
Diego terlihat uring-uringan di dalam mobil karena ia tidak berhasil menemukan keberadaan Clarissa. Ia sangat yakin jika Clarissa tidak mungkin bisa lari secepat itu jika masih berada di sekitar rumah tua tersebut. Meskipun sebenarnya tujuannya ingin melepaskan wanita itu, tetapi dengan kejadian seperti ini malah membuatnya merasa khawatir jika sesuatu nantinya pasti akan terjadi lagi dengan Raisa ataupun keluarganya. Sehingga membuatnya menjadi merasa was-was dan langsung memberikan penjagaan ketat untuk orang-orang yang disayanginya.
"Tuan, kita harus mencari Nyonya Clarissa kemana lagi? Kita sama sekali tidak menemukannya," ucap Darrel yang memang sedari tadi mencari keberadaan Clarissa bersama tuannya di jalanan.
"Sudahlah, kita pulang saja. Tapi tetap minta anak buahmu untuk mencari keberadaannya, aku takut dia masih bersembunyi di sana, hanya kita saja yang tidak bisa menemukannya. Mereka harus tetap berjaga-jaga di sana atau sekitarnya," titah Diego.
"Baik Tuan," jawab Darrel lalu melajukan mobilnya menuju ke kediaman Diego untuk mengantar tuannya itu pulang terlebih dulu.
------
Diego tiba di rumah tepat pukul 02.00 WIB, setelah membersihkan dirinya dan baru saja merebahkan tubuh yang sudah terasa sangat lelah di atas kasur empuk king size miliknya, tiba-tiba saja ada pesan masuk pada ponselnya tersebut. Sehingga ia pun langsung saja meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas dan langsung membaca pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal.
"Kau sudah salah bermain-main denganku Diego. Peperangan baru saja dimulai, aku pastikan kau dan wanitamu, beserta keluargamu itu akan mengalami akibatnya!"
Diego merasa sangat murka setelah membaca pesan tersebut, yang merupakan ancaman dari seseorang untuknya.
"Brengsek! Siapa yang berani mengirim pesan seperti ini padaku," umpat Diego, lalu ia pun mencoba menghubungi nomor tersebut tetapi ternyata nomornya telah diblokir oleh orang misterius itu.
"Cih, setelah mengancam kau langsung menghilangkan jejak. Dasar bajing*n pengecut! Tidak salah lagi aku yakin ini adalah Clarissa. Tapi Clarissa tidak mungkin bisa kabur sendirian, apalagi berani mengancamku jika tidak ada yang bekerja sama dengannya. Aku yakin pasti ada seseorang yang membantunya, tapi Siapa orang itu? Clarissa, kau benar-benar sudah berani bermain-main denganku. Aku pasti akan menemukanmu, di lubang semut sekalipun," ucap Diego dengan tatapan penuh amarah.
*****
Clarissa mengerjap-mengerjapkan matanya dan merasakan tubuhnya begitu terasa sakit, hingga matanya terbuka lebar dan menyadari jika saat ini ia sedang berada di tempat yang begitu asing baginya.
__ADS_1
"Kau sudah bangun Sayang, aku lihat tidurmu nyenyak sekali," ucap seorang pria yang di saat itu sedang memandangi wajah Clarissa.
"Kau? Kenapa kau ada di sini? Apa yang kau lakukan padaku?" Pekik Clarissa yang menutup tubuh polosnya itu dengan selimut, serta menjauhi pria tersebut.
Ia benar-benar merasa sangat terkejut melihat seorang pria yang di saat itu berada di sampingnya, pria yang tidak asing baginya dan sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Hei kenapa kau marah-marah seperti itu, aku sudah menolongmu dari mantan suamimu yang kejam itu," kata pria tersebut tak terima.
"Tapi sebagai gantinya kau telah memperkosaku 'kan? Aku ingat tadi malam kau memintaku untuk melayanimu karena kau telah menolongku, tapi karena aku tidak mau kau malah memukulku sampai aku pingsan. Aku yakin kau pasti sudah menjamahi tubuhku berulang kali, buktinya sekarang aku tidak menggunakan pakaian dan milikku terasa sangat perih. Kau benar-benar brengsek! Apa yang kau lakukan?" Teriak Clarissa sembari menatap tajam.
"Sudahlah Sayang, kau tidak perlu marah-marah seperti itu padaku. Aku ini menolongmu karena aku mencintaimu, jadi apakah salah jika aku meminta imbalannya dengan ini," tukas pria itu.
"Apa maksudmu dengan kau mencintaiku?" Tanya Clarissa tak mengerti.
Akan tetapi Clarissa hanya diam saja, kali ini ia terlihat pasrah dan tertarik dengan ucapan pria tersebut.
"Apa kau yakin akan membantuku?" Tanya Clarissa.
"Tentu saja baby, aku akan membantumu yang penting kau selalu mau untuk memenuhi hasratku ini, hasrat yang sudah menggebu-gebu dan sudah aku tahan sejak lama," bisik pria tersebut sembari mengendus-endus di leher Clarissa serta tangannya yang tanpak aktif memegang dua gundukan di balik selimut.
"Argh … . Oke aku mau, aku bersedia yang penting kau menepati janjimu itu," ucap Clarissa diiringi suara des*hannya.
Diam-diam ia malah terlihat menikmati permainan awal yang diberikan oleh pria tersebut. Tak bisa dipungkiri jika Clarissa pun sudah sangat merindukan belaian kasih sayang dari seorang pria. Jika saat di luar negeri ia selalu menyalurkan hasratnya itu dengan sang kekasih yang merupakan managernya sendiri tetapi saat di Indonesia ia sama sekali belum mendapatkannya. Karena Diego pria yang diinginkannya itu sama sekali tidak mau lagi bersamanya.
__ADS_1
"Kau bisa memegang janjiku dan aku ingin untuk sementara waktu kau jangan pergi kemanapun, kau harus tetap berada di sini. Saat ini Diego masih berupaya untuk mencarimu dan aku yakin kau akan aman di sini, hanya aku yang tahu keberadaanmu," kata pria tersebut.
Clarissa menganggukkan kepalanya, hanya bisa menuruti ucapan pria tersebut saat ini. Ia menatap pria yang sebenarnya juga sangat tampan, tetapi Clarissa tak pernah menyangka jika pria itu sudah mencintainya sejak lama.
Lalu pria itu pun mendekati wajah Clarissa dan langsung saja menyambar serta ******* bibir Clarissa dengan sangat rakus. Karena Clarissa sudah memutuskan untuk bersama dengan pria itu demi mencapai misinya, ia pun langsung membalasnya dengan agresif. Sebagai mantan wanita penghibur, tentunya ia sudah sangat ahli dalam memanjakan seorang pria. Sehingga terjadilah pergelutan di atas ranjang diantara keduanya, yang membuat pria tersebut merasa sangat puas atas pelayanan dari wanita yang dicintainya itu. Setelah sekian lama, pada akhirnya ia bisa mendapatkan Clarissa meskipun dengan caranya tidak benar.
*****
"Nenek, Nenek kenapa? Nenek … !"
Raisa yang di saat ini sedang berad di dalam ruang ICU merasa sangat terkejut melihat neneknya yang tiba-tiba saja kejang-kejang. Sehingga Raisa berteriak histeris dan segera memanggil Dokter untuk melihat kondisi neneknya tersebut.
Setelah dokter dan Suster datang ke ruangan tersebut, Raisa yang biasanya diminta untuk keluar di saat dokter sedang menangani neneknya, kali ini ia dibiarkan saja di dalam agar mengetahui apapun yang akan terjadi nantinya. Sehingga ia bisa melihat dengan jelas bagaimana dokter berusaha untuk menyelamatkan sang nenek hingga pada akhirnya suara layar monitor terdengar lurus yang menandakan jika detak jantung neneknya sudah berhenti berdetak untuk selamanya.
"Dokter, apa maksudnya ini Dokter?" Tanya Raisa di saat ia melihat dokter dan suster melepas seluruh alat bantu yang menempel pada tubuh Nenek Sania.
"Kami minta maaf Nona Raisa. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Nenek Sania. Nenek Sania telah pergi untuk selama-lamanya Nona," ucap dokter.
Bagai disambar petir di siang bolong, Raisa merasa sangat terkejut dan tubuhnya juga seakan bergetar hebat hingga membuatnya lemah seketika. Ia merasa sangat syok dan tak percaya mendengar akan hal tersebut meskipun ia juga bisa sudah melihatnya secara langsung.
"Tidak … ini tidak mungkin!" Teriak Raisa yang langsung saja mendekati neneknya lalu memeluknya.
"Nenek … aku mohon bangun Nek, jangan tinggalkan aku sendiri," ucap Raisa diiringi tangisannya serta mengguncang pelan tubuh neneknya tersebut.
__ADS_1
Bersambung …