
Setelah Raisa selesai mengobati luka Sastro, kini semuanya pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Raisa yang di saat itu sangat ingin mengantar orang tuanya pulang pun pada akhirnya mengantarnya terlebih dulu bersama dengan Diego. Sedangkan Siska memilih untuk langsung pulang dengan diantar oleh Kelvin, karena Denis juga berada di rumah yang pastinya akan menunggu kepulangan mereka.
Tidak membutuhkan waktu lama karena Diego juga melaju dengan kecepatan tinggi, kini mereka pun telah tiba di kediaman Sastro. Baik Diego maupun Raisa sama-sama menuntun ayahnya tersebut masuk ke dalam rumah.
"Sudah Diego, Raisa, Ayah tidak apa-apa, Ayah baik-baik saja. Lagipula Ayah 'kan hanya kena pukulan sedikit di sudut bibir, kenapa kalian memperlakukan Ayah seperti orang cacat," tukas Sastro.
"Tidak apa-apa Ayah, ini namanya Anak dan menantu Ayah perhatian terhadap Ayah. Sama juga 'kan dengan Ayah, Ayah itu paling tidak bisa melihatku terluka sedikit saja, pasti Ayah sudah memperlakukanku seperti yang aku lakukan saat ini," ujar Raisa.
"Terima kasih ya Raisa, Diego, kalian berdua benar-benar sangat baik dan perhatian dengan Ayah," ucap Sastro.
"Iya Ayah sama-sama, ini memang sudah menjadi tugas kami. Ayah tidak perlu sungkan," ucap Diego.
Hingga kini mereka pun telah tiba di kamar Sastro dan langsung saja Raisa dan Diego membawa Sastro sampai ke tempat tidurnya, serta membaringkan tubuhnya itu.
"Ayah mau minum atau mau makan? Biar aku ambilkan ya Yah," ucap Raisa.
"Ayah butuh minuman saja, kalau makanan tidak usah, nanti saja, Ayah belum lapar," jawab Sastro.
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu aku ambilkan dulu ya Yah," ucap Raisa.
"Sayang, biar aku saja yang ambilkan minuman untuk Ayah. Perutmu itu sudah semakin membesar, pasti kau sangat lelah," ujar Diego.
"Tidak perlu Sayang, memangnya kenapa kalau perutku sudah semakin membesar? Aku kuat kok. Lagipula kamar Ayah ini 'kan tidak naik turun tangga. Sudahlah Kak Diego, aku titip Ayah ya," ucap Raisa dan segera keluar dari kamar sang ayah.
__ADS_1
"Diego, Ayah minta tolong padamu tolong jaga Raisa baik-baik. Entah kenapa Ayah merasa dengan kehadiran sahabat lama Ayah itu akan menjadikan ancaman untuk Raisa, karena dia sama sekali tidak pernah mau melihat Ayah merasa tenang. Saat ini dia sudah mengetahui jika Ayah sudah bertemu dengan anak kandung Ayah, Ayah takut Diego, Ayah takut setelah Clarissa dan Darrel masuk penjara kini Erros pula yang akan menyakiti Raisa," ucap Sastro yang terlihat begitu khawatir.
"Ayah, Ayah tenang saja ya. Aku janji kalau aku akan selalu menjaga dan melindungi Raisa dari siapapun yang berniat jahat padanya. Ayah 'kan tahu kalau aku sangat mencintai Raisa, aku pasti akan melindunginya, aku tidak akan membiarkan siapapun, ada satu orang pun yang menyakiti istriku maupun keluargaku. Aku tidak hanya akan melindungi Raisa Yah tetapi aku juga akan melindungi Ibuku, Denis, Ayah, siapapun orang-orang terdekatku, orang-orang yang aku sayangi," ucap Diego yang meyakinkan ayah mertuanya itu.
Diego dapat melihat rasa cemas yang terpancar pada wajah Sastro karena kekhawatiran seorang ayah terhadap anaknya.
"Iya, Ayah percaya padamu Diego. Ayah juga bisa melihat bagaimana pengorbananmu untuk Anak Ayah, bagaimana rasa cintamu itu untuk Raisa, Ayah lega. Ayah juga tidak akan tinggal diam, Ayah pasti akan ikut menjaga Anak Ayah dan keluarga Ayah," ucap Sastro.
"Iya Ayah, kita sama-sama menjaga Raisa dan orang-orang yang kita cintai," ucap Diego.
Lalu tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki Raisa yang sudah kembali membawa minuman, sehingga membuat 2 laki-laki itu bungkam.
"Kenapa kalian diam? Sepertinya tadi aku mendengar kalian berdua sedang berbicara, sedang membicarakan apa?" Tanya Raisa sembari menatap Diego penuh curiga.
"Oh … seperti itu, ya sudah. Ayah ini diminum dulu ya," ucap Raisa yang memberikan minuman tersebut kepada sang ayah.
"Terima kasih ya Sayang," ucap Sastro yang langsung saja mengambil minuman tersebut dari tangan anaknya serta meminumnya sampai habis.
"Iya sama-sama Ayah," jawab Raisa, setelah itu pun ia kembali mengambil gelas tersebut dan meletakkannya di atas nakas.
"Ayah, Ayah benar baik-baik saja 'kan?" Tanya Raisa.
"Iya, tentu saja Ayah baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir Raisa. Lagipula di sini ada pelayan yang bisa memenuhi segala keperluan ayah, ada Kelvin juga yang 24 jam bisa Ayah mintai pertolongan, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Ayah. Sekarang kau pulang ya bersama Diego, kasihan ibu mertuamu hanya berdua saja dengan Denis. Pasti Denis juga sudah menanyakan kepulangan kalian berdua," ucap Sastro.
__ADS_1
"Iya Yah, tapi 2 hari lagi aku akan datang ke sini untuk menginap lagi. Karena setelah kemarin pulang dari Bandung katanya Mama akan pergi ke sana lagi dan kali ini cukup lama, jadi untuk sementara aku mau berada di rumah Ayah dulu bersama Denis dan Kak Diego. Boleh 'kan?" Ucap Raisa.
"Tentu saja boleh, sudah Ayah katakan berulang kali bahwa rumah ini adalah rumahmu juga Raisa, jadi mana mungkin Ayah melarangnya. Asalkan Diego juga tidak keberatan untuk tinggal di sini," ucap Sastro.
"Mana mungkin aku keberatan Ayah, apalagi aku tinggal di sini bersama dengan mertuaku, Anakku, istriku, juga, tentu saja itu sama sekali bukan masalah. Malah aku senang kalau aku bisa menemani Ayah juga di sini," ucap Diego.
"Syukurlah kalau memang seperti itu, Ayah juga merasa sangat bahagia karena rumah ini pastinya akan terasa ramai," ucap Sastro.
"Ehm … Ayah, Ayah jangan sedih seperti itu dong. Aku masih ingin berlama-lama dengan Ayah sekarang ini, tapi benar kata Ayah kalau sekarang aku harus pulang karena waktu sudah semakin sore. Aku kasihan dengan Denis, pasti dia akan mencari kami terus, pasti dia tidak akan mau mandi dengan alasan aku mau Mama, aku mau Papa, pasti dia seperti itu," ucap Raisa yang mendadak gemas dan merindukan Denis karena sudah terbayang wajah ngambek anak tirinya itu.
"Ya sudah kalian pulang saja, Ayah mengerti Raisa. Sampaikan saja salam Ayah untuk Denis ya, Ayah merindukan cucu Ayah," ucap Sastro.
"Iya Ayah nanti akan aku sampaikan, Denis juga pasti sangat merindukan opanya," ucap Raisa.
Lalu Raisa dan suaminya itu pun menyalami dan mencium punggung telapak tangan Sastro sebagai tanda berpamitan. Raisa juga memeluk tubuh ayahnya sejenak, lalu segera saja keduanya pergi meninggalkan kediaman Wijaya.
_____
"Kak, siapa sih sebenarnya laki-laki tadi? Kenapa dia tega memukul Ayah seperti itu dan seandainya yang Ayah katakan benar mereka mempunyai masalah di masa lalu, seharusnya pria tersebut sudah melupakannya, toh mereka juga sudah pada menikah dan punya anak. Itu yang aku dengar tadi," ucap Raisa saat mereka sedang di dalam perjalanan.
"Ya seperti itulah kejamnya dunia bisnis Sayang, meskipun sebenarnya orang tadi sudah melupakannya tetapi karena persaingan bisnis yang membuatnya semakin dendam terhadap Ayah, dalam kata lain ada masalah lain lagi yang membuat dendam itu semakin bertambah," ucap Diego.
"Bisa seperti itu ya Kak, seharusnya masalah itu tidak boleh dicampur adukkan dong. Aku jadi ingin bertemu dengan Om Erros, aku sangat ingin melihat Ayah dan Om Eros berdamai Kak. Apalagi mereka berdua 'kan dulunya pernah menjadi sahabat, pasti sangat seru jika sekarang mereka kembali bersahabat," ucap Raisa yang membuat Diego hanya geleng-geleng kepala saja mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung …