
Sadar akan tatapan Diego yang penuh curiga, membuat Hermawan memutar otaknya untuk menerangkan kepada pria tersebut agar tidak salah paham dengannya.
"Apa maksud Om berkata seperti itu?" Tanya Diego.
"Diego, Om sama sekali tidak bermaksud apapun selain ingin membantumu. Kau juga tahu 'kan Om juga sudah sangat ahli memimpin perusahaan, bahkan perusahaan Om di sini juga sudah terbilang berkembang cukup pesat. Apa kau tidak percaya jika Om bisa menangani perusahaanmu juga?" Kata Hermawan yang membuat Diego tak habis pikir jika Om-nya tersebut bisa berkata seperti itu lagi.
Karena ini bukan pertama kalinya, dulu saat Diego juga mengurus ibunya untuk berobat ke luar negeri, Hermawan pernah mengatakan seperti itu tetapi Digo lebih memilih Darrel untuk menangani perusahaannya. Sementara Diego hanya mengurus pengobatan ibunya saja di luar negeri dan setelah itu ia pun kembali lagi ke Indonesia dengan mempekerjakan suster khusus di sana untuk menjaga dan merawat ibunya. Resikonya Diego harus bolak balik ke luar negeri.
Akan tetapi saat ini ia sudah memiliki istri dan anak-anak yang membutuhkannya di rumah, sehingga membuat Diego pun merasa dilema apa yang harus dipilih olehnya. Di satu sisi ia ingin ibunya sembuh, bisa saja jika Diego membawa keluarganya tersebut ke luar negeri, tetapi ia juga tidak mau menyerahkan perusahaannya kepada Om-nya tersebut. Mengingat mendiang ayahnya pernah mengatakan padanya jika ia harus berhati-hati dengan sepupu ibunya yang bernama Hermawan itu. Meskipun Diego belum bisa membuktikannya, tetapi sudah terlihat jelas jika Hermawan memang sangat ingin bergabung di perusahaannya itu.
"Maaf Om, aku juga sama sekali tidak menuduh Om mau melakukan hal yang bukan-bukan. Tapi aku juga tidak bisa menyerahkan Perusahaan Abimana Group kepada orang yang sama sekali tidak mengerti tentang perasahaanku. Perusahaan ini memang harus aku sendiri yang menanganinya, biasanya ada Darrel asistenku tapi om 'kan tahu sendiri saat ini Darrel berada di penjara. Jadi aku juga tidak bisa mempercayai siapapun dengan mudah, meskipun itu saudaraku sendiri," ucap Diego langsung saja.
"Jadi kau tidak percaya dengan Om-mu sendiri atau kau pikir Om akan berkhianat sama seperti Darrel," kata Hermawan.
"Maaf Om, aku benar-benar tidak bermaksud berkata seperti itu. Lagi pula apa Om ini menganggur sampai menawarkan diri untuk mengurus perusahaanku, bagaimana dengan perusahaan Om sendiri?" Tukas Digo.
"Oh kalau masalah perusahaan Om, Om juga mempunyai asisten kepercayaan seperti kau mempercayai Darrel waktu itu. Ada Tante Sheila, istri Om yang juga membantu di perusahaan, jadi Om bisa menitipkannya untuk sementara. Lagi pula Om juga bisa bolak-balik ke Bandung, 'kan tidak terlalu jauh daripada harus bolak-balik ke luar negeri," kata Hermawan, masih berharap jika Diego menyetujui penawarannya.
"Oh … seperti itu. Terima kasih banyak atas tawarannya Om, tapi sepertinya tidak perlu dan untuk pengobatan Mama nanti akan aku pikirkan lagi setelah berkonsultasi dengan Dokter. Sekarang lebih baik Om istirahat saja, ini sudah malam," kata Diego.
Hermawan hanya diam saja karena merasa sanga kesal dan ingin marah, tetapi ia harus tetap sabar menghadapi Diego. Memang Diego memiliki sifat yang sangat keras kepala dan tidak mudah percaya dengan orang lain, mirip sekali dengan mendiang ayahnya, membuat Hermawan harus berhati-hati menghadapinya. Entah apa tujuan Hermawan saat ini, mungkin saja apa yang dikatakan oleh mendiang ayah Diego tentang kecurigaannya itu benar.
*****
"Raisa apa kau membutuhkan ayah menemanimu di sana? Kalau iya hari ini juga Ayah akan langsung pergi ke Bandung untuk menemani kalian," kata Sastro dari seberang telepon di saat Raisa menghubunginya dan memberi kabar tentang kondisi Siska saat ini.
"Tidak perlu Ayah, sudah ada Teh Rasmi yang menemaniku di sini. Aku hanya ingin mengabari ayah saja, bahkan aku sendiri belum bisa untuk menjenguk Mama, kasihan anak-anak di rumah. Jadi sampai sekarang aku masih menunggu kabar dari Kak Diego saja Yah," kata Raisa.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kau tetap diam di rumah, jangan berpikir macam-macam. Kasihan Diego, sekarang ini pasti dia sangat sedih karena kondisi ibunya. Jangan menambah pikiran Diego ya, Ayah doakan semoga Nyonya Siska baik-baik saja," ucap Sastro.
"Iya Ayah, terima kasih banyak ya. Ayah jaga diri baik-baik di rumah. Jangan lupa obatnya diminum karena penyakit Ayah ini tidak ada bedanya dengan penyakit Mama, hanya saja penyakit Ayah masih belum terlalu parah. Aku ingin ayah selalu rutin minum obat supaya cepat sembuh," ucap Raisa.
"Iya Sayang, kau tenang saja ya. Ayah akan selalu minum obat tepat waktu. Ayah juga ingin sehat, Ayah tidak ingin sakit dan menyusahkan kalian terus," kata Sastro.
"Ayah ini bicara apa sih, Ayah sama sekali tidak pernah merepotkan aku atau siapapun. Oh iya apa Kak Kelvin sekarang ada di rumah?" Tanya Raisa.
"Ada, Ayah memerintahkannya untuk libur hari ini karena ini memang hari libur. Apalagi sudah beberapa hari ini Kelvin selalu lembur karena sedang menangani sebuah proyek," jawab Sastro.
"Syukurlah, Ayah dan Kak Kelvin baik-baik ya di rumah. Sudah dulu ya Yah teleponnya, aku mau memandikan Diesa dulu dan memberikan sarapan untuk Anak-Anak, mereka sudah bangun. Ayah jangan lupa sarapan lalu minum obat," pesan Raisa lagi.
"Iya Bu Dokter, Ayah tidak akan melupakan itu. Ya sudah kalau begitu hati-hati ya, salam untuk Denis," ucap Sastro.
"iya Ayah, jawab Raisa mengakhiri telepon tersebut.
Terdengar suara ketukan pintu, sehingga Raisa pun menitipkan Diesa kepada Denis lalu meninggalkan anak-anaknya sebentar dan bergegas membukakan pintu.
"Maaf, dengan siapa ya?" Tanya Raisa melihat saat melihat seorang pria muda yang berada di depan pintu rumah.
"Perkenalkan Teh, nama saya Dadang tetangga Bu Siska. Teteh siapa ya? Saya ke sini hanya mau mengantar sarapan, karena yang saya tahu Bu siska hanya tinggal sendiri di sini. Apa Bu Siska-nya ada di rumah?" Tanya Dadang.
"Saya menantunya. Saat ini Mama sedang tidak ada di rumah, Mama ada di rumah sakit," jawab Raisa.
"Oh … Teteh ini istrinya Akang Diego ya? Kau saya boleh tahu memangnya Bu Siska sakit apa Teh?" Tanya Dadang.
"Iya, saya istrinya Kak Diego. Mama mempunyai penyakit jantung sejak lama," jawab Raisa.
__ADS_1
"Saya minta maaf karena saya benar-benar tidak tahu Teh, saya doakan semoga Bu siska cepat sembuh. Kalau begitu bagaimana kalau sarapan ini untuk Teteh saja, karena saya sudah sarapan dan ini mau berangkat kerja," kata Dadang.
"Oh … seperti itu, ya sudah kalau begitu saya terima. Terima kasih ya Kang," ucap Raisa yang memanggil pria tersebut dengan panggilan di desa itu.
"Iya, sama-sama Teh. Saya permisi dulu ya," ucap pria yang mengaku bernama Dadang itu dan pergi meninggalkan Raisa.
Di saat itu pun Raisa kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu, serta meletakkan sarapan yang tadi diberikan oleh Dadang di atas meja. Lalu ia pun melangkahkan kaki menuju ke kamar untuk melihat anak-anaknya. Sedangkan Teh Rasmi sedang pulang ke rumah sebentar untuk mandi dan berganti pakaian, ia juga tidak pergi ke perkebunan karena berjanji akan menemani Raisa dan membantu untuk menjaga anak-anaknya.
_____
Setengah jam kemudian, setelah mengurus Diesa dan Denis yang saat ini sudah mandi dan wangi, kini Raisa pun membawa anak-anaknya tersebut menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama. Di saat itu Teh Rasmi juga sudah datang kembali ke rumah tersebut.
"Teh Rasmi ayo kita sarapan," ajak Raisa.
"Teh Raisa, seharusnya Teteh jangan repot-repot seperti ini, biar saya saja yang menyiapkan sarapan," kata Teh Rasmi yang merasa sangat sungkan.
"Tidak apa-apa Teh, kebetulan tadi waktu Teteh pulang anak-anak masih tidur jadi aku masih sempat untuk membuat nasi goreng. Oh ya Teh tadi ada yang mengantarkan sarapan ke sini untuk Mama, tapi karena Mama tidak ada jadi dia memberikannya untukku. Mamanya Dadang, apa Teh Rasmi tahu dia dekat dengan Mama?" Ucap Raisa.
"Dadang, Dadang siapa atuh Teh?" Tanya Teh Rasmi.
"Saya juga tidak tahu Teh, ini adalah pertama kalinya saya melihat pria itu. Tapi katanya dia tetangga di sini dan katanya dia dekat dengan Mama," terang Raisa.
"Setahu saya di dekat sini tidak ada tetangga yang namanya Dadang, apalagi dekat dengan Bu siska. Bu Siska itu hanya dekat dengan saya dan suami saya. Walaupun tetangga di sini semua kenal dengan Bu siska, tapi tidak ada yang berinisiatif sampai harus mengantar sarapan seperti ini," kata Teh resmi yang membuat Raisa pun terkejut.
Raisa berpikir, jika masalah sarapan mungkin saja tetangganya hari ini memang sedang berbaik hati ingin berbagi kepada Siska. Tetapi karena Teh Rasmi mengatakan tidak ada tetangga yang bernama Dadang, tentunya membuat Raisa pun bertanya-tanya siapa orang tadi dan apa maksudnya memberikan sarapan tersebut. Apa mungkin jika sarapan itu sebenarnya memang untuk dirinya, hanya saja mengatasnamakan Siska.
Bersambung …
__ADS_1