SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Tetap Orang Lain


__ADS_3

Indhira tercengang saat Azkia menyuruhnya memilih tempat makan untuk mereka, termasuk dirinya yang diajak oleh Abhinaya untuk makan bersama. Indhira pun bingung akan menjawab apa? Karena dia sendiri sudah mempunyai janji dengan Bagas ingin makan siang bersama.


" Kita mau makan ke mana enaknya, Ra?" Kembali Azkia melontarkan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, menanyakan tempat makan yang akan mereka tuju.


" Hmmm, terserah Ibu saja." Jangankan ditanya oleh Azkia, yang dia tahu keluarga bosnya itu adalah keluarga kaya raya, ditanya oleh Bagas saja, dia pun pasti akan mengatakan hal yang sama.


Indhira tidak mempunyai rekomendasi tempat makan yang enak, apalagi untuk kalangan ekonomi ke atas seperti keluarga Azkia. Saat bekerja di cafe dulu, selain disediakan menu makan dari cafe, jika ingin menu makanan yang lain, Indhira paling hanya mencari kedai bakso atau soto yang terjangkau dengan isi kantongnya.


" Kita makan ramen saja, deh! Kamu suka ramen 'kan, Ra?" tanya Azkia, wanita itu selalu memperlakukan Indhira, bukan hanya sebagai pegawainya saja, tapi juga seperti temannya.


" Maaf, Bu. Saya tidak bisa ikut." Indhira menolak dengan halus ajakan Azkia dan Abhinaya yang mengajaknya makan siang.


" Lho, memangnya kenapa, Ra? Kamu takut sama Abhi, ya? Tenang saja, Ra. Dia sudah punya istri, kok! Tidak mungkin dia berani macam-macam sama kamu!" Menganggap Indhira menolak diajak makan siang bersama karena takut digoda oleh Abhinaya, Azkia langsung menyebutkan status adiknya itu.


" Yaelah, Mbak. Mana dikasih tahu lagi, aku sudah ada istri! Aku 'kan kangen modusin cewek, Mbak." Abhinaya menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.


" Aku laporin ke istri kamu, ya!?" ancam Azkia.


" Jangan gitu juga kali, Mbak! Tidak bisa diajak bercanda sama sekali!" gerutu Abhinaya mengeluh sambil memutar bola matanya.


Indhira benar-benar hanya menjadi pendengar di antara perbincangan kakak beradik itu. Bisa dibayangkan jika dia ikut bergabung makan siang dengan mereka, dia akan menjadi figuran, karena tidak akan bisa menikmati obrolan, berbeda jika berkumpul makan bersama teman kerjanya dulu saat di cafe.


" Maaf, Bu. Saya tidak bisa ikut dengan Ibu, karena Bagas sebentar lagi menjemput ke sini." Dengan jujur akhirnya Indhira menjelaskan kenapa dia menolak.


" Oh, gitu ... ya sudah, kalau kamu tidak bisa ikut dengan kami, tidak apa-apa." Mendengar alasan Indhira menolaknya, Azkia pun bisa menerima penolakan Indhira, yang berarti dia juga mengijinkan Indhira pergi bersama Bagas.


" Terima kasih, Bu." Indhira berterima kasih , karena Azkia sudah sangat pengertian padanya.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk membuat semua orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu, di mana Wanda sudah muncul dari pintu.


" Maaf, Mbak. Ada tamunya Indhira nunggu di luar mau bicara dengan Mbak Kia." Wanda memberitahukan jika ada tamu, yang tidak lain adalah Bagas yang ingin berbicara dengan Azkia.


Indhira membelalakkan matanya mendengar informasi yang disampaikan oleh Wanda. Dia tahu jika tamu yang dimaksud oleh Wanda adalah Bagas. Tapi, kenapa Bagas tidak menunggu dirinya keluar saja? Kenapa harus bilang ingin bertemu dengan Azkia? Walaupun dia sendiri yang meminta Bagas untuk meminta ijin kepada Azkia. Kenapa tidak menunggu setelah masuk waktu istirahat saja? Seketika Indhira merasa tidak enak hati kepada Azkia karena ulah kekasihnya itu.


" Tamu Indhira ingin bicara dengan aku?" Azkia menoleh ke arah Indhira. " Mau apa memangnya?" Tanpa bertanya siapa? Azkia sepertinya tahu orang yang dimaksud Wanda.


" Katanya mau bertemu dan bicara dengan Mbak Kia," sahut Wanda.


" Hmmm, maaf, Bu. Saya permisi dulu ..." Indhira terburu-buru meninggalkan ruangan kerja Azkia dan segara menemui Bagas di luar.


Indhira mendapati Bagas yang sedang menunggu di sofa di depan ruangan Azkia.


" Bagas, kamu mau apa menemui Bu Kia?" Indhira langsung menegur Bagas.


" Ra ..." Bagas segera bangkit.


" Kenapa kamu tidak menunggu saja di mobil? Kenapa naik di sini?" Indhira tidak ingin Azkia menganggapnya selalu membawa urusan pribadi ke tempat kerja.


" Lho, tadi kamu bilang aku yang minta ijin ke Bu Azkia, kan?" Bagas merasa apa yang dia lakukan sesuai dengan yang diinginkan oleh Indhira.


" Iya, tapi tidak harus naik ke sini, kan!? Kamu bisa tunggu dulu di luar, nanti kalau sudah masuk waktu istirahat, baru aku panggil kamu ke sini. Kalau seperti ini, aku tidak enak dengan Bu Kia, Bagas!" Indhira agak kesal dengan sikap Bagas.


" Jadi aku salah, nih?" tanya Bagas, melihat Indhira menyalahkannya.


" Ada apa kamu ingin bertemu saya, Bagas?" Azkia yang sudah sampai di depan pintu ruangannya langsung mengajukan pertanyaan kepada Bagas.


Indhira tersadar jika mereka berada di luar ruangan kerja Azkia. Apalagi saat ini Azkia sudah berdiri di dekat pintu.


" Selamat siang, Bu Azkia. Saya mau minta ijin Ibu untuk membawa Indhira makan siang." Sesuai yang diperintahkan oleh Indhira, Bagas segera menyampaikan niatnya mengajak Indhira keluar kepada bos dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Indhira memejamkan matanya, dia sudah menduga, Azkia pasti akan mengeluarkan sindiran atas ucapan Bagas tadi.


" Mau mengajak Indhira saja, kenapa mesti minta ijin saya?" Azkia memutar bola matanya.


Benar seperti dugaan Indhira, Azkia benar-benar merespon dengan sindiran. Sepertinya di mata Azkia, apa yang dilakukan Bagas selalu saja salah.


" Mbak kita berangkat sekarang?" Dari belakang Azkia, suara Abhinaya terdengar berbarengan dengan kemunculan pria itu.


Bagas memperhatikan pria di belakang Azkia itu. Dia sendiri tidak mengenali siapa orang yang bersama Azkia itu. Namun jika dilihat dari cara pria itu memanggil Azkia, dia menduga jika pria itu adalah adik dari Azkia.


" Oke, sebentar Mbak ambil tas dulu." Azkia kembali masuk ke dalam ruangannya.


Abhinaya menatap ke arah Bagas yang berdiri di samping Indhira. Dia menduga jika pria itu adalah kekasih Indhira, seketika sikap usilnya muncul.


" Kamu tidak jadi ikut makan dengan kami? Padahal Rashya aku ajak juga, lho! Dia pasti senang kalau bertemu bidadarinya," ujar Abhinaya dengan mengulum senyuman.


Indhira membulatkan bola matanya mendengar kalimat iseng yang sengaja diucapkan oleh Abhinaya. Seketika dia menoleh ke arah Bagas di sampingnya, yang juga langsung mengarahkan pandangan ke arahnya dengan sorot mata curiga.


" Hmmm, maaf, Kak. Saya tidak bisa ikut." Indhira dengan cepat membalas.


" Yuk, Bhi. Kita berangkat sekarang!" Sementara Azkia sudah kembali keluar dari ruangannya, lalu mengajak adiknya itu pergi.


" Ra, aku duluan, ya!?" Azkia kini menoleh ke arah Bagas. " Ingat, ya! Jangan lama-lama bawa Indhira pergi!" Azkia memperingatkan Bagas agar tidak lupa waktu, dan tidak seenaknya membawa Indhira pergi karena Indhira sedang bekerja.


" Baik, Bu." Bagas menyanggupi apa yang diminta Azkia.


" Kalau kalian mau pergi makan, bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang sama saja?" Abhinaya tiba-tiba mengusulkan agar Bagas dan Indhira bisa ikut bergabung dengan dirinya, Azkia dan sepupunya.


" Tidak usah, terima kasih! Kami kebetulan ada keperluan lain!" Bagas langung merangkulkan tangannya di pundak Indhira.


Indhira terkejut dengan tindakan Bagas yang merangkulnya. Matanya langsung menoleh ke arah Azkia dan


" Kami permisi dulu, Bu Azkia." Setelah berpamitan kepada Azkia, Bagas segera membawa Azkia turun dan keluar dari butik Azkia.


" Itu tadi ... tadi itu adiknya Bu Kia." Indhira menjelaskan siapa Abhinaya yang sebenarnya pada Bagas.


" Lalu siapa yang menganggap kamu bidadarinya? Apa diam-diam kamu selingkuh dengan pria lain?" Kecemburuan Bagas benar-benar membuat pria itu tidak menyadari jika perkataannya tadi telah menyakiti perasaan Indhira.


Cairan bening langsung membasahi bola mata Indhira mendegar Bagas menuduhnya selingkuh. Jangankan berani berselingkuh, menyukai pria lain selain Bagas saja dia tidak pernah berani, kenapa Bagas tega menudingnya seperti itu.


" Kamu tega sekali menuduh aku seperti itu, Bagas!?" Bahkan air mata itu sudah menitik di pipi Indhira.


" Ra, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menuduh kamu seperti itu." Menyadari kesalahannya telah cemburu buta sampai menuduh Indhira selingkuh, Bagas langsung meminta maaf. Seketika dia langsung memeluk Indhira karena melihat Indhira menangis.


" Maafkan aku, Ra. Aku sudah keterlaluan mengatakan hal yang membuat hati kamu terluka. Aku hanya terlalu cemburu. Aku takut ada pria lain yang akan merebutmu dari aku, Ra. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Ra." Bagas memberikan penjelasan dan berharap Indhira dapat memaafkannya.


Bagas kemudian mengurai pelukannya. Tangannya kini menangkup wajah cantik sang kekasih, jari-jarinya pun mengusap cairan bening yang membasahi pipi Indhira. Melihat Indhira menangis seperti saat ini, hati Bagas merasakan sakit. Dia telah bersalah karena mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya dia ucapkan.


" Ra, maafkan aku, Ra. Kamu bisa pu kul aku karena kecemburuanku tadi." Bagas menam par wajahnya dengan tangan Indhira berkali-kali berharap Indhira memaafkannya, walaupun dia tahu rasa sakit yang dia rasa di pipinya tidak sesakit hati Indhira mendengar tudingannya.


Merasa tangan Indhira akan kesakitan jika dia pakai untuk memu kuli wajahnya, akhirnya Bagas menam par pipinya dengan tangannya sendiri dengan cukup kencang berkali-kali.


Plaakk plaaakk


Melihat rasa bersalah Bagas kepadanya, sampai memu kul pipi menggunakan tangannya sendiri, tentu saja hati Indhira yang tidak pernah menyimpan rasa dendam merasa tidak tega.


" Bagas, sudah! Hentikan!! Jangan seperti ini!" Bukannya mereda, Indhira justru semakin terisak sambil menahan tangan Bagas yang sedang menyakiti dirinya sendiri.


" Tidak apa-apa, Ra. Asalkan kamu mau memaafkan aku." Bagas kembali mengusap air mata Indhira. " Kamu jangan menangis lagi, Ra. Maafkan aku, ya!?" Bagas menyampaikan permohonan maafnya dan juga rasa sesalnya.


" Iya, aku sudah memaafkan kamu, Bagas." sahut Indhira dibarengi anggukan kepalanya.

__ADS_1


" Ya sudah, kita pergi sekarang." Setelah mendapatkan maaf dari Indhira, mereka pun akhirnya meninggalkan butik milik Azkia untuk makan siang bersama.


***


" Kamu habis ada pekerjaan di New York, Bagas?" Indhira penasaran dengan kepergian Bagas ke Amerika.


" Ada hal penting yang harus aku selesaikan secepatnya di sana, Ra." Tentu saja hal penting, karena dia harus mengambil keputusan untuk mengakhiri pertunangan dengan Evelyn, agar dia dapat segera menikahi Indhira.


" Kenapa tidak kasih tahu aku sebelumnya? Jadi aku tidak cemas." Tanpa sadar Indhira mengakui jika dirinya merasakan cemas karena Bagas menghilang tanpa kabar beberapa hari.


" Hmmm, jadi sekarang mengaku kalau kamu meridukan aku, kan?" Bagas menggoda Indhira.


" Aku hanya bilang cemas!" Dengan cepat Indhira menampik perkataan Bagas.


" Tidak mau mengaku jika kangen?"


" Cemas dengan kangen itu beda, kan?" Indhira tetap menepis dugaan Bagas jika dirinya merindukan pria itu.


Bagas hanya mengulum senyuman menanggapi sanggahan dan sanggahan dari mulut Indhira. Dia memahami jika Indhira masih malu untuk menyampaikan perasaannya itu.


" Aku sebenarnya ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Tapi, aku sudah diultimatum oleh Ibu Azkia agar tidak lama-lama membawa kamu pergi."


Sebenarnya Bagas ingin mengajak Indhira memilih rumah untuk tempat tinggal mereka setelah mereka menikah nanti. Dia ingin tinggal di perumahan agar lebih mudah berinterakasi dengan tetangga sekitar. Karena setelah mereka menikah, tidak mungkin dirinya akan membawa Indhira ke rumah Adibrata.


" Kamu mau bawa aku ke mana, Bagas? Aku tidak enak kalau telat kembali ke butik." Indhira juga tidak ingin Azkia lebih dulu sampai di butik sebelum dia kembali.


" Aku ingin mencari rumah untuk kita nanti." Tanpa menutupi, Bagas menyebutkan ke mana dia ingin membawa Indhira.


Wajah Indhira seketika membias mendengar Bagas berkata-kata. Kekasihnya itu sepertinya memang serius dengan keinginan untuk menikahinya. Mengingat kata rumah, seketika Indhira teringat akan janjinya kepada Tante Sandra untuk membawa Tante dari sahabatnya itu untuk tinggal bersamanya.


" Bagas, setelah kita menikah, apa aku masih boleh bekerja?" tanya Indhira.


" Untuk apa kamu bekerja? Kamu cukup di rumah saja menjadi ibu rumah tangga. Aku tidak ijinkan kamu capek bekerja! Biar aku saja yang mencari nafkah. Kamu cukup menjadi istri yang baik di rumah." Sesuai dengan prediksi Indhira, Bagas tidak mengijinkan Indhira bekerja.


" Kalau kita mempunyai rumah sendiri, apa aku boleh meminta sesuatu, Bagas?" Indhira mesti meminta ijin terlebih dahulu kepada kekasihnya. Dia tidak mungkin seenaknya membawa orang tanpa seijin Bagas sebelumnya.


" Kamu mau minta apa saja, pasti aku beri, Ra." Sudah pasti Bagas akan siap memberikan apa yang Indhira minta.


" Aku ingin membalas kebaikan Tante Sandra, Bagas. Aku ingin membawa Tante Sandra dan Dikha tinggal bersama kita." Indhira menyebutkan keinginannya itu pada Bagas.


" Membawa Tante Sandra?" Bagas mengerutkan keningnya mendegar permintaan Indhira.


" Iya, Bagas. Tante Sandra sudah sangat baik kepadaku selama ini. Dia memberikan tempat untuk aku tinggal di rumahnya. Menerima aku bekerja di salonnya, tanpa memperdulikan kasus viral kita saat itu. Tante Sandra memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Sekarang ini Tante Sandra sedang sakit, aku ingin membalas kebaikan Tante Sandra dengan mengurus beliau, seperti yang selama ini aku lakukan setiap hari kepada Tante Sandra." Dengan menjelaskan alasannya, Indhira berharap Bagas akan mengerti dengan keinginannya.


" Ehemm ..." Bagas berdehem sebelum dia menjawab permintaan Indhira. Dia baru saja membuat Indhira sedih dan menangis. Dia tidak ingin melakukan hal yang akan membuat Indhira sedih dan kecewa lagi.


" Ra, sebenarnya aku tidak keberatan dengan niat baik kamu ini. Tapi, aku rasa ini tidak semudah yang kamu perkiraan." Bagas mulai memberi penjelasan yang bisa diterima oleh akal sehat Indhira, bukan dari sisi perasaan tidak enak atau rasa iba saja.


" Aku tahu maksud kamu itu baik ingin membalas kebaikan Tante Sandra. Tapi bagaimanapun kebaikan mereka kepada kamu, dan sebesar apa pun rasa sayang kamu terhadap Tante Sandra, Tante Sandra itu tetaplah orang lain untuk kamu. Tante Sandra mempunyai keluarga. Ada Papa Mamanya Rissa dan mungkin keluarga lainnya. Belum tentu mereka setuju dengan permintaan kamu ini, Ra."


" Aku yakin, mereka juga merasa tidak enak akan menyusahkan kamu jika mereka menitipkan Tante Sandra kepada kamu ...."


" Mereka tidak menitipkan Tante Sandra, Bagas! Tapi ini keinginan aku sendiri yang ingin mengurus dan merawat Tante Sandra." Indhira menyanggah ucapan Bagas.


" Aku tahu, Ra. Tapi mereka pasti tidak enak kalau sampai orang lain yang mengurus anggota kelurga mereka, sementara mereka sendiri merasa mampu mengurus Tante Sandra. Beda kasus dengan kamu, Ra. Kamu tidak punya keluarga, kalaupun ada, mereka tidak perduli dengan kamu. Kamu juga tidak punya tempat tinggal, jadi kalau mereka ingin mengurus kamu, itu tidak jadi masalah." Bagas kembali memberi pencerahan kepada Indhira, agar kekasihnya itu dapat mengerti dan tidak memaksakan kehendak ingin membawa Tante Sandra tinggal bersama mereka jika mereka menikah nanti.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2