
"Terima kasih banyak Dokter, saya permisi dulu," ucap Sastro yang langsung saja keluar dari ruangan dokter lalu pergi meninggalkan rumah sakit bersama sang asisten.
"Tuan, sekarang kita mau ke mana?" Tanya Kelvin saat mereka sedang berada di perjalanan.
"Kita ke Jalan Xx," jawab Sastro, sehingga langsung saja Kelvin melajukan mobilnya ke alamat yang dimaksud oleh tuannya itu.
------
Setibanya di sana Sastro dan Kelvin bergegas turun dari mobil dan mencari alamat rumah seseorang yang sangat ingin ditemui oleh Sastro. Keduanya pun langsung saja bertanya ke beberapa tetangga yang berada di sana tentang alamat tersebut.
Memang lokasi di sana sudah jauh berbeda dengan masa lalu, rumah lama sudah banyak yang musnah dan diganti dengan bangunan perumahan yang ada di dekatnya, membuat Sastro pun merasa kebingungan. Bahkan dari beberapa tetangga yang sudah Sastro tanyakan, mereka tidak ada yang mengenal orang yang dicari oleh Sastro karena dari mereka adalah orang-orang baru yang baru tinggal di sana. Akan tetapi ada yang memberitahu Sastro bahwa ada seseorang yang sudah sangat lama tinggal di sini, mungkin saja orang itu tahu. Sehingga langsung saja Sastro dan Kelvin menuju ke rumah orang tersebut.
Benar saja ternyata orang yang tinggal di rumah tersebut umurnya sudah cukup tua. Rumah yang ditinggalinya juga merupakan rumah tua yang sama sekali tidak pernah direnovasi dan tempatnya itu sangat terpencil dari pemukiman warga yang lain.
Tok … tok … tok …
Kelvin mengetuk pintu tersebut, hingga terlihat seorang anak kecil laki-laki yang kira-kira berusia 6 tahun membukakan pintu untuk mereka.
"Maaf, ada apa Om, Kek?" Tanya anak kecil tersebut.
"Anak manis, apakah Nenekmu ada?" Tanya Kelvin langsung saja.
"Ada, tapi Nenek lagi sakit, ada di dalam Om," jawab anak kecil itu serta mengizinkan Sastro dan Kelvin untuk masuk dan menemui neneknya.
Mereka sangat iba melihat nenek itu dalam keadaan yang memprihatinkan dan hanya bisa berbaring di atas kasur kumuh. Nenek itu hanya tinggal bersama dengan anak kecil tersebut dan juga ibunya yang sedang bekerja. Mereka sangat kekurangan uang sehingga tidak bisa membawa nenek tersebut ke rumah sakit, sehingga Sastro pun berniat akan membawanya ke rumah sakit dan memberikan perawatan khusus untuknya.
__ADS_1
Meskipun omongan nenek tersebut sudah sedikit ngelantur, tetapi saat ditanya oleh Sastro tentang seseorang yang sedang dicarinya, nenek tersebut langsung menjawab jika ia sangat mengenal baik dan mengatakan jika orang yang dicari Sastro itu sudah lama tidak tinggal di sini dan saat ini dia juga telah meninggal. Sehingga membuat Sastro pun merasa sangat sedih dan menyesal karena tidak mencarinya dari dulu.
Sebelum pergi, Sastro memberikan beberapa lembar uang sebagai santunan sebelum nantinya ada pihak rumah sakit yang menjemput nenek tersebut, lalu mereka pergi meninggalkan kediaman Nenek itu.
"Tuan, sebenarnya apa tujuan Tuan mencari Orang itu? Bukankah Tuan juga sudah tahu hasil tes DNA-nya seperti apa?" Tanya Kelvin.
"Sudahlah Kelvin, kau tidak perlu banyak bertanya. Sekarang kita ke perusahaan saja," titah Sastro.
Lalu keduanya masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke perusahaan.
*****
Raisa yang sedang menunggu Denis di sekolah seperti biasa, terlihat tampak termenung. Pasalnya ia mengingat apa kata sang nenek jika ia masih memiliki seorang ayah. Sedangkan sebentar lagi ia akan menikah, haruskah ia mengabaikan ayahnya dan tetap menikah? Bukankah bagaimanapun juga pernikahan itu akan sah jika dengan izin ayahnya? Kecuali memang Raisa tidak mengetahui jika ayahnya masih hidup, sedangkan ini ia sudah tahu, bahkan neneknya juga sudah memberikan alamat untuknya mencari keberadaan ayahnya tersebut. Membuat Raisa pun sekarang menjadi berpikir keras, bingung mengambil pilihan harus berbuat apa.
"Kak Raisa, kenapa kau melamun? Ayo kita pulang," ucap Denis ya tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
"Baru saja dan aku melihat kau melamun," ucap Denis.
"Oh begitu, tidak ada apa-apa kok. Yuk kita pulang," ajak Raisa yang langsung saja menggandeng lembut tangan Denis dan membawanya ke mobil yang di saat itu sang supir juga sudah datang menjemput mereka.
Sepanjang perjalanan Raisa tetap saja berpikir apakah ia harus mencari ayahnya saat ini atau tidak, haruskah ia membicarakannya dulu kepada calon suami dan juga calon mertuanya?
------
Saat di rumah, Denis langsung saja memberitahu neneknya tentang sikap Raisa yang ia nilai sangat berbeda, secara terang-terangan di saat mereka bertiga sedang berada di ruang makan.
__ADS_1
"Raisa, apa benar yang dikatakan Denis jika ada sesuatu yang sedang kau pikirkan? Ada apa Sayang, ceritakan ke Mama. Sebentar lagi kau dan Diego akan menikah, apa ini ada sangkut pautnya dengan pernikahan kalian?" Tanya Siska yang menebaknya dengan benar.
Sehingga Raisa pun menganggukkan kepalanya dengan pelan, pertanda jika apa yang dikatakan oleh Siska memang tidak salah.
"Nah apalagi ini ada sangkut paut dengan pernikahan kalian, kau harus menceritakannya. Ada apa Sayang?" Siska mengulangi pertanyaannya.
Langsung saja Raisa menceritakan apa yang telah mengganggu pikirannya dan menjadi kegundahan hatinya saat ini.
"Jadi kau masih memiliki ayah? Raisa kenapa kau tidak mengatakannya dari kemarin? Seharusnya kau itu sudah mencari ayahmu, kau tidak boleh mengabaikannya seperti itu Sayang. Bagaimanapun juga seperti cerita yang Mama dengar tadi, kau tidak tahu 'kan apa alasan sebenarnya Ayahmu waktu itu meninggalkanmu dan juga Ibumu, sehingga kau hanya tinggal berdua dengan Nenekmu saja," ucap Siska.
"Itu karena aku sudah terlanjur kecewa padanya Ma. Untuk itu aku mengabaikannya dan aku menganggap dia sudah tidak ada seperti yang Nenek pernah katakan. Menurut Mama kenapa Nenek sampai mengatakan seperti itu, pasti karena Nenek juga merasa sakit hati dengan pria itu Ma. Bahkan selama ini dia juga tidak pernah mencariku," ucap Raisa yang terlihat sangat kecewa.
"Raisa, Mama tidak mengenalmu yang seperti ini. Mama tahu bagaimana kau Sayang, kau adalah wanita yang pemaaf, tidak pendendam seperti ini. Apalagi sekarang kau akan menikah, kau tetap memerlukan orang tua apalagi ayah. Bagaimana kalau kau mencari ayahmu bersama Diego besok? Besok 'kan Denis tidak sekolah, Diego juga tidak bekerja. Jadi kalian bisa mencarinya," ujar Siska.
"Aku setuju," ucap Diego yang tiba-tiba saja muncul dan menghampiri mereka.
"Diego, kau jadi pulang siang?" Tanya Siska.
"Jadilah Ma. Bukannya aku sudah mengatakan akan makan siang bersama kalian," jawab Diego.
"Oh iya Kak, tapi aku belum memesan makanannya," ujar Raisa.
Padahal Diego sudah mengatakan padanya untuk memesan makan siang, tetapi memang sedari tadi ia melupakan segala hal karena pikiran yang mengganggu pikirannya itu.
"Tidak masalah, sekarang kita bisa memesannya. Karena aku sedang free, jadi aku bisa kembali ke perusahaan ataupun tidak," ujar Diego. "Oh ya mengenai ucapan Mama tadi, aku sangat setuju. Karena aku memang sudah mengajak Raisa untuk mencari orang tuanya dari kemarin, apalagi sebentar lagi kita akan menikah. Hanya saja Raisa yang tidak mau, jadi aku tidak mau memaksa. Tapi seandainya Raisa sudah siap aku pasti akan menemaninya."
__ADS_1
"Sa, apa kau sudah siap untuk mencari keberadaan orang tuamu? Ini sangat penting Sa, ini bukan hal yang main-main," ucap Siska yang membuat Raisa tampak berpikir.
Bersambung …