
Keesokan harinya kondisi Raisa sudah lebih baik dari sebelumnya, hanya saja tangannya yang terluka masih terasa nyeri dan saat ini luka tersebut ditutupi oleh perban. Raisa sudah diperbolehkan untuk pulang karena wanita itu juga merasa sangat bosan berada di rumah sakit. Ia dibawa pulang oleh Sastro dan juga di antar oleh Siska, sedangkan Kelvin menyetir mobil seperti biasa. Sementara Diego masih sibuk untuk mencari tahu tentang kasus yang menimpa Raisa.
"Kak Kevin, apa kau tidak apa-apa menyetir? Bukankah kau baru saja kembali. Kau jangan sampai mengantuk Kak, karena kau membawa 5 nyawa di dalam mobil ini," ucap Raisa.
"5 nyawa?" Tanya Kelvin tak mengerti.
"Iyalah Kak, kau sendiri, Ayah, Mama, aku dan juga bayi yang ada di dalam kandunganku," jawab Raisa sehingga membuat Kelvin pun langsung saja mengerti, begitu juga dengan yang lainnya.
"Iya Kelvin, apa yang dikatakan oleh Raisa itu benar. Jika kau tidak sanggup untuk membawa mobil, biar aku saja yang menyetir," ucap Sastro.
"Tidak perlu Tuan Sastro, Raisa, aku baik-baik saja. Meskipun aku baru saja kembali, tetapi aku juga sudah sempat tidur sebentar. Jadi tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Kelvin.
"Ya sudah kalau begitu, ayo cepat sekarang kita bawa Raisa pulang. Pasti Raisa akan lebih nyaman jika istirahat di rumah, karena yang saya lihat Raisa tidak bisa tidur nyenyak di rumah sakit," ucap Siska.
"He … he … he… Mama tahu saja. Iya Ma, semewah apapun ruangan itu, meskipun itu ruangan VIP, tetap saja aku tidak betah, aku merasa lebih nyaman berada di rumah Ma," ungkap Raisa.
"Ya, ya Mama mengerti. Ya sudah ayo sekarang kita pulang," ajak Siska lalu menuntun Raisa.
Sastro mengikuti dari belakang sembari berjaga-jaga, sedangkan Kelvin membantu membawa barang-barang Raisa yang akan dibawa pulang ke rumah.
_____
Kini mereka bertiga pun sudah di dalam perjalanan menuju ke kediaman Sastro.
"Yah, apakah Kak Diego sudah ada memberi kabar lagi?" Tanya Raisa yang di saat itu duduk di kursi belakang mobil bersama Siska, sedangkan Sastro berada di depan samping kursi pengemudi.
"Belum, tapi kau tenang saja Raisa. Diego pasti baik-baik saja, Diego pasti akan memberi kabar jika terjadi sesuatu. Saat ini dia hanya sedang menyelidiki seseorang yang sedang dicurigainya," ucap Sastro.
"Siapa orang yang dicurigainya itu?" Tanya Siska.
"Maaf Nyonya untuk siapa orangnya itu saya belum tahu, karena Diego juga belum memberitahu saya. Tetapi dia memutuskan untuk menyelidikinya sendiri," jawab Sastro.
__ADS_1
"Apa-apaan anak itu, masalah sepenting ini bukan memberitahu ibunya malah memberitahu orang lain terlebih dulu," gerutu Siska.
"Maaf Nyonya, saya bukan orang lain. Menurut saya mungkin tujuan Diego baik, dia hanya tidak ingin Nyonya Siska merasa cemas," ucap Sastro.
Siska tak menanggapinya, ia memutar bola mata malas lalu menghadap ke arah samping jendela untuk melihat jalanan.
"Lalu di mana Kak Diego sekarang Yah?" Tanya Raisa lagi.
"Ayah juga tidak tahu, tapi kalau kau ingin tahu dan supaya kau lebih tenang, lebih kau hubungi Diego saja," ucap Sastro.
"Iya Yah," jawab Raisa yang langsung saja menghubungi Diego.
Tut … tut … tut …
Terdengar suara telepon tersambung, akan tetapi sudah 3 kali Raisa mencoba menghubunginya, Diego belum juga menjawab telepon tersebut.
"Bagaimana Raisa, apa Diego tidak menjawab teleponmu juga?" Tanya Siska yang merasa sangat khawatir.
"Raisa, Nyonya Siska, kalian tenang dulu ya. Terakhir jam 05.00 WIB Diego menghubungi saya dan mengatakan jika dia baik-baik saja. Diego hanya memintaku untuk menjaga Raisa dan juga Nyonya Siska. Jadi tenang saja ya, kita tunggu saja kabar Diego selanjutnya," ucap Sastro.
Walaupun Siska merasa sangat cemas, tetapi ia berusaha untuk berpikir positif jika kondisi anaknya saat ini baik-baik saja.
"Ini semua karena kau Raisa. Bahkan Diego rela untuk membahayakan dirinya sendiri hanya demi kau, wanita yang dicintainya. Tapi kenapa kau harus mengecewakan Mama seperti ini. Jika masa lalumu tidak buruk, pastinya hati ini sangat ikhlas menerimamu," batin Siska yang tak mengerti dengan perasaannya saat ini.
Jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, memang benar yang Raisa katakan jika masih ada rasa sayang itu untuknya. Tapi entah kenapa rasanya sangat sulit untuk bersikap manis seperti dulu, saat pertama kali ia mengenal Raisa. Di dalam hatinya masih ada rasa keraguan untuk mempercayai Raisa 100%.
*****
Raisa merebahkan tubuhnya di atas kasur, meskipun saat ini ia sudah berada di rumah tetapi pikirannya merasa tidak tenang karena sampai saat ini ia belum mendapat kabar dari sang kekasih. Padahal tubuhnya terasa sangat lelah karena semalaman berada di rumah sakit tidak bisa beristirahat ataupun tidur dengan nyenyak, karena kondisi tangannya yang masih terluka dan terasa sangat perih. Bahkan saat ini hanya karena Raisa tidak betah di rumah sakit, untuk itulah ia meminta untuk segera pulang. Tentu saja dokter mengizinkan asalkan Raisa selalu diawasi dan ia harus kontrol juga ke dokter 3 hari lagi. Itu sama sekali tidak masalah bagi Sastro, karena ia pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.
Tok … tok … tok …
__ADS_1
"Sayang apakah Ayah boleh masuk?" Tanya Sastro sembari mengetuk pintu kamar anaknya tersebut.
"Iya Yah masuk saja," jawab Raisa.
Bersamaan di saat Sastro membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, Raisa pun duduk di atas tempat tidurnya menunggu sang ayah.
"Jika kau lelah kau berbaring saja, tidak perlu duduk Sayang," tukas Sastro.
"Tidak apa-apa kok Yah, aku juga bosan berbaring terus," ujar Raisa.
"Oh ya sudah kalau begitu, bagaimana nyamannya kau saja," ucap Sastro.
"Ada apa Yah?" Tanya Raisa.
"Raisa, saat ini 'kan keadaanmu belum pulih, baik Ayah maupun Diego juga masih menyelidiki kasus yang menimpamu saat ini. Apakah menurutmu pernikahan itu tidak perlu ditunda dulu?" Tanya Sastro, membuat Raisa langsung menatap ke arah ayahnya.
"Menundanya? Aku rasa tidak perlu Yah, karena aku tidak mau mengecewakan Kak Diego. Kak Diego sudah mempersiapkan semuanya, bahkan sudah hampir sempurna. Hanya tinggal menyebarkan undangannya saja 'kan? Jadi aku tidak mau kalau hal itu terjadi. Ayah tenang saja ya, aku baik-baik saja," tolak Raisa.
"Baik-baik saja bagaimana? Kau itu masih terluka. Ayah tahu kau masih menahan perih di tanganmu, luka itu cukup besar Sayang," ucap Sastro.
"Ayah, aku baik-baik saja. Luka ini tidak apa-apa Ayah, aku pasti akan segera sembuh," ucap Raisa meyakinkan Sastro.
"Ya sudah kalau begitu. Ayah akan memperkerjakan seorang Suster untuk menjagamu dan merawatmu saja, tidak perlu lama hanya sampai menjelang hari pernikahan kalian. Kau tidak boleh menolaknya karena ini adalah permintaan Ayah dan besok Suster itu akan langsung bekerja di sini," ucap Sastro yang merasa sangat khawatir terhadap anaknya itu.
Meskipun sebenarnya Raisa sangat enggan dan ingin menolaknya, tetapi ia juga tidak mau mengecewakan ayahnya tersebut yang merasa sangat khawatir terhadapnya.
"Ya sudah Ayah aku setuju. Terima kasih ya Ayah karena ayah begitu menyayangiku dan selalu mengerti apa yang menjadi keinginanku," ucap Raisa yang langsung memeluk tubuh cinta pertamanya itu.
Begitu juga dengan Sastro yang membalas memeluk Raisa dengan sangat erat.
Bersambung …
__ADS_1