Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Sangat Misterius.


__ADS_3

Diego melajukan mobilnya menuju ke alamat tujuan yang ditulis oleh Nenek Sania tentang keberadaan orang tua kandung Raisa. Ya setelah menimbang dan atas bujukan dari calon suami dan juga calon mertuanya itu, pada akhirnya Raisa pun setuju untuk mencari keberadaan ayah kandungnya. Raisa berpikir benar apa yang mereka katakan, bagaimanapun juga ia sangat memerlukan sosok ayah di saat menikah nanti. Sehingga Raisa mencoba membuang rasa egoisnya tersebut dan mencoba untuk berpikir positif, meskipun ia tidak tahu apakah ayahnya akan menerima kehadirannya saat ini atau tidak.


"Sayang, kau tenang saja ya semua akan baik-baik saja. Kita pasti akan segera menemukan Ayahmu," ucap Diego yang menggenggam tangan calon istrinya itu, sehingga membuat Raisa tersenyum dan merasa lebih tenang.


"Iya Kak, tapi jujur jika saat ini aku merasa sangat gugup. Aku juga sangat penasaran seperti apa Ayahku dan aku sudah tidak sabar ingin mendengar kenapa waktu itu dia meninggalkanku dan Ibuku, hingga Ibuku meninggal," ucap Raisa.


"Iya, aku sangat mengerti perasaanmu. Tapi apapun nanti jawaban itu, aku harap kau bisa sabar atau jangan terpancing emosi," ucap Diego dan hanya ditanggapi anggukan kepala oleh Raisa.


------


Tidak berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di depan sebuah bangunan elit, di mana tempat ayah kandung Raisa berada menurut alamat yang diberikan oleh Nenek Sania. Segera saja Diego dan Raisa turun dari mobil dan berjalan menuju ke pos satpam yang berjaga di rumah tersebut.


"Maaf, kalian cari siapa?" Tanya satpam sebelum Diego dan Raisa bertanya terlebih dulu.


"Oh iya Pak maaf, kami mau bertanya apakah benar jika rumah ini sesuai dengan alamat yang ada di sini?" Tanya Raisa menunjukkan sebuah alamat yang berada di selembar kertas.


"Iya benar Nona. Tetapi kalian siapa dan mau mencari siapa ya?" Tanya satpam lagi.


"Apa saya boleh bertemu dengan pemilik rumah ini? Saya ada perlu dengan beliau," ucap Raisa.


"Maaf Nona, pemilik rumah ini sangat sibuk bahkan beliau jarang sekali ada di rumah. Di rumah ini hanya ada pelayan, supir dan juga saya yang tinggal di sini. Sangat susah sekali untuk bertemu dengan beliau, maka itu saya bertanya Anda siapa, nanti biar saya sampaikan kepada asistennya," ucap satpam lagi.


"Saya Raisa, tolong sampaikan saja jika saya ingin bertemu dengan beliau. Oh ya apakah boleh saya meminta kontaknya?" Tanya Raisa.


"Maaf Nona Raisa, saya tidak bisa memberikan kontak Tuan saya ke sembarangan orang," ucap satpam yang membuat Raisa pun terdiam dan sangat mengerti.


"Memangnya siapa yang tinggal di sini, siapa dia? Apakah beliau sepenting itu sampai susah untuk ditemui," tukas Diego yang tampak emosi.


"Kak sabar Kak. Tadi kau memintaku untuk jangan terpancing emosi, tapi kenapa sekarang malah kau yang emosi," tukas Raisa.

__ADS_1


"Tapi Satpam ini benar-benar keterlaluan," ujar Diego.


"Satpam hanya menjalankan tugas Kak. Lagipula aku tidak apa-apa kok, mungkin beliau memang membatasi privasinya. Sudahlah," ucap Raisa.


"Maaf Tuan, Nona, sebenarnya kalian berdua ini cari siapa. Karena pemilik rumah ini sudah 3 kali berganti, jadi saya hanya ingin memastikan apa benar jika yang dicari Nona dan Tuan ini adalah pemilik Rumah yang sekarang," tanya satpam.


"Sebenarnya saya juga tidak tahu siapa namanya Pak, tapi alamat ini hanya tertuju ke sini dan memang benar adanya 'kan? Maka itu saya pun ingin bertemu dengan pemilik rumahnya," ucap Raisa.


"Oh begitu. Begini saja Nona, jika Anda memang ada keperluan penting dan ingin bertemu dengan Tuan pemilik rumah ini, saya sarankan Anda datang lagi besok pagi-pagi sekali. Karena pagi-pagi sekali pemilik rumah ini masih berada di rumah," ucap satpam.


"Baik Pak, terima kasih banyak ya Pak. Besok pagi saya akan kembali ke sini lagi," ucap Raisa.


"Iya sama-sama Nona," jawab satpam.


Sehingga Raisa dan Diego pun meninggalkan rumah tersebut.


"Maafkan Papa Raisa, Papa belum siap untuk menemuimu saat ini. Papa belum siap untuk mengatakan siapa Papa sebenarnya dan menjelaskan tentang masa lalu itu," ucap pria tersebut hingga mobil itu pun tak terlihat lagi dari pandangan matanya.


*****


"Siapa sebenarnya Ayahmu, kenapa hanya untuk menyebut namanya saja sepertinya Satpam merasa sangat berat. Apalagi untuk bertemu dengannya juga sangat sulit. Kenapa Ayahmu begitu misterius?" Tanya Diego.


"Entahlah Kak, kalau kau bertanya denganku lalu aku mau bertanya dengan siapa Kak? Atau lebih baik kita batalkan saja ya untuk mencari Ayahku," ujar Raisa.


"Jangan, lebih baik kita lanjutkan saja. Masih ada waktu sebulan sebelum hari pernikahan kita dan itu masih sangat sempat untuk kita menemui siapa Ayahmu. Besok pagi aku akan mengantarmu ke sana lagi, sekarang kita pulang ke rumahku ya," ucap Diego.


"Tapi Kak, bukannya hari ini Mama mengajak Denis pergi ke rumah sahabatnya ya. Itu artinya aku tidak ada tugas di sana, jadi lebih baik kau mengantarku pulang saja," ucap Raisa.


"Iya benar, tapi ini bukan hari liburmu jadi kau harus tetap bekerja dan kau tidak merawat Denis melainkan merawatku," ucap Diego yang mengerlingkan matanya, menggoda sang kekasih.

__ADS_1


"Maksudmu?" Tanya Raisa seraya mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan ucapan Diego.


"Maksudku, mumpung tidak ada Mama dan Denis di rumah. Boleh 'kan jika aku ingin berdua denganmu, aku mau kau membuatkanku makanan, lalu kita makan bersama. Setelah itu kita nonton atau terserah kau saja mau apa. Yang penting aku ingin bersama denganmu, aku merindukanmu Sayang," ucap Diego.


"Oh … ya sudah, terserah kau saja," ucap Raisa yang menyetujuinya dan tentu saja membuat Diego begitu bahagia.


*****


Saat sudah berada di kediaman Abimana, seperti permintaan Diego tadi Raisa pun langsung saja membuatkan makanan lalu keduanya langsung menyantap makanan tersebut. Setelah itu mereka pun mengobrol dan bersantai di ruang keluarga yang terletak di lantai atas, tepatnya di samping kamar Diego. Sehingga tak ada yang mengganggu, hanya mereka berdua saja yang saat ini sedang menonton film romantis.


Akan tetapi pada saat adegan ciu man pada film yang sedang ditonton, tiba-tiba Raisa menutup wajahnya. Ia merasa malu karena biasanya menonton sendirian, saat ini ditemani oleh calon suaminya itu. Sehingga membuat Diego tersenyum melihat tingkah laku kekasihnya itu, lalu membuka 2 telapak tangan yang menutupi matanya.


"Kau kenapa Sayang?" Tanya Diego.


"Aku hanya merasa malu Kak," jawab Raisa dengan polosnya.


"Kau tidak perlu malu, kita juga bisa melakukannya," ucap Diego yang langsung saja menyambar bibir mungil yang sudah menjadi candunya itu.


Raisa pun tak menolaknya, ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Diego serta membalas ciu man tersebut. Keduanya saling melu mat dan saling bermain lidah di dalam rongga mulut pasangannya masing-masing secara bergantian, sambil sesekali bertukar saliva. Sehingga membuat ciu man tersebut semakin dalam dan memanas.


Semakin lama keduanya semakin diliputi hasrat yang menggebu. Diego yang rasanya sudah tak tahan lagi langsung saja menurunkan ciumannya menyapu leher Raisa, serta tangannya yang tampak aktif menjelajahi kedua bukit kembar yang berada di balik pakaian yang digunakan Raisa, hingga menurun ke lembah yang berada di balik segitiga miliknya calon istrinya itu.


"Agh … ."


Terdengar suara de sa han dari mulut Raisa yang membuat Diego semakin bersemangat untuk melakukan hal lebih. Akan tetapi di saat Diego hendak membuka pakaian yang digunakan oleh Raisa, tiba-tiba saja wanita itu pun menghentikannya, sehingga membuat Diego tersadar bahwa apa yang ia lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan.


"Aku minta maaf," ucapnya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2