
Kini kedua orang itu pun menghampiri Raisa dan sudah berdiri di hadapannya, sedangkan Mang Jojo masih tampak sibuk memeriksa ban mobil.
"Ayah, Kak Aron, kenapa kalian berdua bisa ada di sini?" Tanya Raisa yang masih tak mempercayainya.
"Raisa, kau benar-benar Raisa. Ayah pikir tadi bukan kau, ternyata Aron benar," kata Sastro.
"Iya Tuan, saya melihat sekilas seperti Nyonya Raisa. Untuk itu saya memutuskan untuk turun, selain itu jalan kita juga terhalang," ucap Aron.
"Ayah," ucap Raisa yang langsung saja menghamburkan pelukannya pada tubuh sang ayah.
Walaupun sejenak tetapi sudah membuatnya merasa lebih tenang. Sastro juga membalas pelukan tersebut serta mengusap-usap punggung anaknya dengan lembut.
"Ayah, kenapa Ayah bisa ada di sini? Kak Aron juga. Ada apa dan siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?" Raisa menimpali dengan beberapa pertanyaan.
"Jadi begini Nyonya, saya diminta Tuan Diego untuk datang ke sini karena katanya di sini susah tidak ada kendaraan kalau mau bolak-balik dari desa menuju ke kota. Lagi pula di rumah juga saya 'kan tidak ada pekerjaan, Tuan rumah semuanya ada di sini, hanya menjaga keamanan rumah saja sudah ada Jason dan Ramzi. Jadi saya diperintahkan Tuan Diego untuk menjaga Nyonya Raisa dan ternyata kebetulan Tuan Sastro juga sangat ingin pergi ke Bandung, kadi kami sama-sama datang ke sini," terang Aron.
"Iya Raisa, tadi malam Ayah bertanya kepada Diego di mana alamat rumahnya di Bandung, lalu Diego meminta Ayah untuk pergi bersama Aron. Tadinya Ayah dan Aron mau langsung ke rumah sakit, tapi karena tidak tahu di mana alamat rumah sakitnya dan Diego juga tidak menjawab telepon Ayah, akhirnya kami memutuskan untuk ke sini dulu. Lagi pula Ayah juga sudah sangat merindukanmu dan cucu-cucu Ayah," sambung Sastro.
"Ya ampun Ayah, Kak Aron, terima kasih ya. Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot datang ke sini," ucap Raisa.
"Lalu mau bagaimana lagi, kita berdua sudah sampai di sini 'kan. Lalu kenapa kau ada di sini Sayang?" Tanya Sastro.
"Oh ini Yah, aku baru saja mau ke rumah sakit. Perasaanku tidak tenang karena Kak Diego belum memberikan kabar lagi setelah Mama sadar, jadi aku mau diantar oleh Mang Jojo suami Teh Rasmi yang aku ceritakan pada Ayah selalu membantu Mama di sini dan sekarang mereka juga pembantu aku dan Kak Diego. Tapi tiba-tiba saja bannya mengalami masalah," terang Raisa.
"Kalau begitu saya akan coba untuk melihatnya Nyonya, siapa tahu saya bisa membantu," ucap Aron yang langsung saja mendekati Mang Jojo.
Di saat itu Mang Jojo baru sadar dan merasa kebingungan melihat kedatangan Sastro dan Aron.
"Mang Jojo, perkenalkan ini Ayahku dan ini Kak Aron Bodyguard Kak Diego. Ayah, Kak Aron, ini Mang Jojo," ucap Raisa yang memperkenalkan mereka.
Sehingga mereka pun saling berjabat tangan dan berkenalan.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu Mang Jojo?" Tanya Aron.
"Sepertinya saya belum bisa mengantar Teh Raisa ke kota karena ban mobilnya kempes, padahal sebelum pergi saya sudah memeriksanya dan semua baik-baik saja. Sekarang saya harus menelpon orang bengkel dulu dan meminta bantuan karena saya tidak memiliki ban serep," ucap Mang Jojo.
"Tidak masalah Mang Jojo, biar saya saja yang mengantar Nyonya Raisa ke rumah sakit. Kebetulan kami juga sudah ada di sini," kata Aron.
"Benar seperti itu?" Tanya Mang Jojo.
"Iya benar Mang Jojo. Mang Jojo aku minta maaf ya sudah merepotkan dan sekarang aku harus meninggalkan Mang Jojo di sini. Aku benar-benar buru-buru harus ke rumah sakit sekarang, apalagi Anak-Anak ditinggal di rumah bersama Teh Rasmi. Kasihan Teh Rasmi kalau saya meninggalkan mereka terlalu lama," ucap Raisa.
"Tidak apa-apa Teh, syukurlah kalau Teh Raisa ada yang mengantar. Nanti saya akan mampir ke rumah untuk membantu istri saya menjaga Anak-Anak Teteh dan Tuan Diego. Tenang saja, semua akan baik-baik saja," ucap Mang Jojo.
"Terima kasih banyak ya Mang Jono, kalian berdua benar-benar sudah sangat baik dan banyak membantuku dan juga keluargaku," ucap Raisa yang merasa sangat terharu.
"Sama-sama Teh, sudah seharusnya kita saling menolong. Ya sudah hati-hati ya Teh Raisa, Tuan Sastro dan Akang Aron," ucap Mang Jojo.
"Terima kasih banyak ya Mang sudah mengantar Anak saya sampai di sini. Kami permisi dulu," pamit Sastro, lalu mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil dan langsung saja pergi menuju ke rumah sakit di kota.
Sedangkan Mang Jojo langsung menelpon orang bengkel dan meminta untuk membantunya di sana.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama 1 jam di perjalanan, kini mereka telah tiba di rumah sakit. Dan setelah menanyakan kepada Suster yang berjaga di mana ruang rawat inap Siska, mereka bertiga pun langsung saja menuju ke ruangan tersebut.
Kini mereka pun telah berada di depan ruang rawat inap Siska, langsung saja Raisa membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Betapa terkejutnya Diego melihat kedatangan istri, ayah mertua dan juga Bodyguard yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.
"Sayang," ucap Diego yang langsung saja memeluk tubuh istrinya tersebut, menumpahkan kegundahan hatinya pada tempat yang membuatnya nyaman.
"Bagaimana keadaan Mama Kak?" Tanya Raisa seraya melerai pelukan mereka.
"Sayang, Ayah, Aron, kalian ada di sini?" Tanya Diego.
"Iya Kak, tadi aku mau ke sini diantar Mang Jojo, tapi ban mobilnya tiba-tiba bermasalah. Untung Ayah dan Kak Aron sampai di waktu yang tepat, jadi mereka yang mengantarku ke sini. Kenapa Kakak tidak mengabariku Kak, aku khawatir dan tidak bisa tenang di rumah," kata Raisa.
__ADS_1
"Sayang, lebih baik kita berbicara di luar saja ya. Mama sedang istirahat, baru saja," kata Digo.
Lalu Raisa pun melihat mertuanya itu sebentar dan benar saja jika Siska tampak sedang tertidur pulas. Sehingga Sastro dan Aron tetap berada di dalam untuk menjaga Siska, sedangkan Raisa dan Diego keluar dari ruangan tersebut.
"Aku benar-benar minta maaf Sayang, aku sedang pusing dengan keadaan Mama sekarang. Aku sampai lupa untuk menghubungimu lagi, maafkan aku ya," ucap Diego sembari menggenggam tangan kanan istrinya dan Raisa pun membalas genggaman tersebut dengan tangan kirinya, seolah memberi kekuatan untuk suaminya.
"Kakak yang sabar ya. Aku tahu apa yang terjadi Kak dan aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini, aku juga merasa sangat khawatir, maka itu aku nekat datang ke sini untuk melihat keadaanmu dan Mama," ucap Raisa.
"Ya aku juga mengerti rasa kekhawatiranmu," ucap Diego.
Diego pun menceritakan bagaimana kondisi Siska saat ini, serta saran dokter dan Siska yang menolak untuk dioperasi. Membuat Diego benar-benar merasa sangat cemas dan tidak tahu harus melakukan apa.
Lalu Raisa mengajak suaminya itu masuk ke dalam ruang rawat inap tetapi mereka duduk di sofa yang jaraknya sedikit jauh dari tempat tidur, sehingga tidak mengganggu Siska yang sedang beristirahat.
"Aku tahu Kak bagaimana perasaanmu saat ini karena aku juga merasakannya, aku mengkhawatirkan Mama tapi aku juga mengkhawatirkanmu Sayang. Pasti kau belum makan 'kan dari kemarin, aku membawa makanan jadi kau harus makan ya sekarang," kata Raisa.
Diego menggelengkan kepalanya, "Aku sama sekali tidak berselera makan Sayang."
"Kak, lihatlah kau baru 2 hari berada di rumah sakit tapi pipimu sudah tirus seperti itu. Kau sama sekali tidak bisa menjaga dirimu dengan baik, kau mengatakan jika kau baik-baik saja di sini, ada temannya dan kau bisa istirahat dengan baik. Tapi nyatanya apa? Aku hanya melihatmu di sini sendiri, tidak ada bekas makanan sedikit pun, kau bohong Kak," tukas Raisa.
"Maaf, aku hanya tidak ingin kau merasa khawatir Sayang. Oh iya bagaimana kabar Anak-Anak? Apa mereka akan baik-baik saja ditinggal dengan Teh Rasmi? Lebih baik kau pulang saja menjaga mereka," ucap Diego.
"Kau tenang saja Kak, semua akan baik-baik saja. Aku hanya datang ke sini sebentar, paling lama hanya satu jam saja lalu aku akan meminta ke Aron untuk mengantarku pulang. Bagaimana pun juga aku khawatir dengan Diesa kalau ditinggal lama-lama karena dia masih bayi. Tapi Denis sudah besar, dia pasti pintar untuk menjaga Adiknya. Lagi pula aku juga sudah menitip segala keperluan Diesa termasuk susunya, mudah-mudahan saja Diesa tidak rewel dan mengerti kondisi saat ini. Sekarang yang aku khawatirkan adalah suamiku, ayah dari Anak-Anakku. Aku ingin kau makan ya, aku datang ke sini untuk menemanimu walaupun sebentar. Bagaimana aku bisa tenang jika meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini Kak," ucap Raisa.
Raisa membuka makanan yang dibawanya tadi, lalu menyendokkan makanan tersebut dan menyodorkannya ke mulut Diego.
"Ayo Kak buka mulutmu, kau harus makan meskipun hanya sedikit. Jangan sampai kau juga ikut sakit," ucap Raisa dengan tatapan sendu.
Sehingga Digo pun membuka mulutnya dan memakan makanan dari suapan istrinya tersebut. Meskipun menurutnya masakan Raisa adalah masakan yang sangat enak selain masakan ibunya, tetapi tetap saja sangat sulit untuk menelannya saat ini. Diego terlihat sangat sedih bahkan matanya pun berkaca-kaca, sehingga di saat itu Raisa meletakkan makanan di atas meja lalu ia pun memeluk tubuh suaminya itu.
"Kak kau sabar ya, semoga saja benar-benar ada keajaiban untuk kesembuhan Mama," ucap Raisa yang juga tak bisa untuk menyembunyikan rasa kesedihannya hingga air matanya pun menetes.
__ADS_1
Melihat suaminya yang begitu rapuh membuat Raisa merasakan kesedihannya bertambah. Selain merasa khawatir dengan kondisi ibu mertuanya, ia juga sangat tidak tega melihat kondisi suaminya. Diego yang terkenal sangat berani, tidak takut apapun, tetapi jika sudah menyangkut keluarganya pasti ia akan menjadi cengeng dan lemah seperti saat ini.
Bersambung …