Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Sesuai Rencana.


__ADS_3

Tak lupa pula Diego memberi kabar soal operasi ibunya yang telah berhasil dan berjalan lancar itu kepada sang istri, membuat Raisa benar-benar merasa sangat lega dan berniat akan pergi ke rumah sakit nanti siang sekaligus mengantarkan makan siang untuk suami dan juga Bodyguard yang menemani suaminya di sana. Raisa juga akan membuatkan makanan untuk ibu mertuanya yang baru saja selesai dioperasi.


Tidak berapa lama kemudian, setelah dioperasi Siska langsung dipindahkan ke ruang rawat inap. Diego selalu berada di dalam ruangan tersebut untuk menemani ibunya yang saat ini masih belum sadar, efek dari obat bius. Sedangkan Jason berada di luar ruangan untuk menjaga keamanan di sana sesuai dengan perintah tuannya tesebut. Karena meskipun saat ini terbilang aman tetapi mereka tetap harus berjaga-jaga, tidak tahu kapan bahaya itu akan datang menyerang.


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, setelah memasak dan sang bayi tidur Raisa pun menitipkan anaknya tersebut kepada pengasuhnya karena ia akan pergi ke rumah sakit. Sudah dipastikan jika Diego dan Jason belum makan, apalagi tadi Raisa juga sudah mengatakan akan membawa makan siang untuk mereka. Raisa juga berniat tidak akan lama berada di rumah sakit karena hari ini ia tidak akan membiarkan Suster Ayumi untuk lembur lagi setelah kemarin pengasuh Diesa itu lembur sampai malam dan pagi-pagi sudah datang lagi ke kediamannya.


Saat ini Raisa yang diantar oleh Aron itu pun sedang berada di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.


"Kak, mampir sebentar ya ke supermarket atau minimarket juga tida apa-apa, ada yang mau aku beli," kata Raisa.


"Baik Nyonya," jawab Aron.


Kebetulan di depan sana ada minimarket di tepi jalan dan letaknya juga di sebelah kiri, karena Raisa setuju Aron segera saja memberhentikan mobil di depan minimarket tersebut dan Raisa pun langsung saja turun dari mobil lalu masuk ke dalam. Sementara Aron dimintanya untuk tetap menunggu saja di mobil.


Raisa tampak memilih makanan ringan dan juga minuman untuk ia bawa ke rumah sakit, setelah itu ia pun langsung saja menuju ke kasir untuk membayarnya. Di saat itu terlihat ada seseorang yang hendak membayar tetapi sepertinya uangnya kurang, dia ingin membayar pakai kartu debit tetapi ternyata minimarket kecil yang hanya berada di pinggiran jalan itu tidak menerima pembayaran dengan kartu debit melainkan hanya menerima uang cash. Sehingga Raisa pun berniat untuk membantunya.


"Maaf Mas memangnya uang Nona ini kurang berapa ya?" Tanya Raisa kepada kasir.


"Oh uang Nona ini hanya kurang Rp 62.000 saja Nona," jawab kasir.


"Ya sudah kalau begitu biar sekalian saya yang bayar saja sekalian punya saya," kata Raisa.


"Jangan, tidak perlu Nona. Biar saya kurangi saja belanjaan ini, nanti saya akan ke ATM baru kembali lagi ke sini," ucap seorang wanita yang di saat itu hendak ditolong oleh Raisa.


"Tidak apa-apa, tidak perlu sungkan. Kebetulan saya juga mau membayarnya dan membawa uang cash lebih," ucap Raisa.


Lalu kasir pun segera menghitung berapa total belanjaan Raisa dan Raisa langsung saja membayarnya berikut dengan kekurangan wanita tadi. Setelah itu Raisa dan wanita tersebut jalan berdampingan keluar dari minimarket.


"Terima kasih banyak ya Nona, saya sudah merepotkan. Oh iya kenalkan saya Sena, supaya tidak saling memanggil Nona lagi dan tidak perlu kaku seperti ini," ucap wanita tersebut yang menjulurkan tangannya.


Sehingga Raisa pun langsung saja menyambut juluran tangan itu, "Aku Raisa, iya sama-sama. Kau benar juga," ucapnya lalu keduanya pun sama-sama tersenyum.


"Kalau begitu boleh tidak aku meminta nomor rekeningmu biar aku ganti uang tadi. Aku tidak enak berhutang seperti ini, apalagi tadinya kita sama sekali belum kenal," ucap Sena.


"Tidak apa-apa, sama sekali tidak masalah kok. Lagi pula hanya uang segitu, aku ikhlas dan tidak menganggap kau berhutang Sen," kata Raisa.

__ADS_1


"Tapi kau benar-benar tidak enak Sa. Tadi itu bukan karena aku tidak ada uang tapi hanya kekurangan uang cash saja. Jadi sekarang aku ganti ya, aku tidak mau berhutang Sa. Lagi pula kita 'kan sudah berkenalan, siapa tahu dengan hal ini kita bisa jadi berteman," kata Sena.


"Oh boleh kok kalau berteman. Ya sudah kalau kau memang memaksa tapi tidak usah ke nomor rekening ya, kirim ke e-wallet saja boleh 'kan," kata Raisa.


"Tentu saja boleh," jawab Sena.


Raisa pun memberi nomor e-wallet yang menggunakan nomor ponselnya itu dan segera saja Sena mentransfer uang.


"Sudah masuk ya Sa," ucap Sena.


"Loh ini kelebihan Sen, 'kan tadi aku hanya membayar Rp 62.000 saja," kata Raisa.


"Tidak apa-apa, anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena bagaimanapun juga tadi kau telah membantuku. Tadi aku benar-benar malu Sa karena ternyata hanya bisa bayar menggunakan uang cash dan aku tidak punya uang cash lebih, pasti orang-orang itu berpikir deh kalau aku hanya gayanya saja berlebihan tapi tidak punya uang. Buktinya ada orang lain juga tadi di kasir sebelah, tapi malah kau yang menolongku," ucap Sena.


"Jangan berpikiran seperti itu Sen, ya memang sih penampilanmu sama sekali tidak menunjukkan jika kau kekurangan uang. Lagi pula aku 'kan juga tahu masalahnya, tidak apa-apa kok. Bukankah sebagai manusia sudah seharusnya kita saling tolong-menolong," ucap Raisa.


"Iya kau benar juga. Sekali lagi terima kasih banyak ya Raisa. Oh iya kau dengan siapa dan sekarang mau ke mana? Mau aku antar sekalian?" Tawar Sena.


"Oh tidak perlu Sen, terima kasih ya tawarannya. Aku dengan supir dan mau ke rumah sakit, Ibu mertuaku baru selesai operasi jantung," jawab Raisa.


"Aku turut prihatin ya Sa, kirim salam untuk Ibu mertuamu dan semoga cepat sembuh. Maaf sekali aku ada keperluan, kalau tidak aku pasti akan ikut untuk menjenguk Ibu mertuamu," ucap Sena.


"Iya Sa, tapi nanti kalau ada waktu aku akan janji akan menjenguk Ibu mertuamu. Nanti aku akan menghubungimu" ucap Sena, kebetulan tadi keduanya sudah saling menukar nomor WhatsApp.


"Iya Sen, nanti kabari saja ya," ucap Raisa.


"Hati-hati juga ya Sa," ucap Sena.


Lalu keduanya pun sama-sama menuju ke mobil dan berpisah ke tempat tujuan masing-masing.


*****


Setibanya di rumah sakit Raisa melangkahkan kakinya terburu-buru menuju ke ruang rawat inap Siska, Diego mengabarkan jika saat ini Siska telah sadar sehingga membuat Raisa sudah tak sabar lagi ingin bertemu dengan ibu mertuanya itu.


"Sayang kau sudah sampai," ucap Diego saat melihat istrinya masuk ke dalam ruang rawat inap.


"Iya Kak. Maaf ya Kak, Ma aku sedikit terlambat. Tadi aku mampir sebentar ke minimarket membeli minuman, makanan ringan untuk Kak Jason dan kebutuhan lain untuk di sini," ucap Raisa.

__ADS_1


"Iya Sayang tidak apa-apa. Terima kasih ya Sayang kau sudah repot-repot," ucap Diego.


"Iya Raisa, kenapa kau repot-repot sekali. Padahal 'kan di sini ada Diego dan Jason, kalau ada perlu apa-apa mereka bisa membelinya," kata Siska.


"Tidak apa-apa Ma, aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Lagi pula tadi sekalian saja. Oh iya Kak Diego, ini makananmu dan punya Kak Jason tadi sudah aku kasih langsung di luar. Sepertinya Kak Jason sudah langsung makan karena sudah kelaparan kali ya," kata Raisa.


"Bisa jadi, tadi aku sudah menawarkan Jason untuk membeli makanan duluan tapi dia tidak mau karena aku sudah mengatakan sebelumnya kalau kau mau datang mengantar makanan," kata Diego.


"Pasti itu karena Kak Jason tahu kalau makanan yang aku masak lebih enak daripada beli di luar," ujar Raisa dengan percaya diri.


"Ya, ya aku juga akui kalau masakan istri dan Mamaku memang yang paling enak," ucap Diego, sehingga mereka bertiga pun tersenyum.


"Mama, Mama juga makan ya. Aku masak sup krim kepiting dan jagung untuk Mama. Tenang saja Ma ini aman kok untuk orang pasca operasi, aku tahu ini karena kemarin aku pernah berkonsultasi dengan Dokter dan saat itu aku membuatkan makanan ini untuk ayah setelah operasi jantung juga. Kata Dokter sup krim kepiting dan jagung ini bagus untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh setelah dioperasi, bisa juga untuk mempercepat proses pemulihan. Aku juga membawakan susu rendah lemak untuk Mama," kata Raisa.


Siska dan Diego tampak memperhatikan Raisa, mendengar ucapannya dengan seksama dan juga tersenyum.


"Mama, Kak Diego, kenapa? Apa aku salah bicara ya?" Tanya Raisa kebingungan.


"Tidak Sayang, sama sekali tidak ada yang salah. Kau begitu pintar dan mengerti soal ini, aku bangga padamu," ucap Diego.


Raisa pun tersenyum malu, "Kak Diego jangan memujiku seperti itu, padahal ini biasa saja. Aku juga mengetahuinya dari Dokter," ucapnya.


"Yang Diego katakan itu benar Sayang, terima kasih banyak ya kau sudah begitu peduli dengan Mama. Kebetulan Mama memang harus makan dan minum obat, nih baru saja Suster mengantarkan bubur," ucap Siska.


"Kau itu datang di waktu yang tepat Sayang, karena Mama baru saja beberapa menit yang lalu bangun jadi memang sudah waktunya Mama makan dan minum obat." Diego menimpali.


"Syukurlah kalau begitu, sama-sama Ma. Kalau begitu Kak Diego sekarang makan ya, biar aku yang menyuapi Mama," ucap Raisa.


"Memangnya kau sudah makan?" Tanya Diego.


"Sudah kok Kak, tadi aku makan sama Denis," jawab Raisa.


Lalu Diego pun membantu ibunya tersebut untuk sedikit duduk dengan diganjal oleh bantal, setelah itu segera saja Diego dan Siska menikmati makanan yang telah dimasak oleh Raisa.


*****


Sementara itu Sena baru saja tiba di kediamannya, di saat itu pun ponselnya berdering ada panggilan masuk dari seseorang. Sehingga Sena langsung saja menjawab telepon itu.

__ADS_1


"Halo, ya aku baru saja sampai rumah. Kau tenang saja semuanya berjalan sesuai rencana," ucap Sena tersenyum smirk. Lalu ia pun mengakhiri telepon tersebut.


Bersambung …


__ADS_2