SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Kelakuan Adibrata


__ADS_3

Setelah Bi Iyem turun ke bawah, tak lama Adibrata pun ikut turun ke bawah karena dia merasa penasaran dengan makanan yang dipesan oleh Bagas.


"Bagas pesan makanan apa, Bi?" tanya Adibrata saat melihat Bi Iyem hendak memasukan steak ke dalam microwave.


"Den Bagas pesan steak untuk Non Indhira, Tuan." jawab Bi Iyem.


"Dia sudah tidur, kan?" tanya Adibrata kemudian.


"Den Bagas atau Non Indhira, Tuan?" Bi Iyem bingung dengan kata 'dia' yang dimaksud oleh Adibrata.


"Memang yang ingin makan ini siapa?" tanya Adibrata sedikit ketus karena Bi Iyem terlalu lama menangkap maksud ucapannya.


"Non Indhira, Tuan. Iya sepertinya Non Indhira sudah tidur," sahut Bi Iyem.


"Coba mana sini lihat makanannya." Adibrata kemudian menarik kursi lalu mendudukinya. Dia meminta makanan yang dipegang Bi Iyem.


Biarpun ragu, namun Bi Iyem akhirnya membawa makanan yang dipegangnya kepada Adibrata.


"Aromanya enak sekali." Adibrata lalu menoleh ke arah Bi Iyem.


"Apa kamu bisa membuat steak seperti ini?" tanya Adibrata kemudian.


"Kalau steak bisa, Tuan. Tapi, mungkin tidak akan sama seperti ini," jawab Bi Iyem.


"Kalau mirip seperti ini bisa, kan?" tanya Adibrata kembali.


"B-bisa, Tuan." jawab Bi Iyem bingung. Dia berpikir jika dia akan disuruh memasak steak itu malam ini juga.


"Ya sudah, taruh di piring, ambilkan garpu dan pisaunya. Steak itu saya saja yang makan. Nanti besok pagi-pagi buatkan seperti ini, barangkali istri Bagas itu mencari makanan ini." Adibrata justru ingin makan steak milik Indhira yang dipesan oleh Bagas.


"I-iya, Tuan." Bi Iyem tidak bisa menolak. Dia pun lalu menyediakan apa yang diminta oleh Adibrata.


Pagi harinya, seperti biasa Indhira terbangun sebelum Shubuh. Dia merentangkan tangannya, untuk merengangkan otot-ototnya. Dia tiba-tiba teringat jika semalam memesan makanan di La Grande.


"Mas, bangun ...!" Indhira membangunkan Bagas yang masih terlelap.


"Hmmm, apa, Yank? Jam berapa sekarang?" Bagas membuka matanya.

__ADS_1


"Mas, steak nya sudah datang belum? Kenapa Mas tidak membangunkan aku?" keluh Indhira.


"Oh, aku tertidur semalem, Yank. Kamu mau makan steak sekarang? Jam berapa memangnya?" tanya Bagas kemudian.


"Jam empat, Mas." jawab Indhira.


"Yakin, mau makan sekarang?" tanya Bagas.


"Iya," sahut Indhira.


"Ya sudah, aku ambilkan dulu." Meskipun masih terasa mengantuk, namun Bagas akhirnya turun dari tempat tidur untuk mengambilkan makanan untuk istrinya itu.


"Aku ikut, Mas." Indhira pun ikut beranjak dari tempat tidur, kemudian berjalan mengikuti suaminya turun ke ruangan makan.


"Bi, Bi Iyem ...!" Bagas memanggil Bi Iyem, karena semalam dia menitipkan pesanannya pada Bi Iyem.


"Saya, Den." Bi Iyem yang berada di dapur langsung mendekat ke arah ruang makan dengan rasa cemas. Dia takut Bagas akan menanyakan soal steak yang dimakan Adibrata semalam.


"Pesanan steak semalam mana? Tolong hangatkan, istriku ingin memakannya sekarang," perintah Bagas pada Bi Iyem.


"Maaf, Den, Non. Steak pesanan semalam ... sudah habis." Agak takut Bi Iyem mengatakan jika steak itu sudah dimakan oleh Adibrata.


"Bukan, Den. Maksud Bibi, semalam Papa Den Bagas bangun dan lapar. Lalu Papa Den Bagas makan steak itu." cerita Bi Iyem dengan menggaruk tengkuknya.


"Hahh?? Dimakan Papa?" Bagas kaget dengan cerita dari Bi Iyem jika semalam Papanya memakan makanan pesanan istrinya.


Bagas sontak melirik ke arah Indhira yang juga terkejut mengetahui steak pesanannya dimakan oleh Adibrata.


"Bibi kasih tahu tidak ke Papa kalau steak pesanan Indhira?" tanya Bagas.


"Sudah, Den. Bi Iyem sudah kasih tahu Papa Den Bagas. Tapi, Papa Den Bagas bilang Bibi suruh bikin steak itu sebagai ganti untuk Non Indhira," jelas Bi Iyem.


Bagas kembali menoleh ke arah Indhira. Dia ingin tahu bagaimana tanggapan istrinya, karena steak buatan La Grande pasti akan berbeda dengan buatan Bi Iyem.


"Gimana, Yank?" tanya Bagas.


"Kalau Non mau makan itu, nanti Bibi buatkan sekarang," ujar Bi Iyem merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kalau sudah dimakan Papa, Mas. Nanti beli lagi saja kalau cafenya sudah buka." Diluar dugaan, Indhira justru tidak mempermasalahkan makanan yang sudah dimakan oleh Papa mertuanya.


"Maafkan Papa, ya, Yank?" Bagas memeluk istrinya, karena makanan yang diinginkannya justru dimakan oleh Adibrata.


"Ada apa pagi-pagi kalian sudah berkumpul di meja makan?" Angel tiba-tiba masuk ke dalam ruangan makan. Sejak Indhira tinggal di rumah itu, Angel sudah membiasakan diri bangun pagi dan mulai kembali menjalankan kewajiban ibadahnya yang sudah lama dia tinggalkan.


"Tidak ada apa-apa, Ma." Bagas tidak ingin berkata yang sejujurnya kepada Angel, karena dia khawatir itu akan membuat Angel makin marah pada Adibrata.


"Ada yang kalian sembunyikan dari Mama?" Namun, sepertinya Angel merasa jika Bagas tidak berkata jujur kepadanya.


"Ya ampun, Ma. Kenapa curigaan gitu, sih? Tadi aku cuma antar Indhira ke bawah ingin ambil air minum." Bagas kembali berbohong.


"Ayo, Yank. Kita ke kamar lagi." Bagas kemudian mengajak Indhira kembali ke kamarnya, daripada Mamanya itu terus mengitrogasinya.


"Bi, tunggu!" Angel mencegah Bi Iyem yang ingin kembali ke dapur setelah Bagas dan Indhira kembali ke kamar.


"Saya, Bu?" tanya Bi Iyem.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu jangan ikut-ikut berbohong pada saya, ya!" Angel kini mencecar Bi Iyem. Karena menurutnya lebih mudah mengintrogasi ART nya daripada bertanya kepada Bagas.


"Hmmm, itu, Nyonya. Hmmm ..." Bi Iyem galau. Bagas saja berusaha menutupinya, masa dia harus bercerita? Namun, kalau dirinya tidak bercerita, Angel pasti akan marah kepadanya.


"Itu apa, Bi?" tanya Angel kembali.


"Itu, Nyonya. Tadi malam Den Bagas pesan steak untuk Non Indhira. Tapi, waktu makanannya datang ternyata Non Indhira dan Den Bagas sudah tidur, Nyonya. Lalu, Tuan bangun dan memakan steak itu, Nyonya." Bi Iyem terpaksa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Angel membulatkan matanya mendengar cerita tentang kelakuan sang suaminya. Seketika itu juga dia mendengus kasar dan berjalan keluar ruangan makan untuk kembali ke kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun.


"Aduh, gawat ini kalau Nyonya marah ke Tuan. Nanti Aku yang kena tegur Tuan dan Den Bagas." Bi Iyem menepuk keningnya, karena pengaduannya akan membuat kegaduhan di rumah itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2