
Setelah melamar Nada, Kelvin juga langsung meminta izin kepada Sastro tentang niat baiknya untuk segera menikah dengan Nada yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Sastro dan juga yang lainnya sangat terkejut tetapi mereka tentunya akan mendukung niat baik itu, malah menurut mereka lebih cepat lebih baik. Apalagi Nada juga hanya hidup sebatang kara dan sudah pasti hidupnya akan lebih baik jika bersama dengan Kelvin.
Nada sendiri tidak menolak, menurutnya memang sudah saatnya ia berumah tangga kembali meskipun sebenarnya masih ada sedikit rasa takut di dalam hatinya setelah pernikahan pertamanya yang gagal.
"Nada, kau tidak perlu takut. Aku janji akan selalu melindungi dan menjagamu. Tidak akan aku biarkan ada yang menyakitimu, barang itu semut sekalipun. Aku akan selalu membuat hidupmu bahagia dan tidak akan pernah menyakitimu seperti apa yang dulu pernah kau rasakan," ucap Kelvin dengan tatapan serius sembari menggenggam erat kedua tangan Nada.
"Terima kasih banyak ya Kak. Aku benar-benar sangat terharu dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini, yang pasti aku merasa sangat bahagia," ucap Nada, tampak meneteskan air mata bahagia.
Kelvin mengusap air mata d pipi Nada dengan jarinya dan berkata, "Jika kau bahagia jangan menangis lagi ya. Untuk hari ini dan kedepannya aku akan selalu menciptakan hari-hari bahagia di dalam hidupmu, apalagi di saat kita nanti sudah ini menikah."
Lalu Nada pun tersenyum manis yang membuat Kelvin selalu terpesona melihat wanita cantik di depan matanya itu.
_____
Tidak terasa sudah tiga jam lamanya acara ulang tahun Diesa berlangsung, saat ini waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB, sehingga Raisa pun mengakhiri acara ulang tahun tersebut.
Di saat itu terlihat para pekerja yang ingin langsung membersihkan ruangan yang dipakai untuk acara tersebut, tetapi Raisa melarangnya dan mengatakan besok saja baru dibereskan dengan bergotong royong. Karena mereka juga sudah merasa sangat lelah, sehingga semua pun menyetujuinya.
Kini semuanya pun tampak kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, sedangkan Kelvin langsung membawa Sastro dan Nada pulang. Sebelum pulang ke rumah ia akan mengantar calon istrinya pulang ke kediamannya, Sastro pun tak keberatan untuk mengantar calon menantunya terlebih dulu.
*****
Raisa yang di saat itu sedang berada di depan meja rias menguncir rambutnya setelah mandi dan berpakaian, dikejutkan dengan pelukan Diego dari belakang, serta mengendus-endus di lehernya seperti biasa yang pria itu lakukan.
"Ada apa Kak? Kalau kau seperti ini pasti ada maunya," tanya Raisa.
"Memangnya kalau memeluk istri sendiri hanya karena ada maunya ya?" Diego bertanya balik.
"Ya tidak juga sih, tapi memang biasanya kau seperti itu Kak," imbuh Raisa.
"Aku hanya ingin memelukmu saja tanpa alasan apapun. Tapi sebenarnya aku memang ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Diego.
"Ada apa Kak?" Tanya Raisa.
"Saat ini 'kan kondisi hidup kita sudah kembali normal, kondisi Mama sudah semakin membaik, perusahaan juga sudah berjalan seperti biasa, jadi bagaimana kalau kita jalan-jalan ke luar negeri. Kita bawa Anak-Anak liburan, kasihan Denis dia sudah lama tidak merasakan liburan," ajak Diego.
Raisa melepaskan tangan kekar Diego yang melingkar di pinggangnya lalu membalikkan tubuh, hingga kini mereka berdua saling berhadapan.
__ADS_1
"Jalan-jalan ke mana Kak dan kenapa kita tidak ajak Mama dan Ayah juga?" Tanya Raisa.
"Sebenarnya ini adalah ide Mama. Kata Mama aku harus mengajak istri dan Anakku jalan-jalan, setelah menghadapi masalah-masalah yang terjadi selama ini pasti membuat kalian jenuh dan membutuhkan liburan. Menurutku ucapan Mama ini benar dan aku juga pernah berpikir hal itu sebelumnya, tapi aku belum mengatakannya padamu karena waktu itu masalah kita benar-benar belum beres. Dan aku juga sudah mengatakan hal ini kepada Ayah, tapi jawaban mereka sama saat aku mengajak untuk ikut. Mereka tidak mau ikut, katanya Mama dan Ayah hanya butuh istirahat saja di rumah, sudah tidak butuh jalan-jalan lagi. Melihat kita bahagia mereka juga akan merasakan bahagia," jawab Diego.
"Oh … seperti itu. Ya menurutku boleh-boleh saja sih Kak, tapi kita mau jalan-jalan ke mana?" Raisa mengulangi pertanyaannya.
"Terserah kau saja, barangkali ada suatu negara yang sangat ingin kau kunjungi dari dulu. Kemanapun kau ingin pergi aku pasti akan menurutinya," kata Diego.
"Kau yang mengajakku jalan-jalan tapi kenapa harus aku yang menentukan tempatnya Kak? Kau 'kan tahu sendiri bagaimana kehidupanku dulu, boro-boro punya keinginan untuk jalan-jalan ke luar negeri bisa makan sehari-hari saja aku sudah bersyukur Kak," ucap Raisa.
"Sayang jangan berkata seperti itulah, setiap orang itu berhak punya impian dan keinginan. Kita 'kan tidak tahu bagaimana kehidupan kita nanti, buktinya lihat kehidupanmu sekarang, kau ternyata memiliki Ayah yang kaya raya dan kau juga memiliki suami yang berkecukupan dan bisa membahagiakanmu. Jadi tidak ada salahnya jika sekarang kau menginginkan sesuatu dan aku akan mengabulkannya karena ingin membahagiakanmu," ucap Diego.
"Ya sudah kalau begitu aku ingin kau saja yang menentukannya Kak, kemanapun kau mengajakku aku pasti mau dan merasa sangat senang. Yang penting bersama denganmu dan juga Anak-Anak kita," ucap Raisa.
Digo tersenyum, lalu ia menyambar dan me lu mat bibir istrinya tersebut dengan sangat lembut.
Tok … tok … tok …
Hingga di saat itu pun terdengar suara ketukan pintu, sehingga Raisa langsung saja melepaskan ciu man tersebut dan meninggalkan Diego untuk membuka pintu.
"Oma mengajak Mama dan Papa untuk sarapan," jawab Denis.
"Oh iya Sayang, Mama baru selesai mandi. Kalau begitu ayo kita ke bawah sekarang," ajak Raisa.
"Siapa Sayang?" Terdengar suara teriakan Diego dari dalam kamar mandi.
"Kak Denis mengajak kita sarapan bersama, aku dan Anak-Anak turun duluan ya Kak, tidak apa-apa 'kan," ucap Raisa.
"Tidak apa-apa. Ya sudah kalian duluan saja ya, Papa mau mandi dulu," kata Diego.
"Tidak usah mandi Kak, gosok gigi dan cuci muka saja, nanti kau akan terlambat untuk sarapan bersama," ujar Raisa.
"Oke Sayang," jawab Diego.
Lalu Raisa pun menggendong Diesa serta menggandeng tangan Denis, membawa anak-anaknya menuju ke ruang makan.
*****
__ADS_1
Sementara itu untuk mengisi waktu luang dan hari libur sehingga Kelvin berada di rumah, Sastro pun mengajak anak laki-lakinya itu untuk mengunjungi kediaman Abimana dengan alasan seperti biasa karena merindukan anak, menantu beserta cucu-cucunya meskipun tadi malam mereka baru saja menghabiskan waktu bersama.
Lalu segera saja mereka pergi ke sana dan sebelumnya mampir dulu ke sebuah toko untuk membeli oleh-oleh. Sastro terlihat begitu semangat, bahkan sedari tadi senyuman di sudut bibirnya itu sama sekali tidak pernah lupus, yang membuat Kelvin merasa kebingungan.
"Ayah, Ayah kenapa? Sepertinya Ayah terlihat sangat senang?" Tanya Kelvin saat mereka sudah melanjutkan perjalanan sehabis membeli buah tangan.
"Memangnya kenapa Kelvin, apa Ayah tidak boleh merasa senang karena mau bertemu dengan Anak, menantu dan cucu Ayah sendiri," tukas Sastro.
"Bukan seperti itu Ayah, tapi tidak seperti biasanya saja. Atau jangan-jangan Ayah merasa senang karena mau bertemu dengan Tante Siska?" Tebak Kelvin asal.
"Kau ini bicara apa Kelvin, apa kau mengira Ayah ini sedang kasmaran? Ayah sudah tua, jadi Ayah bukan merasa senang karena hal itu. Kau ini ada-ada saja," imbuh Sastro yang lagi-lagi tersenyum.
_____
Setibanya di kediaman Abimana, di saat itu pun bertepatan dengan Siska, Raisa, Diego dan salah satu bodyguard yang akan mengantar mereka pergi ke suatu tempat.
"Ayah, kenapa Ayah tidak mengabari dulu kala mau datang ke sini," ujar Raisa sembari menyalami Ayahnya tersebut, lalu disusul oleh Diego.
"Iya Raisa, maaf jika Ayah menggangu kalian. Ayah memang sengaja tidak mengatakan kepada kalian hanya ingin memberi kejutan saja. Lagi pula ini 'kan hari libur Ayah tidak tahu jika kalian semua akan pergi," ujar Sastro.
"Sama sekali tidak mengganggu Tuan, sebenarnya kami hanya hendak pergi ke pemakaman saja sebentar," ucap Siska.
"Pemakaman siapa?" Tanya Sastro.
"Pemakaman suami dan Adik saya. Jika Tuan mau ikut bersama kami tidak masalah," jawab Siska.
"Ya sudah kalau memang boleh saya akan ikut," jawab Sastro.
_____
Kini mereka semua sudah berada di Tempat Pemakaman Umum, setelah menuju ke pemakaman ayah Diego terlebih dulu dan menaruh bunga di sana, kini Siska pun menuju ke pemakaman adiknya dan disusul oleh Diego, Raisa serta Sastro.
Saat melihat nama di batu nisan yang merupakan nama adik Siska itu, membuat Sastro benar-benar sangat terkejut karena nama itu sangat tidak asing baginya dan tertulis dengan nama lengkap yang tidak mungkin hanya kebetulan semata.
"Apa jangan-jangan … ?"
Bersambung …
__ADS_1