
Sepulang dari makan siang, Bagas membelokkan mobilnya ke sebuah bangunan studio foto. Tentu saja Indhira terheran karena Bagas memarkirkan mobilnya di studio foto tersebut.
" Mau apa kita kemari, Bagas?" tanya Indhira terheran karena Bagas memarkirkan mobilnya di sebuah studio foto
" Mau photoshoot wedding kita nanti." Seraya terkekeh, Bagas menyebut alasannya mengajak Indhira ke studio foto itu.
Indhira membelalakkan matanya mendengar jawaban Bagas. Dia tahu, pasti Bagas hanya bercanda mengatakan soal photoshoot wedding.
" Kamu jangan bercanda, Bagas! Aku serius ..." Indhira kesal karena Bagas selalu saja tidak pernah menjawab serius jika ditanya.
" Kita butuh pas foto untuk syarat pernikahan kita, kan? Jadi, kita foto sekarang saja, Ra. Soalnya aku ingin kita menikah Minggu depan."
Perkataan Bagas kali ini kembali membuat bola mata Indhira membulat bahkan lebih melebar.
" Minggu depan?" Dengan rasa tidak percaya, Indhira menanyakan untuk memastikan pendengarannya tidak salah menangkap perkataan Bagas.
" Iya, Minggu depan aku ingin kita menikah. Jadi kita harus menyiapkan segala sesuatunya dari sekarang." Bagas menjelaskan agar Indhira pun gesit mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan untuk pernikahan.
" Apa itu tidak terlalu terburu-buru, Bagas?" Indhira merasa waktu yang dipilih oleh Bagas terlalu cepat. Sedangkan dia sendiri belum mempunyai persiapan apa-apa untuk melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat. Dia berpikir mungkin Bagas akan berencana menikahinya beberapa bulan yang akan datang, bukan Minggu depan.
" Aku sudah menunggu sampai delapan tahun, lho, Ra! Apa itu kurang lama?" sahut Bagas menanggapi rasa keberatan Indhira atas rencana pernikahan mereka yang dijadwalkan oleh Bagas Minggu depan.
" Bukan begitu, Bagas. Tapi, ini terlalu mendadak. Aku belum bicara hal ini ke keluarga Rissa dan Bu Kia. Aku 'kan mesti minta pendapat mereka juga, Bagas. Apa kamu sudah bicara hal ini kepada Om Edwin dan Tante Lidya? Lalu, kalau minggu depan kita menikah, pekerjaanku bagaimana?" Selain dia belum bertukar pikiran dengan orang tua Rissa, Indhira juga mengkhawatirkan soal pekerjaannya. Dia baru saja bekerja di tempat Azkia, baru hitungan hari dia bekerja di butik milik Azkia itu, masa dia harus cuti karena menikah? Itu yang membuat Indhira tidak enak hati.
" Kamu jangan memikirkan pekerjaan, Ra. Aku sudah bilang, kalau kita menikah nanti, aku tidak ijinkan kamu bekerja. Biar aku yang mencari nafkah." Bagas mengulang keputusannya yang melarang Indhira bekerja setelah menikah nanti.
" Tapi, Bagas ...."
" Ra, kamu harus mengambil keputusan secepatnya. Sudah saatnya kamu memikirkan diri kamu sendiri, memikirkan kebahagiaan kamu. Sudah cukup selama ini kamu berjuang. Kini saatnya kamu menikmati hasil manis dari penderitaan yang sudah kamu lewati kemarin-kemarim." Bagas berharap Indhira lebih serius memikirkan rencana mereka ke depannya untuk berumah tangga.
Indhira menatap Bagas, terlihat pria itu benar-benar sudah mantap ingin melangkah ke jenjang pernikahan dengannya, tidak seperti dirinya yang terkadang diselimuti keraguan. Bukan karena keraguan atas keseriusan dan perasaan cinta Bagas terhadapnya, tapi keraguan akan perbedaan status sosial antara dirinya dan Bagas.
" Apa kamu sudah bicara dengan orang tuamu, Bagas? Apa mereka tidak keberatan dengan rencana pernikahan kita yang begitu mendadak ini? Aku takut mereka berprasangka yang tidak-tidak terhadapku." Indhira mencemaskan sambutan tak hangat keluarga Bagas jika dia menikah dengan Bagas kelak.
" Malam ini aku akan bicara pada orang tuaku soal rencana pernikahan kita ini." Bagas memang belum sempat bicara pada Adibrata, karena tadi pagi, setelah sholat Shubuh, dia kembali tidur dan belum sempat bertemu apalagi berbicara dengan Papahnya.
" Kamu belum bicara dengan orang tua kamu, tapi kamu ingin mengajak aku menikah. Kalau orang tuamu tidak setuju, bagaimana, Bagas?" Indhira semakin khawatir, ternyata Bagas belum bicara soal rencana pernikahan mereka pada orang tua Bagas.
" Orang tuaku setuju atau tidak, kita akan tetap menikah, Ra!" tegas Bagas penuh keyakinan.
" Kamu akan menentang orang tuamu, Bagas?" Indhira takut jika pernikahan mereka nanti akan menjadikan hubungan Bagas dan keluarganya renggang.
" Ra, aku sudah bilang dari awal, apa pun akan aku lakukan agar kita bisa menikah dan hidup bersama, termasuk meninggalkan rumah dan pekerjaanku, seandainya orang tuaku tidak setuju dengan rencana kita." Kembali Bagas menegaskan jika keputusannya sudah bulat.
__ADS_1
Indhira mendengus pelan. Sejujurnya bukan seperti ini yang dia inginkan. Jika dia menikah, dia ingin pernikahannya itu mendapat restu dari orang tua Bagas. Dan dia tidak tahu, apakah dia bisa mendapatkan restu itu dari keluarga Bagas.
" Ayo, kita turun sekarang. Setelah ini aku antar kembali ke butik." Bagas kemudian membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, mengajak Indhira untuk segera turun dari mobil. Indhira pun yang tadi sempat termenung memikirkan soal restu dari keluarga Bagas, akhirnya membuka pintu dan ikut keluar dari mobil Bagas
***
Bagas menuruni anak tangga, melangkah menuju arah ruangan makan keluarga. Setelah sampai di rumah orang tuanya, sepulang mengantar Indhira ke rumah orang tua Rissa. Bagas membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, kemudian ikut bergabung dengan keluarganya untuk menikmati makan malam bersama orang tua dan adiknya.
Sesudah makan malam, Bagas ingin berbicara pada orang tuanya malam ini, soal berakhirnya hubungan pertunangan dirinya dengan Evelyn dan juga rencananya menikahi Indhira. Apa pun reaksi dari Adibrata, Bagas sudah siap menghadapinya.
" Bagas, sini, duduklah!" Angel yang melihat Bagas memasuki ruangan makan, segera menyuruh anaknya duduk di kursi makan di depannya, bersebelahan dengan Kartika.
" Bagaimana kabarnya Evelyn? Kalian membicarakan rencana pernikahan kalian, tidak? Apa kalian akan mempercepat rencana pernikahan kalian? Mama sudah tidak sabar ingin mengadakan wedding party. Mama ingin bikin list dari sekarang, siapa-siapa saja yang ingin Mama undang nanti."
" Mama ingin menambah teman Mama yang kemarin tidak sempat Mama undang di pertunangan kamu, Bagas. Mama tidak enak kalau mereka tidak diundang lagi, nanti dikira keluarga Adibrata Mahesa tidak mampu mengundang banyak tamu." Belum apa-apa, Angel sudah membicarakan soal tamu undangan.
Bagas memperhatikan Mamanya yang sangat antusias membicarakan rencana pesta pernikahan dirinya dengan Evelyn. Dia tidak tahu, apakah Mamanya akan seantusias ini jika Mamanya mengetahui jika wanita yang ingin dia nikahi bukanlah Evelyn, tapi Indhira, wanita yang pernah dituding Adibrata sebagai penyebab dirinya terjebak dalam kasus video viral tersebut.
" Setelah makan malam ini, aku ingin bicara dengan Papa dan Mama," ucap Bagas menoleh ke arah Adibrata dan Angel bergantian.
" Ini soal rencana pernikahanku," lanjut Bagas, tanpa menyebutkan jika rencana pernikahan yang ingin dia bicarakan, bukan bersama Evelyn, tapi dengan Indhira.
" Aaahh, benar 'kan, dugaan Mama?" Angel seketika berseru sambil bertepuk tangan, persis seperti seorang yang bersorak saat menerima kabar gembira.
" Apa Om Nathael menanyakan Papa?" Di sela-sela menikmati makan malam, Adibrata menyelipkan pertanyaan kepada Bagas, mengenai pria yang dia anggap calon besannya itu.
" Iya, Om Nathael dan Tante Merry menitip salam untuk Papa dan Mama," jawab Bagas.
" Kau tahu, Bagas? Keuntungan apa yang akan kita dapatkan jika kamu menikah dengan Evelyn?" Adibrata berancang-ancang menyebutkan keuntungan yang akan keluarganya dapatkan jika dia berbesan dengan Nathael, salah satu pengusaha retail besar di Amerika.
" Perusahaan kita semakin kuat. Produk kita bisa masuk pasar Amerika dengan bantuan Om Nathael." Sama seperti Angel, Adibrata pun begitu bersemangat dengan hubungan dirinya dengan Evelyn, walau berbeda maksud dan tujuan. Jika Angel memikirkan soal gengsi mempunyai besan seorang konglomerat kayq raya di Amerika. Sementara Adibrata sibuk menghitung keuntungan demi keuntungan yang akan didapat oleh perusahaan miliknya kelak.
Bagas menarik nafas cukup panjang dan diakhiri dengan dengusan. Dia sudah dapat memperkirakan seperti apa amarah Adibrata jika sampai dia jelaskan jika harapan orang tuanya itu tidak dapat dia kabulkan. Bagas harus siap menerima, seburuk apa pun keputusan yang akan diambil oleh Papanya nanti.
***
" Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan dengan Papa dan Mama, Bagas?" tanya Adibrata, saat keluarganya sudah mengakhiri makan malam, dan mulai membuka pembicaraan mereka di ruang keluarga di lantai atas agar lebih privacy.
Sedangkan Kartika memilih masuk ke dalam kamarnya. Kartika merasakan jika pembicaraan yang akan dilakukan orang tua dan kakaknya, pasti akan diakhiri dengan perdebatan. Dan Kartika sudah terlalu bosan mendengarkan orang tuanya terlalu mengatur ini dan itu.
" Sebelumnya aku mohon Papa dan Mama dapat mengerti dan menerima keputusanku ini. Karena bagaimanapun juga, akulah yang akan menjalaninya." Bagas berkata dengan tegas dan lugas. Dia harus memberanikan melepaskan diri dari tekanan nama besar Adibrata Mahesa yang selama ini cukup dominan mengatur hidupnya.
" Ada apa ini? Katakan yang jelas, Bagas! Jangan membuat Papa bingung!" Adibrata menyuruh Bagas langsung ke pokok pembicaraan dan tidak berbelit.
__ADS_1
" Kemarin aku datang ke mansion Om Nathael untuk bertemu Om Nathael, Tante Merry dan juga Evelyn. Tujuan aku datang ke sana adalah untuk menyampaikan permintaan maaf kepada mereka, karena aku sudah memutuskan ingin mengakhiri pertunangan aku dengan Evelyn, Pa, Ma."
" Apa???" Adibrata dan Merry tersentak kaget mendengar kabar yang disampaikan oleh Bagas.
Merry bahkan sampai ternganga mendengar putranya telah mengakhiri pertunangannya dengan Evelyn. Sedangkan air muka suaminya seketika berubah kelam dan tak bersahabat. Bahkan sorot mata Adibrata bak elang yang murka siap .menca bik-ca bik mangsa di hadapannya.
" Apa maksud kamu, Bagas!?" Karena dibalut rasa emosi, Adibrata bertanya dengan nada menyentak kepada putranya itu.
Bagas menaikkan pandangan menatap sejajar dengan Adibrata. Terlihat amarah yang terpancar dari sorot mata Adibrata saat Bagas bersitatap dengan Papanya itu. Rahang tegas Papanya terlihat mengeras, menandakan pria itu sangat marah dan kecewa atas tindakan yang telah diperbuatnya.
" Aku hanya ingin menentukan pilihan hidupku sendiri, Pa." sahut Bagas tak ingin diintimidasi oleh tatapan Adibrata.
" Pilihan hidupmu adalah menikah dengan Evelyn, Bagas!!" Kalimat yang diucapkan Adibrata masih dengan nada tinggi..
" Kami tidak akan bahagia jika kami tetap menikah, Pa!" tepis Bagas mencoba menyanggah ucapan Papanya.
" Evelyn sangat mencintaimu, Bagas. Dia pasti akan bahagia jika kalian menikah." Angel yang sejak tadi terdiam mulai ikut bicara.
" Evelyn hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu jika dia menikah denganku, Ma. Aku tidak akan bisa memberikan cintaku kepadanya. Sedangkan dia layak mendapatkan pendamping yang tulus mencintai dia." Bagas memberi penjelasan kepada Mamanya agar Mamanya mengerti keputusan yang dia buat adalah untuk menyelamatkan Evelyn juga.
" Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Evelyn dan orang tuanya, Pa, Ma. Dan mereka bisa mengerti dengan keputusan aku ini." Bagas juga memberitahukan jika dia sudah mendapatkan persetujuan dari orang tua Evelyn soal pemutusan ikatan pertunangan dirinya dengan Evelyn.
" Lan cang sekali kamu, Bagas!! Kamu benar-benar sudah bikin malu nama baik keluarga untuk kedua kalinya! Apa masih kurang kamu mencoreng nama baik keluarga kita karena kasus video beberapa tahu lalu, hah!? Sekarang tanpa seijin Papa, kamu menemui Evelyn dan orang tuanya untuk membatalkan pertunangan kalian!? Mau ditaruh di mana muka Papa di hadapan orang tua dan keluarga Evelyn? Mau disimpan di mana muka Papa jika kerabat dan relasi bisnis Papa tahu jika pertunangan kamu dan Evelyn yang dulu digelar besar-besaran ternyata batal!?" Emosi yang saat ini mempengaruhi hati dan pikiran Adibrata mengetahui tindakan putranya yang tidak berdiskusi dengannya lebih dahulu dalam melakukan tindakan yang dia anggap gegabah.
" Kenapa kamu bertindak hanya mementingkan dirimu sendiri saja, Bagas!? Kenapa kamu tidak memikirkan perasaan Evelyn? Evelyn pasti sangat sedih. Mama juga jadi tidak enak dengan Tante Merry kalau seperti ini." Angel menyayangkan keputusan Bagas yang menurutnya tidak adil bagi Evelyn.
" Ini untuk kebaikan Evelyn juga, Ma." Bagas bersikeras jika yang dia lakukan demi kebaikan Evelyn.
" Siapa yang mempengaruhi kamu hingga kamu bertindak bo doh seperti ini, Bagas!?" selidik Adibrata. Pria paruh baya itu sepertinya merasakan ada kejanggalan dari tindakan yang dilakukan oleh putranya.
Jika Bagas memang tidak dapat mencintai Evelyn dan memikirkan kebaikan untuk Evelyn, kanapa baru dilakukan sekarang? Setelah pertunangan mereka digelar dengan sangat mewah.
" Hatiku yang mempengaruhi keputusanku ini, Pa. Aku rasa sudah saatnya aku harus menentukan pilihan hidupanku, tanpa campur tangan Papa dan Mama dalam menentukan pilihan apa yang inginkan!" tegas Bagas.
" Omong kosong apa ini!? Papa tidak percaya jika tidak ada seseorang yang mempengaruhimu melakukan keputusan ini Bagas! Papa yakin ada yang sengaja ingin mengacaukan hubungan kamu dengan Evelyn! Katakan pada Papa, siapa orang yang sudah berani mengusik hubungan kamu dengan Evelyn, Bagas!?" Adibrata nampak geram karena Bagas berusaha menutupi orang yang telah merubah keputusan Bagas untuk menikahi dengan Evelyn.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️