
Berulang kali Raisa mencoba menghubungi Diego tetapi sama sekali tidak ada jawabannya, membuatnya pun begitu cemas dan takut terjadi sesuatu dengan suaminya itu. Akan tetapi ia tidak mau mengatakan hal tersebut kepada Siska karena takut ibu mertuanya itu malah ikut khawatir dan akan memperburuk kondisinya, mengingat saat ini Siska sedang sakit. Sehingga jalan satu-satunya Raisa pun meminta tolong salah satu bodyguard yaitu Jason untuk mencari di mana keberadaan Diego saat ini.
"Kak Jason aku mohon susul Kak Diego sekarang ya, cari kak Diego di jalanan menuju ke perusahaan. Aku yakin Kak Diego juga pasti pulang melewati jalan itu, aku benar-benar tidak tenang Kak," ucap Raisa yang berbicara dengan suara pelan di depan rumah. Ia juga menceritakan penyebab kekhawatirannya itu kepada sang bodyguard.
"Baik Nyonya, sekarang juga saya akan mencari Tuan Diego," kata Jason.
"Baik Kak, terima kasih banyak ya," ucap Raisa.
Lalu segera saja Jason pergi dari rumah untuk mencari tuannya tersebut, sedangkan Raisa kembali masuk ke dalam rumah.
"Raisa, kau dari mana?"
Terdengar suara Siska yang membuat Raisa pun terkejut dan langsung menatap ibu mertuanya itu.
"Mama, aku dari luar mencari udara segar saja Ma sebentar," jawab Raisa beralasan.
"Oh … tidak terjadi sesuatu 'kan?" Tanya Siska, entah kenapa ia merasa ada yang disembunyikan oleh menantunya tersebut.
"Tidak Ma, kenapa Mama berbicara seperti itu," ujar Raisa.
"Tidak tidak apa-apa kok Sayang, tapi kalau memang ada sesuatu katakan kepada Mama ya, jangan dirahasiakan. Oh iya Diesa di mana, apa dia tidur?" Tanya Siska.
"Iya Ma, memang tidak ada apa-apa. Iya Ma Diesa sedang tidur, ditemani Kak Denis di kamarnya. Ya sudah aku mau ke kamar dulu ya Ma lihat Anak-Anak," ucap Raisa.
"Oh ya Raisa, tadi Mama ke dapur dan Mama melihat Bibi sedang membersihkan pecahan kaca serta salad buah yang berserakan di atas lantai. Kenapa bisa terjatuh seperti itu, kau benar-benar sedang tidak memiliki masalah 'kan?" Tanya Siska.
"Tidak Ma, aku hanya tidak sengaja saja menjatuhkannya dan tadi aku mau membersihkan sendiri tapi Bibi malah memaksa mau membersihkannya. Maaf ya Ma, aku menjatuhkan salah satu mangkok Mama," ucap Raisa.
"Raisa, Mama sama sekali tidak mempermasalahkan itu. Apalagi itu hanya sebuah mangkuk, yang penting kau baik-baik saja," tutur Siska.
"Iya Ma aku baik-baik saja. Terima kasih ya Ma, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Raisa.
"Ya sudah tidak perlu dipikirkan. Lalu di mana Diego, kenapa dia belum pulang juga? Apa dia lembur lagi?" Tanya Siska.
"Tadi katanya sudah di perjalanan pulang Ma, ya memang pulang sedikit terlambat," jawab Raisa.
"Anak itu tahunya lembur saja, tidak memikirkan anak dan istrinya di rumah. Ya sudah kalau seperti itu, kalau kau mau ke kamar Diesa pergi saja, Mama juga mau ke kamar dulu," ucap Siska.
__ADS_1
"Suster Maira di mana Ma?" Tanya Raisa.
"Sedang mandi," jawab Siska.
"Ya sudah kalau begitu aku yang mengantar Mama ke kamar ya," tawar Raisa.
"Tidak perlu Sayang, Mama ini 'kan tidak cacat. Mama bisa ke kamar sendiri," tolak Siska karena memang kamarnya dan kamar sang bayi berbeda arah meskipun sama-sama terletak di lantai dasar.
"Iya Ma, aku ke kamar Diesa langsung ya. Mungkin Diesa sudah bangun," ucap Raisa dan ditanggapi anggukkan kepala oleh Siska, lalu keduanya pun berpisah.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku rasanya tidak tenang dan memikirkan Diego. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya? Mudah-mudahan ini hanya firasatku saja," batin Siska yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
*****
Jason melajukan mobilnya menuju ke Perusahaan Abimana Group sambil melihat kanan dan kiri, berharap ia akan bertemu dengan Diego, tuannya itu.
Saat di perjalanan, Jason melihat di sebelah arah yang berlawanan dengannya ada segerombolan orang yang begitu ramai di jalanan. Sehingga membuat Jason memberhentikan mobilnya diseberang jalan, lalu melangkahkan kaki menuju ke keramaian karena penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
Alangkah terkejutnya Jason karena di antara banyaknya orang, ia melihat seseorang yang dikenalinya sedang terluka tetapi terlihat juga sangat garang memarahi mahasiswa yang menggunakan almamater. Ada polisi juga di sana yang sedang menangkap para preman dan mahasiswa yang baru saja tawuran, membuat keributan di jalanan. Sehingga Jason pun langsung saja menghampiri tuannya tersebut.
"Jason, kenapa kau ada di sini?" Tanya Diego yang cukup terkejut melihat kehadiran bodyguard-nya.
"Aku mencari Tuan Diego karena Nyonya Raisa mempunyai firasat buruk jika terjadi sesuatu dengan Tuan, ternyata benar kau terluka Tuan," kata Jason.
"Tolong jangan katakan apapun dulu dengan istriku, jika dia memang bertanya katakan saja aku tidak kenapa-napa. Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja 'kan? Aku sedang membereskan para preman yang tidak tahu diri ini, selalu saja membuat keributan di jalanan. Mahasiswa ini juga sama saja, berpendidikan tapi otaknya sama sekali tidak berpendidikan," kata Diego.
"Terima kasih banyak Tuan Diego, Anda telah membantu pihak kepolisian untuk menangkap para preman ini, yang memang selalu saja membuat kerusuhan. Para mahasiswa ini juga akan kami bawa ke kantor guna penyelidikan. Apa Tuan Diego yakin tidak mau diantar ke rumah sakit dengan yang lainnya," kata polisi.
"Sama-sama Pak. Tidak perlu, nanti biar saya saja yang ke rumah sakit sendiri," jawab Diego.
"Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu Tuan," ucap polisi.
Lalu sekelompok polisi itu pun pergi dengan membawa para mahasiswa dan juga preman yang terlibat tawuran di jalanan menuju ke Kantor Polisi.
Tak hanya polisi tetapi warga setempat juga berterima kasih kepada Diego karena menurut mereka Diego lah yang paling berani bertindak hingga tangannya terluka karena mencegah pisau yang hendak ditancapkan pada perutnya, sehingga tangan Diego terluka parah.
"Tuan, kita harus ke rumah sakit sekarang. Takut luka Anda itu akan infeksi. Biar saya saja yang membawa mobil," kata Jason.
__ADS_1
"Tapi mobil saya ada di sana Jason," kata Diego sembari menunjuk ke arah mobilnya.
"Ya sudah sebentar Tuan, biar saya titipkan dulu ya," kata Jason dan berlari menuju ke mobil Diego.
Setelah menitipkan mobil milik tuannya kepada salah satu warga yang tinggal di sana, Jason langsung saja menuju ke mobil yang dibawanya tadi karena Diego sudah menunggunya. Lalu ia pun membawa tuannya tersebut menuju ke rumah sakit.
******
Setelah luka Diego diobati oleh dokter, ia langsung diperbolehkan untuk langsung pulang ke rumah dengan syarat tidak boleh terlalu banyak beraktivitas menggunakan tangan kanan yang tersayat oleh pisau. Pastinya akan mengeluarkan darah lagi karena lukanya belum kering. Dokter juga memberikan beberapa resep obat untuk penghilang rasa nyeri serta obat dari luar untuk mengeringkan lukanya itu. Setelah itu Jason langsung saja membawa tuannya tersebut pulang ke rumah.
_____
Drt … drt … drt …
Saat sedang berada di perjalanan tiba-tiba saja ponsel Jason bergetar, ada panggilan masuk dari Raisa. Sehingga ia langsung saja menjawab telepon setelah mendapatkan kode dari Diego.
"Halo Nyonya Raisa."
"Halo Kak Jason, kau ada di mana Kak? Apa kau sudah menemukan Kak Diego?" Tanya Raisa.
"Iya Nyonya, saya sudah menemukan Tuan Diego. Nyonya Raisa Tenang saja ya, Tuan Diego baik-baik saja dan sekarang sudah di dalam perjalanan pulang ke rumah," jawab Jason.
"Sukurlah Kak, Terima kasih banyak ya. Ya sudah hati-hati Kak," ucap Raisa yang sama sekali tidak tahu jika saat ini Diego sedang bersama Jason, yang ia tahu Diego sedang menyetir mobilnya sendiri.
"Terima kasih Jason karena kau tidak mengatakannya kepada Raisa. Aku takut dia semakin khawatir, nanti biar aku saja yang menjelaskannya di rumah," kata Diego.
"Iya sama-sama Tuan Diego," jawab Jason lalu menambah kecepatan mobilnya menuju ke kediaman Abimana.
******
"Aku sudah mendapatkan kabarnya Tuan, ternyata Tuan Diego tidak kenapa-napa. telapak tangannya saja yang sedikit terluka karena menangkap pisau yang mau ditusuk keperutnya oleh satu preman. Bahkan Tuan Diego yang sudah membuat para preman dan juga mahasiswa yang tawuran itu ditangkap oleh Polisi," ucap salah satu mata-mata yang melaporkan kepada Roy.
"Dasar bodoh! Semuanya sama saja, sama sekali tidak ada yang bisa bekerja dengan baik dan tidak bisa diandalkan. Padahal aku sudah membayar mahal dan jumlah para preman itu lebih dari 20 orang, hanya menangani satu orang seperti Diego saja tidak bisa," bentak Roy yang merasa sangat murka.
Roy yang sudah merencanakan semuanya dan meminta para preman itu untuk membuat masalah di jalanan dengan menyerang para mahasiswa karena tahu jika Diego pasti akan melewati jalan itu, ia sudah sangat hafal dengan sifat Diego yang tidak mungkin tinggal diam. Ternyata benar sesuai perkiraan Roy jika Diego akan ikut campur dalam tawuran tersebut, tetapi siapa yang menyangka jika sebanyak itupun para preman yang berada di sana sama sekali tidak ada yang bisa menyakiti Diego, hanya luka kecil saja yang sudah pasti sama sekali tidak berpengaruh bagi Diego. Malah Diego membantu pihak kepolisian untuk menangkap mereka semua.
Bersambung …
__ADS_1