
Hatinya mendadak tidak tenang setelah melihat kabar tersebut, Raisa juga berulang kali mencoba untuk menghubungi Diego tetapi sama sekali tak ada jawabannya. Saat ini Siska juga terlihat begitu panik meskipun ia dan Maira sudah mencoba untuk menenangkannya.
"Mama tenang dulu dulu ya Ma, aku mohon Mama bersabar menunggu kabar dari Kak Diego. Jangan berpikiran yang macam-macam, pikirkan kesehatan Mama juga. Aku akan pergi sebentar ke perusahaan untuk memastikan apa yang terjadi," ucap Raisa.
"Jangan Raisa, Mama takut keadaan di sana sedang gawat. Mama tidak mau kau kenapa-napa," sergah Siska.
"Tenang saja Ma akau tidak pergi sendirian, aku akan ke sana dengan Kak Aron dan Kak Jason supaya mereka bisa melindungiku dan membantu Kak Diego di sana. Mama juga mau mendapatkan kabar Kak Diego secepatnya 'kan supaya Mama lebih tenang. Aku akan baik-baik saja Ma," ucap Raisa yang meyakinkan ibu mertuanya itu.
"Ya sudah kalau begitu. Tapi kau hati-hati ya Sayang, kabari Mama segera," ucap Siska.
"Iya Ma, yang penting Mama tetap tenang di sini," jawab Raisa. "Sus, aku titip Mama ya. Jaga Mama baik-baik dan kalau ada apa-apa kabari aku," ucap Raisa.
"Iya Nyonya, nyonya hati-hati," jawab Maira.
Raisa juga menitipkan sang bayi kepada Suster Ayumi dan berpesan kepada Ramzi untuk tepat waktu menjemput Denis pulang sekolah. Setelah itu baru lah ia pergi ke perusahaan Diego bersama dengan dua bodyguard-nya.
*****
Setibanya di Perusahaan Abimana Group, keadaan di sana masih terlihat ramai para wartawan dan ada juga yang berbuat rusuh. Akan tetapi ada beberapa orang suruhan Diego untuk menanganinya, juga para pegawai yang ikut serta. Raisa yang dilindungi oleh Aron langsung saja turun dari mobil dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan, sedangkan Jason ikut membantu yang lainnya untuk mengusir para wartawan.
Pada akhirnya Raisa berhasil masuk ke dalam perusahaan dengan menerobos kerumunan banyak orang, lalu ia pun segera saja menuju ke Ruang Presdir, tempat di mana suaminya berada.
"Kak Diego," panggil Raisa, membuat Diego yang di saat itu sedang tertunduk sembari memijat-mijat pelipisnya karena merasa sangat stres itupun mendongakkan kepalanya menatap sang istri.
"Sayang," ucap Diego yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Raisa, lalu menghamburkan pelukan ke dalam dekapan sang istri.
Raisa juga membalas pelukan itu dengan sangat erat seraya menepuk-nepuk pelan punggung suaminya tersebut, untuk memberikan ketenangan.
"Kak yang sabar ya. Apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang melakukan hal ini?" Tanya Raisa.
Lalu keduanya melerai pelukan dan Diego membawa istrinya itu untuk duduk di sofa.
"Aku tidak tahu Sayang kenapa semuanya bisa jadi seperti ini, siapa yang telah melakukannya aku juga tidak tahu. Tapi aku yakin ini pasti orang yang sama, orang yang kemarin sudah tampak diam tapi sekarang berulah lagi," jawab Diego.
"Lalu apa kau sudah mencari tahu Kak?" Tanya Raisa lagi.
__ADS_1
"Ken sedang mencoba mencari tahu sekarang, aku juga sudah menelpon Ayah dan juga beberapa detektif untuk mencari tahu soal ini segera. Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, aku harus bertindak tegas," ucap Diego.
"Tapi kau tetap disini saja ya Kak, tunggu saja kabar dari mereka dan kau tetap berhati-hati di sini," ucap Raisa, saat ini ia sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya itu.
"Iya sayang. Tapi dari mana kau tahu soal ini dan kenapa kau datang ke sini? Kau tahu 'kan di luar sana sangat berbahaya," tukas Diego juga mengkhawatirkan sang istri.
"Tapi buktinya aku baik-baik saja 'kan Kak. Kau tenang saja, aku tadi diantar Kak Jason dan Aron kok, saat ini mereka sedang membantu menangani wartawan di bawah. aku mengetahui hal ini dari sosial media Kak, apa kau tidak melihat berita ini sudah tersebar di mana-mana," jawab Raisa.
"Tadi Bunga sudah mengatakan padaku, aku lupa. Jadi apakah Mama juga sudah tahu, bagaimana kondisi Mama sekarang?" Tanya Diego panik.
"Kau tenang dulu ya Kak, aku akan mengabari Mama sekarang," ucap Raisa yang langsung saja menghubungi ibu mertuanya dan mengabarkan jika saat ini ia sudah berada di perusahaan serta baik-baik saja.
Diego sendiri juga sempat berbicara sebentar dengan sang ibu dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja, ia hanya meminta doa dari ibunya agar bisa cepat menyelesaikan masalah di perusahaan. Baik Diego maupun Raisa tidak mau jika Siska merasa khawatir, yang tentu saja akan berpengaruh dengan kesehatannya.
"Jadi bagaimana kondisi Mama sekarang Sayang?" Tanya Digo setelah Raisa menceritakan jika tadi Siska merasakan dadanya sesak.
"Seperti yang Mama katakan tadi, Mama sudah baik-baik saja. Suster Maira bilang tekanan darah Mama juga sudah kembali normal setelah tadi sempat tidak stabil. Untuk itu aku langsung ke sini untuk memastikan keadaanmu Kak, supaya Mama juga lebih tenang. Aku sendiri tidak bisa tenang di rumah," ucap Raisa.
"Iya Sayang, maaf ya sudah membuat kalian khawatir. Aku sekarang hanya merasa stres saja dengan keadaan ini, kasihan para pegawai tidak bisa bekerja dengan tenang karena ancaman itu," ujar Diego.
"Kita harus segera mencari tahu Kak kebenarannya, untuk mengklarifikasinya supaya para pegawai tidak lagi berpikiran yang macam-macam," kata Raisa.
"Iya Kak sama-sama. Ya sudah kalau memang ada yang mau ku kerjakan lebih baik kerjakan saja, aku tidak akan mengganggumu," kata Raisa.
_____
Setengah jam telah berlalu, Diego tampak sibuk menghubungi orang-orang yang membantunya menyelidiki masalah perusahaannya saat ini. Sedangkan Raisa hanya duduk termenung sambil memikirkan cara untuk membantu suaminya, ia juga memutuskan tidak akan pergi dari perusahaan meskipun tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Kak, apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku ingin membantumu," tanya Raisa, tidak mau hanya berdiam diri saja.
"Sayang dengan kau berdoa saja itu sudah sangat membantuku, kau tidak perlu melakukan apapun, biar aku yang menangani masalah ini. Oke," ucap Diego yang terlihat masih tampak pusing karena masalahnya ini.
Di saat itu pun ponsel Diego berdering, ada panggilan masuk dari ayah mertuanya. Sehingga segera saja ia menjawab telepon tersebut.
"Halo Ayah, bagaimana, apakah sudah ada kabar siapa yang telah melakukan ini semua?" Tanya Diego.
__ADS_1
"Salah satu detektif sudah menemukan alamat pemilik mobil itu Diego dan sekarang beliau serta beberapa anggotanya sedang menuju ke sana, mudah-mudahan saja mereka cepat menemukan pelaku itu," kata Sastro dari seberang telepon.
Saat melirik sang istri, Diego melihat Raisa yang memberi gestur agar tidak memberitahu keberadaannya saat ini kepada sang ayah, sehingga Diego pun menuruti permintaan istrinya itu.
"Terima kasih banyak Ayah, maaf aku telah merepotkan Ayah," ucap Diego.
"Sama sekali tidak Diego, kau jangan berkata seperti itu. Kau itu juga anak Ayah, sudah seharusnya Ayah melakukan ini. Lagi pula kelvin juga yang banyak bergerak, Ayah hanya memerintahkannya saja," ucap Sastro.
"Iya Ayah aku juga akan berterima kasih kepada Kelvin," ucap Diego.
"Ya sudah kau hati-hati ya, tetap tenang. Jangan bersikap atau bertindak gegabah. Masalah ini benar-benar sudah sangat di batas kewajaran, jangan sampai mencelakakan dirimu sendiri," ucap Sastro.
"Aku mengerti Ayah, terima kasih banyak," ucap Diego mengakhiri telepon tersebut.
"Bagaimana Kak, apa sudah ada titik terangnya?" Tanya Raisa.
"Iya Sayang, kata ayah salah satu detektif yang Ayah utus sudah ada yang menemukan alamat pelaku. Mudah-mudahan saja orang itu belum melarikan dari, jadi tim mereka masih bisa menemukannya. Seandainya tadi komputer di pos satpam tidak rusak pasti akan lebih lebih cepat untuk bertindak, tapi harus menunggu IT dulu memperbaikinya karena sistemnya yang sudah dirusak dan lama mendapatkan bukti CCTV," kata Diego.
"Ternyata pelaku itu tidak cukup pintar ya Kak, kenapa dia harus merusak sistem saja tapi rekaman CCTV-nya tidak dihapus?" Tukas Raisa.
"Itu karena mereka mengambil tindakan yang menurutnya paling simple tetapi tidak memikirkan ke depannya. Lihat saja nanti, penjahat itu tidak akan bisa lolos. Sepandai-pandainya mereka menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya," ucap Diego.
"Ya sudah Kak, yang penting sekarang kau bisa sedikit lebih tenang 'kan. Aku akan tetap di sini menemanimu Kak," ucap Raisa.
"Tapi bagaimana dengan bayi kita di rumah Sayang, Diesa pasti membutuhkanmu," ucap Diego.
"Saat ini kau juga membutuhkanku Kak. Kau tenang saja ya, stok ASI banyak kok, ada Suster Maira juga yang bisa ikut membantu menjaga saat Suster Ayumi mau makan atau ada hal penting lainnya. Suster Ayumi baru saja mengabariku kalau saat ini Baby Diesa sedang tidur setelah minum susu. Aku juga sudah meminta Kak Jason dan Kak Aron untuk pulang ke rumah dan menjaga keamanan di rumah, di sini 'kan sudah banyak penjaga, apalagi ada kau juga. Aku yakin aku akan lebih aman jika bersamamu," ucap Raisa.
"Iya Sayang, terima kasih banyak ya. Sejujurnya aku juga lebih tenang karena kau menemaniku di sini," ucap Diego.
Lalau keduanya saling mendekatkan wajah, bercumbu mesra sejenak dan berpelukan.
Diego merasa sangat bersyukur karena memiliki istri yang senantiasa selalu berada di sampingnya, baik dalam suka maupun duka Raisa sama sekali tidak pernah meninggalkannya sekalipun.
Brak!!!
__ADS_1
Akan tetapi riba-tiba saja ada yang membanting pintu dengan sangat kasar, sehingga membuat Raisa dan Diego pun reflek melepaskan pelukan dan menatap ke arah orang yang saat itu berdiri di hadapan mereka serta tatapannya yang begitu tajam.
Bersambung …