
Diego melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melewati padatnya kota agar segera sampai ke tempat tujuan. Ia tahu betul bagaimana perasaan Raisa saat ini setelah mendengar kabar dari seseorang tentang kondisi neneknya. Raisa nyaris tak bersuara, hanya tangisanlah yang terdengar dari mulutnya. Bahkan Denis saja bisa mengerti apa yang Raisa rasakan saat ini, ia terlihat sedang menenangkan hati pengasuhnya itu meskipun hanya seorang anak kecil.
"Kak Raisa yang sabar ya kak. Kita berdoa saja mudah-mudahan Nenek Kak Raisa tidak kenapa-napa," ucap Denis yang merangkul leher Raisa, karena memang Denis duduk di kursi belakang sendirian.
"Iya, terimakasih ya Sayang," ucap Raisa dengan suara seraknya sembari memegang tangan mungil bocah tersebut.
"Raisa, yang sabar ya, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Nenek Sania," ucap Diego pula dan hanya ditanggapi anggukkan kepala oleh Raisa.
------
Tidak berapa lama kemudian, mereka pun telah tiba di rumah sakit. Setelah si penelpon memberi kabar kepada Raisa tentang kondisi Nenek Sania yang pingsan, orang tersebut pun langsung pembawa nenek tersebut ke rumah sakit. Sehingga Diego yang membawa Denis itu langsung saja mengantar Raisa ke rumah sakit tempat sang nenek berada.
"Apa yang sebenarnya terjadi Mbak, kenapa Nenek tiba-tiba menjadi seperti ini?" Tanya Raisa yang baru saja tiba di rumah sakit dan berada di depan ruang ICU.
"Raisa, Mbak juga tidak tahu kenapa Nenek Sania bisa seperti ini. Seperti biasa setelah berjualan dari pasar Mbak akan ke rumah Nenekmu untuk melihatnya dan menanyakan makan siangnya, tetapi tiba-tiba saja Mbak sudah melihat Nenek dalam keadaan pingsan di bawah tempat tidur. Sepertinya Nenek berusaha untuk bangun tapi tiba-tiba saja penyakit jantungnya kumat," jelas Mbak Ratmi.
"Terimakasih ya Mbak karena sudah langsung membawa Nenek ke rumah sakit," ucap Raisa setelah mendengar penjelasan tersebut.
"Maaf Nona Raisa, Dokter ingin bertemu dengan Anda," ucap suster yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
Tentu saja suster tersebut juga sudah mengenal Raisa karena ini bukan pertama kalinya Nenek Sania berada di rumah sakit tersebut.
"Baik Suster, terimakasih," ucap Raisa. "Mbak Ratmi, aku titip Nenek sebentar ya. Aku mau bertemu Dokter dulu," ucapnya.
"Raisa, aku temani kamu ya," tawar Diego.
"Iya Tuan," jawab Raisa menyetujui.
Lalu Raisa pun segera saja bergegas menuju ke ruangan dokter dengan ditemani oleh Diego dan Denis.
------
__ADS_1
"Maaf Nona Raisa, seperti yang kita ketahui bahwa Nenek Sania belum terlalu pulih. Beliau baru saja selesai dioperasi dan masih dalam tahap pemulihan, sehingga tidak boleh terlalu mendapat tekanan berat. Tetapi sepertinya setelah saya periksa tadi kondisinya, Nenek Sania banyak pikiran dan sangat tertekan sehingga sangat berpengaruh dengan jantungnya dan menyebabkannya menjadi kolaps bahkan koma. Saya minta maaf Nona Raisa, jika nantinya kemungkinan buruk akan terjadi," ucap dokter apa adanya.
"Apa maksud Anda Dokter? Sebagai seorang Dokter seharusnya Anda itu mengusahakan yang terbaik, bukan belum berbuat apa-apa malah sudah berkata seperti itu!" Tukas Diego yang tampak emosi.
"Maaf Tuan, tapi itulah kenyataannya. Saya hanya menyampaikan kemungkinan buruknya saja supaya Nona Raisa tidak banyak berharap," ucap dokter yang tetap berusaha untuk tenang. Ia sudah sangat terbiasa menghadapi sikap keluarga pasien seperti Diego, bahkan melebihi dirinya.
"Saya sudah membayar rumah sakit ini dengan sangat mahal, seharusnya Anda dan tim Anda bisa berusaha lebih keras!" Bentak Diego yang kini malah beranjak dari tempat duduknya dan menatap dokter dengan tajam.
"Tuan aku mohon jangan berbuat keributan di sini. Bagaimanapun juga Dokter sudah berusaha," ucap Raisa sembari menarik tangan Diego untuk duduk kembali. Sehingga membuat Diego pun bungkam.
"Benar apa yang Nona Raisa katakan, sebagai Dokter kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi bagaimana pun juga kami bukan Tuhan yang bisa menentukan kesembuhan dan juga umur seseorang," ucap dokter.
"Lalu apa yang bisa kami lakukan sekarang Dokter?" Tanya Raisa.
"Kami akan terus berupaya untuk kesembuhan Nenek Sania, semoga saja ada keajaiban dari Tuhan. Seandainya nanti Nenek Sania sudah sadar dan bisa sembuh, kemungkinan kesehatannya tidak akan mungkin bisa sebaik dulu lagi dan saya harap Anda benar-benar bisa menjaga Nenek Anda dengan baik. Selain itu yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah berdoa Nona," ucap Dokter.
Raisa kembali menangis, rasanya begitu sangat terpukul setelah mendengar penjelasan dari dokter. Diego yang melihat akan hal itu pun langsung memberi pundaknya untuk Raisa bersandar dan menangis. Begitu juga dengan Denis, ia ikut memeluk Raisa berharap menenangkan wanita tersebut.
Setelah itu Raisa, Diego dan Denis keluar dari ruangan dokter dan kembali ke ruang ICU.
"Kak Raisa kau harus kuat, kau tidak boleh sedih seperti ini terus Kak. Kalau kau sedih, pasti Nenek juga akan sedih. Kak Raisa harus senyum dong, Kak Raisa harus berdoa untuk kesembuhan Nenek," ucap Denis, sehingga Raisa pun melepaskan pelukannya dari Diego dan tersenyum mendengar ucapan anak kecil tersebut.
"Iya Raisa, kau jangan sedih terus apalagi merasa sendiri. Di sini ada aku dan Denis yang akan menemanimu," ucap Diego pula.
Sedangkan Mbak Ratmi sudah pulang ke rumahnya terlebih dulu untuk mengambil beberapa pakaian ganti Nenek Sania dan Raisa dengan keinginannya sendiri. Karena ia tahu bagaimana kondisi Raisa saat ini.
"Terimakasih Tuan Diego, Denis. Aku tidak tahu bagaimana terpuruknya aku di sini jika tidak ada kalian karena aku memang tidak punya keluarga selain Nenek," ucap Raisa dengan air matanya yang terus saja mengalir.
Denis mendekati Raisa lalu ia mengusap air matanya dengan jari-jari mungilnya, layaknya seorang anak yang sedang mengusap air mata sang ibu. Jangankan Raisa, Diego sendiri merasa begitu senang dan hatinya juga terasa hangat melihat perlakuan Denis yang begitu perhatian dan bersikap manis terhadap Raisa. Ia tak pernah melihat Denis berlaku seperti itu terhadap orang lain kecuali ayah dan neneknya sendiri. Ia juga tak pernah menyangka jika Denis bisa sedekat itu dengan orang lain dalam waktu yang terbilang sangat singkat.
Di tengah keterpurukannya saat ini, tidak bisa dipungkiri jika Raisa merasa sangat tenang karena ada Diego, Denis dan juga Ratmi yang sudah seperti layaknya keluarga dan selalu menemani serta membantunya sehingga ia tidak lagi merasakan sendirian.
__ADS_1
*****
Tidak terasa malam hari pun telah tiba, karena sibuk mengurusi Nenek Sania dan menemani Raisa di rumah sakit, Diego sampai lupa jika ia ada janji dengan asistennya untuk pergi ke rumah tua menangani Clarissa. Sehingga di malam hari itu setelah Raisa beristirahat di rumah sakit, sedangkan Denis juga sudah pulang ke rumah serta tidur dan hanya ditemani oleh ART serta Satpam di rumah, Diego pun segera saja pergi ke rumah tua bersama dengan Darrel.
------
Setibanya di rumah tua tersebut, Diego melihat Clarissa yang di saat itu tampak terdiam di kursinya. Entah tidur atau pingsan tidak ada yang tahu. Sehingga ia mendekati wanita tersebut untuk memastikan kondisinya.
"Heh bangun kau!" Tukas Diego sembari menendang kursinya tetapi sama sekali tak ada tanda-tanda jika Clarissa akan bangun.
"Heh bangun!" Tukas Darrel pula tetapi tetap saja sama.
"Panggil anak buahmu ke sini!" Titah Diego dan langsung saja Darrel memanggil anak buah yang berjaga di sana.
"Ada apa Tuan? Tanya seorang preman yang berjaga di depan gudang.
"Kenapa dengan dia? Apa yang kalian lakukan terhadapnya sampai dia sama sekali tidak bangun, cepat periksa kondisinya!" Perintah Digo, lalu anak buahnya itu pun langsung saja memeriksa keadaan Carissa.
"Kami tidak melakukan apapun Tuan, wanita ini juga masih bernapas. Mungkin dia pingsan karena seharian ini dia hanya memekik dan juga tidak mau makan," terang preman dan benar saja terlihat makanan yang berserakan di atas lantai.
"Mungkin dia kelelahan atau juga kelaparan karena dari tadi malam sama sekali tidak makan Tuan," ujar Darrel.
"Ya sudah bawa dia ke rumah sakit," titah Diego sehingga Darrel dan anak buahnya itu pun melepaskan ikatan Clarissa dan membawanya ke mobil.
"Bagaimana?" Tanya Diego di saat Darrel sudah kembali menemuinya di dalam rumah tua.
"Nyonya Clarissa sudah saya masukkan ke dalam mobil Tuan," sahut Darrel.
"Ya sudah kita ke rumah sakit sekarang," tukas Diego.
Akan tetapi di saat Diego dan Darrel masuk ke dalam mobil, betapa terkejutnya mereka karena di saat itu sudah tidak menemukan Clarissa di sana. Sehingga membuat Diego pun merasa sangat murka.
__ADS_1
"Cepat cari keberadaannya! Brengsek, ternyata dia hanya berpura-pura untuk melarikan diri. Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini, argh … ," umpat Digo yang dengan penuh emosi.
Bersambung …