Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Kalut.


__ADS_3

Saat sudah berada di rumah sakit, Raisa tampak kecewa karena ia tidak bisa melakukan transfusi darah untuk sang ayah. Pasalnya saat ini Raisa sedang menyu sui bayi sehingga ia pun tidak bisa melakukannya. Meskipun Raisa memaksa tentu saja dokter tidak mengizinkan karena itu semua akan beresiko sangat tinggi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Kak, aku benar-benar tidak tenang karena tidak bisa menolong Ayah," ucap Raisa.


"Sayang, kau yang sabar ya. Dokter masih berusaha untuk mencarinya, aku yakin kok Ayah pasti akan mendapatkan donor darah segera," kata Diego.


"Tapi sampai sekarang Dokter belum mengabarinya lagi Kak, bagaimana ini," ucap Raisa.


"Raisa, aku benar-benar minta maaf ya. Tadinya aku juga tidak tahu kalau ibu menyu sui tidak boleh mendonorkan darah, aku juga tidak memberitahu Dokter. Aku benar-benar minta maaf," ucap Kelvin.


"Aku juga tidak tahu soal itu Kak, tapi siapa yang peduli. Sekarang yang aku inginkan hanya menolong Ayah," kata Raisa.


"Raisa, aku benar-benar minta maaf. Ini semua salahku, karena aku yang tidak bisa menjaga Ayah menyebabkan kondisi Ayah jadi seperti ini. Kalau saja aku becus menjaga Ayah, pasti Ayah tidak akan terluka," ucap kelvin yang merasa sangat menyesal dan bersalah.


"Ini bukan kesalahanmu Kak, apalagi kondisinya juga sudah larut malam, memang sudah seharusnya kau beristirahat. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa orang itu tega sekali mencelakai Ayah, apa salah ayah?" Tukas Raisa.


"Tenang ya Sayang, aku janji akan mencari orang itu sampai dapat. Aku pastikan tidak akan memberi ampun kepada orang itu," ucap Diego.


"Iya Kak, aku ingin orang itu mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Tangkap mereka semua yang sudah berlaku jahat kepada keluarga kita, bila perlu penjara seumur hidup supaya tidak ada lagi orang jahat yang berkeliaran di luar," ucap Raisa dengan sangat emosi. Padahal selama ini ia selalu bersikap sabar dan tenang, tetapi kali ini rasa emosinya sudah meluap-luap.


Tiba-tiba saja ada seorang perawat yang datang menghampiri mereka dan mengatakan jika rumah sakit sudah mendapatkan donor darah dari PMI karena baru saja ada yang mendonorkan darah sesuai dengan golongan darah Sastro, membuat Raisa, Diego dan Kevin merasa sangat lega.


Di saat itu juga Dokter langsung saja menangani Sastro, melakukan transfusi darah untuk pria itu. Sedangkan Raisa, Diego dan Kelvin berada di depan ruang ICU menunggu kabar sang ayah dengan perasaan yang begitu cemas.


Perasaan Raisa benar-benar tidak tenang, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan sang ayah, rasanya tidak sanggup jika harus kehilangan sosok seorang ayah yang belum lama ditemuinya itu. Di dalam hatinya terus berdoa semoga kondisi ayahnya baik-baik saja.


Bukan hanya Raisa saja, Diego sendiri juga merasa sangat khawatir dan terus mendoakan Ayah mertuanya tersebut. Begitu juga dengan Kelvin, ia adalah orang yang merasa paling bersalah di sini karena menganggap dirinya telah lalai menjaga sang ayah sampai membuatnya celaka. Seandainya waktu bisa diputar kembali sudah pasti Kelvin tidak akan mungkin istirahat terlebih dulu malam itu sebelum memastikan jika ayahnya sudah tidur.


"Ayah, semoga Ayah baik-baik saja. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan Ayah, maafkan aku telah lalai menjaga Ayah," batin Kelvin yang menangis dalam diam.


Diego tampak menepuk pelan pundak Kelvin karena tahu betul bagaimana rapuhnya perasaan pria itu saat ini, sudah pasti sama dengan yang Raisa rasakan. Meskipun Kelvin hanyalah anak angkat Sastro, tetapi dia yang sudah lama hidup bersama pria paruh baya itu.


"Kak Kelvin, bagaimana keadaan Pak satpam sekarang, apa sudah bisa dimintai keterangan?" Tanya Raisa.


"Sekarang ini kondisi Pak Satpam sudah mulai membaik, aku juga sudah mengabari Polisi dan mungkin sebentar lagi Polisi akan datang. Tapi Pak Satpam harus tetap dirawat karena kondisi sebelumnya cukup parah, bahkan Dokter mengatakan ada luka dalam," ucap Kelvin.


"Kak Diego, aku ingin bertemu dengan Pak Satpam," ucap Raisa.


"Ya sudah ayo, aku akan mengantarmu. Kelvin, titip Ayah ya," ucap Diego.


"Hm, kau tenang saja. Digo, Raisa, kalian pergi saja," kata Kelvin.

__ADS_1


Lalu Raisa dan Diego pun segera pergi menuju ke ruang rawat inap Pak Satpam.


*****


Sementara itu keadaan di kediaman Abimana tampak runyam, pasalnya sang bayi tiba-tiba saja menangis tanpa henti meskipun Suster Ayumi sudah memberikan susu dan juga menenangkannya. Membuat Ayumi, Maira dan Siska merasa kebingungan.


"Suster Maira, coba kau hubungi Raisa lagi. Mungkin saja tadi dia belum sempat menjawab telepon," kata Siska.


"Iya Nyonya, saya akan mencobanya lagi," jawab Maira.


Tut … tut … tut …


Beberapa kali Maira mencoba untuk menghubungi Diego dan Raisa kembali tetapi hasilnya masih tetap sama.


"Tetap tidak diangkat Nyonya," kata Maira.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana, saya tadi juga lupa menanyakan di mana rumah sakitnya. Siapa ya yang harus dihubungi sekarang? Oh iya Kelvin. Suster Maira, coba tolong tanyakan kepada salah satu Bodyguard di depan apakah di antara mereka ada yang memiliki nomor ponsel Kelvin, Kakak angkat Raisa. Karena saya tidak memiliki kontaknya," titah Siska.


"Baik Nyonya, saya akan menanyakan sekarang," jawab Maira yang keluar dari kamar Siska, lalu ia pun menemui ketiga bodyguard yang saat ini berjaga di depan rumah.


"Suster Maira ada apa? Apa Baby Diesa masih terus menangis?" Tanya Ramzi yang melihat kehadiran Maira terlebih dulu.


"Aku ada," jawab Ramzi.


"Kalau boleh tolong hubungi Kak Kelvin Kak, katakan jika saat ini baby Diesa terus menangis dan dia tidak bisa tenang meskipun Suster Ayumi sudah memberikan susu atau menenangkannya. Minta tolong Tuan Kelvin untuk menyampaikannya kepada Nyonya Raisa, karena dari tadi aku mencoba menghubungi Nyonya Raisa dan Tuan Diego tetapi sama sekali tidak ada yang menjawabnya," ucap Maira.


"Baik Sus, aku akan segera menghubunginya sekarang," kata Ramzi lalu segera saja ia menghubungi Kelvin.


Tidak membutuhkan waktu lama, Kelvin telah menjawab telepon tersebut dan Ramzi memberikan ponselnya itu kepada Maira.


Tanpa berbasa-basi Maira langsung saja memberitahu Kelvin tentang tujuannya menelpon pria itu. Setelah Kelvin mengerti dan mengiyakannya, Maira segera mengakhiri telepon tersebut.


"Terima kasih banyak ya Kak Ramzi," ucap Maira tersenyum, lalu ia pun masuk ke dalam rumah kembali.


"Iya, sama-sama suster Maira," ucap Ramzi yang menatap punggung kepergian Maira.


Di saat itu tampak Aron dan Jason yang saling berpandangan dan melihat ke arah Ramzi, lalu keduanya pun mendekati temannya itu.


"Sudah, sudah, Suster Maira-nya sudah masuk ke dalam. Kalau mau ya dikejar jangan hanya dilihat saja," kata Jason.


"Suster Maira benar-benar sangat anggun, penuh kasih sayang, seandainya saja-" Ramzi tak melanjutkan ucapannya, hanya terlihat senyuman yang mengambang dari sudut bibirnya.

__ADS_1


"Jangan mengkhayal. Suster Maira itu masih sangat muda, berbeda jauh dengan usiamu," kata Aron.


"Jodoh itu tidak akan kemana dan tidak ada yang tahu. Buktinya Tuan Diego bisa bersama dengan Nyonya Raisa dan mereka sangat cocok," kata Aron.


"Oh iya, kau benar juga. Ya sudah kalau kau memang menyukai Suster Maira lebih baik diungkapkan saja, jangan dipendam," kata Jason.


"Lihat saja bagaimana nanti. Sudah sana kerja, kerja," usir Ramzi, hingga kini mereka bertiga pun kembali berpencar untuk menjaga keamanan di sekitar rumah.


*****


Setelah mendapatkan kabar dari Kelvin tentang keadaan anak bungsu mereka di rumah, Raisa dan Diego pun bergegas pulang ke kediamannya. Ia menitipkan sang ayah kepada Kelvin dan memintanya untuk memberi kabar apapun yang terjadi nanti. Saat ini polisi juga berada di rumah sakit sedang meminta keterangan kepada satpam tentang apa yang terjadi di kediaman Wijaya, yang menyebabkan Sastro menjadi terluka seperti itu.


Tidak membutuhkan waktu lama kini mereka berdua pun telah tiba di kediaman Abimana, segera saja Raisa dan Diego berlari menuju ke kamar Siska untuk menemui sang anak yang memang sejak tadi berada di sana.


"Sayang, Sayang, ini Mama Sayang. Kau kenapa?" Ucap Raisa yang langsung saja meraih sang bayi dari tangan sang pengasuh.


Baik Raisa maupun Diego sama-sama khawatir karena mendengar Diesa yang menangis kencang seperti kesakitan atau terkena sesuatu, padahal kondisinya baik- baik saja. Sehingga Raisa pun mencoba untuk menenangkannya sebisa mungkin. Begitu juga dengan Diego yang ikut andil menenangkan sang bayi.


"Sayang, ada apa denganmu Nak? Kenapa tiba-tiba kau menangis seperti ini. Tenang ya Sayang Mama ada di sini, Mama tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Raisa yang merasa sangat kalut, belum selesai masalah sang ayah kini kondisi sang anak yang membuatnya khawatir.


"Sayang lebih baik bawa Diesa ke kamarnya saja," ucap Diego.


"Iya Kak," jawab Raisa.


"Ma, kami bawa Diesa ke kamar dulu ya. Nanti setelah dia sedikit tenang aku akan ke sini lagi," kata Diego.


"Iya Diego, lebih baik kalian tenangkan Diesa saja dulu, kasihan sudah hampir satu jam dia menangis terus," kata Siska.


Diego menganggukkan kepalanya, lalu ia dan istrinya itu pun segera keluar dari kamar Siska dan menuju kamar sang bayi yang berada di samping kamar ibunya itu.


_____


Saat berada di dalam kamar Diesa, Raisa langsung memberikan ASI-nya sembari berbaring di atas tempat tidur, hingga tidak lama kemudian sang bayi terdiam dan merasa lebih tenang berada di dalam dekapan sang ibu, Membuat Raisa dan Diego tampak lega. Tadinya mereka pikir terjadi sesuatu dengan Diesa tetapi pada kenyataannya ia hanya rewel saja, mungkin karena merindukan orang tuanya atau ikut merasakan jika saat ini kedua orang tuanya itu sedang merasa kalut karena masalah yang terjadi.


"Sayang, lebih baik kau di rumah saja ya. Kau tetap tenang, aku janji akan selalu memberi kabar apapun yang terjadi. Aku harus pergi sekarang supaya masalahnya cepat selesai. Kau harus ingat, jangan terlalu merasa khawatir. Benar apa yang Mama katakan, seorang ibu jika sedang merasa sedih pasti anaknya juga ikut merasa sedih. Begitu juga sebaliknya jika seorang ibu bahagia maka anaknya juga akan ikut bahagia, karena ikatan antara ibu dan sang bayi itu sangat kuat," ucap Diego dengan suara yang sangat pelan, takut mengganggu sang bayi yang mulai memejamkan mata.


"Iya kak, tapi kau tetap hati-hati ya dan janji harus memberi kabar, jangan menghilang seperti kemarin-kemarin," ucap Raisa.


Meskipun saat ini perasaannya masih tidak tenang memikirkan sang ayah, tetapi Raisa juga mengikuti perkataan suaminya karena juga merasa kasihan dengan sang anak yang saat ini sangat membutuhkannya dan tidak bisa digantikan oleh orang lain.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2