
Indhira sudah mulai beraktivitas dengan pekerjaan barunya di La Grande Caffe. Dia menjadi pramusaji di cafe terbesar milik Raffasya itu. Dengan tekun dan serius Indhira mempelajari apa tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh seorang waitress. Sebelumnya Fero sendiri sudah mengatakan kepada pegawai di sana jika Indhira adalah orang titipan Azkia, sehingga tidak ada satupun pegawai yang berani mengusik Indhira.
Meskipun dirinya menyandang status titipan dari ibu bos, Indhira tidak memanfaatkan dirinya untuk besar kepala. Sifat Indhira yang ringan tangan mau membantu pekerjaan rekannya membuat dirinya mudah diterima dengan baik di cafe itu.
La Grande Caffe merupakan cafe yang banyak dikunjungi oleh kalangan menengah ke atas, tak sedikit para eksekutif muda menghabiskan waktu senggang datang ke cafe itu. Tentu saja kehadiran pramusaji secantik Indhira mengundang perhatian para pengunjung yang datang ke sana.
Tak sedikit pelangan pria yang mengajak Indhira berkenalan. Kadang ada rasa jengah yang dirasakan oleh Indhira saat meladeni pria-pria itu. Namun, sebagai seorang pramusaji Indhira harus melayani tamu dengan sebaiknya selama mereka masih bersikap sopan terhadapnya.
Indhira tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang dia jalani sekarang ini. Baik kepada Rissa, kedua orang tua Rissa, Adam maupun Tante Sandra walaupun Tante Sandra tidak mungkin mengadu jika dia mengeluhkan tentang pekerjaan. Karena memang tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Hanya merasa risih dengan banyaknya pelanggan yang meminta berkenalan dan minta nomer ponselnya.
Indhira baru selesai berdoa setelah selesai melaksanakan sholat Dzuhur, ketika seorang pegawai cafe memberitahu jika Azkia datang mencarinya.
" Ada Ibu bos cari kamu tuh, Ra!" Nena, salah seorang pegawai cafe yang dekat dengan Indhira memberitahukan Indhira soal kedatangan Azkia.
" Ibu Kia? Di mana, Mbak?" Indhira bergegas melepas mukenahnya dan melipat sembarang karena dia tidak enak membuat Azkia menunggu lama.
" Ada di meja lantai atas, Mbak. Tempat Pak bos biasa kalau makan di sini." Nena. menyebutkan di mana posisi Azkia saat ini yang sedang berkunjung ke cafe bersama Zehan yang selalu Azkia bawa bersamanya ke mana pun Azkia pergi.
" Oh, makasih, Mbak." Setelah mengetahui di mana keberadaan Azkia, Indhira lalu menuju tempat yang dimaksud oleh Nena.
" Selamat siang, Bu." Saat sampai di meja Azkia, Indhira menyapa Azkia yang sedang menyuapi Zehan makan.
" Siang, Ra. Gimana? Kamu betah tidak bekerja di sini?" tanya Azkia masih dengan tangan sibuk menyuapi Zehan.
" Alhamdulillah saya betah, Bu. Saya diterima baik sama rekan-rekan di sini," jawab Indhira jujur karena memang di tempat kerjanya yang baru itu, dia mulai bisa berinteraksi dengan baik dengan banyak orang.
" Syukurlah kalau kamu betah. Kalau ada keluhan atau ada sesuatu yang tidak berkenan, kamu bilang saja jangan ragu-ragu." Azkia meminta Indhira terbuka jika ada sesuatu yang mengganjal dan tidak berkenan dengan Indhira. Azkia ingin Indhira merasa nyaman dengan pekerjaan yang dia berikan kepada orang yang menolong Naufal.
" Sejauh ini, Alhamdulillah semua baik-baik saja kok, Bu. Berjalan normal seperti biasa." Indhira tentu tidak berani mengatakan jika dia mulai merasa terganggu dengan banyaknya pelanggan cafe yang mengajaknya berkenalan. Dia juga tidak ingin dianggap terlalu banyak maunya, padahal dia sendiri sudah diberi kesempatan bekerja di cafe milik suami Azkia itu.
" Syukurlah kalau kamu tidak mengalami kesulitan bekerja di sini." Azkia merasa lega karena Indhira bekerja tanpa ada keluhan.
" Wah, ada Bu bos rupanya datang kemari." Fero tiba-tiba muncul di hadapan Azkia dan Indhira.
" Iya, Pak Fero. Kebetulan tadi lewat sini jadi mampir sekalian ingin tahu bagaimana pekerjaan Indhira. Betah tidak dia bekerja di sini?!" Azkia mengungkap alasannya berkunjung ke La Grande.
" Kamu betah tidak, Ra?" Fero ikut bertanya kepada Indhira.
" Alhandulillah saya betah, Pak." Idhira memberi jawaban yang sama dengan jawaban yang dia berikan kepada Azkia.
" Kamu dengar sendiri 'kan, Kia? Di sini, mana ada pegawai yang tidak betah. Siapa dulu managernya!?" Fero menarik kerah bajunya seakan membanggakan diri karena dapat membuat pegawainya senang bekerja di sana.
" Aku khawatir dia tidak betah dengan pekerjaan di cafe ini, Pak Fero," sahut Azkia kemudian.
" Kalau Ibu bos yang kasih perintah, tidak mungkin aku bikin Indhira tidak betah di sini, Kia." Fero meyakinkan Azkia agar tidak perlu mengkhawatirkan Indhira selama dalam pengawasannya.
" Awasi juga kalau ada pria hidung belang yang ingin dekat-dekat dia ya, Pak Fero!?" Azkia juga menyuruh Fero mengawasi jangan sampai ada pria breng sek yang memanfaatkan kecantikan Indhira untuk kesenangan semata. Dari Adam, Azkia dan Raffasya tahu, jika Indhira adalah yatim piatu yang diusir dari rumahnya sendiri oleh Tantenya dan hampir dijual kepada pria hidung belang. Karena itu Azkia mengkhawatirkan Indhira.
" Beres, Bos!" Tangan Fero melakukan gerakan hormat.
" Ya sudah, kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu, Indhira." lanjut Azkia mempersilahkan Indhira melanjutkan pekerjaannya.
" Baik, Bu. Permisi ..." Indhira berpamitan sebelum meninggalkan Azkia dan juga Fero untuk kembali beraktivitas.
" Ada apa kamu dipanggil sama Ibu Kia, Ra?" tanya Nena penasaran saat Azkia memakai kembali apronnya.
" Ibu Kia menanyakan bagaimana pekerjaanku di sini, Mbak. Betah atau tidak!?" Indhira menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Azkia padanya.
" Terus kamu jawab apa?" tanya Nena kembali.
" Aku jawab betah, Mbak. Karena aku memang betah bekerja di sini," Indhira tertawa kecil menanggapi pertanyaan Nena yang penasaran.
" Betahlah, banyak pelanggan yang suka sama kamu, banyak yang kasih uang tip juga, kan?" Nena menyindir seraya menyeringai.
Indhira hanya tersenyum menanggapi ucapan Nena. Sejujurnya dia lebih memilih tidak dapat uang tip asalkan tidak ada pelanggan yang tertarik kepadanya. Karena dia merasa tidak nyaman didekati banyak pria.
" Kalau ada yang naksir kamu, cari yang benar, Ra! Jangan sembarangan cari pacar! Apalagi pekerjaan kita ini kadang dianggap sebelah mata sama orang. Dan tidak sedikit yang menganggap negatif. Jadi, kita harus pintar-pintar jaga diri." Nena memberikan nasehat kepada Indhira.
Nasehat yang diucapkan Nena membuat Indhira terdiam. Dia tahu maksud ucapan Nena baik. Tapi seakan terasa tepat menusuk ke jantungnya, karena kenyataannya dirinya sudah tidak suci lagi. Kesalahan di masa lalunya seakan menjadi beban yang sulit untuk dilepaskan olehnya.
__ADS_1
***
Hari ini tepat satu bulan Indhira bekerja di La Grande Caffe. Dan hari ini juga resepsi pernikahan Rissa dan Adam akan digelar di cafe milik bosnya itu.
Acara ijab qobul pernikahan sahabat Indhira itu dilaksanakan di rumah orang tua Rissa. Indhira sendiri ikut menjadi saksi pernikahan mereka berdua. Dia sengaja bertukar hari libur dengan rekannya yang lain agar di hari bahagia Rissa dan Adam, dia bisa ikut menjadi saksi pernikahan mereka berdua sampai acara usai.
Saat mengucapkan ijab qobul sampai acara sungkeman kepada kedua orang tua mempelai, Indhira ikut menitikkan air mata karena merasa terharu dan sedih. Dia membayangkan jika dia menikah nanti, dia pasti akan merasa sedih, karena kedua orang tuanya telah meninggal.
" Ris, selamat, ya! Semoga pernikahan kamu dengan Mas Adam sakinah mawaddah warohmah." Indhira mengucapkan selamat dan memeluk Rissa setelah acara akad selesai.
" Aamiin, Ra. Terima kasih. Aku harap kamu juga bisa cepat mendapatkan jodohmu, Ra." Rissa ikut mendoakan agar Indhira pun bisa cepat mendapatkan jodohnya.
Indhira hanya meng-Aamiin-kan doa dari Rissa dalam hatinya saja. Dia tidak ingin berharap terlalu tinggi dia bisa cepat mendapatkan jodoh, Karena selain trauma, dia juga takut tidak ada pria yang mau menerimanya saat tahu dia sudah tidak suci lagi.
" Kamu harus yakin, Ra. Allah SWT pasti sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu." Menyadari Indhira selalu berkecil hati jika bicara soal pendamping, Rissa mencoba untuk menyemangati sahabatnya itu.
" Iya, Ris." sahut Indhira.
" Mas Adam, happy wedding, ya! Semoga SaMaWa pernikahan kalian. Aku titip Rissa, Mas Adam. Walaupun dia keras kepala, tapi Rissa itu orang yang baik, Mas." Indhira kini mengucapkan selamat kepada Adam dan menitipkan sahabatnya itu agar tidak disakiti dalam pernikahan mereka.
" Aamiin, terima kasih, Ra. Mas juga berharap kamu segera menyusul kami." Tak beda jauh dengan Rissa, Adam juga mendoakan Indhira.
" Kamu harus semangat, Ra! Jangan berkecil hati! Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk kamu ke depannya." Rissa memang akhirnya menceritakan kepada Adam soal masalah yang terjadi kepada Indhira. Karena Rissa juga meminta Adam bisa melindungi Indhira selama Indhira bekerja di cafe milik Raffasya.
" Iya, Mas. Aamiin." jawab Indhira.
Setelah memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai, Indhira memberi ucapan selamat kepada Ibu Lidya dan juga Pak Edwin. Kedua orang tua Rissa juga berharap Indhira bisa membuka hati jika ada pria baik dan serius ingin menjalin hubungan dengan Indhira.
Malam harinya setelah isya, acara resepsi pernikahan Rissa dan Adam digelar di La Grande Caffe. Atas permintaan Rissa, Indhira dipilih menjadi satu anggota bridesmaid bersama sepupu-sepupu Rissa yang lain.
Agak berdebar Indhira hadir di acara resepsi pernikahan Rissa dan Adam. Karena ada beberapa teman SMA Rissa lainnya yang juga diundang oleh Rissa termasuk guru-guru SMA mereka. Indhira takut ada yang mengenalinya di sana.
Saat beberapa teman Rissa yang Indhira kenal datang di acara pesta itu. Indhira memilih bersembunyi agar dia tidak dikenali oleh teman-teman satu angkatannya itu. Namun, ketika dia melihat kehadiran Ibu Tika, Indhira memberanikan diri untuk mendekat dan menyapa guru SMA nya itu.
" Ibu, apa kabar?" sapa Indhira.
Ibu Tika terkesiap saat Indhira menyapanya. Bahkan Ibu Tika sampai memicingkan matanya mencoba mengenali Indhira yang malam ini terlihat cantik dengan gaun berwarna mocca yang dipakai Indhira.
" Indhira? Masya Allah, kamu benar Indhira ini?" Ibu Tika tak menyangka akan bertemu kembali dengan mantan anak didiknya itu.
" Benar, Bu. Ini saya." sahut Indhira.
Ibu Tika langsung memeluk Indhira. " Bagaimana kabar kamu selama ini, Indhira? Ibu sudah lama tidak mendengar kabar kamu dari Rissa. Kamu masih tinggal di Semarang ikut Tantenya Rissa?" tanya Ibu Tika kemudian.
" Tidak, Bu. Saya sekarang tinggal di Jakarta lagi, kok!"
" Tinggal di Jakarta? Kamu tinggal sama siapa, Indhira?" tanya Ibu Tika karena dia mendengar jika rumah orang tua Indhira sudah dijual oleh Tantenya.
" Saya tinggal di rumah Rissa, Bu."
" Lalu aktivitas kamu sekarang apa di Jakarta ini?" Ibu Tika seakan ingin tahu kabar Indhira yang sudah lama tidak dia ketahui.
" Saya bekerja di cafe ini, Bu. Kebetulan yang punya cafe ini bosnya Mas Adam, suaminya Rissa." Indhira menjelaskan kepada Ibu Tika.
" Syukurlah kalau begitu, Indhira. Ibu senang melihat kamu sekarang ini." Melihat Indhira bisa tetap bertahan hidup ditengah terpaan masalah yang dihadapi di usia Indhira yang kala itu masih sangat muda, sudah pasti hal itu membuat Ibu Tika senang.
Satu jam berjalan
Indhira duduk menemani Dhika, karena Tante Sandra sudah diantar pulang lebih dahulu karena kondisinya yang mudah lelah.
" Terima kasih untuk para tamu undangan yang menyempatkan hadir di acara Wedding Party Mas Adam dan Mbak Rissa. Wedding party kali ini agak spesial karena yang punya acara adalah Mas Adam, orang dekat dari bos kita Mas Raffasya nih, Mas." Fenita bersama sang suami, Fero, ditunjuk sebagai MC dalam acara wedding party itu. Mereka adalah MC couple La Grande yang selalu dapat menghidupkan suasana, berinteraksi dengan para tamu undangan dan mengendalikan rangkaian acara wedding party tersebut.
" Iya, benar, Fen. Ibarat kata, Raff Cafe yang punya hajat. Untuk tamu undangan yang belum tahu, kenapa acaranya diadakan di sini karena La Grande itu kakaknya Raff Caffe." Fero berkelakar.
" Kalau begitu bagaimana kalau bos Raff Caffe dan La Grande Caffe ikut menyumbangkan lagu untuk ke dua mempelai? Setuju tidak, nih?" Fenita meminta Raffasya, yang memang mempunyai kemampuan di bidang tarik suara untuk maju ke panggung dan menyanyikan lagu sebagai hadiah untuk kedua mempelai.
Raffasya yang hadir di acara itu bersama Azkia Naufal dan Alma pun lalu berdiri dari kursi tempatnya duduk bersama keluarganya, kemudian menghampiri Fero dan Fenita, bersiap untuk menyanyikan sebuah lagu untuk kedua mempelai.
" Bos kita yang ganteng ini jago menyanyi, lho!" celetuk Fenita yang langsung disambut dengan suara tepuk tangan para tamu undangan.
__ADS_1
" Selamat malam kepada tamu undangan, teman, kerabat dan keluarga kedua mempelai. Selamat menikmati suguhan hidangan dan acara yang kami sajikan untuk semua yang hadir di acara resepsi pernikahan Adam dan Rissa. Dan untuk Adam juta Rissa yang berbahagia. Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Semoga pernikahannya diberkahi Allah SWT dan dikaruniai anak-anak yang lucu, yang sholeh dan sholehah."
" Aamiin ..." Suara Fero dan Fenita terdengar kencang meng-Aamiin-kan doa Raffasya.
" Untuk memeriahkan acara, saya akan mencoba membawakan sebuah lagu untuk kedua mempelai. Sudah lama juga saya tidak tampil di atas panggung. Agak grogi juga sebenarnya. Semoga suaranya tidak gemetaran karena demam panggung." Celetukan Raffasya disambut dengan tawa kecil para tamu undangan.
Hanya Indhira yang justru bereaksi kaget saat bos nya itu didapuk untuk menyumbangkan lagu.
" Saya akan menyanyikan sebuah lagu lama, semoga masih pada ingat sama lagu ini. Sebuah lagu dari sebuah Band tahun sembilan puluhan, Naff ...."
Deg
Jantung Indhira seketika berdetak kencang saat Raffasya menyebutkan nama band Naff. Dia bahkan menggigit bibirnya, karena lagu-lagu dari grup band itu sering dinyanyikan oleh Bagas ketika sedang tampil di acara yang diikuti band Bagas dan teman-temannya.
Indhira bahkan tidak konsentrasi lagi apa yang diucapkan oleh Raffasya selanjutnya, karena dia sibuk menutupi kegelisahannya.
...Akhirnya ku menemukanmu ......
...Saat hati ini mulai merapuh ......
...Akhirnya ku menemukanmu ......
...Saat raga ini ingin berlabuh ......
Indhira menaikkan pandangan menatap Raffasya yang mulai menyanyikan lagu romantis yang memang cocok untuk dilantunkan di acara wedding party seperti ini.
...Ku berharap engkau lah ......
...Jawaban segala risau hatiku ......
...Dan biarkan diriku ......
...Mencintaimu hingga ujung usiaku ......
Tanpa terasa cairan bening mulai menggenang di bola mata Indhira. Seketika ingatan masa lalunya tersingkap. Mendengar Raffasya menyanyi, seakan mengembalikan kenangannya saat mendengarkan Bagas latihan di waktu istirahat karena sekolah mereka menyediakan studio untuk Bagas dan teman-temannya latihan band. Tentu saja atas dana yang disumbangkan oleh Adibrata.
...Jika nanti ku sanding dirimu ......
...Miliki aku dengan segala kelemahanku ......
...Dan bila nanti engkau di sampingku ......
...Jangan pernah letih tuk mencintaiku ......
" Kak Indi kok, menangis?" Suara Dhika tiba-tiba terdengar membuat Indhira mengerjapkan mata. Dan dengan cepat menyeka air mata yang tak dapat dibendung menitik jatuh ke pipinya.
" Kak Indi terharu melihat Kak Rissa dan Mas Adam menikah." Indhira memberikan alasan agar Dhika tidak curiga dirinya sedang terlibat akan seseorang dari masa lalunya.
" Kak Indi kepingin menikah juga seperti Kak Rissa dan Kak Adam, ya?" Dhika justru meledek Indhira.
Indhira terkekeh mendengar celetukan bocah berusia sebelas tahun itu.
" Setiap orang dewasa jika sudah bertemu dengan jodohnya pasti akan menikah, Dhika. Nanti kalau Dhika sudah dewasa, sudah punya pekerjaan, dan sudah bisa menyenangkan hati Mama Dhika. Dhika juga pasti akan menikah." Indhira mengusap kepala Dhika.
" Kalau Dhika nikah nanti, Dhika pindah dari rumah Mama ya, Kak? Kak Rissa juga katanya pindah dari rumah Bude Lidya kalau sudah menikah." Di usia Dhika saat ini, bocah itu bertanya banyak hal pada Indhira yang semestinya belum pantas dipikirkan oleh bocah itu.
" Dhika sayang tidak sama Mama Dhika?" tanya Indhira.
" Sayang dong, Kak!" jawab Dhika mantap.
" Kalau Dhika sayang sama Mama, Dhika harus mau merawat Mama sampai Dhika besar, bahkan sampai Dhika nikah jika sudah waktunya nanti. Kalau bukan Dhika yang merawat Mama Dhika, memangnya siapa lagi?" Indhira menjelaskan kepada Dhika untuk tetap menyayangi Mamanya apalagi saat ini Tante Sandra sedang dalam keadaan sakit.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️