
Raisa yang tak mempercayai apa yang baru saja didengarnya itu pun, melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati Siska dan Diego.
"Ma, apa Mama serius dengan ucapan Mama tadi?Kenapa tiba-tiba Mama meminta Kak Diego untuk membatalkan pernikahan kami, memang salahku apa Ma?" Tanya Raisa karena memang ia hanya mendengar sebagian saja.
"Kebetulan kau ada di sini, biar saya tegaskan jika saya tidak menyetujui pernikahan kalian. Batalkan pernikahan kalian!" ucap Siska.
Bak disambar petir di siang bolong, tubuh Raisa tiba-tiba saja bergetar. Ia sangat berharap jika apa yang didengarnya tadi adalah salah, tapi pada kenyataannya Siska malah mengucapkannya lagi dan itu benar-benar nyata, bukan mimpi. Membuat Raisa pun tak mengerti akan hal ini.
"Tapi kenapa Ma? Pernikahan kami hanya tinggal 2 hari lagi, kenapa Mama meminta kami Untuk membatalkan pernikahan?" Raisa meminta penjelasan.
"Ma, aku mohon jangan keterlaluan seperti inilah. Pernikahan kami sudah di ujung mata, tidak bisa dibatalkan seperti itu saja Ma. Undangan juga disebar 'kan? Apa Mama tidak malu jika tiba-tiba saja pernikahan Anak Mama dibatalkan?" Tukas Diego yang saat ini sudah berada di samping calon istrinya itu.
"Justru Mama akan lebih malu jika pernikahan ini tetap berlanjut. Mama bilang tidak bisa ya tidak bisa dan batalkan pernikahan kalian saat ini juga. Jika kau masih menyayangi Mama maka kau harus mengikuti apa kata Mama, Diego. Mama tidak mau melihat pernikahan kalian, Mama tidak sudi mempunyai menantu seorang penghibur," kata Siska yang membuat Raisa pun mengerti apa puncak masalahnya.
"Jadi Mama sudah tahu tentang masa laluku?" Ucap Raisa.
"Jadi itu benar 'kan ternyata kau ini adalah wanita penghibur. Bisa-bisanya kau berpura-pura bersikap baik, polos dan menipuku, ternyata kau hanyalah seorang penghibur. Lagipula Mama heran denganmu Diego, kenapa bisa kau memesan wanita penghibur? Sudah Mama katakan dan sudah berulang kali Mama menjodohkanmu dengan wanita lain agar kau bisa cepat menikah jika kau ingin pendamping, tapi kau selalu saja menolak dan ingin sendiri. Setelah kau memutuskan untuk menikah, kenapa kau tidak mencari wanita yang baik-baik, kenapa kau harus mengambilnya dari wanita penghibur," ujar Siska.
"Stop Ma, cukup! Sudah aku katakan jika Raisa melakukan itu semua karena terpaksa dan Raisa juga tidak sempat menjadi wanita penghibur karena aku adalah pelanggan pertamanya, kami tidak melakukan apapun waktu itu," terang Diego yang menatap serius.
"Apa dengan semua yang telah terjadi, dengan kalian menyembunyikan rahasia sebesar ini dari Mama, lalu Mama akan percaya dengan kalian begitu saja? Sama sekali tidak," ucap Siska.
"Ma, tolong dengarkan penjelasan aku dulu Ma," pinta Raisa.
"Stop memanggilku dengan sebutan Mama karena kau bukan Anak saya dan saya juga tidak mau mendengar penjelasan apapun dari mulutmu itu. Lebih baik sekarang kau pergi dari rumahku!" Usir Siska.
Dengan kesedihan yang amat mendalam, Raisa pun melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan kediaman Abimana.
__ADS_1
"Raisa … tunggu Raisa … !" Teriak Diego.
"Kau diam di situ Diego! Jika kau berani mengejar wanita itu, lebih baik Mama mati saja," ucap Siska.
"Aku tidak peduli dengan ancaman Mama," tukas Diego lalu melangkahkan kakinya ingin Mengejar Raisa.
"Akh … ."
Akan tetapi tiba-tiba saja Siska merintih kesakitan sembari memegangi dadanya, sehingga membuat Diego pun menghentikan langkahnya itu dan berbalik menghampiri sang ibu.
"Maafkan aku Raisa, tapi aku janji akan secepatnya menyelesaikan masalah kita," batin Digo. "Mama, apa Mama baik-baik saja? Kita ke Dokter ya," ajaknya.
"Tidak perlu Diego, dengan kau menuruti perkataan Mama, maka kondisi Mama akan jauh lebih baik. Sekarang Mama ingin istirahat saja di kamar," tukas Siska
Lalu Diego pun menuntun ibunya itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
------
"Ini semua salahku, aku yang dari awal tidak bersikap jujur kepada Mama. Jika dari awal aku jujur, semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Maafkan aku Kak Diego, seharusnya aku sadar jika aku memang tidak pantas untukmu. Kau dari keluarga yang terhormat, sedangkan aku hanya orang susah apalagi dengan masa laluku. Bagaimanapun juga aku memang pernah terlibat di dunia itu Kak, wajar jika Mama bersikap seperti itu padaku," batin Raisa yang menahan perih di dadanya dan air matanya yang terus saja mengalir.
*****
Entah dari mana asalnya, dengan sangat cepat ayah kandung Raisa sudah mendengar semuanya tentang gagalnya pernikahan Raisa dan Diego, yang disebabkan oleh Clarissa dan juga Sheila yang tiba-tiba saja datang membongkar masa lalunya itu. Tentu saja membuat pria paruh baya itu merasa sangat murka dan dia juga merasa kasihan terhadap anak kandungnya itu.
"Brengsek! Berani sekali mereka menghancurkan masa depan Anakku. Padahal aku sengaja menyembunyikan identitasku karena aku tidak mau mengganggu kebahagiaan Raisa, tapi pada kenyataannya Raisa malah dibuat hancur oleh orang lain. Ini adalah penyesalan yang paling terbesar di dalam hidupku," umpat seorang pria paruh baya dengan emosi.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang Tuan?" Tanya asisten pria itu.
__ADS_1
"Jemput Raisa sekarang dan bawa dia ke sini. Aku akan mengakui semuanya dan aku akan meminta Raisa untuk tinggal bersamaku," ucap pria tersebut menatap serius.
"Baik Tuan, saya akan segera melakukannya," jawab sang asisten lalu pergi meninggalkan ruangan tuannya itu.
Sang asisten begitu antusias karena ia merasa sangat senang pada akhirnya tuannya itu pun mau membongkar identitasnya sendiri di depan anaknya. Padahal selama ini ia sudah berusaha membujuk tuannya untuk mengaku karena bagaimanapun juga Raisa akan menikah dan membutuhkan ayah kandungnya, tetapi tuannya itu tetap kekeh karena ia tidak mau mengganggu kebahagiaan Raisa. Bahkan rumah lamanya itu pun jarang di ditinggalinya dan lebih memilih tinggal di rumah baru karena takut jika sewaktu-waktu Raisa akan datang mendadak dan bertemu dengannya.
******
Kini Raisa telah tiba di rumah, ia masuk ke dalam kamar dan kembali menangis sejadi-jadinya. Ia sama sekali tak pernah menyangka jika hubungannya dengan Diego tak semulus yang dipikirkannya. Ia yang menyangka akan bersanding dengan Diego dan akan menjadi istri pria yang dicintainya itu dalam waktu 2 hari lagi, tetapi pada kenyataannya semua itu akan hancur berantakan.
"Bodoh, bodoh, kau bodoh Raisa. Kenapa kau sangat bodoh, kenapa bisa-bisanya kau mengharap Diego untuk menjadi suamimu. Padahal sudah jelas itu sangat mustahil, bisa-bisanya kau percaya takdir yang begitu indah untukmu itu ada. Seharusnya kau sadar Raisa, selamanya kau hanyalah upik abu yang mana mungkin bisa bersanding dengan seorang Pangeran," gumam Raisa yang menyalahkan dirinya sendiri sembari memukul-mukul kepalanya itu.
Tok … tok … tok …
Hingga di saat itu pun terdengar suara ketukan pintu. Raisa langsung saja menghapus air matanya dan beranjak untuk membukakan pintu tersebut.
"Ada apa Kak?" Tanya Raisa yang merasa terkejut melihat pria yang dikenalinya itu ada di depan rumahnya.
"Raisa, apa aku mengganggumu?" Tanya pria tersebut yang melihat mata Raisa tampak sembab dan sudah sangat tahu jika wanita itu sehabis menangis.
"Tidak kok Kak, ada apa?" Raisa mengulangi pertanyaannya.
"Aku diminta Tuanku untuk menjemputmu dan membawamu kediamannya. Ada hal penting yang ingin beliau sampaikan," ucap pria itu.
"Hal penting apa?" Tanya Raisa kebingungan.
"Nanti kau pasti akan tahu sendiri," ucap pria itu sehingga Raisa pun mengikutinya saja.
__ADS_1
Di saat mobil yang ditumpangi oleh Raisa baru saja hendak pergi meninggalkan kediamannya, di saat itu pula Diego baru saja tiba di kediaman kekasihnya itu. Akan tetapi ia tidak menyadari jika mobil yang tadi berpapasan dengannya tersebut adalah mobil seorang pria yang membawa Raisa pergi.
Bersambung …