
2 hari telah berlalu, saat ini kondisi Siska sudah lebih baik dari sebelumnya, sehingga hari ini mereka akan pulang ke Jakarta sesuai dengan kesepakatan.
"Kak Denis, kakimu sudah tidak terasa sakit 'kan? Apa kau bisa berjalan dengan baik?" Tanya Raisa.
"Iya Ma aku sudah baik-baik saja kok. Kemarin 'kan Dokter juga bilang kalau aku tidak apa-apa dan Dokter juga sudah memberiku obat, jadi sekarang lukaku sudah sembuh," jawab Denis.
"Anak pintar, ya sudah kalau begitu sekarang kita pulang ke Jakarta, apa aku senang?" Tanya Raisa.
"Tentu saja aku senang Ma, apalagi kita pulang bersama Oma," jawab Denis.
"Iya Sayang, sekarang Oma ikut kalian pulang ke Jakarta dan Oma janji tidak akan meninggalkan Kak Denis lagi," ucap Siska.
"Hore … iya Oma. Aku janji akan selalu menjaga Oma di sana," ucap Denis yang membuat semuanya pun tersenyum.
Setelah berpamitan dengan Teh Rasmi dan Mang Jojo serta warga setempat, segera saja mereka semua masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke bandara.
*****
Meskipun saat di perjalanan terkadang Siska merasakan kepalanya pusing, dadanya juga sesak karena lamanya di perjalanan yang memakan waktu kurang lebih selama 4 jam, tetapi pada akhirnya kini mereka semua pun telah tiba di rumah sakit, Jakarta tanpa hambatan apapun. Diego yang mengkhawatirkan kondisi ibunya tersebut langsung saja membawanya menuju ke rumah sakit tempat di mana ibunya biasa ditangani.
"Diego, kenapa kita tidak langsung pulang ke rumah saja?" Tanya Siska.
"Lebih baik kita ke sini dulu Ma untuk memeriksa kondisi Mama, setelah memastikan semuanya baik-baik saja baru kita akan pulang. Oh iya Ayah juga ya, sebaiknya kesehatan Ayah juga diperiksa oleh Dokter," ucap Digo.
"Aku setuju, selain Mama Ayah juga harus diperiksa." Raisa menimpali.
"Ya baiklah, Ayah akan menuruti saja apa yang menurut kalian baik," jawab Sastro.
Hingga pada akhirnya Siska juga mengikuti apa kata anaknya tersebut. Ia yang terlebih dulu masuk ke dalam ruang pemeriksaan Dokter Spesialis Jantung, sementara Sastro masih menunggu antrian berikutnya dan menunggu di ruang tunggu bersama anak, menantu dan cucu-cucunya. Sedangkan Jason yang tadi menjemput mereka di bandara, diperintahkan oleh Diego untuk menunggu di luar saja sembari menjaga keamanan.
"Nyonya, kondisi jantung Anda sangat lemah. Sudah pasti ini karena Anda tidak mau melakukan operasi ulang, apalagi Nyonya juga baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh," ucap dokter yang sedang memeriksa kondisi Siska di dalam ruang pemeriksaan tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Dok, jantung lemah bagi orang tua itu wajar saja, apalagi yang memiliki penyakit jantung seperti saya. Saya tidak perlu dirawat 'kan Dok, saya mohon jangan. Saya mau langsung pulang saja dan saya ingin beristirahat di rumah bersama Anak, cucu dan menantu saya. Saya tidak mau menambah beban mereka dengan dirawat di sini, jadi tolong bantu saya Dokter. Saya janji akan rutin minum obat," pinta Siska.
"Baiklah Nyonya, kalau memang seperti itu mau Anda. Tapi Nyonya harus tetap dirawat jalan ya, Tuan Diego juga sudah konfirmasi dengan rumah sakit ini. Jadi saya langsung yang akan menangani Nyonya Siska, jika terjadi apa-apa Anda harus langsung dibawa ke sini dan nantinya akan ada Suster khusus juga yang akan merawat dan menjaga Nyonya Siska di rumah. Rumah sakit ini juga yang mengutus Suster tersebut dan tentunya yang mengerti soal penyakit jantung," kata dokter.
"Baik Dokter, terima kasih banyak," ucap Siska.
Lalu Siska pun keluar dari ruang pemeriksaan dan bergantian dengan Sastro yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
Setelah semuanya diperiksa dan kondisinya baik-baik saja, dokter pun memperbolehkan keduanya untuk pulang tanpa harus ada yang dirawat. Di saat itu Kelvin juga sudah tiba di rumah sakit untuk menjemput Sastro setelah tadi ayah angkatnya itu menghubunginya, karena Sastro tidak mau merepotkan Jason jika harus mengantarnya dulu pulang ke rumah yang berbeda arah.
"Ayah baik-baik saja 'kan?" Tanya Kelvin.
"Iya Vin, Ayah baik-baik saja. Syukurlah kau sudah datang, ayo sekarang kita pulang," ucap Sastro.
"Kak, aku titip Ayah ya. Jaga Ayah baik-baik, kalau ada apa-apa jangan lupa langsung kabari aku. Ayah pasti sangat lelah karena perjalanan jauh dari Bandung ke Jakarta, apalagi kemarin Ayah ke Bandung menggunakan mobil dan kita nonstop bolak-balik ke rumah sakit di kota dengan waktu dan jarak yang cukup jauh," ucap Raisa.
"Iya Sa kau tenang saja, aku pasti akan menjaga Ayah dengan baik," jawab Kelvin. "Oh ya Nyonya Siska bagaimana keadaannya sekarang? Saya dengar Nyonya Siska dirawat di rumah sakit Bandung," tanyanya.
"Oh iya, saya lupa Tante," jawab kelvin yang merasa segan.
Meskipun sudah berulang kali diingatkan, tetapi tetap saja ia lebih merasa nyaman memanggil Siska dengan sebutan nyonya.
"Kelvin, hati-hati setir mobilnya. Pastikan Ayah mertuaku baik-baik saja," pesan Diego.
"Baik Tuan," jawab Kelvin.
"Tuan? Apa kau pikir aku ini Bos-mu. Perlu aku ingatkan lagi bahwa aku ini suami Adikmu, seharusnya kau memanggilku dengan sebutan nama saja," ujar Diego.
"Tapi aku tidak bisa, aku merasa tidak pantas. Apalagi umur Tuan Diego lebih tua dariku," kata Kelvin.
"Apa, tua? Berani sekali kau mengatakan aku tua," ucap Diego tak terima, sehingga menimbulkan senyuman dari sudut bibir Sastro, Siska dan Denis. Berbeda dengan Raisa dan yang terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Sayang, kenapa kau tertawa? Apa karena kau mendengar Kelvin mengatakan aku tua," tukas Diego.
"Ya memang kau sudah tua Kak, seharusnya kau menerima itu," ujar Raisa.
"Walaupun aku lebih tua tapi aku lebih tampan, aku juga terlihat lebih muda daripada Kelvin 'kan," ujar Diego yang tak terima sehingga memuji dirinya sendiri.
"Oke fine, kau memang lebih muda dan tampan dari Kak Kelvin, bahkan dari semuanya. Sudahlah Kak Kelvin, lebih baik kau memanggil Kak Diego dengan namanya saja, tidak perlu sungkan. Benar apa yang Kak Diego katakan tadi jika Kak Diego itu suamiku dan kau adalah Kakakku, jadi panggil saja Diego dalam situasi seperti ini. Kalau kau segan, di depan rekan bisnis saja kau manggilnya dengan sebutan Tuan," ucap Raisa.
"Iya sebenarnya aku memang sangat segan, apalagi aku ini hanyalah seorang asisten. Bagaimana kalau ada orang lain yang mendengar aku memanggil Tuan Diego dengan namanya saja, bagaimanapun juga aku tahu diri," ucap Kelvin apa adanya.
"Kelvin, selain asisten pribadi Ayah kau juga Anak angkat Ayah. Siapa bilang selamanya Kau akan menjadi asisten Ayah," kata Sastro.
"Maksudnya bagaimana, apa Ayah akan memecatku?" Tanya Kelvin, mewakili rasa penasaran Raisa juga.
"Ya kau benar, memang Ayah akan memecatmu," jawab Sastro.
"Tapi kenapa Ayah?" Tanya Raisa.
"Sayang, lebih baik kau dengarkan saja dulu apa kata Ayah," ucap Diego yang terlihat sangat tenang.
"Kenapa Yah, apa aku ada berbuat kesalahan sampai Ayah tidak mau lagi menjadikanku asisten Ayah?" Tanya Kelvin.
"Bukan seperti itu Kelvin. Bukankah tadi kau mengatakan tidak pantas memanggil Diego dengan namanya karena kau hanyalah seorang asisten, jadi Ayah akan membuat kau menjadi pantas. Ayah akan memecatmu dari asisten tapi ayah akan mengganti jabatanmu," ucap Sastro.
"Maksud Ayah?" Tanya Raisa yang tidak bisa diam saja.
"Raisa, Kelvin jadi begini, maaf jika tempatnya tidak tepat untuk mengatakan kepada kalian semua, tapi karena sudah terlanjur maka Ayah akan mengatakannya saja sekarang. Seperti yang kalian semua tahu bahwa Ayah sudah menganggap Kelvin sebagai anak sendiri, kalian juga tahu jika umur Ayah sudah tua tetapi Raisa tidak mau menerima saat Ayah mengatakan akan mewariskan perusahaan Ayah. Ayah juga sudah membicarakan soal ini dengan Diego tetapi Diego sendiri sudah memiliki perusahaan dan dia juga bertanggung jawab penuh atas Perusahaan Abimana Group. Atas usul Raisa waktu itu dan juga kesepakatan Diego, Ayah berniat akan mewariskan perusahaan Ayah kepada Kelvin," ucap Sastro yang membuat Kelvin sangat terkejut, tak mempercayainya.
Bersambung …
__ADS_1