
Adibrata mengerjapkan matanya saat ponselnya berbunyi. Dia baru aja terlelap karena hampir semalaman dia tidak dapat tertidur akibat terlalu memikirkan di mana sang istri saat ini berada. Dia takut jika istrinya itu bertemu orang jahat atau berada di dalam bahaya. Sungguh tidak dapat dia bayangkan jika itu sampai terjadi, yang ada penyesalan lah yang akan membelenggunya.
Adibrata mengambil ponsel yang tak jauh dari posisi dia berbaring saat ini, di sofa yang ada di ruang kerja rumahnya, karena dia memang menunggu kabar dari Hamid soal Angel.
" Halo, bagaimana, Mid? Sudah dapat info?" Adibrata melirik arloji di tangannya. Saat ini sudah menunjukkan jam delapan pagi.
" Selamat pagi, Tuan. Saya baru saja mendapat gambar cctv dari toko yang ada di sekitar hotel, Tuan. Dari rekaman kamera cctv toko tersebut, kami menemukan sosok Nyonya yang keluar dari hotel dan masuk ke dalam sebuah mobil taxi yellow bird. Kami sedang mencari informasi ke perusahaan taxi itu, siapa driver yang membawa Nyonya dan ke mana Nyonya pergi, Tuan." Hamid menyampaikan apa yang sudah dia dapat dari penyelidikannya pagi ini.
" Oke, kau pantau terus informasi terbaru dari perusahan taxi itu, Mid. Kalau sudah ketemu dengan drivernya, tawarkan dia bonus agar mau membantu kita menemukan istri saya." Bahkan uang hadiah pun siap dia berikan asalkan dia mendapatkan informasi yang dia butuhkan saat ini seputar keberadaan Angel.
" Baik, Tuan." sahut Hamid.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Hamid, Adibrata bergegas keluar ruang kerja untuk membersihkan tubuhnya karena dia harus segera berangkat ke kantor.
Sementara itu di hotel Richard
Fams, Bagas sedang menikmati sarapan bersama Angel dan Indhira, setelah itu dia berencana ke kantor sang Papa.
" Kamu jadi akan ke kantor Papa, Bagas?" tanya Angel saat menyantap nasi goreng sebagai menu sarapan pagi ini.
" Iya, Ma. Aku mau membereskan pekerjaan dulu setelah itu baru ke kantor Papa," sahut Bagas, dia lalu melirik ke arah istrinya.
" Aku titip Indhira, Ma. Jangan buat dia ketakutan, ya, Ma!?" Bagas terkekeh meledek Mama dan istrinya itu.
" Maksud kamu apa?" Angel melebarkan bola matanya mengarahkan pandangan pada Bagas dan Indhira secara bergantian.
" Istriku ini takut kalau ditinggal berdua saja sama Mama, takut
digigit sama Mama mungkin." Bagas melirik ke arah Indhira yang kini menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
" Memang saya pernah marah-marah sama kamu sampai kamu takut sama saya?" Kini Angel bertanya kepada Indhira. Angel masih menggunakan bahasa yang masih formal saat bicara pada menantunya itu.
" Oh, tidak, Bu. Bukan seperti itu!" sanggah Indhira, dia takut Mama mertuanya itu salah paham.
" Indhira takut Mama tidak dapat menerima dia seperti Papa, Ma. Apalagi Papa pernah menampar Indhira, sudah pasti dia merasa trauma, takut dibenci sama Mama juga." Bagas menjelaskan maksud perkataannya kepada sang Mama.
Angel menghela nafas panjang mengetahui perlakuan suaminya kepada istri dari anaknya itu.
" Memangnya selama ini ada sikap Mama yang seperti Papa ke istri kamu ini, Bagas?" tanya Angel heran karena Bagas seolah menyamakan dirinya dengan sang suami.
" Aku tahu Mama tidak akan berbuat seperti itu, karena Mama sayang sama aku." Bagas mengusap punggung Mamanya. Dia yakin, jika Angel bersikap seperti Adibrata, Mamanya tidak akan memperhatikan istrinya seperti belakangan ini.
" Aku tahu Mama memang terlihat ketus, namun Mama sangat perhatian terhadap Indhira. Mungkin karena Indhira kurang percaya diri saja sehingga dia takut sama Mama." Bagas kini menoleh kembali ke arah Indhira yang menundukkan wajahnya.
" Kamu dengar sendiri, kan, Yank? Mama itu tidak membenci kamu, jadi kamu jangan takut sama Mama. Mama justru akan menemani kamu, apalagi kamu sedang mengandung cucu pertama Mama, pasti Mama akan sayang sekali sama kamu." Bagas menegaskan kepada istrinya agar tidak takut saat berduaan dengan Angel.
" Iya, Mas," sahut Indhira. " Maaf, Bu." Indhira pun meminta kepada Angel.
" Tidak apa-apa, kan? Indhira panggilan Mama?" tanya Bagas pada Angel.
" Silahkan saja," sahut Angel tidak mempermasalahkan.
" Tuh, kamu sudah dapet ijin dari Mama, Yank. Mulai sekarang panggilnya Mama aja," pinta Bagas.
" Iya, Mas." sahut Indhira tersipu malu. Namun sejujurnya dia merasa senang dan bahagia Mama dari suaminya itu ternyata sangat perhatian kepadanya.
***
Adibrata kembali menerima telepon masuk dari Hamid, karena dia tahu jika Hamid menghubungi, itu menandakan ada informasi yang akan disampaikan oleh orang kepercayaannya itu.
__ADS_1
" Apa kau sudah menemukan orangnya, Mid?" Tak sabar mendengar informasi, Adibrata langsung meno dong Hamid dengan pertanyaan.
" Selamat pagi, Tuan. Saya bahkan sudah mendapatkan informasi ke mana Nyonya pergi semalam setelah meninggalkan Heavenly hotel," ungkap Hamid.
" Di mana? Di mana istri saya sekarang berada?" Adibrata terlihat antusias sampai bangkit dari kursi kerja di kantornya.
" Menurut informasi dari driver yellow bird, Nyonya pergi menuju hotel Richard Fams, di mana Tuan Bagas bertugas sebagai General Manager di hotel itu, Tuan." terang Hamid.
Bola mata Adibrata terbelalak saat mengetahui jika tempat yang dituju adalah hotel tempat Bagas bertugas.
" Maksudmu, istri saya menemui Bagas?" tanya Adibrata tak percaya. Jika itu benar, berarti selama ini istrinya itu mengetahui keberadaan Bagas, atau mungkin selama ini istrinya itu menemui Bagas tanpa sepengetahuannya.
" Driver taxi itu mengatakan jika Nyonya menaiki mobilnya dengan menangis lalu menghubungi seseorang untuk menjemputnya di hotel itu, Tuan. Dan jika dilihat dari ciri-ciri orang yang menjemput Nyonya seperti yang disebutkan oleh driver taxi, orang itu mengarah pada Tuan Bagas, Tuan." Hamid memerangkan secara rinci orang yang ditemui oleh istri majikannya itu.
Adibrata menarik nafas kasar saat dia mengetahui sang istri ternyata telah sembunyi-sembunyi menemui Bagas selama ini, karena istrinya itu tidak pernah cerita kepadanya.
" Apa yang harus saya lakukan sekarang, Tuan?" tanya Hamid kemudian.
" Urusan istri saya biar saya yang handle, kamu urus saja wanita si alan itu, Mid. Jangan sampai dia bertingkah yang meresahkan rumah tangga saya!" Adibrata kembali memberi perintah kepada Hamid untuk mengurus Kyle. Tentu saja Adibrata tidak ingin berurusan dengan wanita yang menyebabkan rumah tangganya bermasalah. Dia juga tidak ingin memberi peluang kepada Kyle untuk dapat menekannya.
" Baik, Tuan." jawab Hamid sebelum akhirnya Adibrata menutup panggilan teleponnya.
Adibrata lalu menaruh ponsel ke dalam saku blazernya, Dia melangkah ke arah pintu ruangannya karena berencana ingin menjemput istrinya di hotel tempat Bagas bekerja. Namun, saat dia hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu ruangan kerjanya dibuka seseorang dari luar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dan bola mata Adibrata membulat penuh saat melihat putranya yang kini berada di hadapannya saat ini.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️