Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Teka Teki.


__ADS_3

"Raisa, kau mau ke mana?" Tanya Siska yang melihat menantunya tersebut hendak pergi.


"Aku tidak bisa diam saja seperti ini Ma. Aku harus mencari di mana keberadaan Kak Diego," ucap Raisa.


"Jangan Raisa, Mama mohon jangan pergi kemanapun. Nanti kau malah membuat Diego merasa khawatir. Tolong jangan menambah khawatiran Mama juga, lebih baik kita tunggu dulu kabar dari Diego," kata Siska.


"Tapi sampai kapan Ma kita mau menunggunya? Ini saja Kak Diego sudah tidak ada kabar setengah hari. Aku takut terjadi sesuatu dengan Kak Diego Ma," kata Raisa.


"Mama mengerti dengan perasaanmu saat ini Raisa. Mama juga khawatir dengan Anak Mama, tapi kau lupa apa yang terjadi saat terakhir kali kau keluar dari rumah tanpa izin Diego, kau hampir celaka. Lalu memangnya sekarang kau mau ke mana? Kau mau mencari Diego ke mana Raisa. Sedangkan sekretarisnya saja mengatakan Diego tidak ada di kantor, kau mau mencari Diego ke mana?" Tanya Siska yang membuat Raisa pun tampak terdiam.


Di saat itu pun ponsel yang sedang Raisa pegang tiba-tiba saja berdering dan ada panggilan masuk dari Diego, membuat Raisa merasa senang dan langsung saja menjawab telepon tersebut.


"Kak Diego, kau itu dari mana saja sih? Kenapa kau tidak memberi kabar sama sekali. Apa kau tahu aku dan Mama sangat khawatir memikirkan keadaanmu." Raisa langsung saja membuka pembicaraan dengan omelannya.


"Iya Sayang maaf. Aku benar-benar minta maaf, aku baru sempat untuk memegang ponsel. Apa sekarang kau sedang bersama Mama?" Ucap Diego dan bertanya.


"Iya, aku sekarang sedang bersama Mama di ruang TV. Aku dan Mama sama-sama menghubungimu tapi kau tidak menjawabnya, kita cemas Kak," ucap Raisa.


"Maafkan aku Sayang, Maaf Ma, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuat kalian berdua merasa khawatir," ucap Diego.


Di saat itu pun Raisa menloudspeaker ponselnya sehingga Siska juga dapat mendengar suara anaknya tersebut.


"Diego, memang saat ini kau sedang berada di mana? Kenapa kata Raisa kau tidak ada di kantor saat Raisa bertanya dengan sekretarismu?" Tanya Siska.


"Ya Ma, aku baru saja kembali ke kantor. Tadi ada pekerjaan di luar yang harus aku kerjakan dan aku lupa membawa ponsel, ponselku tertinggal di ruangan," terang Diego.


"Memangnya ada masalah apa sih Kak di kantor, tidak biasanya kau seperti ini," tanya Raisa.

__ADS_1


"Nanti akan aku ceritakan di rumah ya, yang penting sekarang kau dan Mama tahu kalau aku baik-baik saja. Aku hanya sedang mencoba berusaha untuk menyelesaikan masalah di kantor, aku mohon dukungan dan doa dari kalian supaya masalah ini cepat selesai," ucap Diego.


"Mama pasti akan selalu berdoa untukmu Diego, jika ada apa-apa jangan lupa mengabari Mama ataupun istrimu," ucap Siska.


"Iya Kak, aku juga akan selalu berdoa untukmu. Ingat ya Kak, kau jangan menghilang seperti tadi. Kau harus selalu memegang ponselmu, jadi kau bisa langsung menjawab saat aku menghubungimu. Apa kau tahu, aku baru saja mau pergi mencarimu. Tapi untung saja kau sudah meneleponku tepat waktu," kata Raisa.


"Aku mohon Sayang, jangan pergi kemanapun. Kau tahu 'kan jika saat ini keadaan di luar sangat berbahaya, tetap diam di rumah bersama Mama dan menjaga Denis. Denis sudah pulang sekolah 'kan?" Tanya Diego.


"Iya Kak, Denis sudah pulang sekolah kok dan sekarang ada di kamarnya," jawab Raisa.


"Ya sudah kalau begitu aku mau melanjutkan pekerjaanku dulu ya, kau dan Mama tidak perlu khawatir, aku akan selalu memberikan kabar kepada kalian jika ada sesuatu yang mengkhawatirkan," ucap Diego.


"Ya sudah Kak, kau hati-hati ya dan mudah-mudahan masalah perusahaan akan cepat selesai," ucap Raisa.


"Terima kasih ya Sayang, terima kasih ya Ma atas doa dan dukungan kalian," ucap Diego.


"Sama-sama Kak," jawab Raisa dan mengakhiri telepon tersebut.


Syukurlah meskipun kita belum tahu apa masalah yang saat ini sedang dihadapi oleh Diego, tapi paling tidak kita sudah bisa bernafas lega," ucap Siska. "Sayang, perasaanmu baik-baik saja 'kan sekarang?" Tanyanya kepada Raisa.


"Iya Ma aku sudah sedikit lebih tenang," jawab Raisa.


"Ya sudah kalau begitu ayo kita makan siang, ajak Denis sekalian," ucap Siska.


Memang dari tadi Raisa menolak untuk makan siang, ia sama sekali tidak nafsu karena memikirkan keadaan Diego, sama halnya dengan Siska yang sangat cemas memikirkan kondisi anaknya. Membuat Denis juga tidak mau makan siang karena tidak ada yang menemaninya dan ia pun memilih untuk masuk ke dalam kamar mengerjakan PR terlebih dulu.


"Ya sudah Ma aku mau melihat Denis dulu di kamarnya dan mengajaknya untuk makan siang," ucap Raisa.

__ADS_1


"Iya Sa, kalau begitu Mama tunggu di ruang makan saja ya," ucap Siska.


"Iya Ma," jawab Raisa dan segera saja melangkahkan kakinya meninggalkan Ibu mertuanya itu, menuju ke kamar anaknya.


*****


"Tuan Diego, ada yang mengirim paket ni untuk Anda," ucap Indri yang mengantarkan sebuah amplop besar berwarna coklat untuk tuannya tersebut.


"Apa ini? Siapa pengirimnya?" Tanya Diego kebingungan.


"Saya juga tidak tahu Tuan. Tadi ada seorang kurir yang mengantarkan amplop ini kepada resepsionis dan mengatakan menitipkannya untuk Tuan Diego. Kebetulan di saat itu saya lewat dan resepsionis memberikannya kepada saya. Di amplop tersebut juga tidak ada nama pengirimnya siapa Tuan, tapi kemungkinan ada di dalamnya. Karena saya memang sama sekali tidak membukanya," ucap Indri.


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih. Nanti aku akan melihatnya," ucap Diego.


"Sama-sama Tuan. Kalau begitu saya permisi," pamit Indri.


Digo hanya menganggukkan kepalanya, lalu Indri pun segera saja pergi meninggalkan ruangan bosnya tersebut.


Di saat itu Diego masih tampak kebingungan membolak-balikkan amplop misterius itu. Karena merasa sangat penasaran apa isi di dalam amplop tersebut, segera saja ia membukanya dan melihat sebuah kertas yang bertuliskan beberapa kalimat.


"Sudah aku katakan MENYERAH atau MATI. Saat ini semua rahasia perusahaanmu sudah berada di tanganku, dengan sangat mudah aku akan menghancurkan Perusahaan Abimana Group. Jika kau ingin keluargamu tetap aman, menyerahlah. Apa kau mau kehilangan dua-duanya?"


"Brengsek!"


Diego terlihat sangat murka setelah membaca coretan tinta yang berada di atas kertas putih tersebut. Lagi-lagi surat ancaman datang padanya dan membuatnya tahu jika orang yang mencuri berkas perusahaannya di dalam brankas ada hubungannya dengan surat ancaman yang pertama kali dilemparkan di teras rumahnya beberapa hari yang lalu.


Akan tetapi sampai saat ini Diego masih tak mengerti apa maksud orang tersebut tentang kata MENYERAH atau MATI. Apa yang orang itu inginkan, apakah maksudnya ia harus menyerahkan dirinya kepada orang tersebut demi menyelamatkan keluarganya? Entahlah, itu semua masih menjadi teka-teki dalam diri Diego.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2