada di sana termasuk Dahlia dan rekannya di meja resepsionis langsung memusatkan perhatian pada tingkah laku Tante Marta.
" Bagas, kamu apa kabar? Kamu ingat tidak dengan Tante?" Tante Marta menyentuh dan melingkarkan tangannya di lengan kokoh Bagas.
" Kamu kelihatan semakin tampan, Bagas. Tante hampir saja tidak mengenali kamu. Kamu masih ingat tidak dengan Tante? Tante ini Tantenya Indhira. Kamu ingat, kan?" Tante Marta mencoba membuat Bagas ingat kepadanya.
" Tantenya Indhira?" Bagas mengangkat kedua alisnya.
" Iya, Tante ini Tantenya Indhira, Tante Marta. Kamu ingat, kan?" Tante Marta berseman,gat untuk membuka ingatan Bagas kembali.
" Tentu saja saya ingat Tante. Saya tidak akan lupa dengan Tante," ucap Bagas kemudian.
" Syukurlah kamu masih ingat dengan Tante, Bagas. Dahlia bilang kalau kamu lupa dengan dia. Mungkin karena kamu jarang bertemu dengan Dahlia makanya kamu lupa dengan dia. Tapi kalau dengan Tante kamu sepertinya tidak lupa, ya!?" Tante Marta senang karena sepertinya Bagas mulai mengingat dirinya.
" Mana mungkin saya lupa terhadap Tante. Tante adalah Tantenya Indhira. Tante adalah seorang Tante yang tega memperlakukan keponakannya seperti pembantu di rumahnya sendiri!" geram Bagas mengarahkan pandangan ke arah Tante Marta dengan sorot mata tajam.
Tante Marta terbelalak mendengar perkataan Bagas. Dia tidak mengira jika Bagas masih saja ingat akan perlakuan masa lalu yang dia lakukan dulu pada Indhira.
" Tante adalah Tante yang tega, bersama suami Tante, kalian memakan hak anak yatim demi kepentingan keluarga Tante pribadi. Tante adalah Tante yang tega membuat keponakan Tante sendiri menderita. Bahkan tega menjual keponakannya kepada pria hidung belang! Bagaimana mungkin saya bisa melupakan keluarga Tante!? Sampai kapan pun, saya akan tetap mengingat orang-orang yang sudah menyakiti orang yang sangat saya cintai!" Kalimat-kalimat yang diucapkan Bagas terdengar penuh amarah. Bagas sangat ingat bagaimana perlakuan Tante Marta dan suaminya juga Dahlia kepada Indhira saat itu. Bahkan hingga akhirnya Indhira keluar dari rumah orang tuanya sendiri.
Semua orang yang mendengar kalimat Bagas yang terdengar lantang seketika berbisik, apalagi setelah mereka tahu jika wanita yang bersama Bagas adalah orang tua dari Dahlia. Tak dapat dibayangkan juga bagaimana warna muka Dahlia saat ini, karena keburukan keluarganya dibuka oleh Bagas di hadapan rekan-rekan kerjanya. Dahlia tidak tahu bagaimana nasib dia di hotel itu. Bukan hanya dari pergunjingan teman-temannya, tapi juga dari tindakan yang akan diambil oleh Bagas. Jika Elma saja bisa dimutasi, bukan tidak mungkin dia pun akan ditindak tegas oleh bosnya itu.
*
*
*
Besambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1