
Diego terlihat begitu khawatir melihat Raisa yang di saat itu terlihat sangat ketakutan. Raisa benar-benar merasa ngeri membayangkan orang yang di saat itu menyodorkan senjata tajam padanya, membuat Raisa pun seketika menjadi bergidik.
"Aku takut Kak, aku takut jika orang tadi melukai Anak kita. Untung saja hanya aku yang dilukai olehnya," ucap Raisa.
"Tetap saja aku tidak terima karena dia telah menyakitimu, kau hampir kehilangan banyak darah gara-gara penjahat itu. Tapi kau tenang saja Sayang, kau jangan takut ya, ada aku di sini. Aku janji mulai saat ini tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu dan masalah ini Polisi sudah mencari tahu, serta akan diusut sampai tuntas," ucap Diego.
"Iya Raisa, Ayah juga tidak akan tinggal diam. Bahkan saat ini Kelvin sedang berada di restoran tadi untuk mencari tahu siapa orang itu. Kau tenang saja ya, secepatnya pelaku itu pasti akan segera tertangkap," ucap Sastro.
"Iya Yah, Kak," jawab Raisa diiringi anggukan kepalanya.
"Raisa, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau sudah lebih baik?" Tanya Siska yang di saat itu pun menghampiri Raisa.
"Iya Ma, keadaanku sudah mulai membaik. Terima kasih ya Ma karena Mama tadi yang meminta agar aku segera dibawa ke rumah sakit, Mama juga menutup lukaku dengan sapu tangan, sehingga aku masih bisa tertolong. Bahkan Mama juga yang memangku aku dan mengantarku ke rumah sakit," ucap Raisa yang mendengar ceritanya dari Diego.
"Ya sama-sama, meskipun itu bukan kau pasti Mama juga akan melakukan hal yang sama. Bagaimana bisa ada seseorang yang dengan sengaja ingin mencelakaimu di toilet," ucap Siska yang bersikap sok jaim, padahal Diego tahu betul jika saat ini ibunya itu merasa sangat khawatir terhadap Raisa.
"Aku juga tidak tahu Ma, entah kesalahan apa yang aku perbuat sampai ada orang yang sengaja ingin mencelakaiku. Tapi untungnya aku dan Anakku baik-baik saja. Aku tadi sangat takut jika orang tersebut menyakiti Anakku Ma," ucap Raisa.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu kau takuti lagi. Yang penting saat ini kau dalam kondisi baik-baik saja, sekarang kau berstirahatlah, Mama akan ada di sini menemanimu. Ada ayahmu dan juga Diego yang akan selalu menjaga keamanan di sini, semuanya akan baik-baik saja. Kau bisa beristirahat dengan tenang," ucap Siska.
Diego dan Sastro begitu senang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Siska, apakah itu artinya saat ini Siska sudah mulai menerima kehadiran Raisa atau itu hanya rasa ibanya saja atas apa yang sedang menimpa Raisa saat ini?
Raisa sendiri merasa tenang mendengar ucapan Siska, sehingga ia pun langsung saja memejamkan matanya karena calon ibu mertuanya saat ini berada di sampingnya.
__ADS_1
Sedangkan Diego dan Sastro duduk tidak jauh dari mereka sembari menjaga keamanan di sana. Diego juga memastikan jika dirinya harus selalu terjaga, jangan sampai tertidur barang sejenak pun. Karena ia ingin menjaga ibu, calon istri dan juga calon ayah mertuanya tersebut. Diego tidak mau jika akan kecolongan dan membuat orang-orang yang dicintainya itu akan terluka.
*****
"Dasar bodoh! Lagi-lagi kau itu sudah melakukan kebodohan. Bagaimana jika saat ini kau akan ditemukan oleh Polisi, aku juga akan terlibat. Kau itu benar-benar bodoh, tidak bisa diandalkan," hina Clarissa yang merasa sangat emosi, karena lagi-lagi Darrel gagal untuk mencelakai Raisa sampai tuntas.
"Heh wanita tidak tahu diri, aku sudah melakukannya dan ini semua demi kau. Siapa bilang aku gagal, aku tadi sudah menyakiti Raisa, aku sudah menyayat pergelangan tangannya dengan pisau, bahkan wanita itu terjatuh dan aku yakin jika saat ini pasti kondisinya sangat memprihatinkan. Mungkin saja dia sudah mati atau anak di dalam kandungannya itu keguguran," ucap Darrel dengan sangat yakin.
Meskipun saat ini Darrel merasa sangat kesal terhadap Clarissa karena dibodoh-bodohi dan dihina oleh wanita tersebut, tetapi ia memilih tidak untuk main tangan seperti yang biasa dilakukannya, mungkin karena rasa cintanya untuk Clarissa yang semakin besar.
"Apa kau yakin? Tapi bukankah kau ketahuan oleh Diego, aku yakin saat ini pasti Polisi sudah mencari keberadaanmu. Aku tidak mau tahu ya jika sampai kau tertangkap, aku tidak mau ikut terlibat," ucap Clarissa.
"Enak saja kau mau lepas tangan begitu saja atas apa yang sudah kau lakukan, itu tidak akan bisa Clarissa. Kau juga harus ikut bertanggung jawab. Jika aku terseret, maka kau juga akan ikut terseret," ucap Darrel.
"Laki-laki kurang ajar! Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, kau sendiri yang bertindak terlalu lambat. Padahal aku sudah cepat menutup pintunya agar kau bisa langsung menyakiti Raisa, tapi kau malah berlama-lama bermain dengannya. Seandainya kau langsung saja keluar dan membunuhnya, pasti kau akan aman, kau akan bebas dan tidak akan ada yang mengetahui gerak-gerik kita," tukas Clarissa yang terus saja menyalahkan Darrel.
_____
Sementara itu, Diego yang sedari tadi dan berulang kali menghubungi Darrel merasa sangat kesal karena asistennya tersebut sama sekali tidak menjawab teleponnya. Lalu ia pun mencoba menghubunginya kembali, karena memang di saat ini Diego benar-benar membutuhkan bantuan Darrel.
Drt … drt … drt …
Clarissa yang tidak sengaja melihat ponsel Darrel saat itu bergetar di atas nakas, segera saja melihatnya dan sangat terlihat dengan jelas di layar ponsel Darrel tertera nama Tuan Bos yang meneleponnya, yang itu artinya adalah Diego. Clarissa merasa bingung harus membiarkannya saja atau meminta Darrel untuk segera menjawab telepon tersebut. Jika terus mengabaikan tuannya itu, Clarissa yakin jika Diego akan merasa curiga.
__ADS_1
Tok … tok … tok …
"Darrel, lebih baik kau cepat sedikit mandinya. Ini Bos-mu sudah berulang kali menelpon!" Teriak Clarissa sembari mengetuk pintu.
"Abaikan saja, aku sudah sangat lelah," sahut Darrel.
"Kau sudah gila ya, apa kau sengaja ingin membuat Diego merasa curiga padamu," hardik Clarissa.
"Itu tidak akan mungkin, karena Diego hanyalah orang bodoh yang selalu mempercayaiku," ucap Darrel.
"Kau terlalu percaya diri. Aku tidak akan mau ikut terlibat bersamamu jika kau terkena masalah," timpal Clarissa yang di saat itu pun segera saja keluar dari kamar dan meninggalkan Darrel yang masih berada di dalam kamar mandi.
*****
Setelah mengetahui ciri-ciri pelaku yang hendak mencelakai Raisa meskipun belum mengetahui jelas siapa orang tersebut, pihak kepolisian pun langsung saja menghubungi Sastro dan Diego. Sehingga Diego langsung saja menuju ke Kantor Polisi untuk mengetahui informasi lebih lanjut.
"Dari hasil rekaman CCTV menunjukkan pelaku 1 yang di saat itu memang sengaja mengunci Nyonya Raisa dari luar, lalu terlihat pelaku 2 yang di saat itu berlari di saat Tuan sudah menemukan keberadaan Nyonya Raisa. Di sini juga terlihat jelas jika pelaku 1 yang sudah mengatur semuanya dengan memasang selembar kertas di depan toilet yang bertuliskan jika toilet sedang rusak dan tidak dapat digunakan," terang polisi sembari menunjukkan rekaman CCTV kepada Diego.
"Ternyata kedua penjahat ini benar-benar ahli, bagaimana mereka bisa mengetahui jika calon istriku saat itu akan pergi ke toilet hingga dengan cepat menyiapkan semuanya," ujar Diego.
"Ya begitulah penjahat, sebenarnya mereka mempunyai 1001 cadangan rencana untuk melakukan kejahatan tersebut dengan situasi yang berbeda. Sehingga tidak mustahil jika mereka sudah menyiapkan semuanya dan kebetulan karena melihat Nyonya Raisa yang di saat itu pergi ke toilet, sehingga membuat kedua penjahat itu langsung saja menjalankan rencananya tersebut," jelas polisi.
Diego melihat dengan seksama ciri-ciri kedua pelaku yang di saat itu memang sudah merencanakan ingin mencelakai Raisa. Entah kenapa rasanya ia mengenali seseorang yang di saat itu keluar dari toilet dan dengan sengaja mendorongnya, tetapi ia tidak yakin dan mana mungkin jika orang itulah yang sudah mengkhianatinya, sehingga Diego pun membuang pikiran itu jauh-jauh.
__ADS_1
Akan tetapi semakin ia melihat petunjuk-petunjuk lainnya, membuat Diego pun merasa curiga dan berencana akan menyelidikinya sendiri tentang orang tersebut.
Bersambung …