
Sastro dan Diego menatap Raisa dengan tatapan yang sulit diartikan, sehingga membuat Raisa pun merasa kebingungan. Ia juga tak tahu kenapa suami dan ayahnya seperti keheranan melihatnya.
"Ada apa? Kenapa Ayah dan Kak Diego menatapku seperti itu?" Tanya Raisa mengernyitkan dahinya.
"Kau masih bertanya kenapa? Sayang, kau ini sadar tidak sih apa yang kau ucapkan tadi. Kau mengatakan ingin mencari keberadaan anaknya Erros, memangnya kita mau mencari kemana? Lalu kita harus mendapatkan informasi itu dari mana? Jangan mengada-ngada Sayang," tukas Digo.
"Kak Diego, aku tidak mengada-ngada. Jika niat kita baik pasti Om Erros akan mau kok menerima bantuan kita. Kita bisa tanyakan langsung dengan Om Erros atau kita bisa menanyakan kepada asistennya atau juga kita bisa mencari informasinya saja dari manapun, yang penting kita berniat ingin mencari anaknya om Erros. Siapa tahu jika bertemu dengan anaknya akan membuat sikap Om Erros akan berubah," kata Raisa yang terdengar masuk akal, tetapi tetap saja Diego dan Sastro tidak menyetujuinya.
"Raisa, Ayah tidak setuju dengan pendapatmu itu. Sudahlah jangan berpikir macam-macam, apalagi berpikir untuk membantu Erros mencari anaknya. Erros sendiri saja tidak pernah mau mencari di mana keberadaan anaknya, jadi kenapa juga harus kita yang repot," kata Sastro.
"Aku setuju dengan Ayah. Sudahlah Sayang, lebih baik sekarang kau istirahat saja di sini, pikirkan kondisi kesehatanmu dan Anak kita. Aku akan kembali ke kantor lagi, tapi nanti sore aku akan menjemputmu dan kita pulang ke rumah sama-sama ya," kata Diego.
"Ya sudah terserah kau saja kalau memang seperti itu. Pendapatku memang selalu tidak pernah didengar oleh Ayah maupun Kak Diego," ucap Raisa yang memasang wajah cemberut.
Sedangkan Diego dan Sastro hanya diam saja, mencoba untuk bersikap sabar dan juga mengerti dengan kondisi Raisa saat ini.
"Sudah ya Sayang, kau jangan berfikir yang bukan-bukan lagi, yang tidak masuk akal seperti itu. Aku pergi ke kantor dulu karena sebentar lagi aku ada meeting," ucap Diego.
"Hm, hati-hati," ucap Raisa singkat tetapi tetap menyalami tangan suaminya tersebut.
"Iya Sayang. Kau tidak perlu mengantarku, kau istirahat saja di sini," ucap Diego, lalu segera saja ia keluar dari kamar istrinya dan diantar oleh Sastro sampai keluar rumah.
_____
"Terima kasih Ayah, seharusnya Ayah tidak perlu mengantarku sampai di sini," ucap Diego.
"Tidak apa-apa. Oh ya Diego kau tidak perlu khawatir, Ayah pasti akan menjaga Raisa di sini. Dia pasti akan aman bersama Ayah di rumah dan Ayah pastikan jika Raisa tidak akan Ayah izinkan untuk keluar rumah apapun alasannya," ucap Sastro.
"Iya Ayah, terima kasih banyak. Aku lega jika Raisa bersama ayah. Aku juga tidak akan lama berada di perusahaan, setelah meeting dan pekerjaanku selesai, tidak sampai sore aku akan kembali ke sini untuk menjemput Raisa," ucap Diego.
"Ya sudah kau hati-hati. Bekerja saja dengan tenang, jika ada apa-apa Ayah pasti akan mengabarimu langsung," ucap Sastro.
"Iya Ayah," jawab Diego sembari menyalami tangan mertuanya tersebut.
__ADS_1
Lalu Diego masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman Wijaya menuju ke perusahaan.
*****
"Sastro … Sastro, pasti saat ini kau sangat khawatir dan cemas dengan kondisi Anakmu. Aku sangat senang sekali melihatnya, aku sangat yakin jika pukulanku tadi sangat keras sampai Anakmu jatuh pingsan seperti itu. Aku hanya berharap kau tahu bahwa aku tidak pernah bermain-main dengan ancamanku, bahkan menyakiti Anakmu saja bisa aku lakukan langsung di depan matamu. Meskipun tanpa sengaja tapi itu bisa menjadi sebuah peringatan untukmu," gumam Erros yang sedang berada di ruang kerja pada kediamannya.
Erros merasa sangat puas dengan apa yang yang terjadi tadi pagi saat berada di kediaman sahabat lamanya itu, memang itulah tujuannya untuk menyakiti keluarga Sastro. Belum sempat untuk melakukan rencana selanjutnya, malah tidak sengaja ia sudah menyakiti Raisa terlebih dulu.
Tok … tok … tok …
Tiba-tiba Karen mengetuk pintu ruangan tersebut dan langsung saja masuk menghadap Erros.
"Ada apa Karen?" Tanya Erros.
"Lapor Tuan. Saya sudah mendapatkan kabar jika keadaan Anak Tuan Sastro baik-baik saja. Bahkan saat ini suaminya sedang menjemput dan akan membawanya pulang ke rumah. Informasi itu saya dapatkan dari mata-mata yang saat ini sedang mengawasi kediaman Wijaya," ucap Karen.
"Brengsek! Wanita itu seperti mempunyai 9 nyawa. Kemarin aku dengar dia sudah sempat terhempas dan terjatuh di jalanan karena para jambret yang aku perintahkan berhasil mendorongnya, tetapi dia masih selamat dan sekarang dia juga masih selamat padahal sudah terjatuh seperti itu. Sebenarnya apa yang membuatnya begitu kuat? Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari cara agar wanita itu celaka," ucap Erros dengan tatapan tajam.
Baru saja tadi ia merasa senang, kini sudah dibuat murka setelah mendengar kabar tersebut.
"Hm," jawab Erros singkat sembari memberi gestur agar asistennya itu keluar dari ruangannya.
Sehingga segera saja Karen pergi meninggalkan tuannya tersebut.
*****
Seperti apa yang Karen katakan kepada Erros tadi bahwa Diego yang sudah selesai dengan pekerjaannya di kantor langsung saja menuju ke kediaman Sastro untuk menjemput istrinya dan saat ini mereka sedang di perjalanan menuju pulang ke rumah.
"Sayang, aku mau mampir ke supermarket dulu boleh tidak? Aku ingin membeli buah-buahan," kata Raisa.
"Tentu saja boleh. Apalagi buah-buahan itu 'kan sangat bagus untuk kau dan juga Anak kita di dalam perut," jawab Diego.
"Ya sudah Kak kalau begitu kita mampir di supermarket yang berada di jalan X saja ya Kak," kata Raisa.
__ADS_1
"Iya Sayang. Buah-buahan di supermarket itu juga lengkap, jadi kau bisa memilih buah-buahan yang kau inginkan. Buah-buahannya segar dan ada buah-buahan impor juga," kata Diego.
"Iya Kak kau benar," jawab Raisa menyetujuinya.
_____
Tidak lama kemudian kini mereka pun telah tiba di supermarket yang yang dimaksud oleh Raisa tadi.
Di saat Raisa dan Diego baru saja turun dari mobil, di saat itu pula terlihat seorang wanita yang sedang dikejar-kejar oleh seorang pria dan berteriak meminta untuk dilepaskan saat pria tersebut berhasil menarik tangannya.
"Lepaskan … lepaskan aku … ! Aku tidak mau. Tolong jangan ganggu aku lagi, aku tidak mau lagi berhubungan dengan pria ba ji ngan sepertimu. Lepaskan!" Teriak wanita itu sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Kak, kasihan sekali wanita itu. Kita harus menolongnya," ucap Raisa yang merasa sangat tidak tega melihat seorang wanita disakiti oleh seorang pria.
Sama halnya dengan Diego, sebenarnya ia juga sangat tidak tega dan ingin menolongnya, tetapi melihat kondisi istrinya saat ini ia malah takut jika nanti terjadi sesuatu dengan istrinya tersebut.
"Jangan ikut campur dengan masalah orang lain Sayang. Mungkin mereka itu suami istri yang sedang mempunyai masalah, biarkan saja mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," ujar Diego.
"Kak kenapa kau begitu tega, wanita itu sedang disakiti Kak. Lihat yang lainnya pun hanya diam saja. Seharusnya kita mencegah perkelahian itu Kak," kata Raisa.
"Oke, oke aku akan membantunya. Tapi kau tidak boleh terlalu mendekat, kau hanya boleh melihatnya dari jarak jauh, atau bila perlu kau tetap berada di mobil," ucap Diego.
Raisa hanya mengangguk menyetujuinya, lalu segera saja Diego mendekati pasangan yang sedang berkelahi itu.
Bugh!
"Brengsek! beraninya hanya dengan wanita, jika mau berkelahi dan bersikap kasar cari yang seimbang. Aku paling benci melihat pria yang begitu kasar terhadap wanita," kata Diego yang memukul pria tersebut.
"Bang sat! Siapa kau, berani sekali kau ikut campur," kata pria tersebut. yang terlihat begitu murka.
Akan tetapi karena pukulan Diego, telah membuat tangan wanita yang tadi dicengkeramnya pun berhasil terlepas dan ia tampak menjauhi keduanya. Sehingga Raisa mengambil kesempatan untuk mendekati wanita tersebut.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Tanya Raisa yang melihat wanita itu tampak menangis ketakutan, lalu menoleh ke arah Raisa.
__ADS_1
"Nada?" Ucap Raisa yang sangat terkejut karena mengenali wanita itu.
Bersambung …