Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Menyimpan Rahasia.


__ADS_3

Dengan perasaan yang sangat kesal, Clarissa pun pergi meninggalkan ruang Direktur serta membawa makanan yang tadi telah di bawanya untuk Diego, tetapi pria tersebut sama sekali tak menerimanya dan malah memintanya untuk membawa makanan tersebut keluar.


Saat baru saja keluar dari ruangan Diego, di saat itu pula Clarissa bertemu dengan Darrel yang hendak masuk ke ruangan tersebut.


"Ada apa denganmu? Apa Diego menyakitimu lagi seperti biasa? Lagi pula kau itu 'kan juga tahu bagaimana sikap Diego padamu, tapi kau terus saja ngotot untuk mendekatinya," tukas Darrel.


"Tapi kau juga tahu 'kan jika wanita itu sudah pergi menjauh dan tidak akan kembali lagi. Bukankah ini kesempatan untukku? Sampai kapanpun aku akan tetap mengejar Diego, karena aku masih sangat mencintainya," ucap Clarissa.


Darrel menggenggam erat kedua tangannya, merasa sangat emosi karena mendengar ucapan tersebut. Tetapi ia pun menahannya dan mencoba untuk bersikap manis di depan Clarissa.


"Apa yang kau bawa itu?" Tanya Darrel yang mengalihkan ke arah pembicaraan lain.


"Ya tadinya ini makanan untuk Diego yang sudah aku belikan di restoran favoritnya. Bahkan aku rela mengantri di sana, tetapi dia sama sekali tidak menginginkan makanan ini," ucap Clarissa.


"Ya sudah lebih baik makanan itu untukku saja daripada mubazir," kata Darrel.


Clarissa tampak berpikir, benar juga apa yang dikatakan oleh pria yang ada di depan matanya saat ini. Lagipula jika untuk dirinya sendiri ia sama sekali tak berselera, mengingat apa yang telah dilakukan Diego padanya.


"Ya sudah, nih ambil," ucap Clarissa seraya memberikan paper bag yang berisi makanan tersebut.


"Terima kasih, kau hati-hati," ucap Darrel.


"Hm," jawab Clarissa singkat diiringi anggukan kepalanya, lalu ia pun pergi meninggalkan perusahaan milik Diego.


*****


2 hari pun telah berlalu, kini Sastro sedang di dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya setelah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Sebelum pulang ke rumah, ia pun menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko bunga, berencana akan membelikan bunga kesukaan anaknya yang saat ini sedang berada di rumah. Sastro berpikir bahwa anaknya itu pasti akan selalu merasa senang dan bahagia jika melihat bunga tersebut, apalagi dalam kondisinya yang sedang mengandung.


"Tuan Sastro, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu," sapa seseorang yang membuat Sastro tersentak.

__ADS_1


Sastro terlihat gugup setelah mengetahui jika yang menegurnya adalah Diego yang tidak sengaja bertemu dengannya, saat ia baru saja hendak memasuki toko tersebut sedangkan Diego baru keluar dengan membawa bunga. Akan tetapi ia mencoba menetralisir perasaannya, berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap biasa saja agar Diego tidak merasa curiga bahwa ia sedang menyimpan rahasia besar.


"Saya baik-baik saja Tuan Diego, Anda sendiri bagaimana keadaannya? Ya benar sudah lama kita idak bertemu karena saya sedang sibuk mengurusi perusahaan saya yang ada di luar kota," ucap Sastro.


"Saya juga baik-baik saja Tuan. Oh iya, saya juga mendengar bahwa saat ini Tuan Sastro sedang membuka cabang di kota Surabaya, mudah-mudahan sukses selalu Tuan," ucap Diego.


"Iya benar Tuan, terima kasih banyak atas doanya. Oh ya Tuan Diego membeli bunga untuk siapa?" Tanya Sastro yang sangat yakin jika bunga tersebut untuk kekasih baru Diego.


"Oh bunga ini untuk Mama saya. Mama saya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit," jawab Diego.


"Sejak kapan Nyonya Siska sakit dan sakit apa kalau saya boleh tahu?" Tanya Sastro.


"Tekanan darah rendah dan baru tadi malam Mama saya masuk rumah sakit Tuan. Tuan sendiri mau beli bunga untuk siapa?" Tanya Diego


"Kebetulan saya juga mau menjenguk orang sakit yang merupakan anak dari kerabat saya, jadi saya pikir jika membawa bunga mungkin akan membawa suasana hatinya lebih tenang," jawab Sastro beralasan.


"Iya Tuan, silahkan. Hati-hati dan kirim salam untuk Nyonya Siska, semoga beliau lekas sembuh," ucap Sastro.


"Baik Tuan, nanti akan saya sampaikan," ucap Diego, lalu keduanya berjabat tangan.


Setelah itu Diego segera saja meninggalkan toko bunga tersebut menuju ke rumah sakit. Sedangkan Sastro masuk ke dalam toko bunga dan mencarikan bunga lily kesukaan anaknya.


*****


Sepanjang perjalanan, Diego terus saja memikirkan tentang pertemuannya dengan Sastro saat di toko bunga tadi. Menurutnya, Sastro seperti gugup dan menyimpan sesuatu. Satu lagi yang ia herankan kenapa Sastro sama sekali tak menanyakan keberadaan Raisa padanya atau masalah hubungannya dengan Raisa, padahal yang ia tahu Sastro sangat dekat dengan wanita itu.


Akan tetapi ia pun menepis rasa kejanggalan tersebut, menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar. Mungkin saja Sastro sengaja menjaga perasaannya karena memang kliennya lamanya itu sudah mengetahui tentang batalnya pernikahan mereka, ya Sastro sendiri merupakan salah satu orang yang diundang dalam acara pernikahan tersebut.


------

__ADS_1


Tanpa terasa, kini Diego pun telah tiba di rumah sakit. langsung saja ia menuju ke ruang rawat Siska dan melihat keberadaan Darrel dan Clarissa yang sudah berada di sana. Diego memperhatikan keduanya seperti sedang berbicara serius dan terlihat sudah sangat akrab, sehingga langsung saja Diego menghampiri mereka yang berada di depan ruang rawat inap ibunya itu.


"Kalian sedang berbicara apa?" Tanya Diego yang membuat Darrel dan Clarissa sontak terkejut dan langsung menatap ke arahnya.


"Tuan, Anda sudah tiba? Saya tadi sedang menjaga Nyonya Siska sesuai perintah Tuan, tetapi tiba-tiba saja wanita ini datang dan saya memintanya untuk pergi sesuai dengan keinginan Tuan Diego bahwa wanita ini tidak boleh masuk," ucap Darrel yang mengucapkannya dengan sangat lancar, tidak terlihat gugup seperti pertama kali melihat Diego.


"Ya sudah, tunggu apalagi. Lebih baik kau pergi dari sini!" Usir Diego yang menatap Clarissa.


"Tapi Diego, aku hanya ingin melihat keadaan Mama saja. Lagipula bukankah Darrel akan kembali ke perusahaan, tidak ada yang menjaga Mama di sini, jadi aku akan menjaga Mama," ujar Clarissa.


"Tidak perlu, aku yang akan menjaga Mamaku dan sekarang aku minta kau pergi dari sini!" Diego mengusir wanita itu lagi.


"Tapi Diego-"


"Aku bilang pergi, pergi!" Bentak Diego menyela ucapan Clarissa begitu saja.


"Maaf Nyonya Clarissa, lebih baik sekarang Anda pergi saja," titah Darrel yang langsung membopong tubuh Clarissa seperti karung beras dan membawanya pergi dari hadapan Diego.


"Lepas … lepaskan aku … !" Teriak Clarissa seraya memberontak, tetapi sama sekali tak dipedulikan oleh Darrel.


Sedangkan Diego menatap sinis kepergian wanita yang sangat dibencinya itu, lalu masuk ke dalam ruang rawat inap sang ibu.


Setelah mereka jauh dari pandangan mata Diego, barulah Darrel menurunkan Clarissa dan membuat wanita tersebut langsung saja menatapnya dengan tajam dan penuh amarah.


"Kau ini apa-apaan sih, apa kau pikir ini lucu, hah! Kau sengaja ya ingin menjauhkanku dari Diego?" Tukas Clarissa yang berbicara dengan begitu kasar, membuat emosi Darrel pun terpancing.


"Heh wanita tidak tahu diri, kau ini benar-benar tidak tahu diuntung ya. Apa kau tidak sadar, aku ini baru saja menyelamatkanmu dari amukan Diego. Jika kau tadi terus berada di sana, aku tidak tahu perlakuan kasar apa yang akan Diego lakukan padamu. Kau jangan keterlaluan ya Clarissa, aku sudah berusaha untuk menahan emosiku selama ini, aku membiarkanmu untuk mengejar cinta Diego kembali, tetapi sepertinya kau ini sama sekali tidak pernah menghargaiku," ucap Darrel yang mencengkram tangan Clarissa dengan kuat, sehingga membuat Clarissa kesakitan dan menitikkan air matanya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2