
Di saat anak-anak dan suaminya masih tidur, Raisa pun terbangun terlebih dahulu dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya tersebut. Ia memang selalu menyempatkan waktu meskipun sudah ada pelayan di rumah tersebut.
"Nyonya Raisa, lebih baik biar Bibi saja yang menyiapkan sarapan. Sekarang Nyonya 'kan sudah sibuk dengan anak Nyonya, jadi biar Bibi saja ya," kata bibi.
"Tidak usah Bi, biar aku saja. Aku hanya ingin menyiapkan sarapan untuk suami dan Anakku. Di saat aku tidak sempat baru Bibi yang menyiapkannya seperti biasa," kata Raisa.
"Apa perlu Bibi bantu?" Tanya bibi.
"Tidak usah Bi, aku mau membuat nasi goreng saja," jawab Raisa.
"Ya sudah kalau seperti itu Nyonya. Bibi mau membersihkan ruang depan dulu ya," kata Bibi.
"Iya Bi, silahkan," jawab Raisa.
_____
Setelah menyelesaikan sarapan dan meletakkannya di atas meja, kini Raisa pun menuju ke kamar Denis untuk membangunkan anaknya tersebut seperti biasa.
Akan tetapi saat sudah berada di kamarnya, ternyata anak sulungnya itu sudah berada di kamar mandi. Memang Denis sudah terlihat lebih mandiri, apalagi setelah ia memiliki adik. Sehingga setelah menyiapkan pakaiannya dan meletakkan di atas tempat tidur, kini Raisa pun kembali ke kamarnya dan di saat itu ia melihat Diego yang sedang bermain dengan anaknya tersebut.
"Pagi Sayang," ucap Diego.
"Pagi Kak, kau dan Diesa sudah bangun? Maaf ya aku sedikit terlambat. Tadi aku membuat sarapan sekaligus membangunkan Denis, tapi ternyata Denis sudah bangun terlebih dulu dan sedang mandi," ucap Raisa.
"Tidak apa-apa Sayang, kau sama sekali tidak terlambat kok. Ya sudah aku mau mandi dulu ya. Diesa putri kecil Papa, Papa mandi dulu ya. Mamanya sudah kembali, jadi kau dengan Mama dulu ya," ucap Diego dan segera saja pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Sedangkan Raisa mengambil anaknya tersebut untuk memberikannya ASI.
_____
Setengah jam kemudian Diego sudah tampak rapi, sehingga mereka bertiga pun segera turun menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama. Karena Denis belum juga muncul, setelah menaruh Diesa ke dalam baby stroller Raisa pun menyusul putranya tersebut ke kamarnya.
"Wah … Anak Mama tampan sekali, sini Mama bantu sisir rambutnya," ucap Raisa yang melihat Denis sudah selesai menggunakan pakaiannya, hanya tinggal menyisir rambutnya saja.
"Tidak usah Ma, aku 'kan sudah besar, aku bisa kok menyisir rambutku sendiri," tolak Denis.
"Kau itu semakin pintar ya Kak Denis. Apalagi semenjak punya adik," kata Raisa.
"Iya Ma, kata Papa aku harus belajar dewasa karena aku sudah punya adik. Aku harus melindungi Adik Diesa, Mama Papa dan Oma. Jadi aku tidak boleh lemah ataupun cengeng," kata Denis.
"Iya Ma dan aku tahu kalau aku sudah salah. Maafkan aku ya Ma, gara-gara aku ceroboh tadi malam Adik Diesa menangis," ucap Denis dengan sangat pintar dan membuat Raisa begitu gemas melihatnya.
"Sayang, tidak apa-apa kok. Kau 'kan tidak sengaja dan wajar jika orang membuat kesalahan. Apalagi kau itu masih kecil, Mama yang sudah dewasa saja bisa membuat kesalahan," ujar Raisa.
"Terima kasih ya Ma," ucap Denis lalu memeluk ibunya tersebut.
"Sama-sama Sayang. Ya Sudah yuk, kalau sudah selesai sekarang kita ke ruang makan dan sarapan, nanti kau bisa terlambat. Papa juga mau mengantar Kak Denis pergi ke sekolah karena Papa hari ini tidak buru-buru ke kantornya," kata Raisa.
"Hore … ," teriak Denis yang meras sangat senang.
Lalu keduanya segera saja menuju ke ruang makan dan menyantap sarapan yang telah dibuat oleh Raisa. Selesai sarapan Denis dan Diego pun pergi meninggalkan rumah untuk beraktivitas.
__ADS_1
Di saat itu pula terlihat Suster Ayumi yang baru saja tiba di kediaman Abimana. Karena Raisa hendak mandi, ia pun menitipkan Diesa kepada pengasuhnya itu terlebih dulu.
"Kau itu sangat manis, sangat menggemaskan Sayang. Kau juga tidak memiliki dosa apapun, tapi sayangnya ayah dan ibumu adalah orang jahat yang sudah menyebabkan kakakku masuk ke dalam penjara. Aku tidak akan tinggal diam, sekarang kok bisa bernafas dengan lega tapi aku terpaksa harus menjadikanmu sasaran supaya kedua orang tuamu tidak berani bermacam-macam lagi," batin Ayumi yang menatap tajam ke arah Diesa.
Sedangkan Diesa terlihat menatap Ayumi ketakutan. Meskipun masih bayi, sepertinya Diesa bisa merasakan aura jahat yang terpancar dari wajar Ayumi saat ini.
*****
Setelah 1 bulan lamanya menyelidiki kasus tentang siapa yang sudah menangkap Diego dan Sastro saat itu dan diyakini ada sangkut pautnya dengan siapa dalang di balik ancaman yang datang berupa teror ataupun yang lainnya, sampai sekarang mereka belum mengetahui siapa sebenarnya orang tersebut. Karena para preman itu sama sekali tidak bisa diajak kerjasama. Ya karena mereka memang tidak mengetahui siapa orang yang memerintahkan mereka, mereka hanya memanggilnya dengan sebutan bos, sama sekali tidak mengetahui siapa nama orang tersebut.
Sehingga membuat polisi sangat kesulitan untuk melakukan penyelidikan. Bahkan di saat polisi membawa salah satu preman untuk menuju ke tempat-tempat dimana mereka sering bertemu dengan bos-nya itu, ternyata mereka tidak bisa menemukan siapapun. Menurut polisi penjahat tersebut adalah penjahat yang sangat licik, yang sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Hanya saja kesialan menghampiri sehingga dengan cepat polisi mengetahui markas mereka saat itu. Akan tetapi sayangnya para polisi hanya bisa menangkap para preman yang merupakan anak buahnya, belum bisa menangkap siapa dalang dibalik ini semua sampai saat ini.
Sedangkan Diego dan Sastro masih sangat yakin jika dalang dibalik ini semua adalah Erros. Hanya saja mereka tidak tahu siapa orang yang berada di belakangnya sehingga Erros tidak perlu turun tangan langsung. Kedua pria itu masih tetap berusaha untuk mencari tahu di luar dari bantuan polisi.
"Menurutmu apakah sebaiknya kita menutup kasus ini saja? Bagaimanapun juga sepertinya sekarang sudah tidak ada lagi orang-orang jahat itu yang mengganggu kita, semuanya sudah tampak aman. Erros juga tidak pernah menghubungi Ayah lagi, Ayah tidak tahu di mana dia sekarang. Apa mungkin Erros sudah lelah atau saat ini dia sedang merencanakan sesuatu yang lain?" Kata Sastro yang saat ini sedang berada di Perusahaan Abimana Group, milik menantunya tersebut.
"Seperti yang Ayah katakan, mungkin saja saat ini Erros sedang merencanakan hal lain. Jadi kita tidak bisa menutup kasus ini Yah, apalagi kita membiarkan Erros begitu saja. Ayah juga tahu Erros adalah orang yang sangat licik, bahkan Ayah yang lebih tahu Erros daripada aku. Mungkin sekarang ini Erros sengaja membiarkan kita tenang terlebih dulu dan disaat kita lengah nanti, dia akan mencari celah untuk menghancurkan kita," kata Diego.
"Kau benar Diego, tapi bukan seperti itu maksud Ayah. Jika saat ini mereka saja bisa diam-diam merencanakan sesuatu dengan membiarkan kita menghirup udara bebas terlebih dulu seperti sekarang ini, itu artinya kita juga tidak boleh terang-terangan untuk mencari keberadaan mereka. Jika mereka bisa menggunakan cara licik, kita harus menggunakan cara yang lebih licik lagi," ujar Sastro yang membuat Diego langsung mengerti maksud ayah mertuanya tersebut.
"Ayah benar juga. Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, apa Ayah punya rencana?" Tanya Diego.
Tanpa mereka sadari di saat itu pun ada seseorang yang mendengar percakapan mereka dari balik pintu, lalu orang tersebut langsung saja pergi meninggalkan ruangan Diego dan terlihat menghubungi seseorang untuk memberi kabar tersebut.
Bersambung …
__ADS_1