
Di saat itu terdengar suara pintu ruang IGD yang terbuka, sehingga Diego pun langsung saja menghampiri dokter tanpa menutup telepon dan saat ini ponselnya berada di dalam genggaman tangannya.
"Dokter, bagaimana keadaan Ibu saya?" Tanya Diego.
"Alhamdulillah kabar baiknya Nyonya Siska sudah sadar dari komanya dan menurut saya kalian harus cepat membicarakan soal operasi ulang. Karena kita tidak bisa menundanya terlalu lama, kondisi Nyonya Siska semakin lama akan semakin memburuk jika dibiarkan begitu saja. Saya harap Tuan Diego cepat membicarakan masalah ini dengan Nyonya Siska maupun keluarga. Cepat kabari saya, jika memungkinkan operasi akan kita lakukan 2 hari lagi," ucap dokter setelah memeriksa kondisi Siska.
"Baik Dokter, saya akan bicarakan soal ini kepada Ibu saya dan keluarga. Secepatnya juga saya akan mengabari dokter," ucap Diego yang rasanya begitu lemah, di satu sisi ia merasa senang karena ibunya sudah sadar tetapi di sisi lain ia juga merasa sedih mendengar kondisi ibunya saat ini.
Meskipun Diego tidak menjelaskan kepada Raisa bahkan Raisa juga tidak bisa melihat wajahnya saat ini karena kameranya ditutup oleh tangan Diego, tetapi Raisa dapat mendengar jelas pembicaraan dokter tadi dan ia tahu itulah yang menyebabkan Diego tampak murung. Tentu saja membuat Raisa juga merasa sangat khawatir tetapi tidak mau terlalu menunjukkan di depan suaminya tersebut.
Setelah dokter pergi, kini Diego pun kembali berbicara dengan anak dan istrinya tersebut.
"Sayang, aku mau melihat Mama dulu ya di dalam. Karena sekarang Mama masih di ruang ICU jadi aku tutup dulu ya teleponnya, nanti kalau Mama sudah pindah ruangan aku akan menghubungimu lagi dan kau bisa melihat kondisi Mama," kata Diego.
"Papa, aku juga ingin berbicara dengan Oma," ucap Denis.
"Iya Sayang, nanti Papa akan menghubungi kalian ya," ucap Diego.
"Hati-hati ya Kak, salam untuk Mama," ucap Raisa.
"Iya Sayang, kau juga hati-hati ya di rumah. Aku titip Anak-Anak," ucap Diego mengakhiri telepon tersebut.
Lalu segera saja Diego masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi ibunya tersebut.
"Ma, Mama, syukurlah Mama sudah bangun. Aku sangat lega, setelah 2 hari Mama koma sekarang aku bisa melihat Mama membuka mata. Aku takut Ma," ucap Diego yang menggenggam erat dan mencium punggung telapak tangan ibunya sembari menangis.
__ADS_1
"Diego, kau itu laki-laki dewasa tapi kenapa cengeng seperti itu. Lihat Mama baik-baik saja 'kan, Mama tidak kenapa-napa," ucap Siska lirih dan terus saja menyembunyikan rasa sakitnya itu.
"Ma, sudahlah Ma jangan berpura-pura terus. Aku tahu bagaimana kondisi Mama saat ini, kenapa Mama terus menyembunyikan rasa sakit itu seolah Mama baik-baik saja. Ma, kata dokter Mama harus segera melakukan operasi ulang supaya kondisi Mama akan lebih baik. Mama tidak perlu keluar negeri, operasi itu bisa dilakukan di Jakarta. Mama mau 'kan," ucap Diego.
"Tidak perlu Diego, Mama tidak mau menjalani operasi apapun. Biarkan Mama hidup tenang dengan sisa umur Mama, jangan biarkan Mama masuk ke dalam ruang operasi itu lagi, rasanya sangat menyakitkan." Siska menolaknya.
"Tapi kenapa Ma? Memang aku tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya dioperasi tapi aku tahu Mama pasti sangat menderita di dalam sana, tapi mama harus kuat, Mama harus berjuang supaya Mama bisa memiliki umur yang panjang. Supaya aku bisa menjaga Mama dan merawat Mama lebih lama lagi. Selama ini aku belum cukup membahagiakan Mama, aku masih ingin hidup bersama Mama lebih lama lagi. Tolong Ma ikuti apa kata Dokter, Mama harus dioperasi ya. Aku janji akan selalu ada untuk menemani Mama," pujuk Diego.
Siska menggelengkan kepalanya, ia tetap kekeh pada pendiriannya itu, menolak untuk dioperasi.
"Mama tidak mau Diego, jangan memaksa Mama. Operasi itu juga belum tentu menyembuhkan Mama atau memperpanjang umur Mama Diego, banyak orang yang setelah operasi malah meninggal dunia. Kemungkinan itu sangat besar," kata Siska.
"Tapi kita belum mencobanya Ma, bisa saja operasi ini berhasil dan Mama akan kembali sehat," ucap Diego.
"Tidak Diego, sudah ya jangan memaksa Mama lagi. Kau tenang saja Mama akan baik-baik saja setelah beberapa hari dirawat di sini. Mama juga ingin cepat-cepat pulang untuk menemui menantu dan cucu-cucu Mama. Jika kalian mau membawa Mama pulang ke Jakarta pun oke Mama akan pulang ke Jakarta, Mama tidak perlu lagi melanjutkan pengobatan di sini. Mama cukup minum obat-obatan dari Dokter saja," kata Siska yang membuat Diego pun terdiam.
*****
Sementara itu Raisa yang berada di rumah tampak cemas menunggu kabar dari Diego yang mengatakan ingin mengabarinya setelah Siska pindah ke ruang rawat inap. Ia benar-benar merasa sangat khawatir dengan kondisi ibu mertuanya saat ini dan Raisa juga tahu jika Diego pasti merasa sangat terpukul dengan kondisi ibunya itu.
Hingga siang hari menjelang, Raisa belum juga mendapat telepon dari Diego, bahkan ia sudah mengirim pesan WhatsApp tetapi tidak dibaca sama sekali apalagi dibalas oleh pria tersebut.
"Teh, Anak-anakku sekarang sedang tidur, apa boleh aku menitipkan mereka kepada Teh Rasmi sebentar?" Tanya Raisa.
"Memangnya Teh Raisa mau kemana?" Tanya Teh Rasmi.
__ADS_1
"Aku harus ke rumah sakit sekarang Teh. Kasihan Kak Diego, pasti dia juga belum makan karena memikirkan kondisi Mama saat ini, jadi aku mau sekalian membawakan makanan untuknya. Aku tidak bisa tenang Teh kalau di rumah terus, setelah mengabarkan Mama sudah sadar dari komanya tadi, sampai saat ini Kak Diego belum memberi kabar lagi. Aku dengar sendiri ucapan Dokter tadi jika kondisi Mama semakin memburuk dan harus dioperasi ulang, aku harus ada di samping Kak Diego meskipun hanya sebentar Teh. Aku juga sangat ingin melihat kondisi Mama secara langsung," ucap Raisa.
"Saya mengerti Teh dan saya sama sekali tidak keberatan untuk menjaga Anak-Anak di rumah, tapi lebih baik Teh Raisa diantar suami saya saja ya. Biar saya jemput suami saya untuk segera pulang," ucap Teh Rasmi.
"Jangan Teh, aku tidak mau merepotkan Mang Jojo. Biar aku cari kendaraan saja," tolak Raisa.
"Mencari kendaraan untuk ke kota lumayan cukup jauh kalau dari sini Teh, harus keluar jalan besar dulu dan harus ada yang mengantar teh Raisa. Jadi lebih baik biar suami saya saja yang mengantar Teh Raisa langsung ke rumah sakit," kata Teh Rasmi.
"Ya sudah kalau memang seperti itu. Maaf ya Teh saya selalu saja menyusahkan kalian," ucap Raisa.
"Jangan berkata seperti itu Teh, saya sama sekali tidak pernah merasa direpotkan. Kalau begitu saya ke perkebunan dulu ya," pamit Teh Rasmi dan berlalu.
Di saat teh Rasmi pergi untuk menyusul suaminya, Raisa pun segera bersiap-siap. Ia benar-benar tidak bisa tenang sebelum melihat kondisi suami dan mertuanya saat ini. Tak lupa pula Raisa membungkus makanan untuk Diego dan juga membuatkan bubur untuk mertuanya yang sudah sadar, pastinya juga sudah bisa makan.
_____
Tidak lama kemudian Teh Rasmi dan suaminya telah kembali ke rumah. Mang Jojo juga sudah siap untuk mengantar Raisa ke kota. Raisa yang saat itu juga sudah siap langsung saja menaiki mobil pick up milik Mang Jojo dan segera saja mereka pergi menuju ke rumah sakit di kota.
Saat di dalam perjalanan hendak keluar dari desa, tiba-tiba saja Mang Jojo merasakan ada yang sesuatu yang tidak beres pada ban mobilnya, sehingga langsung saja ia memberhentikan mobilnya tersebut.
"Ada apa Mang?" Tanya Raisa.
"Maaf ya Teh, saya mau memeriksa kondisi ban mobil dulu," ucap Mang Jojo.
"Oh iya Mang, kalau begitu saya juga ikut turun," jawab Raisa.
__ADS_1
Bertepatan di saat itu, ada sebuah mobil yang hendak masuk ke dalam pedesaan. Mobil tersebut juga berhenti karena terhalang oleh mobil Mang Jojo dengan kondisi jalanan yang cukup sempit. Lalu terlihat 2 orang keluar dari dalam mobil itu yang membuat membuat Raisa merasa sangat terkejut karena mengenali siapa orang-orang itu.
Bersambung …