
Diego membuka matanya lebar-lebar untuk memastikan jika apa yang dilihatnya itu tidak salah, semakin terlihat jelas jika memang wanita itu adalah Clarissa yang di saat itu bergandengan mesra dengan Darrel masuk ke dalam bangunan mewah tersebut.
"Sebenarnya ini rumah siapa atau jangan-jangan ini adalah rumah yang dibeli Darrel menggunakan uang perusahaanku waktu itu? Lalu apa hubungan Darrel dan Clarissa, apa mereka mempunyai hubungan di belakangku? Kurang ajar, kalau memang seperti itu ternyata Darrel bukan hanya mengkhianatiku soal perusahaan saja tetapi dia juga sudah mengkhianatiku karena bekerja sama dengan wanita licik itu untuk menyakiti Raisa. Sekarang aku semakin yakin Darrel, jika itu semua memanglah ulahmu. Lihat saja kau tidak mungkin bisa lepas dariku. Oke untuk saat ini aku biarkan kau bersama dengannya karena aku masih belum memiliki bukti-bukti yang kuat, tunggu saja waktunya kau pasti tidak akan aku beri ampun," batin Diego seraya menggenggam erat kedua tangannya serta menatap tajam, menahan emosi.
"Ayo jalan Pak," titah Diego kepada supir taksi online untuk kembali melaju.
Tujuan Diego saat ini adalah pulang ke rumahnya karena memang hari juga sudah sore, sehingga ia tidak mungkin untuk kembali lagi ke perusahaannya.
*****
"Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kau ucapkan lewat telepon tadi. Kau yakin ingin melakukan sesuatu lagi untuk membantuku?" Tanya Clarissa saat keduanya sudah berada di dalam rumah.
"Tentu saja Sayang, setelah aku pikir-pikir aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, jadi aku akan melakukan apapun untukmu asal kau selalu berada di sisiku. Jika kau ingin menyingkirkan Raisa itu sama sekali tidak masalah untukku, tapi kali ini kita harus memikirkan cara yang benar-benar licik karena sepertinya Diego sudah mulai mencurigai gerak-gerikku," ucap Darrel.
"Ya kau benar, kau harus hati-hati. Aku tidak mau jika kau akan ketahuan oleh Diego dan rencana kita akan berantakan," ucap Carissa.
"Sudah aku duga, aku pikir kau khawatir jika aku diapa-apakan oleh mantan suamimu itu, tetapi kau hanya takut rencanamu tidak berhasil," ucap Darrel memasang wajah bete.
"Tidak, maksudku tidak seperti itu. Sudahlah kau tidak perlu marah atau jutek seperti itu, ayo kita ke kamar," ucap Clarissa sehingga menimbulkan senyum sumringah di sudut bibir Darrel.
Bagaimana tidak, ia memang sudah sangat menantikan pelayanan dari Clarissa sehingga di saat wanita itu mengajaknya tentu saja membuat Darrel pun begitu sangat bersemangat. Lalu ia pun menggendong Clarissa ala bridal dan membawanya masuk ke dalam.
"Darrel, lepaskan aku Darrel!" Teriak Clarissa diiringi tawanya.
Keduanya terlihat seperti pasangan suami istri yang baru saja menikah dan begitu bahagia. Tetapi pada kenyataannya mereka hanya pasangan yang tidak jelas apa status hubungan mereka saat ini. Bagi Darrel yang penting ia bisa tetap terus bersama Clarissa, itu sudah lebih dari cukup. Sedangkan bagi Clarissa selama Darrel bisa dimanfaatkan olehnya, tidak masalah baginya memberikan tubuhnya untuk pria itu.
*****
__ADS_1
Raisa yang di saat itu sedang menyirami bunga di depan rumah, merasa keheranan melihat sebuah taksi online yang berhenti di depan pagar rumah. Ia bertanya-tanya dan setelah melihat Diego yang keluar dari dalam taksi tersebut, membuat Raisa pun tersenyum memandang ke arahnya.
Diego melangkahkan kaki masuk ke halaman rumahnya dan langsung saja mendekati istrinya tersebut. Tak lupa Raisa menyambut tangan sang suami dan mencium punggung telapak tangannya. Sedangkan Diego mencium kening istrinya dengan sangat lembut, sebagai aktivitas baru yang mereka lakukan sebagai pasangan suami istri.
"Kak mobilmu mana, kenapa kau pulang menggunakan taksi online?" Tanya Raisa.
"Oh itu, tadi Darrel sudah pulang terlebih dulu dan aku lagi malas untuk menyetir. Jadi aku meninggalkan mobil di kantor," jawab Diego beralasan, tak ingin mengatakan kepada istrinya terlebih dulu tentang terungkapnya pengkhianat.
"Oh … seperti itu. Aku pikir ada apa dengan mobilmu Kak," tukas Raisa.
"Tidak ada apa-apa kok Sayang. Oh ya kau sedang apa? Mama mana?" Tanya Diego.
"Ya ampun Kak, memangnya kau tidak bisa melihat aku sedang menyiram bunga. Mama ada kok di kamar dan tadi aku juga sudah izin sama Mama untuk menyiram bunga ini. Mama tidak melarangku yang penting aku tidak kecapean. Lagi pula ibu hamil juga harus banyak bergerak, jika hanya di dalam kamar saja itu tidak baik bagi pertumbuhan janin," terang Raisa.
"Iya, iya aku percaya padamu. Tapi kau jangan kecapean ya, aku tidak mau jika kau dan Anak kita nantinya akan kenapa-napa," ucap Diego sembari mengelus perut Raisa yang sudah terlihat sedikit membuncit.
_____
"Sayang, kau belum mandi 'kan?" Tanya Diego.
"Iya belum Kak, kenapa?" Tanya Raisa.
"Kita mandi sama-sama ya, biar aku membantu membersihkan badanmu," ujar Diego seraya mengerlingkan matanya menggoda sang istri.
"Hm … aku tahu Kak, kau pasti mempunyai niat terselubung 'kan?" Ujar Raisa yang selalu menebaknya dengan benar.
"Ya itu kau sudah tahu. Lalu bagaimana, apakah kau akan menolak suamimu ini lagi setelah tadi pagi kau menolaknya? Sudah tidak ada alasan Sayang, tadi pagi kau menolaknya karena aku akan pergi bekerja dan sekarang aku sudah pulang. Ayolah, aku butuh asupan setelah seharian lelah bekerja," rengek Diego dengan tatapan mendamba, membuat Raisa menjadi tak tega untuk menolaknya.
__ADS_1
Raisa pun tersenyum menatap ke arah suaminya itu, ia tak menolak dan masuk ke dalam kamar mandi terlebih dulu dengan pintu kamar mandi yang masih terbuka seakan menunggu suaminya itu. Sehingga membuat Diego pun merasa sangat senang lalu ikut masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
_____
Mula-mula Diego dan Raisa membuka pakaian masing-masing sehingga tampak polos tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuh keduanya. Lalu Raisa menghidupkan air shower dan keduanya pun berada di bawah guyuran air shower tersebut.
Diego mulai me lu mat bibir Raisa dengan sangat rakus serta mendapat balasan dari sang istri, sehingga ciuman tersebut semakin mendalam dan memanas di bawah dinginnya guyuran air shower. Hingga beberapa menit kemudian keduanya melepaskan ciuman tersebut dengan nafas tersengal.
"Sayang, aku sabunin ya badanmu," ucap Diego.
Raisa pun hanya mengangguk menyetujuinya. Lalu Diego mulai menyabuni tubuh istrinya tersebut sembari memberikan sentuhan-sentuhan di setiap lekuk tubuhnya, mulai dari leher hingga sampai pada kepemilikan Raisa, sehingga membuat Raisa pun men de sah merasakan sensasi yang berbeda.
Setelah tubuh Raisa sudah bersih, kini giliran Raisa pula yang menyabuni tubuh Diego serta meraih tongkat ajaib yang di saat itu sudah sangat mengeras. Bagaimana tidak, sedari tadi ia melihat kemolekan tubuh istrinya itu serta menyentuhnya, tentu saja membuat tongkat ajaibnya itu meronta-ronta meminta untuk segera dimanjakan.
"Ahg … Sayang."
Diego men de sah di saat Raisa memaju-mundurkan tangannya di bawah sana sembari membilasnya dengan air.
Diego yang sudah tidak tahan lagi pun langsung saja menyandarkan tubuh istrinya itu ke dinding kamar mandi dengan posisi membelakanginya. Lalu segera saja ia memasukan juniornya itu ke dalam goa milik sang istri dengan posisi Raisa yang sedikit menungging.
Setelah miliknya tenggelam sempurna pada kepemilikan Raisa, Diego mulai memaju-mundurkan pinggulnya dari perlahan hingga ke tempo cepat, dengan tangan Diego yang aktif meremas 2 gundukan yang menggantung pada tubuh Raisa. Sehingga membuat keduanya saling men de sah dan detik berikutnya keduanya telah mencapai puncak kenikmatan yang hakiki. Diego telah melakukan pelepasan yang pertama, sedangkan Raisa sudah melakukan pelepasan yang kedua kali setelah yang pertama tadi saat keduanya melakukan pemanasan.
Setelah keduanya sudah tampak lega, kini mereka pun segera membilas tubuh hingga bersih lalu sama-sama keluar dari kamar mandi dan langsung saja memakai piyama.
"Nanti malam lagi ya Sayang," pinta Diego.
"Apa?" Pekik Raisa.
__ADS_1
Bersambung …