
Melihat Sastro yang begitu panik karena anaknya pingsan dan langsung membawanya masuk ke dalam rumah dengan dibantu oleh satpam, karena saat ini kondisi Raisa yang sedang hamil tentunya takut terjadi sesuatu jika Sastro membawanya sendiri, Erros pun segera saja pergi meninggalkan kediaman Wijaya dengan perasaan yang begitu bahagia. Karena kondisi saat ini membuat Sastro pun tak memperdulikan Erros yang di saat itu sudah masuk ke dalam mobil dan langsung saja Karen melaju pergi sampai sudah tak terlihat dari pandangan mata. Sedangkan Sastro langsung membawa Raisa ke kamarnya serta membaringkannya di atas tempat tidur.
"Raisa, bangun Nak," ucap Sastro.
Di saat itu pun pelayan di rumah Sastro yang bernama Bi Rahmi itu membawakan minyak angin, berusaha untuk membangunkan Raisa.
"Tuan, Tuan jangan panik ya. Saya akan berusaha untuk membangunkan Nona Raisa," ucap Bi Rahmi yang langsung saja menempelkan minyak angin pada hidung Raisa.
Sementara Sastro langsung menghubungi dokter dan juga Diego untuk memberitahu kondisi Raisa saat ini.
Beberapa menit kemudian Raisa pun telah sadar, membuat Sastro maupun Bi Rahmi merasa lega. Sambil menunggu dokter tiba, Bi Rahmi juga mengompres luka memar pada wajah Raisa yang terkena pukulan Erros.
"Raisa, bagaimana keadaanmu Nak? Kau ini kenapa begitu nekat melindungi Ayah sampai kau yang celaka seperti ini," kata Sastro yang terlihat begitu cemas.
"Ayah, aku tidak apa-apa Ayah. Ayah juga baik-baik saja 'kan?" Raisa bertanya balik.
"Kau ini, kau yang terkena pukulan malah kau bertanya kepada Ayah. Raisa, Ayah ingatkan padamu bahwa Erros itu bukan tandinganmu. Ayah mohon lain kali jangan bersikap gegabah seperti itu lagi ya," pesan Sastro.
"Aku minta maaf ya Yah sudah membuat Ayah khawatir, aku hanya tidak ingin melihat Ayah terluka apalagi di depan mataku sendiri. Sekarang di mana Om Erros Ayah, aku ingin berbicara dengannya," kata Raisa.
"Untuk apa aku berbicara dengan pria ba ji ngan itu? Setelah membuatmu pingsan dia langsung pergi begitu saja, dia sama sekali tidak peduli, sama sekali tidak punya rasa empati. Bahkan binatang saja mempunyai rasa kasihan terhadap sesamanya, Ayah tidak tahu harus menyebutnya dengan kata apa untuk menggambarkan sikapnya itu," kata Eros yang terlihat begitu murka.
"Ayah, sabar Ayah. Om Erros seperti itu karena ada alasannya," ucap Raisa.
"Sudahlah Raisa, kau tidak perlu membelanya. Kau jangan menjadi orang yang terlalu baik, kau boleh baik tapi lihat dulu dengan siapa aku berbuat baik, pantas atau tidak orang tersebut menerima kebaikanmu. Erros itu benar-benar manusia paling kejam di dunia, selama ini Ayah sudah sangat sabar menghadapinya, Ayah selalu menerima apapun yang dia lakukan, Ayah selalu menghadapinya. Tetapi kalau sudah berhubungan dengan Anak Ayah, berhubungan dengan keluarga Ayah yang disakiti, Ayah tidak akan tinggal diam. Sepertinya pria bang sat itu benar-benar ingin mengajak Ayah berperang, oke mulai sekarang akan Ayah hadapi," kata Sastro yang menatap serius, membuat Raisa menjadi khawatir.
"Ayah, aku mohon Ayah stop. Sudahlah jangan bertengkar lagi dengan Om Erros. Justru aku ingin Ayah dan Om Erros itu bisa berbaikan, kalian berdua bisa bersahabat lagi seperti dulu," ucap Raisa.
"Sudah puluhan tahun lamanya Raisa, Ayah sudah mengalah, Ayah sudah menjelaskan padanya tentang kesalahpahaman ini tapi Erros sama sekali tidak mau mendengarkan Ayah. Dia tetap menganggap Ayah adalah musuhnya dan dia pernah berkata kalau selamanya tidak akan pernah mau berbaikan dengan Ayah, dia sangat ingin melihat hidup Ayah menderita baru dia akan merasa bahagia dan puas," ujar Sastro.
__ADS_1
"Om Erros itu juga manusia biasa Ayah, aku yakin kok suatu saat nanti pasti hati om Erros akan melunak. Dia pasti akan sadar jika Ayah adalah sahabatnya yang paling terbaik dan permusuhan di antara kalian ini sama sekali tidak ada gunanya," ujar Raisa dengan sangat yakin.
Sastro hanya diam saja seraya memandangi wajah anaknya tersebut. Jauh dari dalam lubuk hati Sastro yang paling dalam, tak bisa dipungkiri jika ia juga sangat menyayangkan kisah persahabatannya dengan Erros yang harus kandas hanya karena sebuah kesalahpahaman. Akan tetapi ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk membuat Erros paham jika kondisinya tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Sayang, Sayang, kau baik-baik saja 'kan Sayang?" Tanya Diego yang tiba-tiba saja muncul.
Ya setelah tiba di kediaman Wijaya, Diego langsung saja masuk ke dalam kamar istrinya tersebut.
"Kak Diego, kenapa Kakak bisa ada di sini?" Raisa malah bertanya balik.
"Kau masih bertanya? Sudah jelas karena aku mengkhawatirkanmu. Ya ampun Sayang, pipimu sampai memar seperti itu. Pasti ini rasanya sakit ya," ucap Diego yang memegang pipi istrinya.
"Akh, jangan disentuh Kak. Hanya sedikit perih," rintih Raisa.
"Maaf aku telah menyakitimu Sayang," ucap Diego.
"Saya permisi dulu Tuan Diego, Tuan Sastro, Nona Raisa. semoga Nona Raisa cepat sembuh ya," ucap Bi Rahmi karena telah selesai mengompres luka pada wajah Raisa.
"Terima kasih ya Bi Rahmi," ucap Raisa pula.
"Sama-sama Tuan, Nona," ucap Bibi dan segera saja pergi meninggalkan kamar nonanya tersebut.
"Sayang, aku benar-benar marah padamu. Sudah aku katakan jangan keluar rumah tapi kau malah pergi sendirian dan sekarang lihat akibatnya kau jadi seperti ini 'kan," omel Diego karena merasa sangat khawatir.
Aku minta maaf ya Sayang, tapi dalam perjalanan menuju ke sini aku baik-baik saja kok, tidak ada sesuatu yang mengancam nyawaku atau apa. Tapi ini tadi hanya tidak sengaja karena Om Erros mau memukul Ayah," kata Raisa.
"Tapi kalau kau tidak keluar rumah, kalau kau tidak nekat ke sini, semua ini tidak akan terjadi," ujar Diego.
"Tapi Ayah Kak yang akan terkena pukulan Om Erros, apa kau tidak kasihan terhadap Ayah," tukas Raisa yang membuat Diego pun terdiam.
__ADS_1
"Sudah Diego, Raisa, kalian tidak perlu bertengkar. Ayah minta maaf, ini semua memang salah Ayah, karena Ayah bertengkar dengan Erros yang menyebabkan Raisa menjadi seperti sekarang ini," kata Sastro.
"Maaf Ayah, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menyalahkan Ayah," ucap Diego.
"Kau tidak perlu minta maaf, kau tidak salah Diego," ucap Sastro.
"Sayang, lain kali apapun alasannya kau tidak boleh seperti ini lagi. Kau harus izin padaku jika kau ingin pergi, kalau aku katakan tidak ya tidak," tegas Diego.
"Maafkan aku ya Kak, aku hanya merasa khawatir terhadap Ayah. Ayah kenapa dari tadi malam tidak bisa dihubungi?" Tanya Raisa yang kini beralih memandang ayahnya.
"Ayah minta maaf Raisa, Ayah juga tidak tahu kenapa ponsel Ayah tiba-tiba eror. Tadi pagi baru bisa Ayah gunakan kembali, tapi saat Ayah mau menghubungimu malah Eros datang. Maka itu Ayah belum sempat untuk memberi kabar padamu," ucap Sastro.
"Ya sudah Ayah, syukurlah ternyata Ayah baik-baik saja," ucap Raisa.
Di saat itu pun terlihat dokter yang dihubungi oleh Sastro telah tiba dan segera saja dokter menangani luka memar pada wajah Raisa.
_____
"Sebenarnya tidak ada yang serius Tuan, ini hanya luka memar biasa saja. Setelah diberi obat oles untuk rasa nyeri dan juga selalu dikompres, nanti lukanya juga akan hilang. Kondisi kandungannya juga baik-baik saja," ucap dokter setelah selesai memeriksa Raisa.
"Terima kasih banyak Dokter," ucap Diego, disusul oleh Sastro dan Raisa mengucap hal yang sama.
Setelah itu dokter pun segera saja pergi dari kediaman Wijaya.
"Untuk apa Erros pagi-pagi sudah datang ke sini Ayah? Apa dia mencari gara-gara lagi?" Tanya Diego dan kali ini mereka berbicara di depan Raisa.
"Iya, kau benar Diego. Sampai saat ini Erros masih tidak terima dengan masa lalu kami dan apa kau tahu dia menuduh Ayah telah menyembunyikan Camelia, padahal Ayah sendiri tidak tahu di mana keberadaan wanita itu. Ayah heran kenapa dia harus mencari wanita itu, padahal dia sendiri memiliki anak dan istri, istri yang sudah dia campakkan. Kenapa dia tidak mencari istrinya itu saja, meminta maaf atau mencari keberadaan anaknya. Tadi yang Ayah dengar dia juga mengatakan kalau dia sempat iri karena Ayah sudah bisa bertemu dengan Anak Ayah dan tidak akan pernah membiarkan kebahagiaan itu berlangsung lama, lalu kenapa dia tidak mencari anaknya sendiri? Kenapa dia harus melakukan kejahatan?" Ucap Sastro yang tak habis pikir.
"Ayah, Kak Diego, kalau memang seperti itu bagaimana kalau kita mencari anak kandung Om Erros saja?" Usul Raisa yang membuat Diego dan Sastro tersentak dan langsung melihat ke arah wanita tersebut.
__ADS_1
Bersambung …