
"Teh Raisa sudah ya Teh jangan menangis lagi, saya juga jadi sedih terus atuh kalau melihat Teh Raisa seperti ini. Sedangkan saya diminta oleh Akang Diego untuk menjaga Teh Raisa di sini, untuk menenangkan Teteh," ucap Teh Rasmi.
"Bagaimana aku tidak sedih Teh, saat ini kondisi Mama sedang koma tapi aku tidak bisa melihat Mama," ucap Raisa dengan air mata yang terus saja mengalir.
"Teh Raisa yang tenang ya, saya tahu bagaimana perasaan Teteh sekarang. Yang terpenting sekarang Teteh berdoa, saya juga ikut mendoakan semoga Bu Siska baik-baik saja, cepat sembuh. Saya sudah lama mengenal Bu Siska, saat Juragan masih ada dan mereka tinggal di rumah ini. Bu Siska dan suaminya itu adalah orang yang baik, begitu juga dengan Akang Diego. Saat masih kecil Kang Diego adalah anak yang ramah, baik, suka menolong dan sama sekali tidak pernah mengganggu teman-temannya, bahkan sampai saat ini. Saya juga sudah sangat dekat dengan Kang Diego seperti anak saya sendiri. Tapi saya sadar kalau saya hanyalah pekerja, saya sudah lama bekerja dengan keluarga Abimana. Baik Bu Siska maupun suaminya sama-sama sangat baik terhadap saya dan suami saya. Sekarang Kang Diego meminta saya untuk menjaga Teh Raisa, tentu saja dengan senang hati saya akan menjaga Teteh dan anak-anak, jadi Teh Raisa jangan menangis lagi ya," ucap Teh Rasmi yang dengan sadar menceritakan tentang masa kecil Diego.
"Iya Teh, terima kasih banyak ya. Terima kasih juga karena sudah mendoakan Mama," ucap Raisa.
"Sama-sama Teh," jawab Teh Rasmi.
Di saat itu pun terlihat Mang Jojo yang baru saja tiba dan hendak mengambil pakaian Diego dan keperluan Siska. Sehingga segera saja Raisa mengambil pakaian suaminya serta dibantu oleh teh Rasmi yang mengemasi barang-barang milik Siska seperlunya, lalu memberikannya kepada suami Teh Rasmi.
"Terima kasih ya Mang, hati-hati di jalan. Titip salam untuk Kak Diego," ucap Raisa.
"Iya, sama-sama Teh Raisa. Saya pergi dulu ya Teh," ucap Mang Jojo. "Bu, Bapak pergi dulu ya." Mang Jojo juga berpamitan kepada istrinya tersebut.
"Hati-hati di jalan ya Pak," ucap Teh Rasmi.
Lalu Mang Jojo pun menaiki kendaraannya dan berlalu dari pandangan Raisa dan Teh Rasmi.
"Teh ini sudah sore, bahkan menjelang malam. Apa Teh Rasmi sudah makan?" Tanya Raisa.
__ADS_1
"Belum Teh, ini saya mau pulang dan memasak dulu," jawab Teh Rasmi.
"Jangan Teh, makan di sini saja ya. Di sini banyak makanan karena tadi siang sewaktu kami baru tiba Mama memang baru selesai memasak dan kami mau makan bersama. Tapi saat kami sedang ngobrol di depan, tiba-tiba kondisi Mama ngedrop jadi Mama juga belum memakannya sama sekali. Aku juga belum makan, bagaimana kalau kita makan sama-sama. Kata Mama kalau Teh Rasmi tidak sibuk maka Teh Rasmi yang selalu menemani Mama makan, jadi Teh Rasmi mau 'kan menemaniku makan juga," tawar Raisa.
"Baik Teh kalau begitu, saya juga akan tetap berada di sini untuk menemani dan membantu Teh Raisa menjaga anak-anak," jawab Teh Rasmi.
"Terima kasih banyak ya Teh," ucap Raisa.
"Tidak perlu berterima kasih Teh, saya melakukan ini semua dengan senang hati," kata Teh Rasmi.
Raisa tersenyum, karena lagi-lagi ia menemukan orang yang begitu baik terhadap dirinya.
Saat Teh Rasmi dan Raisa hendak menuju ke dapur, di saat itu pula terlihat Denis yang sudah bangun dan memberitahu ibunya bahwa adiknya juga sudah bangun. Sehingga Raisa pun mengambil sang bayi dan meletakkannya ke dalam baby stroller, lalu membawanya menuju ke dapur. Sementara Teh Rasmi dan Denis sedang menikmati makan sore menjelang malam, Raisa memberikan ASI untuk sang bayi terlebih dulu, baru setelah itu ia ikut makan bersama dengan Teh Rasmi dan Denis.
*****
"Kurang ajar, ternyata mereka sengaja ingin menghindar dariku. Apa mereka pikir akan bisa hidup tenang berada di Bandung? Tidak akan pernah. Hanya Bandung saja, bahkan ke lobang semut pun aku pasti akan menemukan mereka," umpat Erros yang menatap tajam.
"Lalu, bagaimana sekarang Tuan? Apa kita harus menyusul mereka ke Bandung dan menyusun strategi dia sana," tanya Karen.
"Tidak perlu, tapi suruh anak buahmu itu mengawasi mereka di sana. Di sini masih ada Sastro, justru ini adalah kesempatan bagus. Sastro hanya ditemani oleh asistennya yang tidak ada gunanya itu, tidak ada menantunya yang selalu sok hebat dan menantangku," kata Erros.
__ADS_1
"Baik Tuan. Selain itu apakah ada tugas lain untukku Tuan?" Tanya Karen lagi.
"Kau pergi saja dulu, nanti kalau ada perlu aku akan mengabarimu. Oh iya jangan lupa kabari Roy, minta dia untuk datang ke sini sekarang juga," titah Erros.
"Baik Tuan, saya akan langsung menghubungi anak buah saya dan juga Tuan Roy," jawab Karen, lalu segera saja ia meninggalkan ruangan tersebut dan melakukan perintah Erros.
Sedangkan Eros tampak terdiam memikirkan sesuatu, entah apa yang dipikirkannya saat ini, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
*****
Beberapa jam pun telah berlalu, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB tetapi Siska belum juga sadar dari komanya. Bahkan ia sedang berada di ruangan ICU, lengkap dengan peralatan medis yang menempel pada tubuhnya.
Karena tidak ada yang boleh menjaga selama 24 jam di dalam ruang ICU, sehingga Diego pun hanya bisa menjaga ibunya di depan ruangan dan ditemani oleh 0m-nya yang tinggal tidak jauh dari rumah sakit. Ia juga sudah memberi kabar kepada Raisa tentang kondisinya saat ini supaya istrinya tersebut tidak terlalu merasa khawatir.
"Diego, kenapa kau tidak membawa Ibumu berobat ke luar negeri saja. Menurut Om jika Ibumu dirawat di luar negeri, kondisinya pasti akan lebih cepat membaik," kata pria paruh baya yang bernama Hermawan itu.
"Aku sudah pernah membawa Mama berobat ke luar negeri waktu itu Om, bahkan Mama juga operasi di sana. Kalau sekarang harus membawa Mama ke sana lagi aku sama sekali tidak keberatan. Tapi apakah masih sempat, apakah Mama masih bisa bertahan saat di perjalanan. Dokter hanya mengizinkanku membawa Mama pindah ke rumah sakit Jakarta," ucap Diego.
"Kalau masalah itu kita harus berkonsultasi lagi dengan Dokter. Diego, bagaimanapun juga Ibumu harus segera diobati, kalau tidak keadaannya akan seperti ini terus. Malah kemungkinan bisa semakin memburuk. Om sama sekali tidak mendoakan hal yang tidak baik untuk Ibumu, tapi kau juga tahu 'kan keadaannya bagaimana," kata Hermawan.
"Tapi Om sekarang yang aku pikirkan siapa yang akan menemani Mama di luar negeri? Istriku memiliki anak bayi. Sedangkan aku memiliki banyak pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan terlalu lama," ucap Diego.
__ADS_1
"Kalau soal itu kau tenang saja Diego karena Om punya usul. Bagaimana kalau Om yang akan mengurus perusahaanmu di Jakarta untuk sementara waktu. Perusahaan Om di sini bisa ditangani oleh asisten Om yang bisa dipercaya," kata Hermawan yang membuat Diego pun tersentak dan langsung menatap ke arah Om-nya tersebut.
Bersambung …