
Indhira memperhatikan aura wajah Tante Marta seketika berubah saat mendengar Bagas menjelaskan soal asuransi dan hutang bank. Entahlah, dia sendiri tidak mengerti soal hutang bank. Tapi, yang dia yakini, jika Papanya masih mempunyai sangkutan hutang di bank itu tidaklah benar. Dan dia tahu Tante Marta telah berbohong soal hutang bank. Walaupun dia sendiri tidak tahu ke mana saja habisnya uang pensiunan Papa sebulan-bulannya setelah Papanya itu meninggal?
Untuk bekal sekolah setiap hari, Indhira hanya dijatah uang dua puluh ribu rupiah oleh Tante Marta. Itupun harus mendengarkan ocehannya lebih dahulu, padahal itu adalah haknya. Bukankah uang pensiunan Papanya masih diberikan karena dia masih bersekolah?
" A-apa maksud kamu, Tante ini berbohong, Bagas?" Tante Marta terlihat salah tingkah. Membuat Indhira semakin yakin jika hutang bank itu sebenarnya tidak ada.
" Oh, tidak, Tante. Saya tidak berpikir seperti itu kok! Hanya saja, mungkin ada kesalahan. Coba, deh. Tante hubungi saja pihak banknya." Sepertinya Bagas tidak enak secara langsung mengatakan jika Tante Marta memang sedang berbohong.
" Hmmm, ya udah, nanti Tante tanya dulu, deh! Tante masuk dulu." Tante Marta langsung meninggalkan ruangan tamu. Indhira yakin hal itu karena Tante Marta takut kebohongan soal hutang bank akan terbongkar.
Jika tidak dalam keadaan terjepit, Indhira yakin Tantenya itu tidak mungkin akan membiarkan dia berbincang berduan saja dengan Bagas di ruang tamu.
" Kamu kenapa tidak berangkat, Ra?" tanya Bagas saat Tante Marta pergi meninggalkan mereka berdua.
Tatapan mata Indhira kini terpusat pada wajah tampan Bagas. Pria yang beberapa bulan ini berstatus sebagai kekasihnya. Pria yang akhirnya telah merenggut kesuciannya. Mengingat akan kejadian itu Indhira langsung menurunkan pandangan dan menundukkan kepala. Rasa malu, sakit, menyesal dan sangat berdosa seketika muncul jika mengingat kembali peristiwa yang terjadi kemarin malam.
" Kamu sakit, Ra? Wajahmu pucat sekali. Kita ke dokter saja kalau kamu sakit."
Indhira tahu Bagas sangat mencemaskannya. Tapi, entah mengapa? Indhira merasakan jika Bagas hanya mengkhawatirkan kesehatan fisik Indhira saja. Padahal yang terasa terluka parah adalah batin Indhira.
" Ada yang ingin aku ingin bicarakan denganmu, Bagas." Indhira memberanikan diri untuk membicarakan soal keinginannya untuk berpisah dengan Bagas.
" Bicara saja kalau begitu, Kamu mau bicara apa, Ra?" tanyanya kemudian.
" Kita bicara di luar saja." Indhira melirik ke arah pintu bagian dalam rumah yang menuju ke arah ruangan tengah keluarga. Dia tak ingin apa yang dia bicarakan dengan Bahar terdengar oleh Tante Marta.
" Oke, kita bicara di luar saja."
Mereka khirnya pergi dari rumah Indhira. Terlalu bahaya jika Tante Marta mengetahui apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Bagas.
__ADS_1
***
Bagas menuruti keinginan Indhira yang ingin bicara dengan dirinya di luar. Dia dapat menduga jika hal yang ingin dibicarakan oleh Indhira adalah soal kejadian kemarin di kamarnya.
Bagas sengaja memilih kafe untuk bicara dengan Indhira. Dan diabmemilih meja yang tidak terlalu ramai dengan pengunjung agar obrolan mereka tidak terlalu terganggu dengan pengunjung cafe lainnya.
" Kamu pesan apa, Ra?" tanya Bagas saat memilih menu makanan di kafe yang mereka kunjungi. Namun, Indhira menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan Bagas.
" Kamu belum makan siang, kan? Kita sekalian makan saja. Jangan telah makan!" Bagas lalu memesan dua porsi spaghetti, satu porsi chicken fingers, satu orange juice dan air mineral biasa tidak dingin yang selalu dipesan Indhira.
" Kamu mau bicara apa, Ra?" tanya Bagas setelah selesai memesan makanan.
Indhira yang kini menatap Bagas dengan bola mata yang dibasahi cairan bening. Dan Bagas menyadari itu. Apakah air mata itu karena kejadian kemarin? Rasanya Bagas merasa bersalah jika memang itu benar.
Indhira tak menjawab pertanyaan Bagas. Namun, bibirnya bergetar, bahkan cairan bening yang membasahi bola matanya kini mulai menitik dan membasahi pipinya.
Bagas mencoba membantu mengusap air mata Indhira dengan tissue yang dia ambil. Namun, Indhira menolak hingga dia menjauhkan wajahnya, tak membiarkan wajahnya disentuh Bagas.
" Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita, Bagas!"
Bagas tersentak mendengar ucapan Indhira. Bahkan mungkin hampir tidak percaya dengan ucapannya. Apa dia tidak salah dengar? Indhira ingin mengakhiri hubungan dengannya?
" Maksud kamu apa, Ra?"
" Hei, ayolah! Aku ini Bagaspati Mahesa. Pria paling populer di sekolahku. Pria yang menjadi idola para siswi di sekolahku. Banyak wanita yang menginginkanku. Banyak wanita yang berharap menjadi kekasihku. Dan sekarang justru Indhira menginginkan putus dariku?" batin Bagas seakan tidak terima dengan keputusan yang dibuat Indhira.
Mungkin selama ini Bagas tidak pernah ditolak oleh wanita apalagi diputuskan oleh wanita, membuatnya merasa kaget mendengar ucapan Indhira tadi. Selama ini, setiap Bagas menjalin hubungan dengan wanita, dia lah yang selalu memutuskan mereka jika dia merasa sudah tidak cocok dengan mereka.
" Kamu mau kita putus?" tanya Bagas ingin meyakinkan jika pendengaranku tidak salah menangkap.
__ADS_1
" Iya," lirihnya menjawab singkat.
Indhita tahu keputusan yang dia buat sudah terlambat. Dan dia juga tahu, hal itu tidak akan merubah keadaan. Dia sudah ternoda dan berbuat dosa besar. Keputusan yang dia ambil tidak membuat kesuciannya kembali. Namun, setidaknya dia bisa menghindari dosa-dosa lainnya yang mungkin saja bisa terjadi jika dia tetap bertahan bersama Bagas.
" Kenapa, Ra? Kenapa kamu ingin kita putus? Kita sudah melakukan hal itu, dan kamu ingin kita putus begitu ?!" tanya Bagas seolah menuntut jawaban.
Sudah Indhira duga, tidak akan mudah bagi Bagas menerima keputusannya. Entahlah, dia tidak tahu, apakah alasan Bagas menolak karena Bagas memang tidak ingin mereka berpisah, atau karena reputasi pria itu sebagai Casanova akan tercoreng karena dirinya yang memutuskan hubungan lebih dahulu.
" Hubungan yang kita jalani tidak sehat, Bagas. Kita sudah melakukan suatu kesalahan besar. Dan aku, aku tidak ingin mengulang hal itu lagi!" Dengan suara hampir tercekat di tenggorokan, Indhira mencoba menjelaskan alasannya menginginkan mereka putus.
" Oke, aku paham, Ra. Jika ini karena kejadian semalam, aku minta maaf. Aku janji aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tapi, kita jangan putus, ya!?" Bagas menggenggam tangan Indhira dan memohon agar kekasihnya itu menarik ucapan putus tadi.
Indhira menggigit bibirnya. Mungkin bagi Bagas apa yang sudah terjadi adalah hal biasa. Tapi, tidak dengan dirinya! Ini adalah suatu musibah besar, dan tidak bisa dianggap enteng.
Indhira menarik tanganya yang digenggam Bagas sambil berkata, " Tidak, Bagas! Aku tidak bisa ... aku tidak yakin denganmu lagi. Aku tidak mau terjebak dalam dosa itu lagi! Jika kita terus bersama, aku akan merasa terus dihantui rasa berdosa itu ...."
Air mata Indhira seketika mengalir deras di pipinya, membuat Bagas tertegun. Bagas tidak menyangka jika apa yang mereka lakukan semalam begitu membuat Indhira terpukul. Dia bisa merasakan rasa sakit Indhira dari suaranya. dia dapat merasakan kesedihan Indhira dari air matanya. Dan dia dapat merasakan penyesalan Indhira dari tangisannya.
" Ya, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan?" batin Bagas menyesal.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading ❤️
__ADS_1