SKANDAL VIDEO MASA LALU

SKANDAL VIDEO MASA LALU
Karyawan Terbaik


__ADS_3

Perkataan Gavin bagaikan tam paran untuk Adibrata. Gavin bisa menghargai dan memuji Bagas, sedangkan dia justru mencampakkan putranya itu. Dan sekarang justru putranya lah yang berperan penting dalam membantu usahanya membujuk sang istri agar mau memaafkan kesalahannya.


" Terima kasih, Tuan Gavin. Karena Tuan Gavin sudah memberi anak saya kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya mengelola usaha milik Tuan Gavin. Sungguh saya malu sebagai orang tua, karena membuat dia lebih percaya bekerja di tempat lain daripada di perusahaan milik saya sendiri," ungkap Adibrata menyampaikan rasa kecewanya karena terlalu egois dalam mengatur kebebasan putranya hingga membuat putranya itu memilih tempat lain untuk bernaung daripada di tempat orang tuanya sendiri yang banyak mendapatkan fasilitas mewah.


Gavin mengerutkan kening hingga guratan nampak jelas di kening pria itu. Dia ingat beberapa waktu lalu, Adibrata memintanya untuk menolak Bagas yang ingin bekerja di tempatnya. Tapi hari ini, Adibrata mengucapkan rasa terima kasih kepadanya karena telah memberikan kesempatan pada Bagas untuk mengembangkan karirnya mengurus usaha yang berbeda dengan perusahaan milik Adibrata.


Gavin merasakan ada nada penyesalan dalam kalimat yang diucapkan oleh Adibrata, sama sekali tidak menampakkan keangkuhan pria itu seperti kala memintanya menolak Bagas bekerja di hotelnya.


" Saya senang hotel saya dikelola oleh orang yang mempunyai kemampuan memimpin perusahaan, Tuan Adibrata. Walaupun jenis usaha kita berbeda, tapi jiwa seorang pemimpin perusahaan, saya rasa bisa diterapkan untuk jenis usaha apa saja, termasuk usaha perhotelan," jelas Gavin bersyukur hotelnya ditangani oleh Bagas yang pernah menjabat CEO di perusahaan milik Adibrata.


" Benar, Tuan Gavin. Saya benar-benar menyesal telah melepas dia pergi. Kemarin itu ada pertikaian antara saya dengan dia, yang menyebabkan dia mengundurkan diri dari perusahaan saya, Tuan Gavin." Walaupun Adibrata tidak bercerita apa yang menjadi pertikaian antara ayah dan anak itu, namun Gavin sudah tahu kisah yang sebenarnya menimpa Bagas dari cerita yang disampaikan oleh Azkia kepadanya kala itu.


" Dalam keluarga pertikaian itu adalah hal yang lumrah terjadi, Tuan Adibrata. Apalagi antara seorang ayah dan anak lelakinya." Gavin sendiri bersyukur, hubungan dia dengan anak laki-lakinya, baik dari istri maupun dari mantan kekasihnya dulu berjalan harmonis, itu karena dia berusaha menerapkan ajaran David Richard sebagai sosok ayah yang sangat bijak dan sabar dalam menghadapi sikapnya dulu. Dan dia bersyukur, hingga saat ini dia adalah sosok Daddy yang sangat dibanggakan oleh putra dan putrinya.


" Benar, Tuan Gavin. Sayangnya saya tidak dapat bersikap bijaksana sebagai orang tua. Terlalu memaksakan kehendak sesuai keinginan saya, tanpa melihat hal tersebut sangat menyiksa untuk putra saya sendiri." Kepada Gavin, Adibrata mengungkapkan rasa penyesalannya tanpa malu. Dia tahu sosok Gavin adalah pengusaha yang bersih, yang tidak memakai kelemahan seseorang untuk menyerang atau menjatuhkannya.


Gavin menarik satu sudut bibirnya ke atas. Dia senang melihat perubahan yang terjadi pada diri Adibrata, setidaknya kata-kata yang diucapkan oleh Adibrata kali ini tidak menunjukkan kesombongan pria itu.


" Kita sebagai orang tua memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kita, Tuan Adibrata. Tapi, yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik untuk mereka, begitu juga sebaliknya. Maaf, Tuan Adibrata," Gavin kembali mengatakan apa yang dulu pernah dia ucapkan kepada Adibrata.

__ADS_1


" Maaf kalau saya terlalu lancang berpendapat, jika yang menjadi permasalahan Anda dan Bagas selama ini adalah sosok Indhira, percayalah pada saya Tuan Adibrata, dia seorang wanita yang baik. Indhira ikut dan bekerja kepada keponakan saya. Dia diterima dengan baik oleh keponakan saya, padahal keponakan saya itu tidak mudah bisa percaya pada orang lain apalagi seorang wanita yang cantik, tapi Indhira mendapatkan kepercayaan dari keponakan saya, itu menandakan jika Indhira adalah wanita baik-baik, Tuan Adibrata." Gavin memberanikan diri menasehati Adibrata mengenai sikap Adibrata yang selama ini keras kepada Indhira.


" Saya tidak munafik, Tuan Adibrata. Dulu saya pun mungkin lebih nakal dari putra Anda. Saya tinggal di luar negeri, dengan gaya hidup dan hubungan yang bebas. Saya pun pernah melakukan apa yang dilakukan Bagas pada kekasihnya, hingga akhirnya saya meninggalkan dia. Beberapa tahun berlalu, ternyata saya ketahui ternyata saat meninggalkannya, saat itu mantan kekasih saya sedang hamil anak saya. Tapi, Tuhan maha adil, hingga akhirnya saya bisa dipertemukan lagi dengan anak saya itu. Saya merasakan jika saya sangat bersalah saat itu meninggalkannya tanpa tahu kondisi dia saat itu sedang hamil. Dan setelah saya menceritakan apa yang terjadi kepada Ayah saya, Ayah saya tidak memarahi saya, beliau justru menyuruh saya bertanggung jawab pada anak biologis saya itu karena pada saat itu posisi saya juga sudah menikah dengan istri saya saat ini. Ayah saya juga memberikan kehidupan yang layak untuk anak saya dan wanita yang menjadi ibu dari anak saya itu. Sama sekali Ayah saya tidak merendahkan wanita itu. Justru ayah saya menjamin cucunya itu sampai kuliah ke luar negeri. Hingga sekarang pun hubungan kami sangat harmonis dan tidak ada dendam di antara kami." Gavin menceritakan sedikit kisah masa lalunya pada Adibrata, karena apa yang dialami Bagas dulu, sama dengan yang pernah dialaminya. Bedanya hanya sikap Adibrata dan David lah yang bertolak belakang.


Adibrata tertegun mendengar kisah masa lalu Gavin. Dia juga tidak menyangka jika Gavin mau terbuka tentang kisah masa lalunya itu kepada dirinya. Sungguh Adibrata kembali merasa malu mendengar cerita Gavin. Apalagi Gavin seolah membandingkan sikap dirinya dengan sosok David Richard, yang mempunyai anak yang sama-sama sudah melakukan kesalahan besar.


" Iya, Tuan Gavin. Saya menyadari sekarang ini. Sikap keras kepala saya justru menjauhkan saya dari anak dan istri saya. Saya benar-benar gagal menjadi seorang ayah," sesal Adibrata.


" Anda tidak gagal, Tuan Adibrata. Bagas adalah sosok pria yang hebat, bagaimana Anda berkata jika Anda sudah gagal?" Gavin terkekeh, karena kenyataannya Bagas saat ini adalah sosok pemimpin yang disegani meskipun masih berusia di bawah tiga puluh tahun.


Adibrata tersenyum tipis, bahkan Gavin saja tidak mengatakan jika dirinya gagal.


" Maaf, Tuan Gavin. Jika saya ingin Bagas kembali untuk mengelola perusahaan saya yang dulu dia tinggalkan apakah Tuan Gavin ijinkan?" tanya Adibrata menyampaikan tujuan sebenarnya dia datang ke tempat Gavin.


" Wah, saya akan kehilangan karyawan terbaik saya kalau begini, Tuan Adibrata." Gavin terkekeh, seolah dia benar akan kehilangan aset berharga dalam usahanya itu.


" Masalahnya saya membutuhkan dia untuk mengurus perusahaan saya itu, Tuan Gavin." Adibrata beralasan.


" Itu saya kembalikan kepada Bagas, Tuan Adibrata. Jika Bagas ingin kembali mengurus perusahaan Anda, silahkan saja. Tapi, jika putra Anda ingin tetap bertahan pada hotel saya, saya harap Anda juga dapat menerimanya, Tuan Adibrata." Gavin tidak ingin memaksakan kehendaknya dengan melarang Bagas keluar dari tempat kerjanya saat ini, walaupun sejujurnya dia sangat berat jika Bagas memutuskan resign.

__ADS_1


" Kalau Bagas setuju dengan permintaan Anda, saya butuh waktu juga untuk menunjuk orang baru yang akan menggantikan posisi Bagas saat ini, Tuan Adibrata." Gavin memberikan syarat jika Bagas jadi keluar dari pekerjaan yang dipegang oleh pria itu saat ini.


" Baik, Tuan Gavin. Saya mengerti akan hal itu," sahut Adibrata. " Tapi, tolong jangan katakan ini pada Bagas dulu, Tuan Gavin. Biar saya saja yang nanti mengatakan kepadanya." Adibrata meminta Gavin untuk tidak menceritakan kepada Bagas.


" Baik, Tuan Adibrata." Gavin menyetujui permintaan Adibrata itu.


" Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan Gavin. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berbincang dengan saya. Maaf jika saya sudah merepotkan Anda, Tuan Gavin." Adibrata berpamitan kepada Gavin karena dia sudah menyampaikan apa yang dia inginkan kepada Gavin.


" Baiklah, Tuan Adibrata. Terima kasih juga sudah berkunjung ke tempat saya." Setelah berjabat tangan, akhirnya Adibrata pun meninggalkan kantor Gavin untuk kembali ke kantornya sendiri.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2