Terpikat Pesona Hot Duda

Terpikat Pesona Hot Duda
Berhasil Membujuk.


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Siska yang berada di dalam ruang IGD, Diego dan Raisa pun langsung saja menyampaikan saran dokter dan terus berusaha untuk membujuk ibunya tersebut agar mau dioperasi.


"Ma, aku mohon Ma. Aku juga sudah menyetujuinya, jadi mau tidak mau Mama harus dioperasi. Ayo lah Ma," desak Diego entah sudah ke berapa kalinya.


"Salahmu sendiri Diego, kenapa kau malah menyetujui apa kata Dokter? Jelas-jelas kau tahu dan sudah Mama katakan kalau Mama tidak akan pernah mau dioperasi lagi, biarkan saja keadaan Mama seperti ini. Sekarang Mama mau pulang," ucap Siska.


"Tapi Ma, jantung Mama itu semakin lemah. Kalau dibiarkan maka kondisi Mama akan semakin memburuk. Aku tidak akan tega membiarkan Mama seperti itu dengan berdiam diri, aku takut kehilangan Mama. Tolong mengerti Ma," ucap Diego.


"Diego, kehilangan itu sudah pasti karena di dunia ini tidak ada yang kekal abadi. Kau tidak perlu takut, biarkan saja keadaan Mama semakin memburuk, cepat atau lambat Mama juga pasti akan meninggal. Mama tidak akan mungkin bisa sembuh total," kata Siska.


"Tapi setidaknya kita semua sudah berusaha Ma untuk menyelamatkan nyawa Mama, kami juga tidak akan menyesal jika nantinya terjadi sesuatu dengan Mama. Mama mau ya, aku, Kak Diego, Denis, Diesa, semuanya sangat menyayangi Mama, kami semua menyayangi Mama. Coba Mama pikirkan, seandainya Mama tidak mau melakukan operasi itu dan tiba-tiba saja besok kondisi tubuhnya Mama semakin drop atau mungkin Mama pergi untuk selamanya, apa Mama tidak memikirkan kami semua? Mama tidak memikirkan bagaimana Denis dan Diesa yang masih harus tumbuh didampingi oleh omanya. Apalagi Diesa itu masih bayi Ma, bahkan Diesa belum mengenal siapa omanya, belum mengingat wajah omanya. Apa Mama mau melewatkan semua itu, apa Mama tidak mau melihat perkembangan cucu-cucu Mama?" Ucap Raisa yang terpaksa harus mengatakan kemungkinan buruk yang terjadi diiringi air mata yang membanjiri pipi.


Bukan hendak mendoakan ibu mertuanya yang tidak-tidak, melainkan ia berharap agar Siska dapat mengerti jika mereka semua sangat menyayanginya dan ingin Siska sembuh.


Disaat itu pun Diego terlihat menenangkan istrinya dengan mengusap-usap lembut pundak Raisa. Diego sendiri merasa sangat sedih dan sudah kehabisan cara bagaimana untuk membujuk ibunya itu, sementara Siska tampak terdiam dan memikirkan sesuatu.


"Ya sudah kalau begitu, Mama mau dioperasi. Tapi ini adalah yang terakhir kalinya," ucap Siska yang membuat Diego dan Raisa merasa sangat terkejut sekaligus senang mendengarnya.


"Ma, Mama serius 'kan?" Tanya Diego untuk memastikannya lagi.


"Tentu saja Mama serius Diego, apa kau pikir Mama ini sedang bercanda. Jangan sampai Mama berubah pikiran lagi ya," ujar Siska.


"Eh jangan dong Ma, aku senang karena akhirnya mau setuju. Terima kasih banyak ya Ma, aku benar-benar lega," ucap Diego.

__ADS_1


"Aku juga sangat senang Ma, terima kasih ya Ma akhirnya Mama mengerti. Mama harus percaya kami semua melakukan ini semua karena ini adalah jalan yang terbaik untuk Mama. Kami semua menyayangi Mama dan ingin Mama cepat sembuh, kami tidak mau kehilangan Mama, kami tidak siap Ma," ucap Raisa seraya menggenggam erat tangan ibu mertuanya tersebut.


Siska menganggukkan kepalanya dan juga meneteskan air mata, menatap ke arah Diego dan Raisa secara bergantian.


"Mama mengerti maksud kalian baik. Mama minta maaf ya karena sudah terlalu egois mementingkan diri Mama sendiri, Mama tahu kenapa kalian sangat ingin Mama menjalani operasi. Terima kasih ya Sayang karena kau telah membuat Mama sadar," ucap Siska.


"Tidak usah berterima kasih padaku Ma, aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," ucap Raisa, lalu mereka bertiga pun berpelukan.


"Maaf Nyonya Siska, Nyonya Raisa dan Tuan Diego. Karena Nyonya Siska sudah setuju untuk dioperasi, saat ini Nyonya Siska sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap sambil menunggu besok Nyonya Siska akan menjalani operasi," ucap Maira setelah kurang lebih 3 menit ia melihat Siska dan anak serta menantunya itu berpelukan.


Maira sendiri tidak dapat membendung air matanya karena sedari tadi ia ada di antara mereka. Hanya saja ia yang juga sudah berusaha untuk membujuk Siska tetapi tidak ada hasilnya, pada akhirnya ia pun hanya bungkam dan tidak mau ikut campur.


"Iya Sus, lebih cepat lebih baik," jawab Diego.


Lalu Suster Maira yang dibantu oleh Diego dan Raisa segera memindahkan Siska ke brankar dan memindahkannya ke ruang rawat inap yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


"Sayang, terima kasih banyak ya. Ini semua berkat kau tang telah berhasil membujuk Mama sehingga Mama setuju untuk dioperasi. Aku benar-benar sangat lega, hanya tinggal menunggu hari esok, mudah-mudahan saja semuanya berjalan lancar," ucap Diego di saat Siska tertidur karena efek obat yang baru saja dikonsumsinya.


"Kak ini semua bukan gara-gara aku tapi ini karena keinginan Mama sendiri, ya mungkin setelah berpikir lagi Mama sadar bahwa kita melakukan ini semua untuk kebaikan Mama dan karena kita semua tidak mau kehilangan Mama," ucap Raisa.


"Iya tapi Mama sadar setelah mendengar ucapanmu tadi, kau sudah membujuk Mama dengan kata-kata yang membuat Mama langsung mengerti dan langsung berubah pikiran," ujar Diego.


"Syukurlah Kak kalau memang seperti itu, itu juga tak lepas karena kau sendiri yang membujuk Mama Kak. Benar katamu hanya tinggal menunggu besok, mudah-mudahan saja semuanya berjalan lancar," ucap Raisa.

__ADS_1


"Amin. Ya sudah Sayang lebih baik sekarang kau pulang saja, jam besuk juga sudah hampir habis. Kasihan juga 'kan Suster Ayumi belum pulang ke rumah, Anak-Anak juga pasti sudah menunggumu," ucap Diego.


"Oh iya Kak aku jadi melupakan Anak-Anak kita dan Suster Ayumi di rumah. Kalau begitu aku pulang ya Kak, kau di sini ditemani Kak Ramzi atau Kak Aron tidak apa-apa 'kan," kata Raisa.


"Tentu saja tidak apa-apa. Kau pulang saja bersama Aron, biar Ramzi yang menemaniku di sini. Salam untuk Anak-Anak, aku merindukan mereka," ucap Diego.


"Iya Sayang. Besok kalau Suster Ayumi sudah datang aku akan datang ke sini lagi sekaligus membawakan sarapan untuk kalian ya," kata Raisa.


"Iya Sayang, tapi kau tidak perlu mengkhawatirkanku apa lagi repot-repot membuatkanku sarapan. Aku 'kan di sini bersama Ramzi, nanti kalau aku lapar aku pasti akan meminta Ramzi membelikan makanan untuk kami," ucap Diego yang tak mau menyusahkan istrinya tersebut.


"Apa kau pikir aku akan percaya itu Kak, kau bahkan bisa tidak makan selama 2 hari kalau tidak ada yang memperhatikanmu," sindir Raisa.


"He … he … he, iya aku akui hanya kaulah yang bisa membujukku untuk makan dalam kondisi terpuruk. Apalagi kalau kau menyuapiku, mana mungkin aku bisa menolaknya," ucap Diego tersenyum.


"Dasar kau itu Kak. Ya sudah aku pulang dulu ya," pamit Raisa dengan menyalami tangan suaminya itu, serta mencium punggung telapak tangannya.


Lalu Diego pun mengantar istrinya tersebut keluar dari ruang rawat inap sang ibu menghampiri 2 bodyguardnya yang berada di depan ruangan tersebut.


"Ramzi kau tetap berada di sini menemaniku untuk menjaga Mama dan kau Aron, kau pulang saja bersama istriku. Hati-hati bawa mobilnya, pastikan istriku selamat sampai tujuan," titah Diego.


"Baik Tuan," jawab Ramzi.


"Siap Tuan, saya pastikan dunia Raisa akan selamat sampai di rumah," jawab Aron.

__ADS_1


Setelah Raisa dan Aron pun pergi meninggalkan rumah sakit, Diego dan Ramzi masuk ke dalam ruang rawat inap Siska. Sedangkan Suster Maira sudah diperintahkan pulang sedari tadi saat Siska sudah pindah ruangan, tetapi besok pagi ia harus tiba di rumah sakit untuk mengurus Siska kembali.


Bersambung …


__ADS_2