
Satu bulan pun telah berlalu, saat ini kondisi Siska sudah mulai membaik karena operasi yang dijalaninya telah berhasil. Siska sendiri merasa sangat bersyukur karena ternyata permintaan anak dan menantunya tersebut adalah benar-benar pilihan yang tepat karena ia merasa kondisinya sekarang jauh lebih sehat meskipun sudah tidak bisa lagi untuk melakukan aktivitas berat. Tetapi setidaknya ia tidak harus terus terbaring di dalam kamar dan masih bisa menemani cucu-cucunya untuk bermain dan melihat pertumbuhan Denis dan Diesa.
Selain Suster Maira, Raisa juga selalu memperhatikan dan merawat ibu mertuanya itu dengan sangat telaten. Maira juga sudah dipekerjakan di kediaman Anggara sampai batas waktu Siska makan malam dan minum obat, ia juga menyetujui untuk tinggal di kediaman Anggara karena selama ini ia memang tinggal sendiri dan menyewa rumah.
Tentu saja hal tersebut juga membuat kecemburuan Ayumi dan mulai merasakan jika tanpa sengaja Maira selalu saja merusak rencananya, seperti hari ini.
"Sus, kau sedang apa?"
Terdengar suara Maira yang sangat mengejutkan Ayumi saat sedang memanaskan ASI, sehingga sesuatu yang telah dipegangnya dalam bungkusan kecil itu pun reflek terjatuh di samping meja, tepatnya di dalam tong sampah kecil. Saat ini Raisa sedang tidak berada di rumah dan sedang berbelanja ke supermarket sebentar, kebetulan tadi Diesa sedang tidur dan saat bangun nanti adalah waktunya meminum susu.
"Kau ini mengejutkanku saja. Apa kau tidak bisa melihat aku ini sedang memanaskan ASI untuk baby Diesa," jawab Amira ketus.
Ya Ayumi selalu saja berbicara dengan nada yang terbilang cukup kasar kepada Maira, padahal Maira sudah bersikap baik dengannya.
"Sus, sepertinya sudah saatnya kita harus berbicara. Kau ini kenapa sih, sudah satu bulan lebih aku bekerja di sini dan aku juga sudah berusaha untuk berperilaku serta berbicara baik-baik denganmu, tapi kenapa ya sepertinya kau itu begitu sensitif denganku. Memangnya aku ini salah apa sih, apa ada sesuatu hal yang aku lakukan dan menyakiti perasaanmu sampai kau terlihat membenciku," tanya Maira.
"Oh ya? Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Sudah sana, minggir!" Kata Ayumi karena ia sudah selesai memanaskan ASI dan hendak lewat tetapi jalannya dihalangi oleh Maira.
Setelah Maira menjauh, Ayumi pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar Diesa dan ternyata sang bayi sudah bangun di waktu yang tepat. Segera saja Ayumi memberikan susu tersebut kepada Diesa yang sudah tampak kehausan.
"Sial! Lagi-lagi aku gagal. Sudahlah semuanya terjatuh ke dalam tong sampah, aku 'kan tidak punya stok sama sekali. Benar-benar ya Suster Maira itu semakin berani saja mengacaukanku, apalagi sekarang dia sudah tinggal di sini," umpat Ayumi di dalam hati dengan tatapan tajam.
Sementara itu Maira yang pergi ke dapur karena hendak membuatkan minuman hangat untuk Siska, setelah itu ia pun kembali menuju ke ruang tengah tempat di mana Siska berada.
"Nyonya ini minumannya, silahkan diminum mumpung masih hangat," ucap Maira dan meletakkan satu gelas teh hangat ke atas meja.
Terima kasih banyak ya suster Maira. Ada apa Sus, apa terjadi sesuatu?" Tanya Siska yang melihat wajah Maira tampak murung.
"Tidak ada masalah apa-apa Nyonya, saya hanya sedikit heran saja," jawab Maira.
"Maksudnya heran kenapa Sus?" Tanya Siska penasaran.
__ADS_1
"Apa tidak masalah kalau saya cerita dengan Nyonya," ujar Maira yang merasa segan, apalagi ini soal Suster Ayumi.
"Tidak apa-apa Sus, ayo cerita saja," jawab Siska.
"Sudah sebulan lebih saya bekerja di sini, awalnya saya pikir Suster Ayumi memang orangnya sangat susah untuk didekati dan tidak mau mengenal orang baru, maka itu dia bersikap jutek dengan saya. Dan awalnya saya mencoba untuk bersikap biasa saja tetapi terus berusaha untuk mencoba mendekati Suster Ayumi, saya hanya ingin menjadi temannya saja Nyonya, apalagi kami 'kan sama-sama bekerja di sini. Entah kenapa semakin lama bukannya semakin mau mengenal saya tapi Suster Ayumi terlihat semakin tidak menyukai dan menjauhi saya di saat saya mendekatinya. Saya bingung tidak tahu apa salah saya dan itu membuat saya tidak nyaman," kata Maira berterus terang dengan mencurahkan isi hatinya. curahkan Isi Hati
"Oh … seperti itu. Sebenarnya saya juga bisa melihatnya. Awalnya saya juga menyimpulkannya demikian, tapi jika dengan saya, Raisa, dan semua pekerja lain di rumah ini Suster Ayumi itu begitu ramah, sama sekali tidak terlihat sombong. Saya menjadi bingung," ucap Siska.
"Iya Nyonya. Untuk itu lah saya juga bertanya-tanya, apa mungkin karena saya orang baru atau saya telah membuat kesalahan dengan bekerja di sini dan menyinggung perasaannya? Padahal menurut saya ya saya sudah bekerja sesuai peraturan, saya tidak pernah berbuat aneh-aneh yang akan merugikan Suster Ayumi ataupun orang lain," ucap Maira.
Tanpa ada yang mengetahui, ternyata di saat itu Ayumi yang membawa baby Diesa dan tadinya hendak ke ruang keluarga menghampiri Siska tetapi karena ia mendengar percakapan tersebut membuat Ayumi pun mengurungkan niatnya. Di saat itu Diesa juga tampak tenang sehingga tidak ada yang mengetahui jika mereka ada di sana, tepatnya di balik dinding ruang keluarga yang tersambung dengan ruang makan itu. Lalu Ayumi pun membawa baby Diesa ke kamarnya kembali.
"Sepertinya Suster harus berbicara lagi dengan Suster Ayumi, kalian harus membicarakan ada apa sebenarnya supaya semua tidak menjadi kesalahpahaman. Jadi Suster Maira juga bisa tenang 'kan nantinya," saran Siska.
"Iya Nyonya, rencana saya juga seperti itu. Mudah-mudahan saja Suster Ayumi mau berbicara empat mata dengan saya. Terima kasih banyak yang Nyonya, saya sama sekali tidak bermaksud mengadu tapi saya hanya tidak tahu lagi bagaimana untuk mendekati Suster Ayumi. Saya juga tidak mau jika ada orang yang merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya di sini," ucap Maira.
"Tidak apa-apa Sus. Memang lebih baik kalau ada apa-apa itu dibicarakan saja, jangan dipendam sendiri. Apalagi kalian berdua 'kan bekerja di sini, saya mau semua yang berada di sini merasa nyaman. Coba sekarang Suster ke kamar Diesa dan ajak Suster Ayumi untuk berbicara, kalau Diesa sudah bangun nanti bawa saja Diesa kesini ya," titah Siska.
*****
Selesai membeli buah-buahan kini Raisa pun membeli keperluan lain di supermarket terdekat. Setelah semua dirasa cukup, Raisa segera membayarnya dan setelah itu ia menuju ke depan supermarket untuk menghampiri Jason dan pulang ke rumah. Akan tetapi saat di depan supermarket tersebut Raisa tidak melihat keberadaan Jason yang tadi menunggunya di depan, sehingga membuatnya pun merasa kebingungan. Raisa juga tidak membawa ponsel sehingga tidak bisa menghubungi Bodyguard-nya itu.
Di saat itu terlihat seorang pria yang mendekati Raisa karena Raisa tampak kesusahan membawa tentengan yang cukup banyak, bahkan tiba-tiba saja salah satu kantong yang berisi buah-buahan jatuh dan juga berserakan di lantai.
"Maaf Nona, biar saya bantu ya," kata pria tersebut yang membantu Raisa. "Oh sebentar ya," ucapnya lagi dan berlari masuk ke dalam supermarket.
Tidak lama kemudian ia kembali lagi dengan membawa sebuah kantong baru untuk memasukkan buah-buahan yang sudah Raisa kumpulkan kembali.
"Terima kasih banyak ya Tuan sudah membantu saya," ucap Raisa.
"Iya sama-sama Nona, tidak masalah 'kan sesama manusia saling tolong menolong. Oh iya Nona sendirian saja ya, mau ke mana? Mau saya antar?" Tawar pria itu to the point, membuat Raisa pun tersentak.
__ADS_1
"Maaf Nona, saya tidak bermaksud lancang. Saya hanya berniat baik ingin menolong, karena tadi saya melihat Nona sangat kesusahan dan hanya sendiri, mungkin saya bisa membantu membawakan belanjaannya atau bagaimana," ucap pria itu.
"Terima kasih atas tawarannya Tua, tapi tidak perlu repot-repot. Tadi saya ke sini dengan supir, tapi saya tidak tahu sekarang supir saya ada di mana. Saya juga tidak membawa ponsel untuk menghubunginya," kata Raisa.
"Kalau begitu gunakan ponsel saya saja untuk menghubungi supir Nona," tawar pria tersebut sembari menyodorkan ponselnya.
"Tapi saya tidak mengingat nomor ponsel supir saya Tuan," jawab Raisa.
"Oh seperti itu, apa Nona sama sekali tidak mau jika saya antar pulang," tawar pria itu lagi.
"Benar-benar tidak perlu Tuan, terima kasih banyak. Saya akan menunggu supir saya saja," tolak Raisa secara halus.
Sesungguhnya Raisa merasa risih karena sepertinya pria itu sangat ngotot ingin mengantarnya pulang, bahkan saat Raisa sedang menunggu Jason pria itu pun tampak terus berada di sampingnya, entah apa maksudnya.
"Oh ya Nona, apa boleh kita berkenalan. Perkenalkan nama saya-"
"Maaf Tuan, itu supir sekaligus Bodyguard saya sudah datang. Saya permisi dulu ya, sekali lagi terima kasih karena tadi sudah membantu saya," ucap Raisa yang menyela ucapan pria tersebut dan langsung saja melangkahkan kakinya mendekati mobil.
Raisa benar-benar merasa sangat lega karena Jason datang di waktu yang tepat, sehingga ia pun bisa menghindari pria tersebut.
"Nyonya Raisa, saya benar-benar minta maaf sudah membuat Nyonya Raisa menunggu. Tadi saya pergi sebentar karena sudah tidak tahan lagi, saya kebelet Nyonya," ucap Jason apa adanya, ia juga keluar dari mobil dan membantu Raisa membawa barang belanjaannya.
"Oh … seperti itu, iya tidak apa-apa kok Kak. Aku pikir tadi Kak Jason ke mana, syukurlah Kak kau baik-baik saja," kata Raisa.
"Iya Nyonya, saya baik-baik saja. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Jason.
"Iya tidak apa-apa Kak, ayo sekarang kita cepat-cepat pulang saja," ucap Raisa lalu segera saja ia masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Jason. Setelah itu Jason menyalakan mesin mobil dan melaju pergi meninggalkan supermarket.
Sementara pria yang tadi bersama Raisa hanya tersenyum sinis menatap kepergian Raisa hingga mobil yang dinaikinya itu pun sudah tak terlihat lagi dari pandangan mata.
"Siapa pria itu? Kenapa dia terlihat begitu aneh," batin Raisa saat berada di perjalanan pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung …