
Diego memukuli kepalanya sendiri dengan tangannya, merasa jika sikapnya tadi sangat bodoh. Padahal niatnya hanya ingin melindungi sang istri tapi ia malah kebablasan berbicara kasar terhadap istrinya, sehingga membuat Raisa pun tampak sedih dan segera saja pergi meninggalkan Diego masuk ke dalam kamar serta mengunci pintu kamarnya. Sedangkan Diego yang sedari tadi mengetuk pintu, sama sekali tak digubris dan di saat itu Diego hanya mendengar Raisa yang sedang menangis di dalam kamar.
Mendengar tangisan tersebut membuat Diego sangat menyesal dan semakin merasa bersalah karena telah membuat istrinya tersebut menangis. Tetapi ia juga hanyalah manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran.
"Diego, bagaimana? Apa Raisa belum mau membuka pintunya juga?" Tanya Siska yang sudah mengetahui masalah mereka, karena tadi kebetulan Siska juga berada di sana.
"Belum Ma. Raisa marah padaku, aku benar-benar sudah keterlaluan karena sudah membentak istriku sendiri dan membuatnya menangis. Aku tidak memikirkan bagaimana sensitifnya Raisa saat ini, bagaimana perasaannya yang sedang hamil. Maafkan aku Ma," ucap Diego yang memeluk ibunya tersebut sembari meneteskan air mata.
"Sudah Diego, kau yang sabar ya. Mama yakin kok ini hanya sesaat saja, Raisa hanya butuh waktu untuk menenangkan dirinya dan dia menangis hanya untuk meluapkan rasa emosinya. Lebih baik sekarang kau jangan mengganggu Raisa dulu ya," ucap Siska.
"Tapi Ma, aku tidak mau kalau Raisa marah padaku Ma," ucap Diego.
"Kalau kau terus saja mengganggunya, percayalah apa kata Mama itu malah akan membuat mood-nya semakin tidak baik. Ayo sekarang kau ikut Mama saja ke bawah, setengah jam kemudian, kau coba untuk membujuk Raisa lagi," ujar Siska.
"Tidak Ma, aku tidak mau. Aku akan tetap berada di sini sampai Raisa membuka pintu kamar untukku," ucap Diego.
"Ya sudah, semua terserah kau saja. Tapi Ingat pesan Mama, jangan memaksa kalau kau tidak mau Raisa semakin marah padamu," pesan Siska.
"Iya Ma," jawab Diego.
Lalu Siska pun pergi meninggalkan anaknya tersebut. Ia sendiri sebenarnya cukup kasihan melihat Diego dan sangat mengerti kenapa Diego bisa bersikap seperti itu, tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan menantunya yang saat ini dalam kondisi hamil dan sifatnya benar-benar sangat berbeda jauh dari Raisa sebelum mengandung. Siska juga sadar bahwa tidak baik terlalu ikut campur masalah rumah tangga anaknya meskipun ia tinggal bersama mereka, biarlah anak dan menantunya tersebut menyelesaikan masalah rumah tangga mereka sendiri.
Tok … tok … tok …
"Sayang, buka pintunya! Aku ingin bicara denganmu," panggil Diego sembari mengetuk pintu.
"Lebih baik kau pergi saja dari situ Kak, jangan terus menggangguku karena aku ingin sendiri!" Teriak Raisa.
__ADS_1
Kali ini sudah tak terdengar lagi suara tangis Raisa, tetapi ia juga tidak mau menemui suaminya tersebut. Rasanya begitu sakit saat tadi mendengar bentakan Diego untuk pertama kalinya.
_____
1 jam pun telah berlalu, meskipun Raisa belum juga membutuhkan pintu untuknya tetapi Diego tetap berada di luar kamar untuk menunggu istrinya keluar. Akan tetapi ia juga sudah tak lagi mengetuk pintu, berharap jika Raisa akan segera keluar dari kamar dan ia bisa menemuinya.
Sementara itu, Raisa sedari hanya terdiam di dalam kamar dan tiba-tiba saja ia menyadari kesalahan akan sifatnya tersebut. Bagaimanapun juga ia tahu jika apa yang dilakukan Diego adalah demi kebaikan dan kenapa Diego bisa sampai marah seperti itu tentunya karena sifatnya yang begitu keras kepala. Diego hanya tidak ingin ia kenapa-napa, suaminya itu hanya ingin melakukan yang terbaik untuk istri dan keluarganya, tetapi ia malah seperti menentangnya. Padahal jika terjadi sesuatu dengannya maka Diego jugalah yang akan susah.
"Aku benar-benar sudah keterlaluan, aku sudah berbuat kesalahan. Seharusnya aku berterima kasih dan mengerti kenapa Kak Diego bersikap seperti itu, tapi kenapa sekarang aku malah malah marah dan mendiami Kak Diego. Apa Kak Diego masih ada di depan? Aku harus minta maaf dengannya," gumam Raisa yang langsung saja beranjak dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju ke pintu kamar.
Krek …
Terdengar suara pintu kamar terbuka. Diego yang tampak terduduk bersandar di dinding itu pun langsung beranjak dan menghampiri istrinya tersebut.
"Sayang, Sayang akhirnya ku keluar juga. Aku minta maaf Sayang, aku benar-benar minta maaf karena ucapanku tadi telah menyakiti hatimu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku sendiri, aku minta maaf Sayang," ucap Diego yang langsung saja memeluk Raisa dengan erat.
"Sayang, aku minta maaf ya. Seharusnya aku belajar bersabar lagi menghadapimu yang saat ini sedang hamil, aku benar-benar minta maaf. Aku hanya terlalu takut terjadi sesuatu denganmu, aku-"
Ucapan Diego terhenti karena tiba-tiba saja Raisa mencium dan me lu mat bibirnya dengan sangat lembut, membuat Diego sontak terkejut tetapi merasa sangat senang. Diego pun langsung saja membalas ciu man tersebut, lalu keduanya masuk ke dalam kamar tanpa melepaskan pagutan dan menutup pintu dengan rapat.
Hingga kini keduanya telah tiba di atas tempat tidur dan melanjutkan ciu man tersebut hingga semakin lama kian memanas. Setelah beberapa menit keduanya melepaskan ciu man lalu saling menempelkan kening mereka masing-masing dengan nafas yang tampak memburu.
"Sayang, apa ini artinya kau sudah memaafkanku?" Tanya Diego.
"Iya Kak aku sudah memaafkanmu. Lagipula aku yang seharusnya minta maaf, aku sudah sangat keterlaluan karena membantah ucapanmu. Maafkan aku ya Kak," ucap Raisa.
"Iya Sayang, aku juga sudah memaafkanmu," jawab Diego.
__ADS_1
Lalu Diego pun mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir Raisa kembali, akan tetapi tiba-tiba saja …
"Mama, Papa, ups."
Terdengar suara Denis yang tiba-tiba saja datang dan langsung membuka pintu, sehingga membuat Raisa dan Diego sontak terkejut dan menjauh.
"Denis, ada apa? Lain kali kalau masuk kamar orang tua itu ketuk pintu dulu," ucap Diego yang terlihat kesal.
"Kak jangan marah-marah seperti itu, kasihan Denis," ucap Raisa.
"Maafkan aku Pa, Ma. Aku mau mengajak Papa dan Mama makan malam, Oma yang menyuruhku," ucap Denis.
"Iya Sayang, tidak apa-apa. Ya sudah ayo kita turun untuk makan malam," ajak Raisa.
_____
"Syukurlah, Mama senang karena Raisa sekarang sudah tidak marah lagi dengan Diego. Mama harap kau mengerti ya jika apa yang Diego lakukan, itu semua demi kebaikan kita," ucap Siska di sela-sela makan malam mereka.
"Iya Ma, maafkan aku ya Ma. Aku sadar kalau aku terlalu egois," ucap Raisa.
Prang …
Tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca yang membuat Diego, Raisa, Siska dan Denis merasa terkejut dan segera saja berlari keluar rumah untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Di saat itu terlihat satpam sedang mengejar seseorang yang tadi telah melemparkan botol kaca ke depan teras kediaman Abimana, tetapi sayangnya orang itu sudah pergi menjauh tak tahu entah ke mana. Sedangkan Diego langsung saja memungut sebuah kertas di antara pecahan botol kaca tersebut yang ternyata isinya adalah sesuatu yang sangat mengejutkan.
Bersambung …
__ADS_1