
" Ris, aku ingin berziarah ke makam Papaku. Apa nanti sore kamu bisa antar aku ke sana?" Idhira merasa jika dirinya akan pergi jauh dari kota Jakarta dan tidak akan bisa sering mengunjungi makam Papanya itu. Karena itu, sebelum pergi dia ingin berziarah dan berpamitan kepada Papanya.
" Ra, bukannya aku tidak mau membantu kamu. Tapi sebaiknya kamu tidak usah ke makam Papa kamu. Aku takutnya keluarga Tante kamu itu mencari kamu ke sana. Mengirim doa untuk orang tua yang sudah tidak ada dapat dilakukan di mana saja, kanan? Urusan membersihkan makam, nanti aku akan ke sana dan suruh orang untuk rutin membersihkan makam Papa kamu itu." Rissa kurang setuju jika Indhira pergi ke makam Papanya, karena takut jika Om Ferry dan Tante Marta akan mengawasi makam Papanya Indhira sebab dia Indhira pasti akan mengadu di pusara Papanya itu.
Jawaban dari Rissa membuat Indhira sedih, karena dia tidak mendapatkan kesempatan untuk berziarah ke makam Papanya sebelum dia pergi ke Semarang. Namun, Indhira juga harus menyetujui apa yang dikatakan oleh Rissa. Karena dia juga tidak ingin sampai bertemu kembali dengan Tante Marta dan Om Ferry.
Ddrrtt ddrrtt
Tiba-tiba ponsel Rissa berdering dan terlihat nomer ponsel Bagas yang menghubungi Rissa saat ini. Rissa memang tidak pernah menyimpan nomer kontak Bagas di dalam ponselnya meskipun Bagas berstatus kekasih Indhira kala itu.
" Ponsel kamu masih belum aktif, Ra?" tanya Rissa karena dia memang tidak melihat Indhira memegang ponselnya.
Indhira menggelengkan kepalanya seraya menjawab, " Aku takut buka HP, Ris." Indhira memang takut akan banyak hujatan yang akan dia terima jika dia mengaktifkan ponselnya, sehingga dia membiarkan saja ponselnya itu tidak aktif sejak video viral itu tersebar.
Ddrrtt ddrrtt
Kembali ponsel Rissa berdering. Masih dari nomer yang sama yang menghubungi Rissa.
" Bagas telepon, mau apa lagi dia hubungi aku?!" Rissa malas menerima panggilan masuk dari Bagas, karena dia tetap beranggapan jika semua yang terjadi pada Indhira karena Bagaslah penyebabnya.
" Aku malas bicara sama dia!" Rissa mereject panggilan masuk dari Bagas.
Ddrrtt ddrrtt
Namun, Bagas tidak juga menyerah, karena pria itu kembali mencoba menghubungi Rissa. Rissa kembali mereject panggilan telepon Bagas dan langsung memblokir nomer Bagas.
" Aku blokir nomer Bagas, Ra. Kamu akan ikut Tante aku di Semarang. Sebaiknya kamu nanti ganti nomer simcard saja, agar kamu tidak berhubungan lagi sama orang-orang jahat di masa lalu kamu itu termasuk Bagas. Kamu harus membuka lembaran baru lagi, Ra." Rissa menasehati agar Indhira tidak lagi berhubungan dengan orang-orang dari masa lalu Indhira yang telah menyakiti dan membuat Indhira tertimpa masalah besar.
" Iya, Ris, Nanti aku beli nomer baru kalau sudah sampai di Semarang saja," sahut Indhira.
" Oh ya, aku pinjam KTP kamu mana? Aku mau pesan tiket keretanya via aplikasi saja biar tidak usah antri di loket." Rissa meminta KTP milik Indhira karena dia ingin melakukan pemesanan tiket kereta sebagai online. " Papa bilang kita berangkat Jumat sore saja, jadi aku ada jeda istirahat di sana. Minggu aku baru kembali ke Jakarta." Rissa menjelaskan kapan waktu mereka berangkat ke Semarang.
" Berapa harga tiketnya, Ris?" tanya Indhira.
" Sebentar aku cek dulu." Rissa membuka ponselnya untuk membuka aplikasi dan memesan tiket perjalanan mereka ke Semarang Jumat sore.
" Kita berangkat yang jam 16.40 saja ya, Ra. Sampai Semarang sekitar jam sepuluh malam. Harga tiket empat ratus ribu rupiah. Nanti sampai sana Tante aku yang jemput, kok!" Rissa menjelaskan tiket yang dia pilih.
" Empat ratus ribu, Ris? Apa tidak ada yang lebih murah lagi, Ris?" Bagi Indhira, tentu saja uang sebesar empat ratus ribu bukanlah jumlah yang sedikit.
" Ada yang dua ratus ribuan, Ra. Kamu tidak usah khawatir deh, Ra. Nanti Papa aku yang bayarin tiketnya, kok!" Menyadari kegelisahan Indhira, Rissa langsung menjelaskan jika uang yang dipakai untuk membeli tiket adalah uang dari Papanya.
" Jangan, Ris. Pakai uang dari Tante itu saja. Aku hitung ada lima juta dua ratus ribu. Kamu beli pakai uang ini saja, sekalian sama tiket kamu pulang ke Jakarta." Indhira merasa terlalu membebani keluarga Rissa jika uang untuk membeli tiket pun diberi dari orang tua Rissa.
" Tidak apa-apa, Ra. Kamu simpan saja uang itu untuk keperluan kamu di Semarang. Kamu juga 'kan perlu pakaian untuk ganti. Oh ya, banyak pakaian aku tidak terpakai. Kamu mau pakai baju-baju lama punyaku, Ra? Masih bagus-bagus, kok!" Rissa menawarkan pakaiannya yang sudah tidak dipakai olehnya pada Indhira. Karena ukuran badannya dan Indhira tidak beda jauh, Indhira hanya sedikit lebih kurus dari Rissa.
" Memangnya sudah tidak dipakai sama kamu, Ris?" tanya Indhira, tentu saja jika memang tidak dipakai, dia pun mau menerima pakaian-pakaian lama milik Rissa.
" Tidak, kok! Aku tiap bulan rutin beli jadi pada numpuk malah bingung kebanyakan baju," sahut Rissa.
" Kalau sama kamu memang sudah tidak terpakai, tidak apa-apa, Ris. Aku juga mau dikasih sama kamu." Indhira tidak gengsi menerima sumbangan pakaian dari Rissa karena dia memang butuh banyak pakaian, karena semua pakaiannya dia tinggal di rumahnya.
" Ya sudah, kita pilih-pilih saja dulu baju yang cukup sama kamu. Nanti kamu 'kan tinggal beli ********** saja." Rissa bangkit dan berjalan ke depan lemarinya untuk memilih pakaian untuk Indhira.
Ddrrtt ddrrtt
__ADS_1
Namun, tiba-tiba panggilan telepon kembali berbunyi membuat Rissa dan Indhira menolehkan pandangan kembali ke arah ponsel Rissa.
" Siapa lagi, sih?!" Rissa dengan kesal mengambil ponselnya dan mengecek panggilan masuk di ponselnya itu.
" Ibu Tika, Ra!" Rissa menunjukkan layar ponselnya pada Indhira. " Ada apa, ya? Tadi Bagas, sekarang Ibu Tika. Apa mereka mau menanyakan kamu? Apa mereka tahu kamu kabur ya, Ra?" Rissa tidak langsung menjawab panggilan telepon dari Ibu Rissa.
" Aku tidak tahu, Ris."
" Aku harus jawab apa kalau Bu Tika tanya kamu, Ra?" tanya Rissa.
" Aku bingung, Ris." Indhira bingung apa dia harus memberitahu keberadaannya atau tidak. Jika dia menyuruh Rissa berbohong dengan mengatakan tidak tahu, pasti Ibu Tika akan merasa cemas, karena Ibu Tika sangat baik terhadapnya. Tapi, kalau Ibu Tika tahu, dia khawatir hal ini akan tembus kepada Bagas, itu yang tidak dia inginkan.
" Aku beritahu saja kamu ada di sini tapi aku tidak akan beritahu rencana kamu ke Semarang, ya?" Mendengar ponselnya tidak juga berhenti berdering, Rissa memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon dari Ibu Tika dengan jawaban seperti yang dia sebutkan kepada Indhira.
" Tolong bilang ke Ibu Tika, jangan kasih tahu Bagas jika aku ada di rumah kamu ini, Ris!" Indhira tidak tega harus berbohong kepada Ibu Tika.
" Oke!" sahut Rissa. Dia pun langsung mengangkat panggilan masuk dari gurunya tersebut.
" Assalamualaikum, ada apa, Bu?" sapa Rissa saat mengangkat panggilan masuk Ibu Tika. Rissa juga sengaja mengaktifkan pengeras suara di ponselnya tersebut agar Indhira pun dapat mendengar percakapannya dengan Ibu Tika.
" Waalaikumsalam, Rissa. Ris, apa kamu tahu keberadaan Indhira sekarang di mana, Ris?" tanya Ibu Tika.
" Memangnya kenapa, Bu?" Rissa masih menahan tidak memberitahu Ibu Tika terlebih dahulu soal keberadaan Indhira di rumahnya.
" Ibu tadi baru dari rumah Indhira. Tapi Ibu tidak diijinkan bertemu dengan Indhira. Bahkan Om nya Indhira bilang kalau Indhira itu kabur dari rumah. Ibu khawatir lho, Ris." Suara Ibu Tika terdengar jelas menunjukkan kecemasan.
Indhira dan Rissa saling berpandangan mendengar cerita Ibu Tika.
" Ibu ke rumah Indhira? Memangnya ada apa, Bu?" hanya Rissa penasaran.
" Ibu mau menyerahkan kartu ATM punya Bagas. Bagas minta tolong sama Ibu karena dia tidak bisa keluar dari rumahnya ...."
" Tidak, Ris! Bukan seperti itu! Bagas memang dilarang oleh orang tuanya keluar dari rumahnya. Bahkan orang tuanya menyuruh orang untuk mengawasi Bagas agar tidak kabur dari rumah." Ibu Tika menjelaskan apa yang sedang dihadapi oleh Bagas agar Rissa tidak salah paham.
Indhira menggigit bibirnya mendengar apa yang sedang terjadi pada Bagas.
" Apa yang terjadi pada Bagas belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Indhira, Bu! Indhira diusir dari rumahnya sampai dijual Om nya ke pria hidung belang! Apa Bagas pernah mikir ke arah itu!?" Rissa merasa kesal karena Ibu Tika terkesan membela Bagas.
" Ris!" Indhira menegur Rissa agar tidak terus bercerita kepada Ibu Tika.
" Astaghfirullahal adzim! Indhira dijual sama Om nya?" Ibu Tika seketika terperanjat mendengar kabar yang disampaikan oleh Rissa. " Kamu tahu dari mana, Ris? Apa Indhira ada sama kamu? Tadi Ibu seperti mendengar suara Indhira." Samar Ibu Tika memang me dengar suara Indhira.
" Saya akan kasih tahu ibu. Tapi saya mohon, Ibu tidak beritahu keberadaan Indhira pada Bagas! Tadi Bagas berkali-kali telepon saya tapi tidak saya angkat. Kalau Ibu mau membantu Indhira, tolong Ibu rahasiakan keberadaan Indhira saat ini pada Bagas, Bu." pinta Rissa.
Suara hembusan nafas Ibu Tika terdengar dari ponsel Rissa. Sepertinya Ibu Tika sedang mempertimbangkan permintaan Rissa tadi.
" Baiklah, Ibu janji tidak akan mengatakan hal ini kepada Bagas." Akhirnya Ibu Tika menyetujui permintaan Rissa.
" Indhira ada di rumah saya sejak semalam. Indhira kabur saat dibawa ke hotel dan akan dijual oleh Om nya ke pria hidung belang. Bu. Untung saja semalam ada pasangan suami istri yang baik hati menolong Indhira dan mengantar Indhira ke rumah saya." Rissa menceritakan apa yang dialami Indhira tadi malam.
" Ya Allah, tega sekali Om sama Tante Indhira itu." Ibu Tika kaget mendengar cerita Rissa tentang masalah baru yang sedang menimpa Indhira.
" Ris, kamu bisa share rumah kamu? Ibu ingin bertemu dengan Indhira sekarang." Ibu Tika minta Rissa membagikan alamat rumahnya, karena dia pun merasa perlu bertemu dengan Indhira.
" Baik, Bu. Saya share lokasinya," sahut Rissa.
__ADS_1
" Ya sudah, Ibu tutup panggilan teleponnya sekarang, ya! Nanti Ibu langsung meluncur ke sana Assalamualaikum ..." Ibu Tika mengakhiri panggilan telponnya.
" Waalaikumsalam ..." sahut Rissa diikuti oleh Indhira.
***
Kurang dari satu satu jam, Ibu Tika sudah sampai di rumah Rissa. Karena Rissa tinggal di perumahan residence, tentu tidak sulit bagi Ibu Tika untuk menemukan alamat rumah Rissa.
Dari Indhira dan Rissa, Ibu Tika mendengar kejadian semalam yang hampir membahayakan hidup Indhira. Ibu Tika tidak menyangka jika Tante dan Om nya Indhira setega itu pada ponakannya sendiri. Ibu Tika merasa prihatin dan kasihan atas nasib yang dialami Indhira saat ini.
" Sebenarnya Ibu datang ke rumah kamu tadi itu atas permintaan Bagas, Indhira. Bagas minta Ibu menyerahkan kartu ATM miliknya pada kamu. Saldonya ada seratus juta. Bagas bilang uang ini untuk pegangan kamu agar bisa dipergunakan untuk mengambil kursus karena kamu putus dari sekolah." Ibu Tika mengeluarkan kartu ATM beserta PIN nya dari tasnya dan menunjukkannya kepada Indhira.
Indhira mengerutkan keningnya melihat kartu ATM milik Bagas yang diserahkan oleh Ibu Tika Untuk apa Bagas memberikan kartu ATM kepadanya? Itu pertanyaan dalam benak Indhira.
" Untuk apa dia kasih kartu ATM ini, Bu? Mau bayar Indhira untuk tutup mulut atas kelakuannya?!" Rissa yang justru bertanya. Dan jika menyangkut soal Bagas, Rissa memang selalu berkata penuh emosi.
" Kamu jangan terus menyalahkan Bagas, Rissa. Bagas juga saat ini sedang tertekan. Tadi Ibu lihat dia sangat frustrasi karena dia tidak dapat menolong Indhira." Ibu Tika memberi pengertian kepada Rissa agar tidak terus membenci Bagas. Walau beda nasib, tapi dia tahu Bagas hati pun sedang menderita.
" Penderitaan Bagas itu tidak ada apa-apanya dengan penderitaan Indhira, Bu!"
" Bu, maaf ... saya tidak bisa menerima kartu ATM ini." Indhira menolak kartu ATM milik Bagas.
" Kenapa tidak kamu terima saja, Indhira? Ini bisa kamu pakai untuk pegangan kamu. Kamu tidak bisa ikut tinggal seterusnya di rumah Rissa, kan?" Ibu Tika menganjurkan agar Indhira menerima bantuan dari Bagas.
" Indhira tidak perlu itu, Bu! Ibu tidak perlu mengkhawatirkan Indhira. Orang tua saya ingin menitipkan Indhira di rumah Tante saya yang mempunyai usaha salon di Semarang. Nanti Indhira akan bekerja di sana, Bu. Semua kebutuhan Indhira akan terjamin." Setelah berunding sebelumnya dengan Indhira, akhirnya Rissa dan Idhira memberitahu rencana yang akan dijalankan Indhira ke depannya.
" Jadi sebaiknya kembalikan saja kartu ATM itu kepada Bagas, Bu. Bilang saja Ibu tidak tahu Indhira menghilang ke mana!? Biar makin menderita dia karena penyesalannya!" lanjut Rissa.
" Kamu akan pindah ke Semarang?" tanya Ibu Tika pada Indhira.
" Iya, Bu. Mungkin lebih baik saya pergi sementara waktu dari sini," sahut Indhira. " Tapi, tolong sembunyikan ini dari Bagas ya, Bu!? Saya tidak ingin Bagas tahu keberadaan saya nanti." Indhira berharap Ibu Tika tetap merahasiakan keberadaannya.
" Ibu tidak usah mengkhawatirkan Indhira, Bu. Di sana ada Tante saya yang akan menjaga Indhira. Tante saya tidak sekejam Tantenya
Indhira kok, Bu." Rissa berseloroh di tengah obrolan serius mereka.
" Ya sudah, jika kamu memang sudah memutuskan untuk pindah ke Semarang, Ibu hanya bisa membantu doa agar kamu bisa menjalani hidup kamu dengan lebih baik. Tapi, Ibu masih berharap, walaupun kamu nanti bekerja di tempat Tantenya Rissa, jika ada waktu senggang, usahakan ikut belajar paket C. Supaya kamu dapatkan ijazah setara SMA. Jika kamu ada rejeki ingin melanjutkan kuliah, ijazah itu sangat berguna, Indhira." Sebagai seorang pengajar, tentu saja Ibu Tika sangat mengingatkan Indhira agar tidak melupakan pendidikan.
" Ibu Tika benar, Ra. Nanti kalau kamu sudah bekerja di sana. Aku akan bilang ke Tanteku agar mencarikan kamu sekolah Non formal agar kamu bisa dapat ijazah, Ra. Siapa tahu rejeki kamu ke depannya lebih baik daripada sebagai pekerja salon." Rissa pun menyemangati Indhira dan berjanji akan membantu bicara pada Tantenya.
" Ya Allah, saya bersyukur. Di tengah masalah yang terus menerus datang menghampiri saya. Ternyata masih banyak orang-orang yang memperhatikan saya. Terima kasih, Bu Tika. Terima kasih, Rissa. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Ibu dan juga kamu berserta keluarga kamu, Ris." Tak kuasa Indhira menangis tersedu. Dukungan dari banyak orang seakan memompa semangatnya agar tetap tegar menghadapi hidup yang tidak mudah ke depannya.
***
Malam sudah semakin larut. Namun, Indhira tidak juga datang memejamkan matanya. Sementara Rissa yang tidur di sebelahnya sudah terlelap dalam mimpinya. Indhira bangkit dari tempat tidur dan mengambil dompetnya. Dia menyimpan pas fos foto Papanya yang selalu dia selipkan di dompetnya. Seketika bola mata Indhira mengembun dipenuhi cairan bening. Kerinduannya akan sosok Papanya yang selama ini menjadi pelindungnya semakin menguat. Apalagi di saat dia merasakan kesedihan seperti saat ini.
" Pa, Maafkan Indi. Besok Indi akan meninggalkan Jakarta. Indi tidak bisa sering mengunjungi makam Papa lagi. Butiran air mata itu akhirnya tak tahan luruh di pipi mulus Indhira.
" Indi sangat merindukan Papa. Hiks ..." Dengan mendekap foto Papanya, Isak tangis Indhira pun akhirnya pecah seketika.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️